If Only You

If Only You
54. I Will Fight For It



...54. I Will Fight For It...


Dua hari menikmati kerinduannya di tempat kelahiran. Hari ketiga Gemala menyusul papa. Menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Tepatnya 12 kilometer dari pusat kota kabupaten.


Kanan kiri disuguhi pemandangan hijau. Mulai tumbuhan mahoni yang tumbuh sepanjang jalan sehingga terasa adem dan menyejukkan. Lalu semakin ke dalam tanaman kakao dan kopi menghampar luas.


Begitu Cak Joyo menghentikan mobil tepat di depan sebuah bangunan. Ia dan mama turun.


Mereka langsung menuju teras bangunan tersebut. Sebenarnya pada mulanya usaha perkebunan ini milik keluarga papa. Namun beberapa tahun terakhir sejumlah purnawirawan ikut berinvestasi.


Jadi luasan perkebunan semakin bertambah. Tidak hanya perkebunan dan pengolahan kakao saja, melainkan kopi dan pengolahannya.


“Papamu kayaknya lagi manen di lapangan,” sergah mama kala mereka tiba di sebuah rumah dengan bangunan yang berbeda. Bangunan rumah jaman kolonial. Kentara pada fasad yang menggunakan roof. Selain itu aksen vintage tetap dipertahankan. Bangunan lama tapi tetap kokoh. Bahkan tak mencerminkan seram dan angker seperti kesan yang selama ini melekat pada rumah kolonial.


“Papa sering ke sini, Ma?” tanyanya. Seorang penjaga rumah tergopoh-gopoh datang menghampiri.


Mama mengangguk.


“Bu Laras,” sapa Pak Mun. “Ini,” menunjuk padanya.


“Anak saya yang bungsu, Mun," jawab mama.


“Mala,” ia mengulurkan tangannya. Mengulas senyum. Beberapa kali pernah ke sini. Tapi itu dulu, sudah lama tidak berkunjung. Tidak banyak yang berubah, hanya Pak Mun yang tambah termakan usia.


“Oo ... iya, Mbak Mala. Dulu kayaknya masih kecil ya?!” Mun terkekeh.


“Hehe ... itu waktu SMA, Pak. Masa dibilang kecil, sih!” sanggahnya tak terima.


“Iya ... iya, yang sering ke sini Mbak Ganisha sama anak-anak soalnya,” timpal Mun meralat.


“Anak saya yang ini sama kakaknya satu lagi gak tinggal di sini, Mun. Jadi jarang kemari.” Mama menukas. Mereka kemudian masuk rumah ketika Mun membukakan pintu.


“Bapak masih di lahan. Apa perlu saya panggilkan, Bu?”


Ia menyergah, “Gak usah Pak Mun, nanti biar aku yang nyusul ke sana,” pintanya.


“Kamu gak capek?” tanya mama menoleh padanya.


Ia menggeleng. Malah ia antusias. Berada di tempat yang sudah lama tak dikunjunginya. Merasakan sensasi hawa perkebunan.


Melepas tas selempangnya di atas sofa. Lalu bergegas keluar.


“Mal,” teriak mama memanggilnya.


“Iya, Ma.” Ia kembali masuk rumah. Berdiri di ambang pintu.


“Hati-hati,”


“Siap, Ma!” ia terkekeh, sementara sang mama mencebik lalu masuk kamar kembali.


Ia menuju garasi samping rumah. Sebuah mobil lawas tahun 1980 nangkring di sana.


“Usiamu saja lebih tua dari aku,” gumamnya. “Kita jelajahi perkebunan ini,” imbuhnya sambil menepuk bagian kap mobil. Menghidupkan mesin mobil yang masih terdengar empuk. Pasti papa merawat mobil ini secara berkala.


Ia berpapasan dengan Pak Mun di gazebo, tengah menyapu, “Pak Mun, papa di sebelah mana?”


Mun menyimpan sapu lidi dan pengki, “mau saya antar?” tawar Mun.


Ia tampak berpikir sejenak. Memang perkebunan ini tidak seluas perkebunan sawit yang ada di Jambi. Tapi tidak ada salahnya. Daripada ia kesasar di kebun orang pikirnya.


“Boleh, Pak Mun.”


Mun masuk dan duduk di sampingnya. Perlahan ia meninggalkan area rumah yang berada di tengah-tengah perkebunan.


Jalan tanah dengan lebar 2,5 meter sedikit berlubang dan becek sana sini.


