
...78. Surprise...
Garuda
Dua hari lagi Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dilaksanakan. Ia tak begitu peduli siapa yang akan menggantikan posisi papi sebagai Presiden Direktur Torrid Group. Meski selentingan kabar dirinya menjadi kandidat utama. Di samping Maleo dan Atat tentunya. Sebagai generasi ke-3 pendiri sekaligus pemilik TG.
Ia juga tidak menawarkan diri memosisikan untuk menduduki jabatan tertinggi di TG. Sadar, bahwa mungkin yang pantas Maleo sebagai anak tertua.
Sampai dengan saat ini saja ia begitu bangga pada Hartawan dan Torrid sebagai founder dan co-founder Torrid Group. Jasa mereka begitu banyak. Mengantarkan TG menjadi perusahaan yang besar dan berfundamental baik. Sehingga mampu menyerap dan menampung puluhan ribu pekerja. Yang pada akhirnya juga mencukupi dan menyejahterakan keluarga para pekerja. Di sinilah manfaat itu terasa, bisa dinikmati langsung. Selain manfaat-manfaat lain yang juga bisa dinikmati masyarakat luas. Jadi, rasa obsesif atas jabatan itu tak membelenggunya. Ia hanya ingin melanjutkan cita-cita pendiri TG. Terus mengepak sayap dan bertahan di tengah gempuran persaingan dan perubahan jaman.
“Apa istriku juga diundang, Ton?” tanyanya di sela-sela obrolan mereka membahas laporan beberapa proyek Garuda Land.
“Pasti, Pak. Mbak Mala termasuk pemegang saham mayoritas. Dengan 100 ribu slot. Itu skala prioritas tidak dapat ditawar-tawar lagi,” ujar Toni. “Bahkan Bos Jebe juga diundang. Masuk dalam majority stockholders juga. Tapi info terakhir Bos Jebe belum confirm,” sambung Toni.
“Apa menurutmu keputusanku benar, soal pengangkatan Direktur GL yang baru?”
Toni tampak berpikir sejenak, “Penempatan direksi dari tenaga profesional sangat diperlukan, Pak. Apalagi, punya kecakapan pernah memimpin perusahaan meski bukan di level top management. Tapi paling tidak, kemampuannya sudah tidak diragukan lagi.”
Direktur Garuda Land sebelumnya mengundurkan diri. Sebab dicalonkan menjadi dewan komisaris. Sehingga posisi Direktur Garuda Land kini kosong.
Oke. Itu artinya ia memang tak salah mempromosikan orang tersebut. Namun kembali lagi, keputusan final tetap ada dalam rapat esok. Kendati demikian, ia tetap yakin. Dengan latar belakang dan kompetensi yang dimilikinya menjadi nilai lebih calon direktur yang diajukannya. Sehingga peluang terpilihnya juga besar.
Sore itu ia kembali dari kantor lebih cepat. Malah sebelum rembang pentang.
“Honey,” sapanya ketika memasuki pintu apartemennya yang terbuka. Tebakannya pasti Mala di bawah. Benar saja. Ia melihat Gemala duduk menunduk membaca berkas di tangan kiri. Sementara tangan kanan memegang pena.
Istrinya itu mendongak. Membenahi kaca matanya yang merosot. Tersenyum menyambutnya.
Ia membungkuk. Mencium pelipis Mala, “Lagi apa?” meletakkan ponsel di atas meja. Melepas jas dan menggulung lengan kemejanya asal.
“Sini,” Mala menepuk sofa sebelahnya. Ia pun duduk di sana. Mala menyimpan kertas di atas pangkuan, membantunya melepas dasi. “Aku lagi buat rute perjalanan.”
“Rute perjalanan?” dahinya mengerut.
“Hem ... rute perjalanan besok ambil data responden. Aku pikir dengan datang dulu ke Sumatera Barat, Jambi baru Sumatera Selatan. Tapi setelah aku pikir-pikir ... ke SumSel dulu, Jambi baru SumBar. Sesuai urutan provinsi itu, betul kan?” Mala menunjuk lembaran peta. Tepatnya peta Pulau Sumatera.
“Kalau sesuai urutan dari sini,” ia menunjuk peta Sumatera bagian ujung bawah. “Betul.”
