
...35. Thank You For Loving Me...
Dokter berparas ayu itu berjalan gontai menapaki anak tangga satu persatu. Suasana hatinya sedang tak tenang. Berdegup tak menentu. Ia sudah berupaya untuk menenangkan hatinya sendiri. Tapi sayang, sampai melewati 2 pintu besi dan pemeriksaan ketat dadanya justru semakin tak karuan.
Berulang kali ia duduk tak nyaman. Bergeser sedikit. Kembali seperti semula. Bergeser lagi. Menumpang kaki. Mengayunkannya. Lalu kembali seperti semula lagi. Jemarinya yang berada di atas meja saling bertaut. Kedua ibu jari bergerak konstan saling tumpang tindih. Ia gugup.
Ia pernah merasakan ini.
Ya, merasakan getaran seperti ini. Merasakan suasana hatinya percis saat ini.
Kapan?
Ia mencoba mengingat. Menunduk. Memejamkan mata.
Saat ... saat Torrid akan melakukan ijab kabul. Tepat. Waktu itu di salah satu ruangan rumah sakit. Beberapa saat lamanya. Yang pada akhirnya mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami-istri.
Kenapa rasa itu muncul kembali?
“Silakan, Pak.” Suara petugas membuatnya mendongak dan menatap mereka. Petugas itu meninggalkan ruangan.
Pandangannya dan Torrid saling bertumbuk beberapa detik. Hingga melupakan segalanya. Melupakan bahwa mereka tengah di ruangan yang dipantau ketat. Melupakan bahwa beberapa hari ke depan, entah esok, entah lusa atau entah dalam hitungan vonis itu siap dijatuhkan.
Ia menelan ludahnya, membasahi bibirnya. Mencoba menyeret kesadarannya secara paksa untuk kembali menerima kenyataan.
“Duduklah,” sapaan pertamanya pada Papi Garu tersebut.
Pun Torrid tampak gugup dan mencoba tersenyum. Meski terlihat kaku dan dipaksakan.
“Terima kasih ... terima kasih kamu masih mau datang menjengukku, Ay.” Torrid duduk di hadapannya.
Ia mengulas senyum tipis, meski dalam hatinya senyumnya terkembang sempurna.
“Kamu terlihat kurus. Kenapa kamu menolak tawaran, Ru?"
Torrid mengulas senyum, “Aku baik-baik saja. Tidak kurang sedikit pun,” kilahnya.
“Kamu tidak bisa membohongi aku, Ko. Membohongi Mas Pras dan dokter Tan,” tandasnya. Bahkan ia sudah membaca laporan kesehatan Torrid dari dokter Tan.
Torrid masih bersikap tenang. Pintar menyembunyikan keadaan.
“Aku mohon. Turuti dokter Tan, Ru dan orang-orang yang peduli padamu. Mereka menginginkan yang terbaik buat kamu, Ko.”
“Mereka peduli karena mereka sayang. Mereka ....” Ia menggeleng. Susah benar membujuknya. Keras kepala.
Torrid malah tersenyum, “Thank you, Ay. Thank you for loving me.”
Ia berdecak. Kenapa jadi membahas itu?
“Perhatianmu, cintamu tak lekang oleh waktu dan keadaan. Hanya aku saja yang bodoh dan menyia-nyiakannya. Aku berharap setelah ini kamu benar-benar bahagia,”
“Aku senang kamu dan Ru telah kembali bersama. Rasanya tidak bisa aku lukiskan lagi rasa bahagiaku. Maaf,”
“Maaf aku kembali mencoreng dan menyeret kalian dalam masalahku,”
Jeda sejenak menyelimuti ruang jenguk berukuran 4x10 meter tersebut. Beruntungnya hanya mereka saja yang berada di sana.
“Maaf, kalau aku mengecewakanmu soal ... mengenai didikan yang aku berikan sama Ru. Aku tidak pernah membedakan anak-anakku. Tidak pernah berat sebelah. Aku berusaha adil. Berusaha memberikan yang terbaik yang aku punya.”