“Tadi malam sempat hujan deras di sini, Mbak,” terang Mun.


“Istri sama anak-anak Pak Mun sehat semua?”


“Alhamdulillah. Mbak Mala pas banget ke sini. Bentar lagi kita mau panen raya, tuh lihat!” tunjuk Mun pada batang kakao yang bergelantungan buah kakao nyaris seperti anggur. Masih berwarna hijau, sebagian kemerahan, “Kurang sebulan lagi kita panen raya, Mbak.” Mun menambahkan dengan air muka bahagia.


“Iya, ya ... memangnya panen raya biasa jatuh bulan apa, Pak?” tanyanya menoleh pada Mun. Tapi hanya sesaat, pandangannya kembali fokus ke depan.


“Bulan depan. Juni-Juli biasanya. Tapi ini sebagian petani sudah ada yang panen raya.”


Ia manggut-manggut.


Tiba di sebuah gubuk ia menghentikan laju mobilnya.


“Iya, betul di sini saja, Mbak. Mobil gak bisa masuk,” tukas Mun.


Ia dan Pak Mun turun. Di dalam gubuk ada mandor yang tengah mengumpulkan buah kakao dalam karung dan siap diangkut ke dalam mobil bak terbuka.


“Pie, Ndor?! Wokeh dino iki? (Banyak hari ini—hasil panen)” tanya Mun.


“Alhamdulillah,” jawab mandor.


“Bapak ning ndi? (Bapak di mana)” Mun bertanya lagi.


“Kae, ning jero lagi manen.” Mandor menunjuk arah papa berada.


Ia menyergah, “Pak Mun sini saja. Aku ke dalam sendiri gak pa-pa,” tanpa menunggu jawaban Mun, ia melangkah lebih masuk ke dalam kebun.


Masih ada beberapa pekerja yang sedang memanen. Ia bisa melihat papa juga tengah memetik buah kakao dengan gunting khusus.


“Papa,” panggilnya setelah berjarak 1 meter dari papa berdiri.


Papa menelengkan kepalanya. “Kamu sudah datang?” papa mengulas senyum. Menghentikan kegiatannya sejenak.


Ia meminta tangan papa, lalu mencium punggung tangan pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.


“Kirain gak jadi kesini. Sama mama juga, ‘kan?” tangkas papa.


Ia mengangguk. “Aku mau liburan di sini, kayaknya enak. Bosen di kota.”


“Baguslah ... jadi nambah pekerja Papa. Gratis lagi,” papa terkekeh dan mengajaknya untuk pergi dari sana.


“Iiss, mana ada jaman sekarang pekerja gratis. Memangnya jaman romusa,” desisnya dibuat-buat.


Papa tergelak.


“Eh, Pa. Aku mau ikut panen, boleh. Yang mana yang bisa dipanen?” tanyanya berhenti tepat di bawah pohon kakao dengan buah bergelantungan lebat.


Papa berdiri di sampingnya menjelaskan. Dengan ciri buah berwarna kekuningan. Atau merah-oranye. Begitu pula cara memetiknya yang tidak sembarangan. Sebab jika salah petik berakibat fatal. Bisa jadi tanaman mogok berbunga. Karena sisa tangkai bekas buah akan menghasilkan calon bunga berikutnya.


“Denger, ‘kan?!” kata papa yang mengocok buah kakao.


Kluk ... kluk ... kluk.


“Tandanya bijinya telah terlepas. Buah matang,” sambung papa.


Ia kembali manggut-manggut. Kemudian mempraktikkan cara panen yang baru saja diajari papa.


Cukup lama mereka berada di dalam kebun. Suasana juga semakin terik. Mereka memutuskan untuk mengakhiri. Kembali ke gubuk.


Papa memerintahkan kepada mandor dan Pak Mun untuk mengawasi. Dan menginstruksikan beberapa pekerjaan selanjutnya serta beberapa pekerjaan esok hari.


Ia kembali mengendarai mobil. Papa duduk di sampingnya. “Keren mobilnya, Pa,” celetuknya. “Pasti Papa rawat bener-bener.”


“Iyalah, mobil tua mana bisa dibiarkan begitu saja. Malah biaya perawatannya lebih besar kalau mau tetap performa bagus,” tandas papa.


“Papa masih suka offroad?”


“Jarang. Om Bagas juga udah jarang ngajak soalnya. Sekali-kali lah,”


“Gimana kuliah kamu? Katanya udah selesai?”