“Setuju, aku juga berpikir lebih baik aku mulai dari provinsi Sumatera Selatan. Bagaimana?”
Ia menatap Mala sejenak. Menjulurkan tangannya. Membelai pipi dan rahang Mala. “Hon, are you sure?”
Mala mengangguk.
...***...
Gemala
Dua hari ia benar-benar beristirahat total. Rasa nyeri di perutnya juga telah mereda. Menurut dokter Aini ia tak perlu melakukan kuret kemarin. Di samping usia kehamilan masih muda. Pun, dokter tersebut memastikan keguguran kemarin dinamakan abortus komplit. Adalah semua jaringan janin atau plasenta telah seluruhnya keluar dari rahim. Bahkan dokter juga telah memberikan obat untuknya.
Namun begitu, Garuda tetap memaksa untuk melakukan pengecekan ulang di rumah sakit. Memastikan bahwa rahimnya baik-baik saja. Tidak ada efek yang bisa membahayakan.
Dari membuat janji temu dengan dokter Aini. Kemudian mengantar dan mendampinginya saat pemeriksaan. Semua Garu lakukan sendirian. Padahal biasanya laki-laki itu selalu mengandalkan Toni. Sang sekretaris pribadi.
“Bagus.” Dokter Aini menggerakkan alat USG di atas permukaan perutnya bagian bawah “Ini normal, karena kemarin abortus komplit jadi kondisi sekarang penebalan rahimnya mulai meluruh karena hormonal.” Papar Aini. Menyelesaikan pemeriksaan.
“Berapa lama, Dok? Em, maksud saya ... akibat keguguran kemarin.” Tanya Ru canggung. Mengikuti Aini yang duduk di kursi kerjanya. Ia pun ikut duduk di hadapan Aini.
“Maksud Bapak menstruasinya berapa lama?”
Ru mengangguk.
Sementara perawat membersihkan permukaan perutnya dari bekas cairan gel USG dengan tisu. Menurunkan pakaiannya dan menyibak selimut yang menutupi tubuh bawahnya. “Terima kasih,” ucapnya.
Perawat tersebut tersenyum, “Sama-sama, Bu.”
Ia turun dari ranjang pemeriksaan dan ikut duduk di sebelah Garuda.
“1 sampai 2 minggu tergantung kondisi tubuh,” jawab Aini.
“Terus kapan kami bisa melakukan hubungan ... maksud saya, kami bisa program hamil lagi?” Garu antusias bertanya. Membuatnya refleks menoleh pada laki-laki itu.
Aini tersenyum. “Jika siklus menstruasi istri sudah kembali normal. Bapak dan Ibu bisa merencanakan untuk program kehamilan. Tapi ingat pesan saya kemarin. Periksa lebih cepat jika mengalami tanda-tanda kehamilan. Sebab saat mengetahui kehamilan lebih cepat, Ibu dan Bapak bisa menjaga dengan benar. Hamil muda atau hamil pada trimester pertama itu rentan. Apalagi Ibu Mala sudah punya riwayat keguguran anak pertama. Jadi kita harus ekstra menjaga dan berhati-hati.”
“Hon, kamu yakin pergi?” tanya Ru saat mobil yang membawa mereka menuju kantor TG.
Ia manggut-manggut.
Garuda berdecak. Ada rasa berat untuk melepasnya pergi sendirian ke daerah. Belum lagi ... istrinya masih dalam masa penyembuhan.
Tiba di lobi gedung Torrid Group masih terasa suasana kedukaan. Foto Torrid dan Hartawan yang menempel di dinding seolah menyambut setiap kedatangan tamu saat pertama kali masuk. Mengingatkan kembali akan sosok papi.
Laki-laki itu menggandengnya sejak pertama keluar dari mobil. Beberapa pasang mata berusaha mencuri pandang. Hingga mereka tiba di lantai 30.
“Mas, kayaknya aku tunggu sini saja. Gak perlu ikut rapat,” ucapnya saat keduanya tiba di ruangan Garuda. Laki-laki itu baru melepas genggaman tangannya. Ia duduk di sofa.
“Kenapa jadi berubah pikiran?”
