
...12. Sebuah Anekdot...
Gemala
Hari-hari terakhirnya di Ayik Itam dijalani dengan sepenuh hati. Ia bahkan mengabadikan setiap momen untuk dijadikan kenangan. Anak-anak SAD yang entah kapan akan bertemu kembali. Kawasan TNBD yang sudah seperti rumah baginya. Dan tentunya Garuda yang akhir-akhir ini bersikap manis.
Apa? Benarkah?
Ia dilibatkan dalam penyaluran bantuan sosial perusahaan itu terhadap warga sekitar. Di mana SAD yang menghuni rumah bantuan juga masuk di dalamnya. Pun untuk para rombong yang masih nomaden.
Lalu ia diperbolehkan mencari informasi mengenai perusahaan laki-laki itu. Tentu sebagai bahan komparasi. Sejauh mana keberadaan suatu industri di tengah-tengah peradaban suatu kelompok minoritas yang tinggal bahkan bersanding erat.
Belum lagi pengumpulan data empiris SAD yang rasanya mudah ia dapat. Semua terkumpul cepat. Dan lengkap.
Tapi, ternyata ia terlalu dini menilai laki-laki itu. Dibalik semua bala bantuan yang dikerahkan, ternyata, “Ada barang ada harga.”
Eh, apa maksudnya coba?
Ia dibawa Garu ke Yogyakarta. Menemui seseorang yang katanya ibu kandungnya. Sedikit terkejut. Tapi dengan gayanya yang nasty, “Dua jam saja.”
Menggunakan heli mereka terbang ke kota gudeg itu. Tiba di sana langsung menuju hotel yang telah direservasi. Namun bukannya mereka beristirahat. Melainkan Garu mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Sebuah rumah sakit terbesar yang ada di kota ini.
“Kita ngapain di sini?” decaknya, seperti orang menguntit. Beruntung tidak dicurigai pihak keamanan rumah sakit. Mereka seperti detektif. Memakai kaca mata hitam. Topi dan jaket. Padahal cuaca sedang tak bersahabat. Di luar mendung, lagi pula sedang gerah-gerahnya.
“Sstt,” Ru mendesis. “Jangan berisik!” peringatnya dengan wajah mengancam.
Ia mencebik, “Kita mau ngapain? Kalau ketangkap security bisa-bis—” Ru, membungkam mulutnya.
Ia hampir kehabisan napas. Meronta-ronta. Sebab bukan hanya mulutnya yang dibungkam tapi beserta hidungnya.
“Sorry,” ketus Ru ketika ia menepuk bahu laki-laki itu.
Ia melotot, lalu mendesis kesal.
“Nih,” Ru menyodorkan sebuah koran padanya. “Kamu tunggu sini. Baca sampai habis. Jangan ke mana-mana. Tunggu sampai aku datang.” Ru membenahi topinya kemudian berlalu pergi.
Ia mendengus, memperhatikan sekitar. Ternyata ia di ruang tunggu rumah sakit.
...***...
Garuda
Ia mendapat informasi akurat, sebuah kertas kecil yang dipegangnya. Manik matanya bolak-balik membaca informasi di papan depan pintu hadapannya dengan kertas yang ada dalam genggaman.
Setelah bertanya-tanya pada beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Akhirnya ia menemukan ruangannya. Melihat situasi yang sepi, justru membuatnya ragu.
Apakah ia harus berkata, “Hai, apa Anda masih mengingat saya?” atau,
“Apakah Anda mengenal saya?” Ah, bukan.
“Selamat, setelah sekian tahun Anda tidak mencari saya. Ternyata Anda ....” Oh, sial.
“Ehem,” ia menetralisasi kegugupannya.
“Perkenalkan, saya Garuda anak Anda yang bertahun-tahun tidak dicari oleh ibu kandungnya.” Astaga. Ia mengusap wajahnya.
“Pak,” seseorang di belakangnya membuatnya menjengit dan spontan balik kanan.
“Mau bertemu sama siapa, Pak?” tanya orang tersebut. Sepertinya suster di rumah sakit ini. Sebab pakaian yang dikenakannya beserta atribut logo yang sangat jelas.
“Saya ... saya,” entah kenapa ia jadi grogi.
“Kalau mau menjumpai Ibu Rahayu, beliau kebetulan sedang di kantin. Atau kalau menunggu sebaiknya buat janji temu dulu. Sebab beliau sibuk,”
“Saya,” ia membasahi bibirnya.
“Sebentar,” suster tersebut masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan ‘Wakil Direktur SDM dan Pendidikan’ di bawahnya tertera ‘dokter Rahayu Notonegoro, Sp.PD’.
“Ini kartu nama beliau,” suster itu menyodorkan sebuah kartu nama kepadanya. “Sebaiknya buat janji temu dulu,” imbuhnya memberikan saran.
