
...21. Oh ... Can’t You See...
Garuda
Tiba di Melbourne ia dan Jebe langsung menuju hotel. Setelah sebelumnya sahabatnya itu menghampiri ke Singapura sekaligus menjenguk papi.
Hampir 1 minggu juga ia berada di sana. Kini bergantian dengan Maleo dan istrinya yang baru datang. Mereka bertugas menjaga papi. Yang pada akhirnya ia, Maleo dan Atat bersepakat akan bergantian menemani papi. Hingga sembuh.
“Sorry, Bro. Gue ikut prihatin.” Jebe menepuk bahunya saat pertama kali datang menjenguk papi. Sementara papi tengah tertidur.
Ia tersenyum tipis, “Thanks,” mereka memutuskan untuk berbicara di luar.
“Kalau lo berat ninggalin bokap. Lebih baik kita urungkan berangkat.”
“Bagaimanapun,”
Ia menggeleng. “Hanya 3 hari. Gue udah bilang sama papi. Gue mau pergi sebentar,”
Jebe berdecak, detik berikutnya menipiskan bibirnya. “Oh ... can’t you see, seorang Garuda sudah menjadi budak cinta,” ledek Jebe.
Ia berlalu begitu saja meninggalkan sahabatnya itu. Hingga Jebe berupaya mengejarnya.
“Apa yang harus gue lakukan agar gadis itu tahu isi hati lo?”
“Atau gue bilang terus terang sama dia. Kalau seorang Garuda telah jatuh cinta sama dirinya. Oh ... come on, di mana nyali lo?”
“Bayangkan Suri si seksi saja tidak berhasil mendekati. Semua orang menginginkan Suri, model ... actress ... cantik. Terkecuali sahabat gue ini. Dan gue harus angkat topi untuk gadis itu yang mampu meruntuhkan tembok cinta pria bernama Garuda ... hahaha.” Kemudian Jebe menggeleng, “kadang memang cinta itu aneh. Seaneh lo yang tidak bisa ditebak sekarang.”
Ia tidak menggubris Jebe. Melangkah cepat memasuki kabin jet pribadinya. Sementara Jebe masih mengoceh, seiring pesawat lepas landas.
“Hah!” Jebe menghela napas. Duduk santai di depannya. “Kapan lo terakhir jatuh cinta?” Jebe menjeda. Menatap pemandangan di luar. Masih pagi. Matahari pun masih berada di kaki timur. “Gue rasa seumur hidup lo belum mengalami yang namanya jatuh cinta. Lo, hanya jatuh cinta dengan JW, Chivas, Ballantine’s, Jack Daniel’s ... tapi,” jeda sejenak, “gadis itu memang punya appeal sih, beda.” Sahabatnya saja mengakui.
Ia mendengus. Melirik Jebe sejenak.
Jebe tak sadar. Bahkan dirinya pun berstatus sama. Usianya lebih tua 1 tahun darinya. Tapi sahabatnya itu memutuskan tak akan jatuh cinta. Lagi.
Ya, pengihanatan kekasihnya dulu teramat menyakitkan bagi Jebe. Maka dari itu sahabatnya tersebut menutup hati untuk jatuh cinta. Sampai saat ini. Mungkin juga sampai nanti. Entahlah.
Ia pura-pura memejamkan mata. Suara berisik Jebe mengganggu pikirnya. Ia ingin menikmati perjalanan ini. Menikmati tiap detik waktu yang akan mempertemukannya dengan ... dengan, sudut bibirnya terangkat ke atas samar.
“Gue tahu lo pura-pura tidur!” celetuk Jebe.
Begitu tiba di hotel. Ia bukannya mengikuti Jebe yang hendak masuk lift setelah melakukan proses check in. Justru balik kanan melewati lobi.
“Lo, mau ke mana?” teriak Jebe.
Ia hanya mengibaskan tangannya seraya menjauh dan meninggalkan sahabatnya. Ia akan menemui gadis itu.
...***...
Gemala
Pagi-pagi, 2 laki-laki telah berdiri di teras rumahnya. Menekan bel beberapa kali. Ia yang membuka pintu dengan celah sedikit terlihat mengernyit, “Kalian?”
Tanpa basa basi Garuda dan Jebe masuk ke dalam. Padahal ia belum sempat mempersilakan keduanya untuk masuk. Mereka duduk di ruangan tengah.
