If Only You

If Only You
63. Aku Di Sini ... Selalu Ada Di Sini



...63. Aku Di Sini ... Selalu Ada Di Sini...


Garuda


“Gimana, Ton?” Toni meneleponnya saat ia berbicara dengan Tan dan Maleo. “Aku tinggal sebentar,” izinnya pada mereka.


“Ton,” sambungnya.


“Berita mengenai sakitnya bos besar sudah masuk media, Pak. Pihak rumah sakit masih memegang perjanjian sesuai kesepakatan kita. Tetapi,” Toni menjeda sejenak.


“Tapi apa?” dahinya mengerut.


“Berita Anda dengan Mbak Mala sudah menyebar di situs portal online. Saya baru saja kirimkan beberapa media online yang membuat berita mengenai Anda dan Mbak Mala.”


Belum sambungan telepon terputus ia memeriksa pesan yang katanya dikirim oleh Toni.


Mendadak dadanya bergemuruh. Tangannya mengepal kuat. Giginya mengetat. Membaca beberapa berita sampah yang dikirim Toni.


“Di mana posisi Santo?”


“Masih di WRI,”


“Lakukan somasi pada media yang menyebarkan berita tidak benar. Beri waktu 1x24 jam. Kalau tidak ada klarifikasi dan menarik semua berita. Kita laporkan ke pihak berwajib,” jeda sesaat, “usut semuanya sampai tuntas. Gue tidak mau tahu.” Kalimatnya penuh geram, kesal bercampur nada mengancam.


“Baik, Pak.”


Kemudian ia menelepon Mala. Dering sambung pertama tidak ada jawaban. Ekor matanya melirik pada arloji di lengan. Sudah lewat jam makan siang pikirnya. Sangat yakin jika Mala sudah selesai interview. Mencoba melakukan panggilan kembali. Namun masih sama, tidak ada sahutan.


“Ke mana?” gumamnya gelisah. Ia takut terjadi sesuatu dengan istrinya tersebut.


“San,” begitu ucapnya ketika sambungan telepon itu diangkat oleh sopir suruhannya.


“Siang, Pak.”


“Di mana?”


“Masih di parkiran basement WRI.”


“Apa istriku menghubungimu?


“Belum, Pak. Tadi pesan Mbak Mala saya disuruh tunggu di parkiran. Jika sudah selesai baru nanti akan dihubungi.”


Ia menyapu wajahnya. Cemas semakin mendera. Ponsel Mala aktif itu berarti posisi istrinya bisa diketahui. Ia melacak keberadaannya melalui GPS ponsel.


Benar.


Posisi Mala masih berada dalam gedung WRI. Apa yang dilakukannya?


...***...


Gemala


Menatap wajahnya di depan cermin. Setelah baru saja mencuci mukanya. Pipi sembab. Mata sedikit bengkak.


Mungkin selama ini ia belum pernah merasakan apa yang namanya menjadi objek sebuah berita. Apalagi berita negatif yang menyudutkan. Belum pernah dibully di dunia maya. Pun menjadi bahan gosip pewarta berita sekaligus netizen.


Rapuh. Pasti.


Sakit. Tentu saja.


Sebab semua yang dikatakan media itu tidak benar. Salah besar!


Drrttt ... drrttt ... drrttt


Ponselnya bergetar dalam tas yang ia simpan di sebelah. Ia memejamkan mata sesaat. Menghela dan mengembuskan napas panjang. Kemudian merogoh benda pintar tersebut.


Garudanya Mala.


Ia berdeham, “Ya,”


“Kamu di mana, Mala?” tanya Garu dengan suara cemas.


“Aku ... aku masih di gedung WRI.”


“Hon, are you okay?” tanya Ru. Apa Garuda tahu kondisinya saat ini? Apa laki-laki itu juga merasakan apa yang sedang dirasakannya? Meskipun tak bisa dipungkiri saat ini ia butuh laki-laki tersebut.


“Mala,”


“Em, iya.” Ia bingung harus menjawab apa. Belum menemukan alasan untuk membuat suaminya itu percaya.


“Kalau kamu tidak enak badan dan capek. Besok saja menyusul ke sini. Jangan dipaksakan,”


“Aku,”


Tiba di apartemen ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dalam percakapan terakhir dengan Ru, laki-laki itu melarangnya pergi ke sana.