Torrid menghela, “Tapi aku lupa, bahwa pendidikan dunia saja tidak akan cukup. Aku melupakannya. Aku minta maaf, aku lalai ....”
Ia memberanikan menepuk-nepuk punggung tangan Torrid yang berada di atas meja, “Kamu sudah berusaha menjadi ayah yang baik buat mereka,”
“Dan hasilnya kita bisa lihat.”
“Tapi, Ru—” sergah Torrid.
Ia menggeleng, “Ko, jangan terus menerus menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua sudah jalannya. Kita hanya bisa memperbaiki ke depannya.” Tukasnya. Seandainya ia bisa memutar waktu, ia pun ingin mengawali semuanya lagi. Tentu sesuai keinginan dan harapannya. Tapi ... inilah garis takdir Tuhan yang harus dijalani mereka.
Bukankah, hari lalu adalah sebuah sejarah, menjadi kenangan yang akan diingat. Menjadikan sebuah pelajaran. Sementara esok adalah harapan yang penuh misteri. Di sanalah kita menggantungkan segala asa untuk diwujudkan. Dan hari ini, ya hari ini merupakan anugerah yang patut disyukuri. Sebab hari inilah ia akan membuat kenangan dan merencanakan esok penuh misteri itu dengan belajar dari pengalaman.
Waktu 30 menit rasanya begitu cepat. Tak terasa mereka harus menuntaskan pertemuan. Sebelum Torrid bangkit ia berucap, “Ko ...,” ia menatap laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Bahkan cinta itu masih menetap di sana. “Thank you for loving me,” imbuhnya seraya mengulas senyum.
Lega.
Itulah yang dirasakan kini. Ia masih menatap Torrid yang digiring kembali ke ruangannya.
...***...
Awalnya memang Rahayu masih tampak keberatan untuk menemui Torrid. Tapi ia berusaha meyakinkan diri. Dan, tentunya ada perasaan yang mendorongnya untuk melakukan itu. Apalagi dengan berbagai macam cara Ru memintanya juga.
Hari ini, ia langsung mengatur waktu. Meminta izin mendadak. Melimpahkan urusan klinik pada Hari.
“Maaf, aku tidak bisa menjemput Ibu. Toni yang akan menjemput ke sana,” kata Ru lewat sambungan telepon.
“Aku bisa datang sendiri ke sana. Kenapa harus dijemput segala. Ibu seperti ratu saja.” Ia bersungut-sungut. Tapi tak lama, “Ibu boleh foto sama pilot dan awak kabinnya, Ru? Ibu mau jadikan kenang-kenangan. Lagian ini perdana Ibu naik jet private hehehe ....”
Ru terdengar ikut terkekeh, “Kapan pun Ibu mau, Ibu bisa pakai kapan saja.”
“Ibu berasa sosialita beneran. Kayak ibu-ibu pejabat.” Bunyi chatnya disertai foto dirinya yang dikirim untuk Ru sesaat sebelum pesawat lepas landas.
Tuk ... tuk ... tuk
Ia mengetuk kaca jendela samping membuat Ru bangun dan tengadah. Mengulas senyum. Melihat anaknya mungkin sampai tertidur menungguinya.
Ru membuka kaca. “Ibu sudah selesai,”
Senyum terukir dari bibirnya lagi, kemudian melenggang masuk. Beberapa detik ia membenahi kerudung yang membelit lehernya. “Maaf, kamu nungguin Ibu lama.” Sambungnya.
Ru menggeleng, “Aku justru berharap Ibu lebih lama lagi di sana,” selorohnya sambil memutar setir kemudi perlahan meninggalkan area parkir markas besar di kawasan Trunojoyo.
Ia mendesahkan napas. Menanggapi, “Kalau Ibu jadi menteri HAM mungkin jam besuk akan Ibu tambah,” kelakarnya. “Oke. Misi selanjutnya,” imbuhnya bersemangat.
Anaknya itu terkekeh, “Are you ready?”
“Sure!”
Tiba di tujuan berikutnya ia begitu bersemangat setelah Ru memarkirkan mobil. Garu terlihat mengencangkan kembali dasi yang melilit longgar di leher, “Bagaimana?” tanya Ru padanya yang duduk di sebelah.
