If Only You

If Only You
17. Bad News



...17. Bad News...


Garuda


Ia tiba di Ibukota Provinsi tempat proyek reklamasi ketika bola raksasa dunia itu tergelincir di kaki barat. Langsung menuju proyek yang masih berlangsung pengerjaannya.


Memastikan dugaan dan temuannya benar. Dan ternyata sesuai. Ia mencengkeram berkas laporan dari manajer proyek. Kemudian berlalu menuju kantor lapangan.


“Bagaimana, Ton?” Tanyanya dengan langkah cepat. Melewati beberapa para pekerja yang tengah sibuk. Pun manajer proyek terlihat kepayahan mengekorinya.


“Aman, Pak.”


“Kamu yakin?”


“Yakin 100%.”


Di dalam ruangan itu telah menunggu staf quality control, project architect, site engineering manager, dan site operasional manager.


“Sebelum saya tanya silakan laporkan hasil progress kalian?” Ia duduk menyender meja. Tangan melipat di depan dada. Sementara Toni izin keluar menerima telepon.


Para manajer saling pandang. Tentu saja. Sebab laporan harian, mingguan dan bulanan selalu mereka kirimkan. Tepat waktu. Tapi mengapa tetap saja mereka dimintai lagi.


“Kalian tidak punya mulut?”


Mereka menunduk.


“Oke.”


“E ..., perubahan kontrak kerja sama dengan perusahaan besi-baja konstruksi—” Terang project manager tidak tuntas.


Nyenyat sesaat di ruangan manajer proyek berukuran 4x6 meter itu.


“Ada lagi?”


Semua masih menunduk.


“Itu, Pak ... izin persyaratan lingkungan yang mewajibkan melibatkan konsultasi publik ... e ... e,” manajer proyek itu tergagap. Tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Ketar-ketir. Ternyata memang benar isu yang beredar tentang pemimpin baru GL yang terkenal disiplin dengan jargon ‘time is money’. Belum lagi katanya ketus, galak dan tidak pandang bulu terhadap setiap kesalahan. Apa lagi baru menjabat beberapa hari banyak pegawai yang dipindah tugaskan. Itu semua sudah menjadi informasi tak terbantahkan.


“Diindikasikan, publik hantu maksud kamu!” potongnya kesal. Entah tim mana yang dulu mengerjakan tugas ini.


Kepala manajer proyek kian tertunduk dalam. Pun kepala yang lainnya.


“Lantas siapa yang dimaksud publik di sini?”


Tak ada yang menjawab.


Ia mengembuskan napas. Tangan satunya menopang dagu.


“Kamu tahu, alasan apa yang mendasari perubahan kerja sama dengan perusahaan besi-baja?”


Bergeming semua. Tidak ada yang menjawab. Toni masuk memecah keheningan.


“Oke, kali ini saya biarkan kalian selamat dan aman. Tapi kalau saya temukan di antara kalian ternyata ada yang bermain-main. Saya tidak bercanda. Di luaran sana banyak orang-orang yang berkompeten. Yang siap menggantikan kursi kalian.”


“Saya ingin kerja sesuai SOP. Kamu project manager di sini, pimpinan di sini. Pastikan semua bekerja dengan baik. Saya tidak mau dengar ke depan bermasalah. Tidak ada inisiatif yang tidak saya ketahui.”


“Kita perbaiki hal sekecil apa pun. Sesuai tugas masing-masing. Saya tidak mau dengar ada keluhan di luaran sana,”


“Ba-baik, Pak.” Keempatnya menjawab hampir bersamaan. Tentu dengan masih menunduk.


“Kalian boleh melanjutkan pekerjaan,” ia berdiri dan menghadap kaca jendela. Di luar para pekerja masih terlihat sibuk. Empat orang tadi keluar bersamaan Toni menghampirinya.


“Kemungkinan besar para nelayan dan penduduk sekitar tidak dilibatkan dalam proses perizinan lingkungan. Tim GA (General Affair) harusnya bertanggungjawab soal ini.” Ujar Toni.


