If Only You

If Only You
79. Terima kasih, Mas



...79. Terima kasih, Mas...


Gemala


“Taraaa ....”


Bola matanya membulat sempurna, “Kakak!” pekiknya terkejut. Pasalnya Gayatri baru pulang tak lama kala papi mertuanya meninggal.


Ia dan Gayatri saling mendekap.


“Gaya, selamat bergabung.” Ru memberikan ucapan.


Sementara dirinya terbengong menatap laki-laki itu. Kemudian beralih pada Gayatri. Kakaknya itu mengangguk-angguk.


“Serius??” tanyanya tidak percaya.


Gayatri mengangguk kembali.


“Gayatri akan menjadi manajer desain interior,” jelas Ru.


Ia tersenyum.


“Come on, lo ngapain mau ke daerah? Lagian ... ah, gue ikut prihatin dan sedih. Calon ponakan gue harus pergi secepat itu,” ceplos Gayatri.


Ia mencebik. Dari mana kakaknya itu tahu semuanya? Kalau bukan dari ....


“Pak, meeting di mulai kembali.” Toni menyela percakapan mereka.


“Oke, aku tinggal dulu.” Pamit Garuda. Lekas pergi bersama Toni.


Ia dan Gayatri duduk di sofa. Sementara Ganjar yang tadi berdiri menyandar meja kerja ikut duduk di sofa seberangnya.


“Gak nyangka ya, kita ngumpul di sini?!” celetuk Gayatri. “Gak nyangka juga kita jadi saudara,” imbuhnya.


“Dan satu lagi,” timpal kakaknya itu. “Lo, jadi atasan gue.”


Ia terkekeh ringan.


Ganjar berdecak lalu ikut tergelak. Memang betul apa yang dibilang Gayatri. Akhirnya ia pulang ke Indonesia. Bukan karena seseorang yang akan menjadi masa depannya. Melainkan permintaan Garuda. Pun, ibunya juga mendukung. Dan tentunya yang membuatnya senang ia akan lebih sering mengunjungi ibu.


“Sorry ... Mal, waktu Om Torrid meninggal aku gak sempat pulang. Tadinya rencana pulang cuma,”


“Gak apa, lagian pesan kamu masuk kok. Thanks ya.”


“Kayak apaan. Sekarang kita ipar. Agak kecewa sih, nikah gak kabar-kabar. Mas Ru cuma ngirimi foto.”


Gayatri menimpali, “Sama.”


“Waktu putus saja bikin repot, aku harus terbang dari Sydney ke Melbourne. Giliran nikah—“


Gayatri kembali memotong, “Lupa.”


Ia memberengut.


“Kita kayaknya senasib.” Kakaknya menyimpulkan.


“Ish, iya deh ... iya. Sorry ... bukan lupa, tapi memang kondisi yang tidak memungkinkan,” sanggahnya beralasan.


“Aku ikut prihatin,” sambung Ganjar.  


...***...


Garuda


“Om,” sapanya pada Prasetyo.


“Selamat. Beban tanggung jawab kamu semakin besar. Dan kamu, Maleo juga Atat ... saling lah bahu membahu,  meringankan beban satu sama lain. Jabatan bukan soal siapa yang pantas dan tidak pantas. Tapi perkara yang bisa membawa kapal TG ini berlayar. Dan itu adalah kita semua. Ru, hanya menjadi nakhoda. Sementara kita tim yang akan menyupportnya. Tanpa kita, Ru tidak akan bisa membawa kapal ini sampai tujuan. Begitu juga kita tanpa Ru, akan kehilangan tujuan. Bisa juga kapal akan karam,” tutur Pras. Sebagai komisaris utama. Pria yang lebih tua beberapa tahun dari Torrid itu selalu datang dalam rapat RUPS maupun RUPSLB.


“Aku berharap keputusan papi kalian bisa diterima dengan hati lapang,” pungkas Pras menepuk pundak Maleo yang berdiri di sebelahnya. Lalu bergantian menepuk bahu Atat. “Aku langsung pamit pulang.”


Ia menyalami Pras, “Hati-hati, Om. Tyo akan mengantar Om sampai bandara.”


Pras mengangguk dan mengibaskan tangan. Berlalu pergi dengan Tyo di sebelahnya berjalan beriringan.