Kepalanya sedikit berdenyut. Ia meringkuk seraya memijit pelipisnya.


TING.


Pesan chat dari Sasa masuk: Mal, apa benar foto dan berita di akun gosip X-treem itu lo? Sepupunya yang tinggal di Bali ikut mengonfirmasi.


TING.


Pesan Sarah masuk berselang 3 detik kemudian: Gila. Itu beneran lo, Mal? Eh bukannya lo masih di Melbourne ya? Keponakan dari mama yang tinggal di Surabaya ternyata juga telah melihat berita itu.


TING.


Prita: Mala ... are you okay? Aku yakin itu bukan dirimu. Aku percaya kamu.


TING.


Mely: Is that you, Mal? Cuekin aja apa kata orang. Mereka nyinyir karena iri. I believe you.


Disusul suara TING ... TING ... TING ... TING sahut menyahut. Membuatnya refleks melempar ponselnya. Ia mendekap tubuhnya sendiri. Menenggelamkan wajahnya pada bantal. Terisak di sana.


...***...


Garuda


Tanpa menunggu lama, ia langsung memerintahkan Toni untuk menghubungi Capt. Robby agar bersiap.


Selama duduk di kursi kabin yang hanya dirinya di sana, hati dan pikirannya tidak tenang. Ia tahu keadaan seperti ini akan terjadi. Sadar ... cepat atau lambat semua akan terungkap.


Tetapi ia tidak ingin Mala yang dijadikan objek atas berita itu. Walau bagaimanapun Mala memang tidak akan terpisahkan darinya.


Cukup dirinya.


Menjadi subjek sekaligus objek sesungguhnya. Ia yakin Mala pasti terpuruk dengan berita ini. Gadis sederhana yang ia kenal. Jauh dari kata hingar bingar media. Meski orang tuanya dikenal masyarakat. Tapi Mala tak pernah tampil sekalipun. Tak pernah menjadi sorotan. Tak pernah merasa menjadi anak dari seorang yang pernah berkuasa.


Gemala itu beda. Gadis cantik dengan segala fasilitas yang dipunya tetapi sederhana. Tak pernah menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.


Toni menjemputnya di bandara. Ia bergegas masuk mobil.


“Semua media sudah disomasi, Pak. Tinggal tunggu tanggapan dari mereka. Tiga di antaranya sudah menarik berita yang terlanjur tersebar. Memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Tapi ada 3 media lagi yang belum memberikan jawaban.” Toni menjabarkan kondisi terkini.


“Pengacara kita juga sudah siap menggugat jika 3 media ini melewati batas waktu yang kita tentukan tidak memberikan klarifikasi dan permohonan maaf,” tambah Toni.


Tiba di apartemen ia langsung menuju lantai atas. Membuka pintu perlahan tanpa memanggil Mala seperti biasanya.


Istrinya tertidur dengan meringkuk. Menutupi kepalanya dengan bantal.


Ia membungkuk. Meraih ponsel yang hampir terjatuh dari atas kasur. Beberapa pesan masih berpendar di layar. Yang membuatnya nanar. Ternyata dugaannya benar.


Dadanya berdenyut nyeri. Merasakan sakit. Membaca semua pesan yang masuk dalam ponsel Mala.


Ia harus melakukan sesuatu.


Kemudian menyimpan ponsel di atas nakas. Merangkak perlahan dan merebahkan tubuhnya di sisi Mala. Setelah sebelumnya mengambil bantal yang menutupi kepala istrinya.


Bodoh, kenapa kamu menyakiti diri sendiri.


Ia menatap wajah Mala yang sembab. Menyibak dan mengaitkan rambut yang menutupi wajah Mala ke belakang telinga. Mengusap pipinya dengan ibu jari.


Tampak bola mata Mala bergerak random meski kelopak itu tertutup sempurna. Dahinya mengerut. Sisa isak masih terdengar memedihkan.


Ia merengkuh Mala. Mengecupi kepalanya, “Aku di sini,” gumamnya. Mengusap punggung Mala yang kini tengah ringkih. “Aku selalu ada di sini.”


...***...


Gemala


Entah sudah berapa lama ia tertidur. Ia merasa didekap seseorang. Parfum ini. Ya, parfum yang sudah terpatri di indra penciumannya.