Ia mengetatkan rahangnya. Betapa buruk proyek ini batinnya menggeram.


“Perubahan kerja sama dengan pemasok besi-baja karena mengejar target. Sementara pihak pemerintah mensyaratkan proyek yang bekerja sama dengannya menggunakan produk dalam negeri. Awalnya kualitas sesuai kesepakatan dalam MOU GL dengan pihak 3, tapi seiring waktu kebutuhan meningkat, GL terdesak dan pihak 3 sebagai pemasok hanya bisa menyediakan bahan di bawah kesepakatan 1. Akhirnya dibuatlah MOU ke-2.”


“Artinya, perencanaan belum matang.” Ia menyela. Mendapatkan benang merah.


Toni mengangguk, “Tepat. Demi mendapatkan tender ini.”


“Bagaimana kalau kita mengajukan kerja sama dengan Bos Jebe, Pak? Saya yakin pasti Pak Jebe akan menerima kita. Mengingat hubungan persahabatan Pak Ru dengan Bos Jebe.” Sambung Toni.


“Aku sudah melakukannya, Ton. Dan jawaban dia,”


Ia menjeda. Keheningan tercipta. Padahal Toni sudah tak sabar menunggu kelanjutannya. Tiga menit pun berlalu.


“Keputusan kerja sama tergantung pemegang saham terbesar. Kakek Jebe yang memutuskan. Hanya saja,”


Lagi, ia menjeda.


“Peluang kita hanya pada sepupu Jebe yang juga punya saham besar. Jika dia mau bekerja sama. Otomatis ... jalan kita mulus. Tapi, kalau tidak. Pilihan terakhir adalah dengan membeli sahamnya. Agar kita lebih leluasa mendapat pasokan dari Jebe. Sampai kapan pun GL akan selalu membutuhkan besi-baja konstruksi.” Pungkasnya.


Toni mengangguk. Setelahnya, air mukanya berubah masam. Tepat saat ia menatap sekretarisnya itu.


“Maaf Pak. Kabar buruknya, sepupu Bos Jebe sulit didekati,” Toni menukas. Keningnya melipat—heran. “Hampers dan buket bunga yang kami kirim di tolak. Padahal, biasanya selama ini tidak pernah ada penolakan baik ke pihak rekanaan, costumer, pihak ke-3, dan pihak-pihak lain yang akan bekerja sama dengan kita. Ditambah lagi dia akan tetap memberitakan proyek kita di program acaranya. Saya dengar dia punya kendali atas media tersebut.”


Ia mengusap dahinya. “Keyakinan kamu meleset,”


Toni menunduk. Jelas idenya kali ini bukan meleset lagi. Tapi gatot alias gagal total. Lobi-lobi dalam dunia bisnis, adalah hal yang biasa. Tapi ini?


“Tidak semua orang bisa diperlakukan seperti itu, Ton.” Ia mendesahkan napas. Sepertinya memang ia harus bertemu orang ini.


Sehari setelahnya Toni mengabarkan bahwa sepupu Jebe ingin melakukan pertemuan. Ini waktu yang ditunggu. Berharap semua berjalan lancar. Saling menguntungkan.


Namun ....


Pertemuan yang hanya berlangsung tidak lebih dari 15 menit itu buntu. Sepupu Jebe berkeras hati tidak akan menyepakati pengajuan kerja samanya. Pun, penawaran pembelian sahamnya.


Permintaan pertemuan kelanjutan juga tidak direspons. Kepalanya berdenyut. Ia memijit pelipisnya. Dengan cara apa lagi? Ia memejamkan mata.


Satu minggu kemudian ia bertemu Jebe. Di salah satu kafe.


“Sorry, Man. Bukan gue tidak mau bantu. Tapi, lo tahu sendiri. Pemegang penuh KM masih kakek gue. Jadi,” Jebe mengangkat bahu. Wajahnya tersirat penyesalan. Tidak bisa membantu sahabat dikala membutuhkannya.