“Sekali lagi selamat, Ru.” Maleo kembali memberikan ucapan selamat padanya. “Kita akan sama-sama melanjutkan visi misi perusahaan ini,” lanjutnya.


Ia mengangguk, “Thanks, Brother.”


Sementara Atat hanya menepuk bahunya.


Ia mengembuskan napas. Secara de facto dan de jure, ia sekarang Presiden Direktur dari Torrid Group. Namun, tidak menutup mata ada 10% yang memilih Maleo untuk menggantikan papi. Artinya ... memang ada pihak yang menginginkan Maleo.


Wajar. Sangat normal, bukan? Selalu ada pihak pro kontra dalam sebuah keputusan. Dari awal ia bisa menduga ini akan terjadi.


Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan meeting yang hanya tinggal beberapa peserta. Ia beranjak dari sana.


“Bagaimana nanti malam?” tanyanya pada Toni. Seiring langkahnya terayun.


“Aman, Pak.”


“Aku percaya sama kamu. Kalau ada yang terlewat itu artinya bonusmu tahun ini berkurang.”


Toni menunduk. Meski dalam hati ngedumel kesal. Apa hubungannya nanti malam dengan bonusnya? Sementara bonus tahun kemarin saja hilang setengahnya demi mengganti lambo sialan yang harus dikembalikan sepihak.


“Ton,”


“Eh ... iya, Pak.”


“Aku tahu kamu pasti mau protes. Tapi sayangnya kamu tidak bisa protes. Tugas kamu melayani aku. Bayaran kamu mahal dibanding yang lain. Jadi impas. Aku tidak rugi memperkerjakan kamu. Begitu juga sebaliknya,” tandasnya sembari mempercepat langkahnya, meninggalkan Toni yang berdiri terpaku.


Ia berhenti, “Ton.”


“Eh, iya ... Pak.” Toni sigap setengah berlari menghampiri atasannya. Anehnya, atasannya ini mampu membaca mata batinnya.


Tujuannya bukan ruangannya. Melainkan ruangan Maleo. Toni mengetuk pintu dan membukakan untuknya, “Bilang Mala, Gayatri sama Ganjar. Mereka suruh pulang duluan. Aku nanti menyusul jika urusan sudah selesai.”


“Baik, Pak.”


“Kak,” ucapnya sembari melepas kancing jas dan duduk di kursi depan meja kerja Maleo.


“Aku tidak tahu jika papi akan menunjukku sebagai penggantinya.” Ia memainkan pendulum magnetik dengan jari telunjuk dan jempolnya. To the point maksud dan tujuannya ke ruangan Maleo. Ia ingin tak ada kesalahpahaman.


“Itu sudah keputusan final, Ru. Lagi pula aku mendukungmu. Papi menunjuk kamu artinya kamu yang lebih mampu di antara kita. Kamu tahu, papi selalu tepat mengakomodasi orang-orang sesuai kemampuannya,"


“Tapi aku merasa tidak enak. Bagaimanapun kedudukan Kak Maleo anak pertama."


Maleo menatapnya sekilas, "Ya ... anak pertama atau terakhir itu bukan soalan. Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga, tidak semua bisa menduduki jabatan tertinggi. Papi sudah berusaha adil. Jangan khawatir, aku tidak mempersoalkan itu."


"Dan masalah penjaminan hutang itu juga aku tidak tahu menahu. Namaku dicatut tanpa sepengetahuanku,” tangkasnya. Ia juga menugaskan Mulya untuk mengurus sengketa hutang piutang Meylan. Berkoordinasi dengan ahli waris sesungguhnya. Yaitu Maleo dan Atat.


Maleo mendesakkan napas. Seraya menyandarkan punggung ke belakang. “Aku juga tidak tahu soal mami meninggalkan utang sebanyak itu. Dan kenapa baru sekarang semua dikuak. Aneh. Kata Om Mulya, aku hanya dibebankan sebagian dari total hutang mami. Itu artinya juga dibagi dengan Atat juga. Tapi, Atat ....”


Ia tahu Atat tidak mau membayar kekurangannya. Sebab kakak keduanya itu beralasan jumlah warisan yang ditinggal Meylan nominalnya tak seberapa. Itu pun sudah habis untuk menutupi hutang kartu kredit dan arisan sosialitanya. Bahkan minus, Maleo dan Atat yang pada akhirnya melunasi semua kekurangannya. Lalu mereka mendapat kabar mendadak bahwa Meylan masih menyisakan hutang yang jumlahnya fantastis. Bagaimana mereka tidak syok.