Lagi, ia mengusap wajahnya ketika suster itu telah berlalu meninggalkannya.
“Wait! Eh, tunggu, Mbak.” Sergahnya seraya menyusul suster tersebut yang belum begitu jauh darinya.
“Ada yang saya bisa bantu lagi, Pak?” suster itu berhenti dan menoleh padanya.
“Di mana kantinnya?”
Sesuai arahan suster tadi ia memutuskan untuk menyusul ke kantin. Dengan berbekal petunjuk yang telah disebutkan secara gamblang. Tidaklah sulit baginya menemukan.
Namun kesulitan yang kentara justru saat ia tiba di sana. Dengan jelas ia masih ingat bagaimana wajah ibunya. Meski gurat usia tidak akan menipunya. Tapi wajah itu ... ya wajah itu tersimpan rapi di memorinya. Tak pernah hilang. Bahkan hadir dalam mimpinya. Mimpi berulang-ulang setiap tahun.
Ia memilih meja bagian ujung. Kembali membenahi topi dan kaca mata hitamnya. Lalu mengambil buku menu yang tersimpan di atas meja. Pura-pura membaca.
Suasana kantin cukup ramai. Sehingga keberadaannya tidak begitu mencolok. Apalagi bertepatan dengan jam makan siang.
Sesekali ia melihat wanita itu tertawa, tersenyum dan mengusap kepala seseorang di depannya. Bahkan menyuapi sesekali. Apa hubungan mereka?
Tampak dekat. Akrab. Seperti sahabat, saudara atau pacar? Bahkan mereka tanpa malu-malu di lingkungan terbuka berlaku seperti itu.
Setelah memperhatikan gerak-gerik mereka cukup lama. Akhirnya mereka bergegas pergi dari kantin. Ia pun masih mengekori. Dengan jarak yang tidak begitu dekat tentunya. Tapi masih bisa mendengar dan melihat apa saja yang dilakukan.
“Le, nanti malam ke Flamboyan kafe yuk. Biasa kalau malam kamis ada live di sana,” ajak wanita itu sambil bergelayut manja di pinggang laki-laki itu.
Sementara laki-laki itu merangkul pundak wanita. Mesra.
“Ibu, gak capai?”
“Gak lah, lagian kamu sebentar di sini. Besok pagi sudah ke Jakarta. Mumpung kamu di sini. Temani, Ibu, ya?”
“Oke, Ibu Rahayu. Tapi dengan syarat tidak sampai larut. Ingat umur!”
Wanita itu terkekeh, bertepatan dengan mereka yang berhenti tepat di depan ruangan Wakil Direktur SDM dan Pendidikan.
Ia segera berbalik badan. Pura-pura menelepon seseorang. Denyut dadanya bergemuruh. Hatinya mencelus melihat interaksi keduanya. Le-Ibu.
Niat yang awalnya ingin menemui ibu kandungnya menguap begitu saja. Terganti bara api yang siap memanggang apa saja.
“Ru, sayang.”
...“Mami sayang kamu.”...
“Ru, sayang.”
...“Mami sayang kamu.”...
Potongan mimpi itu kembali hadir. Melintas silih berganti seiring dengan langkah kakinya yang kian lama kian cepat meninggalkan tempat yang tadinya penuh harapan berubah menjadi lava pijar yang siap memercik dan melahap apa saja.
“Tunggu di pintu samping,” ucapnya pada seseorang lewat sambungan telepon.
Ia langsung masuk begitu melihat mobilnya sudah siap di sana. Bukan kamar hotel tujuannya, melainkan pub and bar.
Di sana ia menghabiskan JW blue label itu hingga bergelas-gelas sepuasnya. Kepalanya berpendar. Tapi tak dihiraukan. Dadanya berkedut nyeri, tak diacuhkan. Semua ia pendam. Benam. Hingga ia tak dapat lagi merasakan sakit yang menghunjam.
Satu kata: ia ‘terluka’.
Tapi bukan seorang Garuda namanya hanya karena sebuah luka ia menyerah.
Bukankah ia tegak berdiri sampai hari ini karena luka? Mengobatinya dengan caranya sendiri. Bangkit untuk menggengam masa depan sebagai pembuktian.
Tidak. Ia bersumpah. Terakhir kali ia menemuinya. Sudah cukup. Jebe benar. Dia sudah bahagia dengan dunianya karena itu tidak berusaha untuk menemuinya. Dia sudah sangat bahagia. Benar-benar bahagia dengan kehidupannya.
“Aarrgghhh ....” Ia melempar gelas itu sembarang. Hingga pecah menjadi puing-puing tak beraturan. Berhamburan. Sebab membentur lantai dengan kerasnya. Ia muak dengan situasi sekarang.