Ia menggeleng, “Ini bukan mau meeting ketemu klien. Terlalu formal. Kaku," katanya sambil duduk miring menghadap Ru. “Sini Ibu bantu,” bujuknya. Ru menunduk.
Ia melepas dasi Garuda. Mengurai kancing pertama kemejanya. Disusul melepas kancing lengan. Menggulung sampai siku. “Nah, gini baru.” Ia mengacungkan jempol.
Senyumnya terkembang. Sementara Ru masih biasa saja.
“Bentar-bentar,” ia kembali menahan Ru yang hendak memutar duduknya. Tangannya mengacak-acak rambut Ru yang tertata rapi oleh pomade. Ia lihat memang anak pertamanya ini terbiasa rapi. Wangi. Dan bersih.
Tapi kini, rambut Ru ia jadikan berantakan. Ru melihat dirinya di cermin spion tengah. Mengerutkan dahi. “Apa aku pantas seperti ini?” tanya Garu ragu.
“Sekali-kali tampil beda. Biar, dia semakin—”
Ru menyergah, “Apa dia gak illfeel nanti? Aku seperti messy look, (bangun tidur—rambut berantakan)” keberatan.
Ia berdecak, “Ini model rambut ala-ala artis Korea sekarang. Banyak digandrungi cewek-cewek.” Ia mengenal mereka juga karena anak-anak koas. Yang suka heboh. Dan tak jemu selalu menyebut nama-nama idolanya.
Ia berdecak lagi. “Kali ini saja. Kamu harus coba tampil beda, Ru.” Pintanya setengah maksa.
Garuda mengembangkan senyum terpaksa. Tapi menurut juga.
Keluar dari mobil keduanya jalan beriringan. Seseorang yang tengah duduk sendirian di dekat jendela melambaikan tangan.
Ia membalas dengan senyuman.
“Sorry, kamu nunggu lama.” Tukas Ru. Gara-gara harus menuruti kemauan ibunya. Tapi tidak mungkin ia berterus terang tentang penyebabnya. Bisa-bisa ia jadi bahan ketawaan.
Gadis itu berdiri dengan mengulas senyum. Mengulurkan tangannya, “Gemala,” ucapnya seraya menunduk sejenak.
“Rahayu. Panggil saja Ibu kayak, Ru.” Balasnya seraya menyambut uluran tangan Mala.
Sementara Ru hendak duduk ikut bergabung, dering ponselnya meraung-raung. “Sorry, aku tinggal sebentar.” Garu menjauh dari mereka. Memilih keluar.
Pertemuan pertama memang sedikit canggung. Tapi itu hanya di menit-menit awal. Setelah 10 menit ke depan, obrolan itu mengalir begitu saja.
“Oo jadi Mala orang Surabaya? Tapi lebih lama tinggal di Melbourne.”
Mala mengangguk.
“Saya dulu pernah ditugaskan di rumah sakit daerah Gubeng. Selama 3 bulan. Jadi sedikit tahu Surabaya,”
“Terus apa rencana kalian ke depan? Pastinya serius. Apalagi Ru juga tidak main-main.” Ia menatap gadis yang duduk di sebelahnya sejenak. Memang benar kata Ru, kalau gadis ini punya nilai tersendiri. Meski tinggal lama di luar negeri, tapi terlihat tidak mengikuti arus. Ru, memang tidak salah pilih.
Mala terdiam sejenak, “Saya masih ambil kuliah pasca, Bu. Mungkin setelah lulus baru memikirkan ke sana.”
Ia berdecak, “Kenapa harus nunggu lulus? Kalau aku jadi Ru, kalau bisa besok langsung aku lamar,” candanya membuat netra Mala membola. Kemudian tersipu.
“Dulu, saya juga nikah sama papinya Ru setelah koas selesai. Tapi memang kebetulan jumpa dengan papinya Ru sedang koas. Tidak pakai lama, kami memutuskan menikah,” ia menjeda. Sebenarnya keputusan yang ... dilema juga. Meski pada akhirnya ia tetap yakin menikah dengan Torrid.
