
...93. Kisah Yang Mengenangkan...
Gemala
“Auntie, sini!” seru Siren yang tengah berenang di teras belakang bersama Juna dan Mas Abhi.
Ia yang berdiri di ambang pintu mendekat ke bibir kolam. Juna mencipratkan air ke arahnya sambil mengulum senyum. Ia mencebik. Kemudian duduk di kursi lounger dekat Gayatri.
“Ru masih tidur?” ucap Gayatri.
Ia mengangguk sambil mengawasi Siren yang sudah lincah berenang dengan gaya dada.
“Rencana pulang jam berapa?” tanya kakaknya tersebut.
“Belum tahu.”
“Gue bareng rombongan papa aja naik speedboat. Pengen ngerasain naik kapal,” kelakar Gayatri.
“Memangnya di Yarra river bukan kapal?” cibirnya. Tidak mungkin selama bertahun-tahun Gayatri tinggal di Melbourne tidak pernah menaiki Yarra cruiser.
“Beda tipislah, kayaknya seru naik kapal bareng-bareng. Sudah lama kita gak liburan bareng kayak begini.”
Ia mengalihkan pandangan ke Juna yang belajar canoe. Betul yang dibilang Gayatri, kapan terakhir mereka liburan keluarga seutuhnya? Sudah lama. Dan inilah momen mereka berkumpul semua.
“Hahaha,” Siren menertawai Juna yang berkali-kali gagal mendayung. Karena tidak seimbang akhirnya jatuh ke air.
Ia ikut tertawa.
“Breakfast,” Ganisha muncul dengan membawa nampan yang berisi kudapan dan minuman. Meletakkan di meja antara lounger.
“Papa dan mama di mana, Kak?” tanyanya.
“Jalan-jalan pakai buggy car,” balas Ganisha. Ikut mendudukkan diri di lounger satunya lagi.
Ia mencomot kentang goreng. Mencocolnya pada mayones.
“Kita pulang jam berapa?” tanya Ganisha. “Anak-anak ngajak lihat penangkaran penyu sama ikan hiu. Sore saja kali, ya. Lagian papa sama mama Senin pagi berangkat ke Canberra. Kebetulan kami balik ke Surabaya juga, jadi nanti bisa barengan ke bandara.”
“Hahaha ....” Siren kembali tertawa lepas melihat Juna kesal kembali jatuh tidak dapat menguasai keseimbangan canoe.
“Harus sabar, Papa pegangi. Juna naik lagi,” pinta Abhi. Tapi Juna masih cemberut.
“Juna mah gitu, anaknya kalau sudah merasa gagal bawaannya kesal,” sambung Ganisha melihat anaknya dengan muka ditekuk.
“Juna dengerin, Papa!” Seru Ganisha.
“Ayo naik,” titah Abhi. “Papa pegangin biar gak guling,” imbuhnya.
Juna justru melipir ke pinggir kolam dengan melipat kedua tangan di dada. Kesal.
Garuda datang dengan celana pendek dan kaos santai. “Juna kenapa?” tanya Ru melihat ke arah kolam, menghampirinya.
Ia menyodorkan segelas orange juice pada Garu. Laki-laki itu duduk di sebelahnya. Dan menegak minumannya.
“Biasa ngambek,” timpal Ganisha.
“Gak bisa main canoe,” ia menambahi.
“Hei, sini sama Om.” Ru bangkit. Melepas kaosnya. Lalu perlahan masuk ke dalam kolam. Mendekati Juna. Entah apa yang dibicarakan antara om dan keponakan tersebut. Tapi Juna terlihat mau dibimbing Ru.
“Garuda sudah pantas jadi ayah, Mal.” Ganisha menyergah, melihat interaksi anaknya dengan Ru.
Sudut bibirnya melengkung ke atas.
“Pengalaman kemarin, artinya lo jangan sampai capek. Berhenti kerja aja sih,” saran Gayatri.
