If Only You

If Only You
67. Jea ... lous



...67. Jea ... lous...


Garuda


Hari-harinya benar-benar sibuk. Namun di sela-sela kesibukannya ia masih menyempatkan melihat kondisi papi di rumah sakit.


Jika pagi sampai dengan siang ia berada di kantor. Sore meninjau proyek di daerah. Malam baru kembali ke apartemen. Melihat Mala yang sudah tertidur lelap.


Atau saat sore hari ia mengusahakan untuk terbang ke Singapura melihat kondisi papi. Kendati dokter Tan belum mengabarkan berita baik atas kemajuan yang dialami papi.


Mulya juga mengirimkan surat perpanjangan mengenai pengobatan yang harus dijalani papi. Mengingat kondisi papi yang tidak mungkin untuk menjalani hukuman di rutan.


“Mal, malam ini sepertinya aku gak pulang.” Maleo tengah di luar daerah. Sedangkan Atat sudah 3 hari menjaga papi.


“Giliran aku yang menemani papi,” sambungnya. Walaupun sudah ada Tyo dan perawat khusus yang bertugas menjaga. Tapi keberadaan anak-anak papi adalah obat paliatif sesuai anjuran Tan.


Mala mengangguk. Seandainya ia punya waktu pasti akan menemani suaminya itu. Tapi kondisinya sedang tak memungkinkan. Namun begitu, setiap weekend ia berusaha untuk menjenguk papi di sana.


Kadang rasa bersalah menyelimuti. Membiarkan Gemala sendirian di apartemen. Atau belum membawa istrinya itu untuk honeymoon sesuai janjinya dulu. Mungkin memang waktu belum berpihak sepenuhnya padanya.


Langkah kakinya tergesa saat Toni mengabarkan hasil investigasi internal penyebab kerugian proyek bersama GK Investama sudah mengalami titik terang.


“Bagaimana?” tanyanya ketika ia baru saja masuk ke dalam ruangannya. Diikuti Toni yang menyambutnya.


“Pengusaha Li yang berada dibalik Robin,”


Dahinya melipat. Li? Pengusaha ekspor-impor. Li Xingsheng atau tepatnya Salim Pangestu nama pribuminya.


“Ini semua berhubungan dengan Ibu Meylan. Mami Anda, Pak.”


Kedua alisnya bertambah mengerut. Nyaris bertaut. Berpikir keras untuk menghubungkan mami dan Li. Atau mami dengan Robin. Meski mereka sama-sama peranakan Tionghua. Tapi belum tentu saling mengenal.


“Ibu Meylan diketahui dekat dengan Li. Sementara Robin adalah orang kepercayaan Li.” Toni mulai membuka fakta. Menyerahkan semua bukti yang dibawa tim investigasi internal.


Meski itu sudah lama. Beberapa tahun lalu. Hubungan keduanya ternyata terikat sampai kini.


“Li dan Ibu Meylan diindikasikan dulu punya hubungan spesial,”


Tapi mengapa baru sekarang. Seolah-olah targetnya adalah dirinya. Apa karena?


“GK Investama pernah bekerja sama dengan Li atau Salim Pangestu ini. Karena mengalami kerugian besar akhirnya kerja sama tersebut berhenti di tengah jalan. Sama-sama merugi, meski ada tindakan wanprestasi tapi keduanya tidak membawa ke jalur hukum. Lalu Salim mendengar bahwa GK bekerja sama dengan Garuda Land. Membangun residensial-komersiil di daerah kuasa Robin.”


“Bisnis Salim Pangestu satu tahun belakangan ini mengalami bangkrut. Setelah kedapatan impor ilegal pakaian bekas. Yang ditahan oleh bea cukai. Disusul impor sampah ilegal scrap plastik yang terkontaminasi limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Kasusnya sudah masuk kejaksaan agung. 2 orang ditetapkan sebagai tersangka. Termasuk Li sebagai direktur. Saya rasa, sampai di sini bisa disimpulkan,” Toni menjeda.


“Salim memanfaatkan keadaan ini. Mengomando dari balik jeruji,” tandasnya.


Toni mengangguk.


Ia menyapu wajahnya. Kenapa Salim harus muncul sekarang? Jika memang dulu punya hubungan spesial dengan mami. Kenapa tidak dari dulu diselesaikan. Meminta ganti rugi atas pinjaman utang piutang mami yang digunakan berjudi. Oh ... damn it!


“Apa yang diminta sebenarnya?” giginya mengetat. Sudah cukup proyeknya diobrak-abrik hingga mengalami kerugian besar.


“Salim meminta Anda melunasi hutang piutang Ibu Meylan.”