“E ... kalian mau ngapain?”
“Bukannya hari ini kita akan tour de campus. Agenda terakhir.” Sahut Jebe. Sementara Ru telah duduk santai menopang kaki.
“Masalahnya aku belum bisa disebut alumni. Jadi aku tidak akan ik—”
“Mal,” Gayatri baru tiba dari teras belakang setelah melakukan treadmill dengan peluh mengucur. Juga sedikit terkejut atas kehadiran Jebe dan Garu.
“Mereka?” Gayatri menatapnya. Bergantian menatap Garu dan Jebe lalu kembali menatapnya lagi.
Tanpa menunggu lama, akhirnya mereka berempat pergi ke kampus. Jebe mengemudi ditemani Gayatri di depan. Sementara ia di bangku kedua bersama Ru.
“Oh ... iya, ya. Aku masuk kalian langsung lanjut master. Pernah beberapa kali lihat sih, makanya gak asing.” Ucap Gayatri. Kakaknya itu memang luwes bergaul sama siapa saja.
Ia hanya diam menelinga di belakang. Sementara Ru sibuk dengan ponselnya.
“Kenapa gak ikut rombongan bus dengan yang lainnya?” tanyanya. Tujuan pertama adalah kampus Clayton.
Garu bergeming.
“Kamu punya telinga bukannya untuk mendengar? Mulut untuk berbicara?”
Garu tersenyum tipis.
“Huh, selalu saja.” Gerutunya. Mobil memasuki area kampus. Rombongan bus juga sudah parkir di sana. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang biasa menyimpan kenangan bagi mahasiswa perantauan.
Gelak tawa. Riuh rendah. Seolah membawa mereka kembali di masa lalu mereka saat berada di tempat ini sekarang. Meski banyak perubahan, tapi mereka masih mengingatnya.
Adalah kampus Caulfield tujuan berikutnya. Kampus terbesar kedua setelah Clayton. Letaknya 9 KM sebelah tenggara dari kota Melbourne. Atau 10 KM dari kampus Clayton. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan pribadi menuju ke sana. Kampus Caulfield inilah kampus Garu dan Jebe.
Mobil telah terparkir sempurna di carpark. Rombongan mulai berjalan melewati gedung-gedung. Mulai gedung A, B, C, D dan seterusnya. Penamaan gedung di kampus ini menggunakan alfabet.
Ia memilih duduk di depan kampus IT. Di bawah pohon, setelah tour de campus usai. Merenggangkan otot kakinya. Meski sudah terbiasa jalan. Tetap saja mengelilingi 2 kampus sekaligus cukup menguras tenaganya.
Garu menyodorkan air mineral padanya. Ia mendongak sekilas lalu menerimanya. “Thanks,”
“Habis ini kita ke mana?” Jebe baru datang bersamaan Gayatri.
“Free,” sahut Gayatri.
“Eh, lo masih ingat gak? Lo ditembak di,” Jebe tidak jadi melanjutkan kalimatnya setelah Garu memelotot ke arahnya.
“Gimana kalau kita ke Brighton?” Tawar Jebe mengalihkan topik. Bahaya kalau sahabatnya itu marah, bisa-bisa ia pulang naik pesawat komersial.
“Ide bagus,” kakaknya itu menyahut, “gimana, Mal?” Gayatri menoleh padanya.
Ia mengedikkan bahu, “Terserah, ngikut saja.”
“Jangan gitu donk! Kita tamu, kalian sebagai tuan rumah. Harusnya kami dibawa ke mana gitu,” sergah Jebe.
Ia beranjak dari kursi diikuti yang lainnya. “Lho kalian, kan sudah hafal tempat-tempat mana saja yang menarik. Tidak perlu kami kawani.” Ia menimpali.
“Iya sih, tapi, kan udah lama banget 8 tahunan lalu. Pasti banyak yang berubah.” Jebe tak mau kalah.
“Eh, mobil kita mana?” ucap Gayatri setelah mereka tiba di carpark.
“Perasaan di sini tadi kita parkirnya,” sahut Jebe.
“Oh sial!” seru Garu menyugar rambutnya.
“Ah, gimana sih! Lo, yang parkir masa lo yang lupa!” sergah Gayatri.