Garuda.


Mungkinkah?


Bukankah suaminya itu sedang jauh. Tidak mungkin berada di sisinya. Apa ini hanya halusinasi?


Perlahan ia membuka matanya. Benar. Sosok yang berada memeluknya hangat adalah laki-laki yang diharapkannya.


“Garu,” gumamnya. Seraya kembali menyurukkan kepalanya pada dada bidang milik suaminya dan bersembunyi di sana.


Kendati mood-nya tengah merosot tajam. Akan tetapi ia merasa lebih baik sekarang. Ru benar-benar datang. Ada untuknya memberikan perlindungan, kenyamanan dan ia merasa aman di samping laki-laki ini.


“Hon, are you pooped (apa kamu kelelahan)?” tanya Ru.


Ia menggeleng pelan.


“Take my hand (pegang tanganku).” Ru mengangkat tangan kanannya.


“Biarkan akan seperti ini. Terus. Selalu. Dan selamanya,”


“Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Sakit. Sedih dan menangis.” Tanpa melepas genggaman tangan keduanya, Ru mencium keningnya, “Aku ada di sini.”


Lalu mencium kedua matanya yang menutup, “aku ada di sini untuk menghapus air matamu,”


Turun ke pipi menciumnya di sana, “Menghapus gundahmu.” Kembali mencium bibirnya sekilas, “maukah kamu membaginya?”


Ia mengangguk dengan buliran air mata yang kembali menghujani pipi. Ru menyeka dengan ciuman bertubi-tubi.


“Aku di sini ... selalu ada di sini.” Lirih laki-laki itu. Kembali merengkuhnya erat.


Sore harinya Garuda mengajaknya berenang di rooftop. Ia yang awalnya menolak, pada akhirnya menyerah dan mengikuti saran laki-laki tersebut.


Katanya dengan berenang dapat mengurangi stres. Yang juga akan meningkatkan mood. Selain itu bisa meningkatkan energi, sehingga besok, esok dan seterusnya tubuh siap menyongsong untuk dipakai beraktivitas. Dan sederet manfaat yang dijelaskan oleh Ru.


Ia duduk setengah baring di lounger. Setelah berenang 2 putaran bersama Garu. Menutupi bagian bawah tubuhnya dengan handuk. Dengan mengenakan pakaian renang one piece berwarna hitam. Yang membelah punggungnya hingga ke pinggang. Kerah depan bermodel v-neckline. Tak ayal membuatnya risih. Terlalu seksi pikirnya.


Sempat berdebat juga dengan Garuda. Alasan ia enggan diajak berenang. Selain memang sedang malas, ia tidak membawa baju renang. Pakaiannya sebagian besar masih di Melbourne. Sedikit di Surabaya. Dan hanya 1 koper medium yang dibawa.


“Pakai underwear. Simpel. Kenapa dibikin ribet,” tangkas Ru.


Ia tetap menggeleng. Meski di kolam renang pribadi. Tak pernah sekalipun ia memakai underwear untuk berenang.


“Hon,” pinta laki-laki itu.


Ia tetap tidak setuju. Cukup lama keduanya berdebat di ruang wardrobe. Hingga Ru menemukan hampers dari Jebe dan paper bag darinya masih berdiri di rak paling bawah.


Garuda berjongkok untuk mengambilnya.


“Kamu belum membongkar bingkisan ini?” tanya Ru.


Ia menggeleng sambil meringis. Sebab ia lupa. Bahkan sampai detik ini tak ingat sama sekali pemberian laki-laki itu.


Setelah menghabiskan malam berdua. Ya ... malam itu mereka kelelahan dan tertidur. Esok paginya ia menemukan 2 paper bag berwarna hitam dan putih di bawah kasur.


Menyimpannya di rak lemari begitu saja. Padahal pesan Ru sebelum berangkat ke kantor agar segera membukanya.


“Special for my wife,” kata Ru sambil berlalu setelah mencium keningnya. “Hon, yang putih. Yang hitam dari Jebe,” pekiknya sebelum pintu lift tertutup.


Garuda menggeleng.


“Lupa,” cicitnya merasa bersalah. Kesibukan Garuda mengurusi papi dan pekerjaannya. Ia juga menyiapkan persyaratan dan persiapan wawancara di WRI. Membuatnya lupa akan pesan suaminya tersebut.