Ia tersenyum tipis, “It’s okay, semua masih terkendali.” Kilahnya meski ia harus memutar otak. Demi mendapatkan pasokan bahan konstruksi secepatnya.


“Bagaimana kalau lo cari pihak rekanan yang bisa impor. Sekaligus bisa memproduksi. Kita tidak bisa menutup mata, kebutuhan basi-baja negara kita mencapai 70%. Sementara pasar domestik hanya bisa menyuplai 40% saja, sisanya masih impor. Itu pun 30% negara kita belum bisa memproduksi sendiri karena keterbatasan,”


“Tujuan pemerintah sih, bagus. Gunakan ploduk ... ploduk ... dalam negeri,” Jebe menyadur sebuah iklan. “Tapi tidak menyiapkan konsekuensinya. Utilitas kita masih rendah. Industri baja kita belum kompetitif secara harga dan upgrade teknologi,” Jebe menghela napas dalam. Resah dengan kebijakan yang kadang bagai pisau bermata dua. Sebagai pelaku utama ia ter dampak kebijakan itu.


“Saran gue sih seperti itu. Kalaupun ada notice dari pemerintah, soal penggunaan bahan impor. Lo, bisa kasih penjelasan. Daripada memaksa memakai bahan di bawah standar. Dan lo harus siap merugi, sesuai MOU kerja sama.”


...***...


Gemala


“Mala, titip undangan buat kakakmu, ya?” ucap Indy. Yang kebetulan bertemu di selasar kampus. Sambil menyerahkan sebuah undangan berwarna putih dengan gambar bunga tulip berbagai warna.


“Undangan apa?” tanyanya pada Indy. Alumnus Monash yang bekerja di KJRI. Karena sering mengadakan event, ia jadi mengenal staf-staf di sana. Pun ikatan antar mereka cukup dekat. Mungkin rasa sebangsa dan setanah air bila jauh itu lebih ngena.


“Ikatan alumni Monash mau mengadakan reuni. Eh, kalau kamu mau ikutan boleh juga lho. Kita intip-intip para alumni yang sukses dan keren-keren.” Ia membalas dengan senyuman, lalu Indy berbisik, “sekalian nyari jodoh di sana.” Perempuan itu tertawa kemudian.


“Bye, Mala ... see you.” Indy pamit meninggalkannya, “jangan lupa datang!” peringatnya sambil menoleh kepadanya sekali lagi.


Ia duduk di bangku sambil menunggu bus tiba. Menggunakan bus middle brighton ia tiba di tujuan 15 menit setelahnya. Melanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 5 menit ia sampai di kawasan Clayton real estate.


“Hey, Mala ...,” sapa tetangga sebelahnya yang tengah duduk di taman depan.


Ia melambaikan tangan, “Oh ... hi, Maria.” Seraya memberikan senyum terbaiknya. Maria tetangganya yang baik. Meski usianya hampir mendekati 50 tahun. Tapi dia ramah kepada siapa saja. Maria seorang janda. Single parent, oh ... bukan ... eh, entahlah apa namanya. Sebab Maria tidak pernah menikah. Tapi ia punya pasangan dan punya anak. Hanya saja anaknya memilih tinggal mandiri. Sementara Maria tinggal di sini sendirian. Pasangannya? Entahlah, di mana. Ia hanya beberapa kali bertemu tanpa sengaja. Itu pun sudah sangat lama.


Huh! Ia mengembuskan napas kasar. Mengaturnya agar kembali normal. Berjalan 5 menit cukup menguras tenaganya. Beruntung cuaca di luar cerah. Meski tadi malam Clayton di guyur hujan.


“Aku pulang,” ucapnya. “Assalamu’alaikum,” imbuhnya, tidak ada jawaban, artinya Gayatri belum pulang dari Latrobe City.


Ia menghempaskan tubuhnya di sofa. Mengeluarkan undangan dari tasnya. Dan meletakkannya di atas meja.


...***...


Garuda


Max : Kita perlu bicara. Ada hal penting, Bro. Tidak bisa lewat telepon.