Ia menggeleng. “Parkir di sini cuma berlaku 1,5 jam. Ini sudah,”
“Sialan ... mobil kita dibawa.” Jebe mengusap wajah.
Garu menggaruk belakang kepalanya.
Akhirnya diputuskan Jebe dan Gayatri mengurus kendaraan yang terkena tilang. Sebab melebihi ketentuan waktu parkir. Sementara ia dan Garu menuju Caulfield railway station (Derby Rd). Memilih transportasi umum menuju pantai Brighton.
Keduanya tak banyak bicara setelah berada dalam trem. Hingga turun di Balaclava station (Carlisle st-38). Meneruskan dengan berjalan kaki, sebab harus berganti kereta. Hujan ringan mulai jatuh dari langit. Garu melepas jaketnya lalu dijadikan payung untuk mereka. Ia menelengkan kepalanya sejenak, memberikan senyum pada laki-laki itu. Kemudian mereka kembali menaiki kereta menuju Brighton beach station. Dari Balaclava station.
“Terima kasih,” ucapnya setelah duduk bersisian. Akhirnya kata-kata itu memecah kebekuan keduanya setelah beberapa menit lamanya. Ia mengulas senyum.
Garu melipat sedikit keningnya.
Ia mengangkat tangannya lalu menunjuk lengannya yang terdapat gelang melingkar di sana.
“Kamu masih memakainya,”
Laki-laki itu menggeleng. Detik berikutnya tersenyum tipis. Ketahuan, gara-gara ia melepas jaket.
Garu menyergah, “Karena menghargai, seperti kata kamu.”
Tapi detik berikutnya lagi, “Kalau gelang seperti ini aku bisa beli banyak.”
Ia langsung mencebik, mulai lagi pikirnya. Keangkuhan seorang Garu ditonjolkan.
Turun di Brighton beach station. Keluar lewat Centerbury PI. Mereka harus melanjutkan berjalan kaki kembali menuju pantai. Gerimis telah reda. Tapi sebagian langit tertutup awan kelam.
“Kenapa mereka belum menyusul juga,” laki-laki itu mulai memprotes. Berulang kali menoleh ke belakang.
“Makan siang telah lewat. Kita cari resto.”
Ia mengangguk. Garu mengajaknya ke resto ala Jepang.
“Bagaimana dengan tugas akhirmu?” tanya Garu sambil menikmati sajian di depannya.
“Sejauh ini lancar,”
“Mudah-mudah akhir tahun bisa wisuda.”
“Time is money.” Potongnya mengejek.
“Itu kamu tahu.”
Ia menyandarkan punggungnya ke belakang. “Mama ingin aku langsung melanjutkan ke pasca-sarjana,” jeda sesaat. Ia meletakkan sumpitnya. “Tapi, aku ingin gabung dengan lembaga penelitian di Canberra.”
Garu menatapnya, “Hati kamu pilih yang mana?”
Ia meringis, “Dua-duanya.” Ia tidak ingin mengecewakan mamanya. Pun ia ingin menggapai cita-citanya.
“Bagus. Kamu bisa dapatkan dua-duanya. Tapi tidak dalam satu waktu.”
Manik mata keduanya saling beradu dalam 3 detik. Tak lama. Tapi mampu membuat desiran aneh dalam dadanya.
Mereka akhirnya melanjutkan berjalan kaki kembali. Jebe dan Gayatri tak kunjung datang. Entah dua orang itu ke mana. Di hubungi ponselnya juga tidak aktif.
Dengan menggelar handuk mereka duduk menghadap pantai. Burung camar berkeliaran mendekat. Sementara bola raksasa dunia telah melandai. Menandakan rembang petang.
“Aku ingat. Kamu suka pantai, 'kan?"
“Hampir 1 minggu sekali aku datangi.”
“Apa kelebihannya, sampai kamu bisa sangat menyukainya?”
Nyenyat sesaat. Hanya debur ombak terdengar. Beserta suara burung camar yang terbang lalu hinggap di pasir.
Garu mendesahkan napas.
“Di pantai aku bisa bebas mengungkapkan perasaanku. Tanpa orang lain mengetahuinya,”
“Di pantai aku bisa melihat pemandangan tanpa penghalang. Warna biru yang menenangkan. Suara ombak yang membuat rileks,”
“Apalagi, kalau ombak sedang bagus. Cuaca cerah, kamu bisa coba main kayak.” Pungkas Ru seraya menengadah. Sayangnya langit mendung.