“Aku ....” Untuk pertama kalinya ia ikut rapat pemegang saham seperti ini. Jika hanya rapat biasa atas pembagian deviden atau perubahan nilai komposisi saham ia pastikan tidak ikut. Akan tetapi ini, menyangkut masa depan suaminya. Pun, katanya Garuda ingin memberikan surprise padanya.
Surprise?
Garu mendekatinya duduk di sebelahnya. “Tidak usah sampai selesai. Lagian, kamu juga harus istirahat.” Menatapnya lekat.
“Ops, maaf, Pak.” Toni datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Beruntung ia hanya melihat adegan tatap-tatapan.
“Kenapa, Ton?” Garu menoleh pada Toni.
“Rapat 5 menit lagi, Pak.”
“Ok. Kamu bisa keluar.”
Toni undur diri. Meninggalkan mereka.
Garuda beranjak. Ia ikut berdiri. Merapikan jas dan dasi laki-laki itu. “Sudah,” tangkasnya sambil mengukir senyum. Telapak tangannya menempel lekat pada dada Ru yang terbungkus jas berwarna abu-abu.
“Thank you, Honey.” Ru meraih kedua tangannya, mencium lembut. Kemudian mencium keningnya sekilas, “let’s go!” Ru memberikan lengannya untuk diapit. Ia kembali melukis senyum rekah.
Tiba di ruangan rapat semua peserta telah hadir dan duduk. Toni mengantarkannya pada kursi yang telah disiapkan. Sementara Ru duduk beserta jajaran direksi di bagian depan.
Laki-laki itu tampak menebar senyum. Menyapa dan membalas setiap orang yang bersua dengannya. Berbeda sekali saat pertama kali mereka bertemu. Atau saat kedekatan mereka mengatas namakan pertemanan. Sangat jauh.
Begitu pula yang terjadi padanya saat ini. Dibuat kagum oleh suaminya sendiri.
Tyo di depan telah membuka rapat dan membacakan tata tertib umum serta agenda.
Hingga acara menginjak pada pembacaan perubahan susunan pemegang saham di mana dirinya dipanggil dan dipersilakan untuk berdiri.
Ia tersenyum dan berdiri, menjura sesaat. Lalu kembali duduk.
Kemudian Mulya sebagai ketua tim corporate lawyer membacakan perubahan kepemilikan saham dari Torrid menjadi 3 nama. Yaitu Maleo, Atat dan juga Garuda. Dan yang membuat para peserta tercenung adalah kedudukan Presiden Direktur Torrid Group yang dilimpahkan sepenuhnya kepada Garuda oleh Presiden Direktur sebelumnya.
Meski bukan kabar baru, sebab desas-desus berita tersebut terlebih dahulu mencuat ke permukaan tetap saja mereka merasa ini kabar di luar ramalan dan pengamat yang menyatakan bahwa anak tertualah yang berhak menerima posisi tersebut.
Setelah Mulya selesai membacakan perubahan hak kepemilikan saham. Tyo memberikan waktu kepada para pemegang saham untuk mengemukakan pendapatnya. Meskipun lebih dari 50% pemegang saham telah menyetujui atas pengangkatan Garuda sebagai Presiden Direktur TG melalui keputusan secara sirkuler di luar RUPS jauh sebelum RUPSLB ini diselenggarakan.
Gegap gempita standing applause sesaat setelah keputusan kuorum 90% dari yang hadir menyetujui pengesahan tersebut.
Garuda berdiri di depan. Membungkuk sesaat. Memberikan sepatah dua patah kata sambutan sebagai orang yang kini menduduki jabatan tertinggi di Torrid Group.
Sekilas mata keduanya bertemu pandang. Garu melempar senyum padanya sebelum melontarkan kalimat pertama.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh. Selamat pagi semua. Salam sejahtera bagi kita semua.”
Hening menjeda sejenak. Layar proyektor menampilkan foto Hartawan dan Torrid bersanding di depan kantor Torrid Group-Surabaya. Kantor pertama yang dimiliki TG.
“Ada mitos bahwa generasi ke-3 adalah sebagai penghancur perusahaan. Tapi itu tidak akan terjadi kalau kita kompak. Dan sejauh ini keluarga Hartawan dan Torrid bersatu dalam satu suara.”