“Ya, sudah selesai. Tinggal tunggu wisuda.”


Obrolan itu terhenti ketika melihat Om Bagas yang sedang menaiki motor trail.


Ia memberikan klakson, “Om!” teriaknya saat bisa menjajari laju motor trail tersebut.


Bagas tersenyum, “Kapan datang!” ikut berteriak sebab suara motornya yang berisik ditambah deru mobil di sebelahnya.


“Tadi pagi,” tangkasnya. “Om duluan aja!” imbuhnya. Ia memperlambat laju mobilnya.


Bagas mengacungkan jempol. Lalu menggeber motornya dengan kencang. Mendahului.


“Om kamu itu lagi seneng banget. Dapat cucu kembar sepasang,” urai papa. “Kasus menantunya juga sudah selesai. Tidak ada lagi yang membebani pikirannya. Bisa menikmati hidup masa tua dengan tenang.”


DEG.


Tetiba jantungnya berdetak lebih cepat. Bibirnya terkatup rapat.


“Papa juga udah lega. Beban bertahun-tahun akhirnya terselesaikan juga. Semua berkat Danang. Yang serius ingin menuntaskan kasus itu.” Papa menghela dan mengembuskan napas kelegaan. “Kadang Papa juga merasa bersalah. Berdiam diri. Membungkam mulut hanya karena sebuah jabatan. Dan tidak berani mengungkapkan. Padahal,


kamu tahu sendiri. Politik itu ...,” Imam berdecak, “... gak usahlah terjun di politik,” pungkasnya.


Ia masih menelinga tanpa menyahut kalimat papa yang keluar. Hingga tiba di rumah.


Papa telah turun dan mencuci tangan di keran samping taman. Kemudian masuk ke dalam.


Sementara dirinya masih termangu. Memegangi setir bulat dengan kondisi mesin masih menyala belum dimatikan.


Meragu.


Ia menggelengkan kepala.


Sore harinya ia sengaja duduk di gazebo dekat taman. Di bawah gazebo ada kolam ikan garra rufa. Mencemplungkan kakinya di sana. Tanpa menunggu lama sekumpulan ikan langsung menyambar kakinya. Berebut mencabut sel kulit mati pada kakinya.


Rasanya geli. Menggeletik. Ia berulang kali terkekeh dibuatnya.


“Cukup 15 menit saja,” papa datang membawa kopi yang masih mengepulkan asap panas.


Sementara Pak Mun membawa segelas cokelat panas untuknya, “Matursuwun, Pak Mun.”


Mun tersenyum, “Sami-sami, Mbak.” Lalu undur diri.


“Papa kok kepikiran buat kolam diisi ikan terapi ini? Dulu perasaan gak ada kolam ya, di sini.” Seingatnya dulu hanya 4 bangunan. Rumah yang memang khusus ditempati keluarganya. Bangunan villa yang dikhususkan buat tamu atau pengunjung yang menginap, kantor dan gudang yang tergabung sekaligus menjadi tempat pengolahan hasil kebun. Dan terakhir musala.


Tapi sekarang bertambah bangunan seperti pendopo. Ukurannya cukup luas sekelilingnya dibuat taman. Satu di antaranya taman dengan gazebo yang sekarang ini ia singgahi.


“Semenjak banyak investor yang menanam modalnya di sini. Jadi diperlebar. Apalagi sekarang produk cokelat dan kopi kita nilai ekspornya terus meningkat. Jadi kurang ruang untuk menampung hasil kebun dari petani,” terang papa. Menyeruput kopi hitam tanpa gula.


“Papa berharap nanti kamu yang lanjutin usaha ini,” imbuh papa.


Bibirnya tersungging, “Mala gak ngerti tentang alur usaha agro begini, Pa,” sanggahnya membela diri.


“Makanya belajar. Belajar untuk tahu. Untuk memperbaiki dan juga menambah ilmu,”


Pak Mun datang kembali membawa sepiring singkong goreng.


“Singkong kate ngendi? (Singkong dari mana?)” tanya papa.


Mun menyahut, “Kebon kulon omah, Pak (kebun sebelah barat rumah, Pak)” pria seumuran papanya itu pamit.


“Bukan bidang Mala, Pa. Lagian takut salah. Merugi dan nanti para investor pergi.”