Ru menyimpan kembali paper bag berwarna putih. Membawa hampers dari Jebe sembari mendekatinya. “Kita buka,” tandasnya.


Oh my god.


Ia ternganga ketika Ru mengangkat pakaian renang milik rumah mode terkenal dunia. Untuknya bermodel one piece dengan logo LV berukuran mungil di bagian dada. Sementara untuk laki-laki itu standar swimwear pada umumnya dengan logo MP di kiri bawah berwarna senada yaitu hitam.


Garu tersenyum miring.


Ia mengerutkan kening.


“Jebe tahu apa kebutuhan kita sekarang.”


Dan berat hati ia mengenakan pakaian renang tersebut. Seraya berdecak sebal sebab menurutnya pakaian renang pemberian sahabat suaminya itu terlalu seksi. Terbuka. Menampilkan lekuk tubuhnya.


“Hon,” panggil Ru yang berdiri di tepi kolam. Membuyarkan lamunanya. Laki-laki itu telah menyelesaikan renangnya. “Aku haus,” imbuhnya.


Ia menyibak handuk dan mengambil minuman berwarna kuning di meja sebelahnya. Mengangsurkan pada Garuda. Ia ikut duduk di tepi kolam. Tungkai bawah menyibak-nyibak air dengan satu tangan menghalau silau sinar matahari yang merangkak turun di kaki barat.


“Thanks,”


Ia tersenyum.


Ru menyimpan gelas di tepi kolam. Lalu mendekatinya.


“Come on, sekali putaran lagi.”


Ia menggeleng.


“Okay ... aku gendong,” Ru membelakanginya. Menepuk pundaknya, “sini,” katanya. “Istriku lagi malas,” sindirnya sambil terkekeh.


Ia mencebik. Namun tetap mengaitkan tangannya di leher laki-laki itu. Lalu mencemplungkan tubuhnya masuk sepenuhnya ke dalam air.


Ru memutar tubuhnya. Memegang pinggulnya erat.


“Kita berenang atau kita ...,” kalimat Ru tertahan usil sembari mengulum senyum. Menatapnya dan mengunci pandangannya.


Meski bukan untuk yang pertama. Tetap saja perlakuan Garu membuatnya tersipu. Wajahnya memerah hingga ke telinga.


Laki-laki itu menarik pinggangnya. Membuat tubuh keduanya melekat erat di bawah sana. Ru melingkari tubuhnya dan menyelusup mengusap lembut punggungnya yang mulus tanpa penghalang.


Jantungnya bertalu kian melaju.


Ia terdorong hingga menempel dinding kolam. Saat organ kenyal laki-laki itu terus merasuk dan menjelajahi langit-langit indra pengecapnya.


Kecipak.


Terdengar saat pergerakan tubuh keduanya menyibak air lalu membuat ombak kecil di sekitarnya.


Kecipuk.


Ru memutar tubuhnya cepat. Tanpa melepas pertautan keduanya.


Kecipak.


Pergesekan skin to skin tak ayal mampu membuat air beriak-riak ikut menggelinjang tersapu gelombang.


Kecipuk.


Keduanya tak sadar hingga telah mencapai tengah kolam. Kedalaman kolam 1,65 meter membuatnya harus berulang kali menjinjit mengimbangi serbuan yang memayahkan guna mengatur napas sekaligus berat tubuhnya yang terasa sulit dikendalikan.


Kecipak.


Ru mengangkat tubuhnya. Mengaitkan kakinya di pinggang laki-laki itu.


Sebagian air meluap ke bibir kolam akibat gelombang yang semakin besar dengan gerakan acak dan tak terkendali lagi. Bagai tsunami.


Keduanya terhanyut oleh badai keinginan kuat untuk saling melepaskan diri. Meraih ke puncak nirwana surganya para dewa.


Mengayuh penuh menggeliang lenguh. Sampai saatnya tiba untuk menepi merelaksasi otot-otot yang menegang beberapa saat lalu. Perlahan tapi pasti Ru memeluknya erat. Membawanya ke tepian untuk mereda sesaat.


Bersamaan bola raksasa dunia yang hampir tenggelam di peraduannya. Menyemburat membiaskan rona merah keunguan menjejak di cakrawala.


Menghasilkan lembayung senja nan indah dipandang mata.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