“Kata Om Mulya, aku dan Atat akan tetap dalam pihak yang kalah. Karena surat perjanjian itu legal.”


Jemarinya berhenti memainkan bola pendulum.


“Yang aku tahu, Li memang punya dendam dan punya tujuan. Mungkin pernah kalah dengan papi. Atau bisa juga dendam padaku,” sangkanya beralasan. Tapi yang pasti Meylani lah yang dendam padanya. Memperalatnya melalui Li. Tapi ia tidak bisa membuka persoalan tersebut. Cukup dirinya yang tahu. Karena bagaimanapun Maleo dan Atat hanya tahu hubungannya dengan Meylan baik-baik saja.


Maleo menegakkan punggung. “Nanti aku akan berbicara dengan Atat.”


Ia bangkit dari duduk. “Makasih, Brother."


Ia tersenyum. Lalu bersikap hormat—layaknya prajurit pada komandannya—dan tergelak, “Siap laksanakan!" Memutar tumit meninggalkan ruangan Maleo. Kelapangan hati menggelayut sejenak. Maleo mendukungnya. Itu sudah cukup. Bahkan menjadi cambuk untuk dirinya terpacu lebih baik.


Soal pembagian harta warisan yang termasuk di dalamnya saham telah tuntas. Mereka bertiga menerima itu. Hanya saja ... soal siapa yang menggantikan papi masih ada ganjalan. Ia tidak ingin ini menjadi kerikil bahkan batu sandungan dikemudian hari.


Tatkala kakinya hendak berbelok ke ruangan Atat sekretaris kakak keduanya itu mencegah, “Pak Atat sedang keluar, Pak. Sepuluh menit  yang lalu.”


...***...


Gemala


Pintu balkon terbuka lebar. Ia dan Gayatri duduk santai di sana. Sementara Ganjar langsung pulang ke hotel.


“Jadi Ru nawari pekerjaan waktu Kakak ke Jakarta kemarin?” tanyanya. Diselingi bunyi kres ... kres ... kres dari keripik singkong yang masuk ke dalam mulutnya. Rasa keripik yang renyah dan gurih tak urung membuat tangannya berhenti. Terus melesakkan camilan seperti candu yang senantiasa merayu. Satu stoples sudah hampir tandas.


“Ya, aku juga sempat diskusi dengan mama dan papa. Dan mereka menyerahkan padaku. Alhasil ... aku sampai juga di sini,” Gayatri menunduk. Melihat situasi di bawah. Tangannya mencengkeram pagar besi.


“Kamu betah tinggal di sini?” imbuhnya.


Ia mengangguk. Meski Gayatri tak melihatnya. Mulutnya berhenti mengunyah. Menjilati sisa rasa asin di jemarinya.


“Ish, kebiasaan jorok. Untung nasty mau terima lo!” cibir Gayatri.


Ia tergelak ringan. Meraih gelas dan menegak isinya. Kembali duduk santai. Menikmati matahari yang mulai melandai.


“Semenjak sama gue, dia gak lagi gengsi makan di pinggir jalan. Makan camilan yang  harganya recehan. Pernah sakit diare sih, tapi itu di awal. Sekarang biasa saja.”


“Itu mah, gara-gara lo aja kali. Lagian, harusnya lo yang menyesuaikan kehidupan Ru. Bukan malah Ru yang ngikuti elo,” protes Gayatri. Kakaknya itu kini duduk di kursi santai satunya. Mengaduk-aduk gelas berisi jus strawberry. Menyeruputnya melalui pipet plastik. “Ru, memberikan fasilitas cuma-cuma, maksudnya itu agar lo bisa mengikutinya.”


Ia menggeleng, tidak setuju.


Ketika makan malam, Ru mengajaknya makan di sebuah restoran fine dining di salah satu hotel terkenal ibukota.  Menyajikan makanan khas Eropa dengan pemandangan city view Jakarta. Ada Gayatri, Ganjar, Toni, Max dan tentunya Jebe yang baru saja datang.