“Salah itu pemakluman. Tidak ada yang berhasil sebelum mengalami kesalahan dan kekalahan. Semua itu proses. Yang pasti, jangan menyerah terus belajar. Sesuatu yang kita tekadkan suatu saat pasti akan kita petik hasilnya.” Papa menukas dan kembali menghabiskan kopinya yang sudah setengah dingin.


“Menurut Papa, apa kesalahan itu wajar?” Tanyanya hati-hati. Dengan pandangan menunduk melihat gerombolan ikan yang sudah mulai berkurang mengerubungi kakinya.


“Kesalahan apa dulu?”


Ia terdiam sejenak.


“Kesalahan itu banyak tingkatan. Ringan, sedang, besar. Sengaja atau tidak. Semua punya konsekuensi sendiri-sendiri tidak serta merta punya pemakluman,” tangkas papa menambahi.


“Kalau misalnya Mala punya salah gimana?”


Papa mengernyit, “Salah?”


Ia mengangguk, “Anggap aja begitu. Seandainya,”


“Kamu punya salah apa?” tanya papa.


“Salah pilih mungkin. Atau salah langkah barangkali.”


“Ck, ada-ada saja, kamu. Kamu sekolah tinggi-tinggi buat apa? Gunanya untuk berpikir. Menimbang-nimbang mana yang baik dan buruk,”


“Pa, semua orang pernah melakukan kesalahan. Apa tidak pantas diberikan kesempatan meski kesalahan yang diperbuat besar dan sengaja?” tanyanya.


Kening papa semakin berlipat. “Maksud kamu apa? Siapa yang salah?”


“Maaf, Pa ...,” ia menatap sejenak papa yang begitu disayanginya. “Mala suka sama ... sama Garuda,” akunya jujur.


“Garuda?”


Ia mengangguk, "Dia ... dia anak Torrid yang,”


Papa menggeleng dengan raut muka yang berubah. “Kamu tahu Mal, Torrid itu siapa?” suara papa terdengar tidak suka dengan nada penekanan di akhir kalimat.


Matanya berkaca. Pandangannya menunduk pada gelas kopi papa yang tinggal ampasnya.


“Kesalahan dia besar. Dengan sengaja menyuap dan berusaha menghilangkan besannya Om Bagas, kamu tahu? Apa kamu tidak tahu? Apa perlu Papa beritahu?! Biar kamu tahu.” Papa menukas dengan tegas.


“Maaf, Pa. Tapi,”


Papa menggeleng, “Lupakan!” kemudian bangkit dan meninggalkan gazebo.


Ia menatap punggung papa hingga menghilang dibalik pintu dengan pandangan nanar. Ironis.


Helaan dan embusan napasnya berat. Perasaannya yang tadi sempat meragu semakin meyakinkan. Bahwa papa tidak memberikan kesempatan untuk melanjutkan hubungannya dengan Garuda.


Pun, pada malam hari. Suasana di meja makan terasa dingin. Papa yang biasa bergurau dengan anak-anak dan cucu jadi lebih pendiam. Begitu juga mama yang tidak berani menyergah maupun menyela.


Hari berikutnya masih sama. Papa menjadi pendiam. Berbicara dengannya seperlunya saja. Bahkan terkesan menghindar.


Ini sudah tidak sehat.


Mama mengusap bahunya. Berusaha menyalurkan kekuatan untuk bersabar melalui sorot mata mama.


Hari ketiga setelah pembicaraan itu mama bilang mereka akan kembali ke Surabaya.


“Aku tinggal di sini, Ma,” putusnya. Kebekuan dan perubahan papa terhadapnya jelas membuat hubungan keduanya terasa hambar dan asing. Seperti orang tidak kenal namun tinggal bersama.


“Kamu yakin?” tanya mama.


Ia mengangguk.


“Baiklah. Tapi kamu tetap jaga kesehatan. Mama akan bicara sama papa. Tapi Mama tidak bisa janji, kamu tahu sendiri papa bagaimana.”


Ya, pendirian papa teguh. Kuat. Sulit dipengaruhi. Ia tahu itu.


Sementara ia mengabarkan ke Garu untuk menunda menyusulnya. Ia butuh waktu. Butuh ruang untuk menjelaskan pada papa.


“Hon, biar aku yang menjelaskan. Ini tentang kita. Bukan kamu saja. I will fight for it (aku akan memperjuangkannya).”


“Tapi, Ru—”


“Ssh ... aku akan menemui papamu. Apa pun nanti hasilnya, semoga tidak mengecewakan.”


Sambungan telepon itu pun berakhir.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