“Iya, Mal. Kalian fokus dulu. Kalau sudah ada, kamu bisa kerja lagi. Mungkin Ru tidak enak meminta seperti ini ke kamu. Tapi sebelum Garuda meminta, alangkah bijaknya kita memahami apa keinginan suami,” tambah Ganisha.
Ia menghela, “Akan aku pikirkan, Kak.”
Tepat pukul 10.00 WIB, rombongan keluarga mama, ibu dan Om Pras bertolak ke penangkaran ikan hiu dan penyu. Sementara ia diajak Garu ke vila Atat. Menjenguk Vivi yang katanya sakit.
“Kenapa gak ngomong tadi malam kalau Mbak Vivi sakit?” sungutnya sebal. Pasalnya laki-laki ini cerita soal keadaan Vivi baru saja. Ia yang awalnya hendak ikut rombongan papa, jadi urung. Memilih melihat kondisi Vivi.
“Tadi malam kamu sudah tidur, aku tidak tega bangunin kamu.” Ru menghentikan buggy car di teras vila Atat. Di sana sudah tampak Max, Toni dan Maleo yang duduk di gazebo depan.
“Bagaimana kondisi Vivi?” tanya Ru. Ia memilih masuk ke dalam.
“Hai, Sean.” Ia menyapa anak Maleo yang tengah menyantap sarapan di meja makan. Sean hanya melambaikan tangan tanpa berucap.
Ia langsung menuju kamar Vivi. Di sana sudah ada Sandra yang sedang berusaha membujuk Vivi untuk makan.
“Mbak Vivi gimana keadaannya?” ikut duduk di tepi ranjang.
“Tuh, udah tahu sakit. Masih malas makan,” keluh Sandra yang duduk di kursi rias samping ranjang.
Vivi masih terdiam. Wajahnya terlihat kuyu. Matanya sembab semakin tak tampak sebab Vivi bermata sipit. Masih keturunan etnis Tionghua.
“Mbak Vivi harus makan. Mau aku yang suapin?” tawarnya.
Vivi menggeleng.
Kala rembang petang, semua keluarga besar telah berkumpul. Saatnya berpisah kembali ke tempat masing-masing. Tiga buah kapal speedboat telah siap. Membawa mereka kembali ke ibukota.
Sesungguhnya inilah perpisahan yang berat dilakukan. Rasanya kebersamaan itu terasa kurang. Namun ia sadar, tidak ada yang kekal. Waktu akan terus berjalan memintal tanpa bisa ditangkal.
Begitu juga kebersamaan kali ini. Entah kapan lagi akan terulang. Yang pasti, semua akan tersimpan dalam album kenangan. Dan kelak akan dikisahkan dengan bangga di masa depan.
Ia melambaikan tangan. Garuda merangkum bahunya. Perlahan speedboat tersebut meninggalkan H-island. Menyisakan dirinya, Garuda dan Toni.
...***...
Rahayu
Satu jam setengah sebelum kepulangannya anak pertamanya itu menemuinya di vila. Bergabung dengan Ganjar, Pras, Tyo serta sepupunya.
“Mbak, nginep dirumah dulu kalau nanti kemalaman.” Pesawat mereka ke Yogya pukul 19.30 WIB. Sementara Prasetyo dan istrinya harus menempuh lagi perjalanan 40 kilometer di sebelah barat laut Yogyakarta. Bisa jadi memakan waktu sekitar 1,5 jam.
“Aman, Ayu. Nanti kalau kami sudah angkat tangan. Kami bisa menginap di mana saja,” tukas istri Pras.
“Benar lho, ya. Aku ini salut sama Mas Pras dan Mbak, sudah disebut simbah sama cucu-cucu, tapi masih kuat dan semangat jalan-jalan.”
Istri Pras terkekeh pelan, “Kamu itu dokter, pastinya tahu bagaimana menjaga kesehatan.”
Ia menghela. Nyatanya ia kecolongan menjaga kesehatan Koko. “Dokter juga manusia, Mbak.”
