If Only You

If Only You
40. You're All I Need



...40. You’re All I need...


Gemala


Bias cahaya bola raksasa muncul di kaki timur. Menyemburat di atas cakrawala. Cuaca sudah mulai panas. Meski belum terlalu menyengat. Saat musim panas, matahari akan menyapa lebih cepat. Bertengger lebih lama sekitar 13-14 jam. Begitu juga tenggelamnya lebih lambat.


“Slip, slop, slap, seek and slide,” gumamnya. Ia menyunggingkan senyum di depan kaca, “beres,” ucapnya dalam hati. Puas dengan penampilannya pagi ini. Slogan di atas memang banyak dikampanyekan di negara-negara yang punya 4 musim saat summer. Apalagi Australia yang dekat dengan lubang ozon Antartika. Membuat warga yang tinggal di sini rentan terkena sinar UV matahari secara langsung.


Pakaian yang dikenakan simple dan standar. Hanya celana panjang katun model dhoti pants, atasan off shoulder floral berbahan sifon. Bisa menahan sinar matahari ke kulit tapi juga tidak gerah.


Jangan lupakan tabir surya dengan SPF 30+ dipakai 20 menit sebelum kulit tersengat matahari it’s a must! Alias wajib selama musim panas. Kalau tidak mau kulit terbakar dan lebih parahnya bisa mendatangkan kanker kulit.


Ia mematut dirinya memakai topi yang menutupi kepala, telinga dan leher. Atau cap (topi biasa dengan bibir di depan). Awalnya ia bingung memilih cap or bucket hat, tapi akhirnya pilihannya jatuh pada bucket hat yang menutup area kepala dan sekitarnya. Bahkan slogan ‘no hats no outside play’ sudah menjadi pembiasaan sejak ia menginjakkan kaki di negara kanguru ini.


Himbauan sebisa mungkin berlindung dari cahaya matahari. Tapi tidak mungkin. Hari ini ia terpaksa keluar. Beraktivitas ke dua kampus sekaligus.


Sementara andalan terakhirnya yaitu sebuah kaca mata hitam sunglasses. Bibirnya lagi, lagi tersungging. Mengingat kaca mata hitam identik dengan Garuda. Mau pagi, siang, sore atau pun malam. Laki-laki itu sering mengenakannya.


Ready, go!


Ia melangkahkan kaki menuju kampus. Memilih transportasi bus yang hampir setiap waktu tersedia. Setelah masuk dan tap kartu Myki ia mencari tempat duduk.


Jangan heran. Pemandangan tak biasa langsung menyergap. Orang-orang Aussie jika musim panas lebih suka dengan baju santai dan minim. Maksudnya?


Ya, bagi mereka baju standar musim panas seperti tanktop, mini dress, celana pendek, kaos oblong. Berbahan tipis dan cepat menyerap keringat. Akan bertebaran di mana-mana.


Tiba di shuttle bus kampus ia membenarkan kaca mata dan topinya. Suasana kampus lebih sepi. Sebab tengah summer break. Hanya mahasiswa yang mengambil summer course saja yang tampak mendominasi.


“Mala!” seru seseorang di belakangnya. Ia menoleh. Mengerutkan dahi.


“Bukannya kamu pulang ke KL?” tanyanya pada Nayla.


“Tomorrow,” sahut Nayla menyejajarkan langkahnya. “Wait, Mal. Saya hanya mau kasih ini.” Nayla merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


“Special for you, my bestfriend,” imbuh Nayla. Menyodorkan sebuah undangan padanya. “Sorry saya tidak sempat ke rumah. Jadi mumpung kita jumpa."


Keduanya terhenti. Dan duduk tepat di kursi beranda.


Matanya berbinar-binar, “Surprise ... thank you. Cograts deh! Aku tidak tahu lagi harus bilang apa. I’m so happy for you.” Mereka saling berpelukan.


“I’ll wait for you di KL. Jangan lupa nak bawa seseorang.” Canda Nay sambil terkekeh. Kemudian bangkit, “see you!” melambaikan tangan.


Ia memelotot lalu ikut tertawa setelahnya. “Insya Allah,” jawabnya.


Siang semakin terik. Udara kian panas dan kering. Terpaan AC ruangan langsung menyergap begitu pintu kelas dibuka.


Cukup 2 jam ia di dalam kelas. Kemudian harus pindah ke kampus Caulfield. Kali ini memilih tram untuk menuju ke sana. Tak jauh beda pemandangannya. Bahkan rasanya AC di dalam tram seperti tak berfungsi.


“Go out of country! You don’t deserve to live here, (keluar dari negara ini! Kamu tidak berhak tinggal di sini)” cakap ibu-ibu warga lokal menunjuk seorang muslimah yang memakai kerudung.


Ia terkesiap ketika mendengar ibu-ibu tersebut mengeluarkan kalimat yang tidak pantas. Sementara muslimah yang terkena rasisme itu hanya terdiam menunduk.