Bunyi pesan yang masuk ke ponselnya.


“Ton, batalkan pertemuan malam ini. Ada hal penting yang harus aku kerjakan,” titahnya melalui sambungan interkom.


“Baik, Pak.”


Malam harinya ia menemui Max di apartemennya.


“Sorry, Bro. Gue ganggu elo. Masuk dulu,” Max mempersilakan dirinya masuk dan menggiring ke balkon.


Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, mengurai dasi dan kancing kemejanya.”


“Lo, mau minum apa?”


“Biasalah,”


“Mulai sekarang lo, harus hidup sehat. Ingat umur. Kenyataan tak terbantahkan usia 30-an metabolisme kita melambat.”


Ia berdecak, “Gue ke sini bukan mau diceramahi.” Ia terpaksa meraih kaleng soda di atas meja. Membukanya lalu menegak beberapa kali. “Kalau cuma ada ini,” kaleng itu diangkatnya, “buat apa ditawari.”


Max terkekeh ringan. Menyelipkan kedua tangan pada saku celana. Menyandar pada pembatas balkon yang terbuat dari besi. “Ini soal bokap, lo.”


Ia menatap sesaat Max. Menegak kembali minumannya. Kali ini hingga tandas.


“Sorry, ini sebenarnya soal kode etik kedokteran. Bahwa apa pun yang menyangkut tentang pasien. Itu merupakan ranah privasi antara pasien dan dokter yang menanganinya. Jadi tidak sembarangan dokter memberitahu atau mengungkapkan ke orang lain. Kecuali pihak pasien yang menginginkan atau memperbolehkan—“


“Max,” ia menatap Max penuh selidik, “jangan berbelit-belit. Ini soal apa?” todongnya.


Max berpindah posisi. Bergeser sedikit. Tapi dengan posisi yang sama. “Soal ... bokap, lo.”


“Bokap gue di Singapura. Sudah 1 bulan. Ada pekerjaan di sana,”


“Dan lo percaya?”


Ia menelengkan kepalanya, “Maksud, lo?”


“Keluarga lo, tidak ada bisnis di sana. Kalaupun bokap lo menjalin kerja sama dengan pihak lain. Mungkin kah selama itu?”


Ia mendesahkan napas, “Come on, gue bukan paranormal yang bisa menebak isi pikiran, lo!”


Max justru meninggalkannya masuk ke dalam. Tapi tak berselang lama kembali dengan menyerahkan sebuah amplop padanya.


“Bukalah, lo akan tahu kenapa bokap lo pergi ke Singapura,”


Tak sabar ia membuka amplop tersebut dan membacanya, “Max!? Ini ...," kepayahan ia menelan ludahnya.


“Ya ... sudah 1 bulan lamanya bokap lo melakukan pengobatan hepatoma,”


“Tidak mungkin Max. Dia, dia baik-baik saja. Ini tidak mungkin.” Bantahnya tidak percaya. Papinya sehat, selama ini sehat. Tidak pernah ia melihat papi sakit. Atau ada sesuatu yang terlewati dari penglihatannya?


Max ikut duduk di sebelahnya, “Penyakit ini memang seperti silent killer. Tidak mengalami gejala di awal. Tapi mulai terasa setelah memasuki stadium parah.”


“Maksud lo?” ia kembali menatap Max di sebelahnya.


Max mengembuskan napas, “Sebenarnya bokap lo melarang menyebarkan kabar ini kepada keluarganya. Bahkan sempat mengancam kalau sampai kabar ini keluar,” Max menyandarkan punggungnya ke belakang. “You know-lah ... pekerjaan sebagai dokter keluarga dan rumah sakit  papa yang bekerja sama dengan TG akan diputus. Tapi, bagaimanapun papa tidak tega. Akhirnya menceritakan hal ini ke gue. Dan,”


Ia menyergah, “Sekarang dia di rumah sakit mana?”


Toni menyebut sebuah rumah sakit terbesar dan terlengkap di negara tetangga tersebut.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