“Ck, gue gak undang lo.” Ru menukas ketika Jebe menggeret kursi kosong di sebelahnya.


Jebe menyergah, “Gue gak perlu diundang. Datang dengan sendirinya.”


Ia dan yang lainnya tergelak. Sedangkan laki-laki yang duduk di sebelahnya mencebik kesal.


“Bos Jebe melewatkan RUPSLB. Tapi tidak mau ketinggalan perayaan hari ini,” Toni menukas. "Perayaan Presiden Direktur TG yang baru ... plus bergabungnya Ganjar dan Mbak Gayatri,” imbuh Toni.


“Setuju. Lo, majority stockholders. Tapi seolah-olah gak peduli. Mau rugi, untung, masa bodoh,” timpal Ru. “Ralat, Ton. Bukan perayaan gue.”


“Dia udah kelebihan ini, Man.” Max menggesek jempol dan jari telunjuknya.


Jebe menyergah, “Lo, semua kagak ngerti. Gue tadi pagi sampai siang ada meeting. Suer. Urgen. Kalau sempat gue gak hadiri itu meeting, langsung didepak sama kakek gue.”


“Takut juga lo, sama kakek lo?” sindir Max.


“By the way ... congrats buat lo. Presedir, Man. Gila! Pencapaian yang ... amazing.” Tandas Jebe.


“Eh, udah pada kenalan sama adik gue,” Ru menyela. Mengalihkan topik.


Jebe menukas, “Gue yang belum. Gue Jebe.” Ia mengulurkan tangannya. Disambut oleh Ganjar, “Ganjar.”


“Anyway ... kenapa lingkaran G itu banyak banget. Lo, Garuda. Adik lo, Ganjar. Istri lo, Gemala, kaka ipar lo, Gayatri dan Ganisha,” cecar Jebe.


“Karena nyokap gue, memang suka dengan awalan huruf G,” sambar Gayatri.


“Dan jodohnya G lagi ... G lagi.” Toni menimpali sembari terkekeh.


Percakapan itu terhenti sejenak ketika pelayan datang membawa makanan. Mulai makanan pembuka smoked salmon dengan apple salad dan lemon fennel dressing. Wagyu beef sebagai makanan utama. Dan ditutup dengan dessert vanilla cheesecake-berry sorbet (sari buah berry yang dibekukan)


Ia meninggalkan meja makan ke toilet. Namun begitu kembali dari toilet pandangannya terpana seketika. Meja bulat dengan tatanan bunga-bunga cantik. Di tengahnya terdapat kue ulang tahun.


Sayup-sayup terdengar,


...Happy birthday to you .......


...Happy birthday to you .......


...Happy birthday ... happy birthday...


...Happy birthday to ... Gemala...


Disusul tepuk tangan. Dan band pengiring di ujung ruangan yang melanjutkan dengan lagu Happy birthday to you milik Ten 2 five.


Garuda menghampirinya dengan kedua tangan di belakang punggung. Tersenyum padanya. Sementara yang lain berdiri mengelilingi meja bulat dengan lilin yang masih menyala di atas kue.


Ru mengangsurkan buket bunga tulip merah padanya dari balik punggung, “Happy birthday, Honey ... happy birthday to someone, who makes my life so special (Selamat ulang tahun untuk seseorang, yang telah membuat hidupku begitu istimewa).


Senyumnya merekah. Menerima buket bunga tersebut.


“Terima kasih untuk semua hal indah yang telah kamu berikan untukku ... and how you showing me the true love meaning (dan bagaimana kamu menunjukkan kepadaku arti cinta sejati), I love you, every day ... now ... and forever.”


Matanya berkaca-kaca menatap laki-laki di depannya. “Thank you,” ucapnya lirih bersamaan buliran cairan kristal meluruh.


Garuda merengkuhnya. Menciumi kepalanya.


Tepat pergantian hari ia merayakan bertambahnya usia bersama orang-orang yang dekat dan menyayanginya. Kehadiran mereka adalah kado yang terindah. Tak lagi terbantah.


Ia juga tak menyangka, Ru akan memberikan kejutan demi kejutan untuknya. Dan puncak kejutan di pagi hari berikutnya adalah video call bersama mama-papa, Kak Ganisha serta Siren dan Juna. Tak ketinggalan dengan Ibu Rahayu.


Terima kasih, Mas.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