“Ya, tapi setidaknya punya parameter. Punya amunisi, pencegahan ... beda sama kita-kita orang awam. Tahunya bisa gerak, ya berarti sehat. Padahal gak tahu dalam tubuh sudah bersarang penyakit.”
Ia terdiam. Kalimat istri Pras berhasil menohok keangkuhannya. Keangkuhan sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Di mana ia harus kehilangan orang yang begitu punya arti dalam hidupnya.
“O, ya, Mbak. Aku bawa camilan ini ke luar. Kasihan mereka ngobrol tapi tidak ada teman gayem, (mengunyah)” kilahnya. Beranjak dari meja makan membawa camilan dan minuman.
Terdengar mereka mengobrol akrab. Sesekali gelak tawa. Sesekali serius. Tak ada sekat.
“Om, jatah 1 yo, Ru. Untuk Tyo sama calonnya,” tutur Pras.
“Ru bangun residensial di Yogya. Ganjar juga katanya mau bangun yang sama, tanahnya diserahin sama GL biar dikerjain sama orang profesional. Aku mau kasih kado kalau Tyo jadi nikah tahun depan. Kadonya 1 unit rumah,” tukas Pras.
“Enak kamu, Yo. Belum nikah saja sudah dijanjikan kado,” cibir Ganjar.
“Kamu mau, Le?” tanya Rahayu. “Itu tanah hibah dari Ibu, kan kado juga. Gak pakai janji kalau nikah. Padahal katanya mau dikenalin sama cewek yang waktu itu. Sampai sekarang mana?” todongnya.
Yang lain tergelak melihat Ganjar mati kutu.
“Kamu mau apa?” sela Ru. Menantang sang adik.
Lagi, lagi Ganjar tak berkutik.
Lengkungan bibirnya ke atas. Desiran kebahagiaan menyelimuti hatinya. Melihat keakraban mereka. Keceriaan mereka. Kapan lagi?
Tapi tunggu.
Ia menatap Garuda tanpa kedip. Anaknya itu memang terbiasa memakai kaca mata hitam. Bahkan ia tak terlalu memedulikannya. Akan tetapi saat ia memperhatikan dengan saksama.
“Ibu ke belakang dulu,” pamitnya. Ia menuju kamar. Mencari keberadaan ponselnya. Menelepon seseorang.
“Pagi, Dok. Maaf mengganggu. Apa saya boleh tanya sesuatu?”
Terdengar sahutan dari seberang. Yang mengatakan, “Selamat pagi. Silakan, Dokter Rahayu.”
“Kapan terakhir Ru medical check up?”
...***...
Garuda
Tiba di Jakarta mengantarkan terlebih dahulu Mala ke apartemen. Lalu pergi dengan Toni menuju Mapolres yang berada di daerah Kebayoran Baru.
“Hati-hati,” pesan Mala. Ia mengusap kepala istrinya dan menciumnya di sana.
“Berita sudah naik, Pak. Memang yang disorot lebih banyak Suri. Tapi, Pak Atat akhirnya ikut terblow up,” Toni berucap kala mereka sedang berada di mobil yang terus melaju.
Tepat.
“Menurut tim lawyer, alibi Suri waktu ditanya penyidik memakai barang itu karena ingin tampil sempurna. Tertekan dengan kondisinya sebagai public figure yang harus tampil sesuai tuntutan layar. Sementara Pak Atat beralasan mencari ketenangan.”
Sesuai dengan berita yang telah beredar luas di masyarakat.
Ia menyorong kaca mata hitamnya yang melorot. Menatap lurus ke depan.
“Semua fix hasilnya positif. Suri, Pak Atat, 2 teman Suri yang bekerja di manajemen artis, dan 1 lagi kurir. Yang menurut pengakuan si kurir ini mereka terhubung dengan Robin,” terang Toni.
Lagi, lagi Robin.
“Robin sudah dibawa ke kepolisian untuk dimintai keterangan dan infonya juga sudah ditetapkan sebagai tersangka,” imbuh Toni.