Bukan hari ini saja ia mendengar kembali rasisme muncul ke permukaan. Beberapa hari lalu di kampus muncul selebaran yang mengatakan bahwa ‘Mahasiswa Cina dilarang masuk kampus. Jika melanggar, akan dipulangkan.’ Mahasiswa keturunan Cina memang paling banyak bertebaran di Melbourne. Setelah itu ditempati dari India, lokal, baru dari beberapa negara Asia termasuk Indonesia. Menurut informasi yang beredar katanya selebaran itu dibuat oleh kelompok neo-Nazi. Hingga kini masih diselidiki pihak kampus.


Bahkan beberapa video sekelompok orang mengenakan topeng bertelanjang dada menunjukkan simbol swastika dan meneriakkan slogan rasisme dengan membakar salib diindikasikan terjadi di salah satu kota Victoria beredar di masyarakat. Mereka memuja-muji Hitler—tokoh diktator Nazi.


KJRI juga beberapa kali menghimbau warga Indonesia untuk tetap waspada. Memantau perkembangan politik baik lokal, internasional dan Indonesia. Sebab menjadi acuan untuk menghindari seminimal mungkin tempat-tempat yang rawan bentrok.


Selain eksistensi dari kelompok yang mengaku pengikut Nazi  menjadi pemicu ketegangan. Cuaca yang panas juga berpengaruh terhadap situasi saat ini. Memunculkan mood buruk serta agresivitas yang naik.


Kebetulan yang tak terduga. Ia dan muslimah tersebut turun di lokasi yang sama. Mereka sama-sama melempar senyum. Hingga pada akhirnya berpisah.


...***...


Garuda


Ia harus kembali ke Jakarta setelah keputusan pengobatan papi diambil. Menyerahkan semua pada dokter Tan. Ibu dan Om Prasetyo juga masih tinggal di sana.


Beberapa kali ia bolak-balik Singapura-Jakarta hanya ingin melihat dan memastikan pengobatan papi berjalan lancar dan mengalami kemajuan.


“Gimana laporan terakhir GK investama?” tanyanya pada Toni. Saat masuk ke dalam mobil. Toni menjemputnya di bandara.


“Anak buah Robin yang baru ketangkap, Pak. Sementara bosnya hilang jejak. Itu pun mereka mengaku bekerja sendiri,” jelas Toni.


“Hari ini meeting dengan klien di Avanzel Cibubur jam 12 siang bertepatan dengan jamuan makan siang. Sorenya jam 16.30 meeting di Bidakara. Membahas proyek Bakauheni bersama dengan pihak pemerintah dan para pemenang tender,” sambung Toni.


Mobil yang ditumpanginya langsung menuju Cibubur. Melakukan meeting hingga pukul 14.30 WIB. Lalu berlanjut ke Bidakara hingga malam pukul 21.00 WIB.


Tiba di apartemen hampir tengah malam. Tubuhnya rasanya lelah. Tenaganya terkuras habis dan ia merasakan seluruh tubuh sakit.


Begitu tiba di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya. Tanpa sempat lagi berganti pakaian. Masih mengenakan kemeja dan celana panjang. Sementara jas dan dasinya entah tanggal di mana. Asal saja dilempar.


Menjelang pagi ia menggigil hebat. Menghubungi Toni, namun sekretarisnya itu tak kunjung menyahut. Kesal. Lalu menghubungi Max.


“Aku tunggu di apartemen sekarang, Max. Aku sakit. Gak pakai lama!”


Lima belas menit kemudian Max datang dengan tergopoh-gopoh. Tempat tinggalnya yang hanya berseberangan gedung memberi keuntungan tersendiri. Tapi sialnya Max harus siap sedia jika dipanggil sewaktu-waktu. Seperti pagi ini. Di mana orang-orang tengah bermimpi dan bergumul dengan selimut di atas kasur. Ia harus mengunjungi sahabat sekaligus atasan. Predikat itulah yang membuatnya rela datang. Bahkan ayam jantan saja belum berkokok. Ups ... mana ada ayam berkokok di tengah kota.


Lift khusus yang mengantarkannya hingga di lantai 31 sempurna berhenti tepat di depan pintu. Apartemen tipe penthouse yang memberikan kenyamanan tiada tara. Sayang sahabatnya harus menghuninya sendirian. Apalagi situasi darurat seperti kali ini. Sakit melanda tanpa seseorang. Hahaha ... ejek Max dalam hati. Padahal Max sendiri nasibnya tak jauh beda.


Max langsung menuju lantai 2 di mana kamar sahabatnya itu berada.


Benar saja begitu Max membuka pintu kamar, ia terbaring meringkuk.


“Max, aku bilang gak pakai lama. Kenapa ini seperti 1 abad?!” cecarnya kesal. Ia sudah sedari tadi tak lagi mampu menahan rasa sakit.


Max berdecak tapi dengan sigap mengeluarkan peralatannya dari dalam tas.