“Ru, maaf ... kalau aku mengungkit soal ibumu,”
Wajah laki-laki itu langsung pias.
“Dia memang ibu kandungku. Tapi bukan seperti ibu pada umumnya,”
Ia mengernyit—keheranan.
“Sudahlah, tidak usah membahasnya. Gak penting!” ketus laki-laki itu. “Lebih baik bahas masalah kita,”
“Kita?”
“Maksud aku,” Garu menoleh padanya dengan cepat. Berharap bisa mengoreksi kesalahan kalimat yang baru saja terlontar.
“Maksud aku,”
Ia menunggu dengan kening masih melipat.
Laki-laki itu menatapnya penuh. Cukup lama mata keduanya beradu pandang.
“Mala, wǒ bù zhîdào gāi rúhè biàodà wǒ de xīnqíng, kěshí wǒ de gàosù wǒ: wǒ hěn xǐhuān nǐ (Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku, tapi hatiku mengatakan bahwa aku: Aku sangat menyukaimu)”
Keningnya kian berlipat-lipat, “Apa artinya?” tanyanya dengan wajah datar—tak mengerti.
Garu mendesahkan napas, “Kita pulang!”
“Hah! Cuma itu? Sepanjang itu cuma ‘kita pulang’?” ia menggeleng, “kayaknya gak mungkin,”
“Kalau tidak percaya cari saja di kamus online,” Garu beranjak.
Ia ikut berdiri. Merogoh ponsel dalam sakunya, “wǒ, wǒ apa tadi?” ia sudah membuka aplikasi terjemahan bahasa Mandarin ke bahasa Inggris.
“Tidak ada siaran ulang!” seru Garuda.
Ia berdecak. Setengah berlari menyusul laki-laki itu yang sudah berjalan menjauh.
...***...
Garuda
“Hahaha ....” Gelak tawa Jebe menguar memenuhi kabin jet pribadi jenis super mid-size tersebut. Ditambah lagi dengan menepuk-nepuk meja di depannya.
Ia mendengkus. Lalu menyandarkan kepalanya ke belakang. Kesal.
“Mala, wǒ bù zhîdào gāi rúhè biàodà wǒ de xīnqíng, kěshí wǒ de gàosù wǒ: wǒ hěn xǐhuān nǐ,” Jebe mengulangi kalimatnya dengan terkekeh-kekeh.
Ia berdecak. Menyilangkan tangan di depan dada. Bete.
“Gue sengaja kompromi dengan kakaknya membiarkan kalian berduaan lama biar bisa saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Dan ternyata lo, cuma bilang seperti itu?” Jebe mencibir. Usahanya sia-sia pikirnya.
“Lo, kira dia pintar bahasa nenek moyang lo?!” seru Jebe masih menyisakan derai tawa.
“Ya, harusnya dia tahu.” Protesnya masih kesal. Memangnya ada yang lucu, sampai-sampai Jebe tergelak puas.
“Woi, Bro. Dia asli Indonesia. Surabaya lagi. Tempat kakek buyut lo. Harusnya lo pakai bahasa Jawa. Mala ‘aku tresno ro kowe’ ....” Jebe tergelak lagi.
Ia memejamkan mata. Kesal dengan sikap sahabatnya. Bukannya mendukung malah menyudutkannya.
Dan pada akhirnya ia hanya diam. Sementara Jebe berada di atas angin. Sepanjang pesawat itu mengudara pria bernama asli Jusuf Bague Kamaru itu bolak-balik membahas dirinya. Yang katanya salah bahasa. Kenapa tidak pakai bahasa universal? Atau pakai sentuhan, pegang tangan, dicium, dipeluk. Oh, sarannya tidak ada yang benar.
Padahal, seandainya Jebe tahu bahwa ia pernah mencium gadis itu. Ya, ia pernah mencium gadis itu. Di pantai. Bahkan ciuman itu masih terasa dan meninggalkan bekas di sana sampai saat ini. Mungkin Jebe akan semakin mencibirnya. Atau justru sahabatnya itu langsung diam seribu tawa. Karena ia selangkah lebih maju.
Tapi ... kalau dipikir-pikir kenapa juga ia menggunakan bahasa Mandarin? Oh sial! Ia merutuki keputusannya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