Sesampainya di tempat tujuan ia langsung menemui Atat. Setelah melakukan pemeriksaan ketat untuk menjenguk tahanan sementara. Sebenarnya Atat masih dilarang untuk dijenguk kecuali oleh penasihat hukumnya.
Ia pun datang ditemani oleh Mulya dan salah satu timnya. Menunggu di sebuah ruang tunggu yang kebetulan sepi sore itu.
“Silakan, Pak.” Seorang petugas menggiring mereka masuk lebih dalam. Membukakan pintu dan menyilakan mereka bertiga.
Atat tampak duduk menunduk dengan kedua tangan yang bertaut di atas meja. Berseragam oranye khas tahanan.
“Ngapain lo kesini?” sinis Atat menyambutnya. Ia masih berdiri. Sementara Mulya dan salah satu anggotanya duduk di kursi lipat berwarna hitam. “Gue gak perlu belas kasihan lo,” sambungnya.
Ia mengembuskan napas kasar sarat beban.
“Pak Atat, kami kesini—” sanggah Mulya terpotong sebab Atat bangkit.
“Kalau pembicaraan ini di luar konteks lebih baik Bapak ajak yang lainnya keluar dari ruangan ini,” kelit Atat.
Ia yang sedari tadi menahan geram mengepalkan tangan tak tahan lagi. Mendorong Atat hingga kakaknya tersebut terduduk di kursi. Menghasilkan bunyi decit cukup keras.
“Lo masih gak sadar? Masih ngefly? Atau lo lagi sakau!” hardiknya. “Lo ingin jabatan tertinggi di Torrid group? Ambil! Gue gak mati gara-gara jabatan itu bukan gue yang pegang. Lo, mau warisan lebih banyak? ambil yang mana yang lo mau! Ambil semua. Gue masih bisa hidup tanpa itu semua. Asal jangan ambil hibah untuk ibu. Tanah itu akan dibangun rumah sakit. Itu janji papi. Untuk digunakan orang banyak. Asal lo tahu, kita punya status sama,” napasnya memburu. Menghunus pandangan tajam pada Atat yang juga menatapnya tak kalah sengit.
“Kita sama-sama anak kandung papi. Sama-sama dengan pernikahan yang sah.”
Ia menjatuhkan kepalan tangannya di atas meja. Menggetar saking tak tahan lagi ingin diluapkan. Mulya dan anggotanya hanya terdiam melihat mereka berselisih. Kendati merasakan kecemasan luar biasa.
“Lo, sudah ngancurin amanah papi. Ngancurin impian papi. Lo, sadar gak!” bentaknya.
Atat bergeming.
Ia mengeluarkan amplop putih dari saku celananya. Yang tadi diserahkan oleh sekretaris Maleo saat heli mendarat di atap gedung TG. “Dan lo ... akan ngancurin Vivi serta calon anak lo!” melemparkan amplop tersebut ke dada Atat. Ia berdiri, menyapu wajahnya yang memanas menahan amarah. Memutar tumit membelakangi kakaknya yang masih ternganga tak percaya. Seraya berkacak pinggang.
Atat tercenung. Bak ter puntir angin topan tak kasat mata. Berita baru saja jelas menghantam dadanya.
Perlahan bahu Atat melorot. Patah-patah tangannya membuka amplop putih yang tidak dilem. Mengeluarkan isinya. Sebuah kertas dengan keterangan dari sebuah rumah sakit. Rumah sakit milik Tan. Menerangkan bahwa ... bahwa Vivi telah mengandung dengan usia kehamilan 13 minggu. Kemudian terdapat lampiran foto USG 3 dimensi 2 lembar. Tangannya gemetaran memegangi kertas tersebut.
Terguncang.
Atat menunduk dalam. Tubuhnya naik turun menahan gemuruh dadanya yang bertalu kalut marut. Wajahnya memanas seiring desakan air mata yang terus menumpuk memenuhi pelupuk matanya.
“Dia mengalami pendarahan. Karena tekanan. Karena memikirkan kondisi lo,” pungkasnya. Lalu keluar dari ruangan.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...