“Lo pikir gue bisa terbang. Atau menerobos pintu ajaib.” Max menaruh punggung tangan di dahinya. Lalu memindai suhu melalui termometer.


“Lo demam,” lanjut Max sambil menunjukkan hasil pengukuran 39,9°C.


Max kemudian memeriksa tekanan darah. Dan hasilnya, “Rendah. Hipotensi 80/60. Apa keluhan lo?”


“Pusing banget, rasanya mual. Dingin. Sakit badan gue,” jawabnya.


Max memberikan suntikan, “Gue kasih resep obat, diminum setelah makan.” Max membereskan peralatannya lalu menelepon seseorang.


“Max jangan tinggalin gue,” ucapnya sambil mata terpejam.


Max sempat tertidur sebentar di sofa. Saat orang yang ditunggunya datang. Sementara Bi Yati langsung menuju dapur.


Max juga menghubungi Toni, memintanya segera datang. Ia menghela lega ketika satu persatu orang yang ditunggunya tiba. Lalu Max pamit pulang.


Sorot matahari menerobos kaca jendela yang tidak tertutup rapat oleh gorden. Membuatnya mengerjapkan mata. Membuka perlahan.


Bau harum masakan seketika menyeruak menerobos indra penciumannya. Bi Yati berdiri di dekat ranjang dengan membawa sebuah nampan.


“Pak, saya buatkan bubur. Pak Ru makan dulu, habis itu minum obat,” ucap Yati seraya menyimpan nampan di atas nakas. “Pak Toni di bawah, Pak. Apa perlu saya panggilkan?” imbuhnya.


Ia menggeleng. “Baunya enak, Bi. Tapi mulutku pahit.” Menyandar pada headboard sambil menyugar rambutnya. Pakaiannya sudah terganti. Hanya mengenakan kaos dan celana pendek.


Yati paham, “Pak Toni yang menggantikan pakaian,”


“Panggilkan Toni saja, Bi. Aku akan makan nanti,” tukasnya.


Meski ia lapar, tapi rasa pahit di mulutnya  mampu mengalahkan rasa laparnya. Apalagi kepalanya masih berdenyut. Tubuhnya juga masih merasakan bahang. Ia hanya memandangi nampan itu sesaat. Urung untuk makan.


“Bagaimana kondisi Bapak?” Toni masuk dan berdiri di sampingnya.


“Hari ini cancel semua pertemuan, Ton. Aku hanya ingin istirahat.”


“Baik, Pak. Sebagian memang sudah saya reschedule. Sisa pertemuan nanti malam. Saya jadwalkan ulang,” sahut Toni. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” asisten pribadinya melirik nakas.


Tanpa menunggu perintah, Toni duduk di tepian Ranjang dan meraih nampan yang berisi semangkok bubur masih hangat. Ini kali pertama Toni akan menyuapi atasannya. Mending kalau atasannya cewek, lha ini?


“Pikiran kamu jangan macam-macam, Ton!” tangkasnya menebak isi kepala Toni. Dan tepat.


“Aku bisa makan sendiri,” tolaknya mentah-mentah. Lebih baik makan sendiri bagaimanapun keadaannya daripada disuapi pria yang berprofesi sebagai sekretarisnya itu. Bisa-bisa Jebe menguliti tujuh turunan.


Toni membalas dengan cengiran. Baru satu suap, perutnya bergejolak. Rasanya mau muntah dan susah masuk tenggorokan.


“Apa perlu saya teleponkan Mbak Mala, Pak?” Toni basa-basi. Meski dalam lubuk sanubarinya ia menginginkan Mala di sampingnya. Ia membutuhkannya. Tapi ia tidak boleh egois.


Ia hanya mengibaskan tangannya. Tertidur kembali setelah meminum obat.


...***...


Gemala


“Lo, yakin gak pulang, Mal?” Suara Gayatri di ujung sana. “Gue jemput di bandara,” pancingnya.


Libur 1 minggu menyambut natal dan tahun baru memang menggiurkan. Apalagi .... Ia meraih undangan warna putih keemasan.


“Mal,” panggil Gayatri


“Belum tahu, Kak.”


“Cih, gue tahu. Lo pasti lagi kangen sama si nasty. Ya, kan tebakan gue benar? Udah balik aja deh. Di sini rame. Kita mau ke Bali. Malam tahun baruan, seru-seruan di sana.”


“Lihat nanti deh,” sahutnya sambil meletakkan undangan di atas meja makan.


Tak lama layar ponselnya kembali berpendar.


“Mbak Mala,” sahut Toni ketika ia menerima panggilan.


“Iya,”


“Maaf ganggu. Saya hanya mau ngabarin kalau Pak Ru sakit.”


“Sakit?” tanyanya dengan dahi berlipat.


“Iya, Mbak. Sepertinya kelelahan. Sudah 2 hari susah makan. Kondisinya juga belum membaik.”


Ia terdiam. Kembali menatap undangan berwarna white-gold tersebut.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