If Only You

If Only You
68. Mengkhawatirkanmu



...68. Mengkhawatirkanmu...


Gemala


Bola raksasa dunia telah melandai di kaki barat. Tertutup sebagian awan gelap. Pun polusi emisi menambah udara kian pekat. Langkahnya gontai menyusuri jalan Wijaya.


Pertemuan dengan mitra kerja yang meminta meeting dilakukan di luar mengharuskannya mengikuti permintaan tersebut. Tak jauh sebenarnya. Hanya berjarak 40 meter dari gedung kantornya. Atau sekitar 1 menit berjalan kaki. Satu garis lurus dengan gedung tempatnya bekerja.


Maka ia putuskan untuk ke sana dengan berjalan kaki. Davin kebetulan juga tengah di luar menemui mitra yang lain.


Davin.


Bibirnya menahan senyum seketika. Nama itu ternyata mampu membuat Garuda cemburu. Tapi laki-laki tak mau mengakuinya. Aneh.


Akibat Davin pula kini ia tak diizinkan untuk pulang tanpa San maupun laki-laki itu.


“San atau aku yang antar jemput. Titik.” Putus Garu tanpa penawaran.


Bahkan ketika ia meminta untuk mengendarai kendaraan sendiri tak juga menggugah keputusannya.


“Bagaimana kalau aku ada meeting di luar. Atau mendadak harus ketemu mitra atau pihak ke-3,” ucapnya beralasan.


“San akan standby di kantormu. Dari kamu berangkat sampai pulang,” jawab Ru. “Mengantarkanmu ke mana saja sesuai perintahmu,” sambungnya dengan tegas dan lugas.


Artinya jika sudah begitu tidak ada lagi sanggahan. Ia menerima keputusan Garuda. Meski ya ... agak berat sih. Bagaimana persepsi orang tentang dirinya? Ngapain kerja kalau sudah punya segalanya?


Bahkan mobil yang mengantarkannya mungkin lebih bagus dan mahal di antara mobil yang terparkir. Sebanding dengan direkturnya. Atau mitra dan klien yang bekerja sama.


Sampai dengan saat ini, sementara hanya satpam yang baru tahu. Tapi lama-kelamaan apa tidak menutup kemungkinan staf lain. Atau pegawai yang tidak sengaja melihat. Atau justru atasannya sendiri.


Terkadang ia sengaja meminta San untuk menurunkannya di basement. Atau di depan lobi jika sepi. Ia tidak mau mencuri perhatian mereka. Jika di Melbourne ia bebas melakukan apa pun. Mau jungkir balik seenaknya sendiri tidak ada yang komplain dan protes maupun nyinyir. Asal tidak mengganggu orang lain.


Sementara di sini?


Mereka lebih mengandalkan mulut untuk mengungkap sesuatu yang belum tentu benar keberadaannya. Daripada mencari fakta yang sesungguhnya.


“Aa-agghhh,”


BRUG.


...***...


Garuda


Lima menit lalu ia mendapat kabar Gemala dijambret di jalan.


“Lebih cepat, Ton!” serunya tak sabar.


San memberitahukan lengan Mala tersayat pisau. Kakinya terkilir akibat didorong. Dan jatuh ke tepi trotoar.


“Di mana?” tanyanya menelepon sang sopir saat ia turun dari mobil.


San menyebut sebuah ruangan perawatan di rumah sakit milik Tan yang tak jauh dari kantor Mala.


Langkahnya panjang dan cepat. Lalu menelepon Toni untuk mengurus kecelakaan yang melibatkan istrinya. Meski terkesan sebagai tindakan kriminalitas umum. Tapi bukan berarti ia tak akan mengusutnya.


“Kamu laporkan. Dan usut sampai tuntas!” Titahnya tak main-main.


“Baik, Pak.”


Ia mendorong pintu ruangan yang disebut San. Tampak Max dan dokter lain sedang berbincang.


“Bagaimana kondisi Mala?” tanyanya terburu.


“Tenang, Bro. Mala baik-baik saja. Luka robek tidak terlalu dalam. Sudah dijahit untuk menghentikan pendarahan. Pergelangan kaki yang terpelintir juga sudah dibebat untuk meredakan bengkak dan mengurangi pergerakan,”


“Apa tidak ada luka serius?” tanyanya masih cemas.


“Kita sudah melakukan rontgen untuk melihat struktur tulang sendi. Semuanya bagus. Hanya ankle sprain.”


“Kamu yakin?”


Max mengangguk diikuti dokter sebelahnya. “Kita lihat kalau 3 atau 4 hari masih terasa sakit dan susah berjalan baru kita ambil tindakan berikutnya,” pungkas Max.