...***...
Gemala
Berulang kali ia menelepon Ru, namun laki-laki itu tidak mengangkatnya.
“Issh,” desisnya sebal. Tiga jam lebih menunggu lama-lama ia bosan juga. Dari koran nasional hingga koran terbitan lokal semua sudah dibacanya. Bahkan ditambah dengan majalah kesehatan.
Tapi laki-laki itu tak kunjung terlihat sosoknya. Ia mendesah. Sudah berpindah tempat duduk lebih 3 kali. Menghabiskan teh botol 2 kotak serta sari kacang hijau 1 kotak. Ditambah minuman fermentasi 2 botol.
Lelah.
Entah sudah ke berapa kali ia mendesah. Tak terhitung lagi jumlahnya.
Bahkan mungkin petugas kebersihan heran menatapnya. Atau ia mulai dicurigai? Sebab wara-wiri ke kamar mandi sudah 3 kali.
Huh. Ia mengembuskan napas kasar. Jengah.
Oh ... sial. Ia baru teringat dengan Toni.
Toni, Toni, Toni batinnya berucap dengan menggulir cepat layar ponselnya mencari keberadaan kontak Toni.
“Dapat,”
“Halo, Ton.” Begitu ucapnya ketika sambungan telepon itu masuk.
“Ya, Mbak.”
“Kamu tahu, di mana Pak Ru?”
“Lho, Mbak Mala di mana?” Toni malah balik bertanya—keheranan.
“Aku di rumah sakit. Dari tadi nungguin dia.” Dengkusnya. Emosinya sudah di ubun-ubun.
“Pak Ru, sudah kembali ke hotel, Mbak. Tadi saya yang mengantarkannya.”
Bak tersambar petir di siang bolong. Bukan di ubun-ubun lagi kesalnya. Tapi sudah mendidih hendak disiramkan ke tersangka. Ia menggeram, mengepalkan tangan. Awas, ya. Ancamnya dalam hati.
Toni menyambutnya ketika ia turun dari taksi tepat di depan lobi.
“Pak Ru, di bar, Mbak.” Sergah Toni. Yang mengikutinya berjalan cepat.
“Di mana?”
Tiba di sana, ia bisa melihat Ru dengan kepala teler di atas meja.
“Kenapa dia seperti ini?” tanyanya melihat laki-laki itu berantakan. Amarah yang awalnya akan ia luapkan langsung redam saat melihat Ru begitu menyedihkan. Memprihatinkan.
“Sepertinya baru terjadi sesuatu di rumah sakit. Tapi saya tidak tahu persisnya,”
“Lebih baik kita bawa ke kamar, Ton.”
Toni mengangguk. Lalu meminta bantuan pihak layanan kamar membantunya.
Sesampainya di kamar, Ru dibaringkan di atas kasur. Tapi laki-laki menolak. Meski pada akhirnya tumbang juga. Namun kesadarannya masih bersisa, Ru mengoceh-oceh tak jelas. Bertura-tura. Menudingnya sebagai seorang doķter.
“Lo dokter itu, kan? Yang katanya dokter hebat. Dokter terbaik. Bisa menyembuhkan pasien ....” Ru tertawa sinis, “bullshit! So stale!”
“A heartbreaker!” umpat Ru dengan desis amarah.
“Ru, ini gue, Mala. Lebih baik lo istirahat,”
“Stay out of this! (Jangan ikut campur)” Ru menggeram. Kilatan mata laki-laki itu beda. Ada kesakitan. Amarah. Dan ia bisa merasakannya.
“Ru,”
“Shut up!”
Ia menatap Toni. Sementara Toni menggeleng.
“Meaningless ... semua sia-sia,” keluh Ru. Detik kemudian tertawa beda. Tawa mengejek. Tawa marah. Entah maksudnya ia sendiri tak mengerti. “Lo, buat mereka senang karena tangan lo. Abis itu lo dipuji-puji. Huh ... tapi, lo pintar. Sangat pintar menyembunyikan tangan kotor, lo. Biar lo terkesan seperti pahlawan, kan? Atau biar menyaingi malaikat?” sudut bibir Ru terangkat, “hebat. Gue puji lo. Lo benar-benar hebat.” Ru bertepuk tangan.
Sepuluh menit kemudian tak terdengar suara laki-laki itu. Ia menghela napas, memejamkan mata sesaat.
“Apa dia sering seperti ini, Ton?”
Toni menggeleng, “Belum pernah mabuk parah seperti ini.”
“Kamu ganti bajunya, Ton. Tolong jangan tinggalkan sendirian. Aku takut dia mengalami hal lebih buruk,”
Toni mengangguk, “Baik, Mbak.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya .... 🙏