“Setelah menikah baru melanjutkan lagi sekolah. Menikah bukan berarti menghentikan segala aktivitas kita selain menjadi istri dan ibu rumah tangga. Kita tetap masih bisa mewujudkan cita-cita. Masih bisa menapaki karier. Asal tetap mengutamakan keluarga. Ya ... itulah kendalanya. Ibarat mobil doble gardan. Di saat-saat tertentu kita bisa menjalani seiring sejalan. Tapi di suatu waktu kita harus ekstra mengeluarkan tenaga demi tetap berjalan seiring.”
Ia menepuk lengan Gemala. “Itulah kehebatan kita. Yang tidak dipunyai laki-laki. Kita harus bangga, Mal.”
Nyatanya Ru menelepon cukup lama. Baru bergabung sebentar dan mereka memutuskan untuk beristirahat di apartemen Garu. Sementara Ru harus kembali ke kantor.
Melakukan kegiatan memasak di sana untuk makan malam. Membuat hubungannya dengan Mala lebih dekat. Ada tumis tofu saos tiram, ayam pop, rendang, dan sayur bening bayam. Semua kesukaan Ru menurut cerita Bi Yati.
Tak lama Ru datang dari kantor. Melepas dasi yang sudah longgar. Mencuci tangan dan ikut duduk bergabung di meja makan.
“Siapa yang masak ini semua, Bu?” tanya Ru, saat ia mengangsurkan piring yang sudah terisi lengkap pada anaknya.
“Kamu gak percaya kalau Ibu sama Mala yang masak?”
“Kalau Ibu, aku percaya. Tapi ... kalau Mala?” Mala sudah menatap Ru dengan sorot intimidasi. Ru tergelak. Ia ikut terkekeh.
“Kamu gak percaya, Mala bisa masak?” tantangnya, “Justru orang-orang rantau itu pandai masak lho, Ru. Apa lagi tinggal jauh dari orang tua. Mau gak mau harus survive. Ya ... meski orang tua bisa ngasih uang. Tapi kebanyakan mereka berpikir hemat. Mau gak mau ya ... masak. Ya, kan, Mal?!”
“Ibu nyindir aku?” sungut Ru tak terima.
“Kalau kamu special case,” timpalnya.
“Cih, aku juga bisa masak. Mau bukti?”
“Tidak perlu bukti. Sebutkan saja mahakarya masakanmu, Ru.” Ia menyergah sambil mengedipkan mata ke arah Mala.
“Oke. Aku juga pandai masak. Dari masak air, masak telur mata sapi dan masak,” Ru berusaha mengingat. Dirinya masak saat di Melbourne. Itu pun terpaksa dan pada akhirnya ....
“Masak pasta,” sambung Ru.
Ia menyahut, “Hasilnya?”
Garu menggaruk belakang kepalanya, “Gosong.” Jawabnya jujur.
Seketika ia dan mala tergelak. Tak dapat lagi menahan tawa. Bagaimana mungkin Ru bisa masak. Semua kebutuhannya tercukupi. Apa pun. Mau tinggal di mana pun. Torrid tidak membiarkan mereka kelaparan. Bahkan selama tinggal di luar negeri Ru disediakan pelayan khusus. Meski tinggal di apartemen.
Malam kian merangkak. Mala pamit untuk kembali ke hotel. Ia mengantar sampai ambang pintu.
“Thanks, Mala. Terima kasih sudah menerima Ru.” Ucapnya, “dan maaf ...,” ia meraih tangan Mala. Mengusapnya lembut, “Ru bukan dari keluarga yang utuh. Ru, juga bukan dari keluarga yang sempurna. Semoga kamu bisa mengerti. Dan tentunya menerima Ru apa adanya.”
Mala menggeleng. Ia merengkuh gadis itu, “Thank you for loving him,” bisiknya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan baik poin, vote, like, comment bahkan ada yang ngasih koin, juga bantu promote ... xìexie (versi Wu) 🙏
Love you all 💕