Ia menyibak gorden. Mala tersenyum menyambutnya.


Ia berdecak dan duduk di kursi samping Mala terbaring, “Masih bisa senyum,” cibirnya kesal. Dengan kondisi lengan dalam diperban. Pergelangan kaki dibebat saja masih menebar senyum pikirnya.


“Hehehe, aku yang gak hati-hati.”


“Bukan kamu yang salah. Tapi mereka yang sengaja melukaimu. Besok-besok gak boleh jalan sendiri. Kenapa harus jalan di trotoar sendirian? Kenapa tidak pakai mobil. Kan, aku sudah bilang. San standby kapan pun kamu minta.” Ia menangkas dengan raut muka mengeras. Mala keras kepala.


“Iya, maaf. Karena  aku pikir cuma dekat ini. Ngapain pakai mobil. Kan, biasa jalan juga. Itung-itung olahraga,” dalih Mala mencari alasan.


“Kamu pikir ini di Melbourne?!”


Gemala mencebik. Lalu memutar bola matanya jengah.


“Mau jaraknya dekat, jauh, atau hanya 10 meter tetap saja. Harus waspada. Apalagi kamu sendirian. Wanita. Pasti jadi incaran para penjahat.”


Mala terdiam. Mendengar penuturannya. Memang benar. Kejahatan tidak pandang kapan dan di mana saja. Apalagi terhadap wanita. Yang bagi sebagian orang dianggap kaum lemah dan mudah diperdaya.


“Aku hanya berusaha mempertahankan ponsel,” kebetulan tangan kiri Mala menggenggam ponsel. Sedangkan tangan kanan membawa map folder.


Ia semakin berdecak, “Hanya?!" geramnya. "Gara-gara ponsel, lengan kamu dipertaruhkan? Bahkan nyawa kamu! Ck ... aku bisa belikan 1000 yang seperti itu.”


Istrinya itu menunduk. Meremas jemarinya yang saling bertaut. Wajahnya memanas menjalar hingga ke pelupuk mata. Mendesak kelenjar air mata untuk mengeluarkan cairan menggenang di sana. Bukan masalah harga. Melainkan semua isi di dalamnya. Yang sebagian besar belum di backup datanya.


“Kenapa?”


“Betul, kan, semua yang aku bilang!”


Bahu Mala naik turun.


Ia mengembuskan napas. Tidak tega melihat istrinya menangis. Bangkit dan duduk di tepian brankar. Merengkuh Mala. Lalu mencium kepalanya.


“Aku gak marah. Hanya mengkhawatirkanmu.”


...***...


Gemala


Selama 3 hari ia tidak ke kantor. Mendapat izin beristirahat di rumah. Selama 3 hari itu pula ia tidak memakai benda pintar tersebut.


Alasan Ru karena, “Fokus pada kesembuhanmu.”


Hari pertama laki-laki itu menemaninya seharian. Bekerja dari rumah. Ia bahkan tidak diizinkan untuk turun dari kasur.


“Aku masih bisa jalan,” protesnya. Kendati demikian, nyatanya Ru selalu membantunya ke kamar mandi dengan menggendongnya.


“Kamu lupa apa kata dokter?! Jangan banyak bergerak.” Bolak balik Ru mengingatkan. Entah sudah yang ke berapa kali.


Ia mendengus.


“Berlebihan,” gumamnya.


Hari kedua laki-laki itu berangkat bekerja ke kantor. Namun memberikannya kruk untuk membantunya berjalan. Yati disuruh memantau setiap saat. Dan melarangnya banyak berjalan dan bergerak.


Ia dilanda kebosanan.


“Mal, gue lagi kerja.” Sambut Gayatri sesaat sambungan telepon itu masuk.


Ia menggunakan telepon rumah.


“Issh ... gue bukan gak kangen. Tapi gue malas. Pas telepon lo, terus lo lagi gitu-gituan gimana? Entar gue dikacangin.”


Ia berdecak, “Otak lo perlu dicuci kayaknya.”


Tawa Gayatri meledak.


“Kak,”


“Hem ...,” sahut Gayatri.


“Gue lagi kena musibah. Kemarin kena jambret. Kaki gue terkilir. Lengan gue robek kena pisau. Penjambret itu bawa ponsel gue,”


Kakaknya itu memotong, “Lo, gak pa-pa?”


“Kan, gue bilang kaki terkilir sama lengan robek kena pisau,”


“Maksud gue, parah gak?” sanggah Gayatri.