Ia menggebrak meja. Hingga benda-benda di atasnya bergetar dan bergeser.


...***...


Gemala


Prayoga selaku Direktur memaparkan proyek yang tengah dilakukan WRI sebagai pilot project dari penelitian cities for forests. Bermitra dengan pemerintah daerah.


Tentu pemerintah daerah dalam hal ini Kota Jakarta sebagai pihak yang bekerja sama juga sekaligus pemangku kepentingan.


Pemaparan itu berlangsung kurang lebih 2 jam. Ia mendapat tim bersama Davin. Sebagai peneliti junior sementara Davin yang telah bekerja selama hampir 2 tahun menjadi staf pendamping.


“Ini data-data yang masuk sementara,” ucap Davin menyerahkan data pendukung.


Ia mengangguk.


“Mal, nanti pulang bareng yuk?! Gue udah calling Mely. Dia bisa hari ini. Kita hangout bareng, gimana menurutmu?”


“Hari ini, ya?” tanyanya memastikan seraya berpikir. Sebab ia harus bilang terlebih dulu ke Garuda. Lagi pula memang laki-laki itu juga tengah berada di luar kota.


“Kenapa, lo gak bisa?”


Ia masih bergeming. Menimbang-nimbang. Lalu berucap, “1 jam lagi gue kabari.” Ia keluar dari ruangan Davin menuju ruangannya yang memang masih 1 lantai. Membawa berkas data pendukung untuk dipelajari.


Menghempaskan pantatnya sedikit kasar. Menghubungi Ru untuk memberitahu. Tapi 2 kali melakukan panggilan sambungan telepon itu tetap tak ada jawaban.


Kini ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Hingga kursi roda itu bergeser. Mungkin Ru sedang sibuk pikirnya. Akhirnya ia hanya mengirimkan pesan : Mas, aku pulang terlambat. Ketemuan sama Mely dan Davin.


Ia juga mengabarkan pada San untuk tidak menjemputnya. Beres.


Tiba jam kantor usai ia melangkahkan kaki masuk ke ruangan Davin.


“Vin, gue jadi ikut. Gue tunggu di lobi,” ujarnya. Memutar tumit berbalik meninggalkan ruangan Davin.


“Mal, Mala tunggu!” seru Davin. “Bareng gue aja. Gue bawa mobil,” dalihnya. Sebab terkadang ia bawa motor. Mengingat kondisi ibukota yang crowded lalu lintasnya.


Ia tak mengiyakan juga tak menolak. Beberapa kali Davin mengajaknya pulang bareng. Ia selalu menolak, beralasan bawa mobil sendiri. Tapi untuk kali ini? Mungkin ia mengalah. Tadinya ia berencana mau naik taksi online. Sebab ia juga telah memerintahkan San untuk tidak menjemputnya.


“Come on,” ajak Davin yang melewatinya. Membuyarkan pikirannya yang baru saja mengembara.


“Ayo!” seru Davin lagi. Bahkan menggoyang lengannya.


“Eh ... i-iya,”


Sepanjang perjalanan Davin lebih menguasai obrolan. Mulai dari perkenalan mereka awal masuk SMA. Lalu bisa dekat dengannya, Mely dan Prita. Davin mengakui lebih nyaman berteman dengan mereka. Meskipun dia laki-laki sendiri.


Davin tertawa kala mengingat kebersamaan mereka. Meski tidak begitu dekat. Tapi bagi pria itu pertemanan dengan 3 teman perempuannya adalah spesial dan terkenang. Terutama Gemala. Yang mencuri perhatiannya sejak awal perkenalan mereka.


“Gue gak nyangka Prita dapat dosennya sendiri? Lo, nyangka gak sih?” tanya Davin. Sesekali melihatnya yang duduk di sebelah.


Ia menyahut, “Gak juga sih,”


“Lo, nyangka juga gak? Kalau kita satu kantor?”


Ia menggeleng.


Davin berdecak. “Gue kira gue gak bakal ketemu lo lagi. Apalagi saat melewatkan pertemuan jelang tahun baru kemarin. Tapi suer ... beneran, gue waktu itu benar-benar gak bisa. Harus antar bokap berobat ke Singapore karena terkena serangan stroke mendadak,” akunya. “Dan sampai saat ini masih bolak-balik ke Singapura untuk melakukan ckeckup di sana,” imbuhnya.


“Gue turut prihatin, Vin.”


“Thanks, Mal.”


“Dibalik musibah. Ada hikmah yang mungkin baru gue dapat sekarang. Ternyata melewatkan pertemuan tahun baru sama lo. Kita dipertemukan lebih intens untuk jadi rekan kerja. Itu surprised banget buat gue.”