“Ini adalah awal bagi saya, dan saya yakin saya mampu untuk mengembangkan Torrid Group berkibar sepanjang masa. Saya akan melakukan yang terbaik setiap hari. Kakek saya mendirikan Torrid Group dari nol. Dari peluh dan lelah yang tak kenal kata menyerah. Pun, demikian buat kami. Tak kenal menyerah sebelum peluh dan lelah menghunjam kalah. Tapi kalah bukan berarti menyerah, sebab memotivasi untuk terus berbuat yang terbaik dari hari ke hari. Saya percaya jika 90 persen saya memberikan usaha yang terbaik, maka 10 persennya adalah urusan tangan Tuhan,”
“Saya belajar dari orang-orang di sekeliling saya. Tidak pandang bulu apa jabatan mereka. Dari sopir, cleaning service, kepala divisi, manajer, maupun hanya penjual koran di jalanan. Bahkan kata ‘bos’ sesungguhnya bukanlah kita. Melainkan mereka. Para konsumen, dewan direksi, investor dan karyawan,”
“Terima kasih saya ucapkan kepada Maleo selaku CEO Torrid palm. Atat selaku CEO Star Gold and Copper. Seluruh jajaran direksi dan komisaris serta para pemegang saham. Terima kasih atas dukungan dan support system yang terjalin selama ini,”
“Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih untuk cinta saya yang begitu setia selalu mendampingi,” Ru menatapnya. Diikuti beberapa pasang mata menoleh padanya. “Thank you so much, for loving me when I’m most unlovable (untuk mencintaiku ketika aku tak layak dicintai), for being patient with me (untuk kesabaran bersamaku) ... ketika melewati masa-masa sulit dalam hidup saya.”
Desiran asing merayap perlahan mengikuti aliran darahnya. Membuat matanya memanas dan berkaca-kaca.
“Thank you, Honey.”
Riuh rendah kembali menggema memenuhi ruangan meeting yang cukup luas tersebut.
“Dan terakhir saya memperkenalkan kandidat tunggal direktur baru Garuda Land yang menggantikan direktur lama karena menjadi dewan komisaris. Silakan Bapak Ganjar Gumilar untuk ke depan.”
Ia yang baru saja takjub dengan penampilan laki-laki itu kembali terkesiap ketika orang yang begitu dikenalnya berjalan ke depan dan berdiri sejajar dengan Garuda.
Sementara layar proyektor menampilkan profile Ganjar. Disertai suara Tyo yang membacakan profile singkat Ganjar.
Adik Garuda itu menebar senyum. Menelangkupkan kedua tangan di depan dada sambil membungkuk sejenak.
“Jadi ini kejutannya?” tanyanya setelah meeting break. Ia, Garuda dan Ganjar tengah berjalan ke ruangan laki-laki itu. Setelah Garuda menerima ucapan selamat dari para peserta rapat beberapa saat lalu.
“Karena dia.” Ganjar menunjuk Garu.
Toni membukakan pintu untuk mereka.
“Ck, ini posisi yang strategis. Lagian, sudah saatnya kamu pulang. Dari pada hujan emas di negeri orang lebih baik hujan berlian di negeri sendiri,”
“Batu, Pak.” Toni mengoreksi.
Ia terkekeh.
“Dari mana batu. Posisi ini posisi strategis dan lebih baik dari sekedar assistant vice president,” sanggah Garuda. Tak lupa dengan cibiran yang menohok.
“Selamat bergabung.” Ia memberikan ucapan pada Ganjar.
“Belum, Hon. Keputusannya bentar lagi.”
“Lho ... jadi?”
Toni tergelak.
Sementara Ganjar berdecih, “Aku sudah mengajukan resign di perusahaan lama. Jadi ... kalau keputusan RUPS tidak menerimaku. Mas Garuda yang nanggung biaya selama aku berstatus pengangguran,” ancamnya.
Garuda menepiskan bibirnya, “Itu hal remeh. Tidak akan membuatku rugi bahkan seujung kuku,” akunya snob.
Ia menggeleng. Melihat kelakuan laki-laki itu yang berubah dari tampilan sebelumnya selama di ruangan rapat—berbanding 180 derajat.
“Honey, satu lagi kejutan untukmu.”
Manik matanya melebar. Kejutan apa lagi?
“Ton,” Garuda menoleh pada sekretarisnya.
Toni sigap beranjak membuka pintu.
“Taraaaa ....”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