“Lumayan,”


“Gue ikut prihatin. Pasti Garu panik dan khawatir banget,”


“Banget. Tapi ... dia jadi protektif. Jadi,”


“Ya, wajarlah. Dia sayang sama lo.” Gayatri menyergah.


“Masalahnya, gue ....”


“Gue kalau jadi si nasty pasti gitu juga. Lebih jaga lo bener-bener. Apalagi soal berita kemarin. Ru sigap. Semua berita langsung redam. Salut.”


“Lo, percaya deh. Garuda hanya ingin yang terbaik buat lo. Dia sayang banget sama lo.”


Hatinya langsung menghangat. Mendengar ucapan Gayatri. Memang benar. Laki-laki itu sayang sama dirinya. Meskipun terkadang dengan caranya. Yang menurutnya kaku. Aneh. Dan tampak memaksa.


Obrolan itu berakhir setelah Gayatri menceritakan soal Jebe yang sering menghubunginya. Apa mungkin Jebe tertarik dengan kakaknya itu? Ah, sudahlah itu urusan mereka.


Hari ketiga.


Hari terakhir masa istirahatnya. Sebelum esok ia kembali bekerja. Meski cuti tahunan belum keluar sebab ia belum menjalani minimal setengah tahun atau 6 bulan sebagai pekerja di WRI. Tapi bagi staf baru yang tertimpa musibah seperti sakit dan kemalangan misalnya. Menikah dan melahirkan. Sesuai peraturan perusahaan maka akan mendapat hak cuti yang sama. Tanpa memandang lama tidaknya masa kerja.


Sore hari Garu datang bersama Max. Memeriksa luka jahitan dan terkilir di pergelangan kakinya.


“Bagus. Sudah kering,” ucap Max saat melepas perban 3 jahitan di lengannya.


“Sakit?” tanya Max saat sedikit menekan sekitar jahitan.


Ia menggeleng.


“Sekarang kita lihat bagian kaki,” tukas Max. Melepas perlahan perban yang membebatnya.


“Sudah dicoba untuk berjalan?”


Ia mengangguk. “Sedikit,” imbuhnya.


Max menyuruhnya untuk berjalan perlahan. “Kalau sakit, nyeri bilang,” pesan Max yang melihatnya berjalan sedikit demi sedikit.


Ia tersenyum, “Gak sakit,”


“Betul, Hon?” tanya Ru. Yang masih mencemaskannya.


Kepalanya mengangguk-angguk. Mencoba melangkah lebih banyak namun masih pelan-pelan.


Senyumnya terkembang sempurna, “Sudah sembuh,” ucapnya yakin.


Malam harinya mereka makan malam bertiga. Sekaligus Max menceritakan kondisi papi terakhir sewaktu sahabat Garu itu menjenguknya.


“Sudah berbicara sedikit. Tadi pagi minta berjemur,” ungkap Max.


Kelegaan jelas terpancar dari raut muka Garu. Pun ia juga merasakan hal yang sama. “Semoga terus membaik,” doa dan harapan yang selalu dipanjatkannya.


“Aamiin ....” Ru menatapnya sembari mengulas senyum.


...***...


Rahayu


Perasaannya tidak enak. Tadi malam setelah sekian lama ia tidak memimpikan Torrid. Entah mengapa dia datang kembali.


“Ay,”


Torrid memanggilnya dengan senyum yang ... tulus dan ringan. Seringan kapas terbawa angin yang lepas. Tidak ada beban. Tidak ada kesakitan.


Ia mencoba menghubungi Tan. Memastikan kondisi Torrid sesungguhnya.


“Mengalami kemajuan. Meski tidak banyak. Sudah mulai berbicara sedikit. Tadi pagi minta berjemur dan keluar ke taman.” Urai Tan di sambungan telepon.


Kelegaan menyelusup di relung hatinya. Setidaknya mimpi itu adalah tanda baik.


“Dua hari lalu menanyakan Anda, Dok. Apa Dokter ada rencana untuk kemari?” lanjut Tan.


Ia tidak bisa memastikan hanya saja, “Aku usahakan.” Balasnya pada Tan.


Jemarinya menggeser layar ponsel. Setelah beberapa detik lalu sambungan telepon dengan Tan berakhir.


Memilih menu aplikasi penerbangan. Mengisi tujuan dan tanggal keberangkatan. Namun jemarinya tetiba terhenti. Netranya menatap kalender meja yang berdiri tak jauh.


Seminggu ke depan jadwalnya padat. Bahkan 2 hari di akhir minggu harus mengisi seminar di luar kota.


Cukup lama ia terpaku menatap angka bilangan 1 sampai 31 di hadapannya.


“Apa karena aku terlalu mengkhawatirkanmu?” ucapnya lirih.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