Mereka tiba di sebuah kafe tempat janji temu dengan Mely.


Sialnya, Mely mengabarkan terjebak macet. Sudah 15 menit.


“Kita pesan dulu makan,” tukas Davin. “Sekalian pesankan buat Mely. Tapi dihidangkan nanti pas orangnya datang. Gimana?”


Ia mengangguk, “Boleh.” Begitu Mely tiba, sahabatnya itu tidak perlu menunggu lagi pesanan pikirnya.


“Awalnya gue mau lanjut kuliah di luar juga waktu itu. Tapi berhubung keterima di WRI. Jadi batal. Lanjut di sini sambil kerja.” Davin terkekeh, “seribu sayang. Kuliah sambil kerja jadi kurang fokus. Tesis gue mangkrak sampai sekarang. Dosen pembimbing udah ngejar-ngejar kaya tukang kreditan,”


“Silakan,” pramusaji datang membawa pesanan mereka.


Lagi-lagi Mely mengabarkan sedang on the way.


“Kita makan aja dulu,” Davin menyergah.


Ia mengangguk. Toh, Mely juga menyilakan untuk makan lebih dulu.


Sepuluh menit ke depan mereka mengobrol sembari menghabiskan makan yang tersaji di meja. Bertepatan Mely yang datang.


“Lo, lama banget!” protesnya kesal.


“Sorry ... di luar kuasa gue,” Mely menggeret kursi dan duduk di sana. Lalu berdiri lagi, “gue ke toilet dulu. Kebelet nih.”


Ponselnya berdering. Garudanya Mala berpendar di layar.


“Sorry, Vin. Gue angkat telepon.”


Davin mengangguk.


Ia berdiri, berjalan sedikit menjauh.


“Aku tunggu di parkiran. Sekarang!”


Sambungan telepon mati seketika.


“M-Mas,” ia menatap layar ponselnya. Lalu netranya mengedar ke tempat parkir. Kendati sedikit pencahayaan. Namun ia hafal betul mobil hitam SUV keluaran Mercedes-Benz di sana adalah punya suaminya. Sebab pernah beberapa kali memakainya.


“Vin,” ucapnya ketika langkahnya dekat dengan meja yang mereka tempati tadi.


“Kenapa, Mal?”


“Em itu ... sorry. Gue harus balik duluan. Sorry banget ....”


“Lho, tapi ... tapi Mely baru datang. Terus lo mau naik apa?” Davin menggeser kursinya lalu berdiri. “Gue antar,” putusnya.


“E ... gak usah Vin. Gue, gue udah pesan taksi online. Bentar lagi datang,” ia terpaksa bohong. Meski berat untuk mengatakan ini. Tapi ia tidak punya jalan lain.


Ponselnya kembali berdering. Nama Garuda di sana.


“Oh ... oke. Take care, Mal. Sorry jadi biarin lo pulang sendiri.”


Ia mengulas senyum tipis. Dan segera memutar tumit menjauh dari sana.


Dalam perjalanan pulang. Keduanya dalam keheningan. Ru tak sekali pun menoleh padanya. Bahkan tak ada interaksi darinya.


Hingga mereka tiba di apartemen. Ru memarkirkan kendaraannya di tempat parkir khusus.


Laki-laki itu keluar tanpa sepatah kata. Terus masuk ke dalam lobi dan menekan tombol lift khusus ke unitnya.


Ia mengembuskan napas.


Menghadapi emosi Garuda yang buruk bukan kali ini saja. Pernah beberapa kali. Saat kecewa menemui Rahayu misalnya. Atau saat mereka putus. Menyebalkan.


Dengan langkah berat. Ia mengikuti Garu yang menunggunya di dalam lift tengah menahan pintu agar tak menutup.


Mereka masih sama-sama dalam kediaman. Tak ada yang memulai. Ia maupun Garuda sama-sama tak ada yang merasa bersalah.


Toh, ia juga sudah meminta izin laki-laki itu. Dan status pesan itu terbaca. Artinya dia tahu. Lantas kenapa tiba-tiba marah tak ada ujungnya. Lagi-lagi menyebalkan. Ia menggerutu dalam hati.


Ia memilih ke dapur saat tiba di unitnya. Sementara laki-laki itu menuju lantai atas.


Meraih gelas di atas meja lalu menuangkan air putih dari teko kaca ke dalamnya. Menegaknya beberapa kali. Tadi setelah makan ia tak sempat minum. Terburu-buru karena Ru menunggu.


Langkah kakinya gontai menapaki anak tangga satu persatu. Tidak semangat. Begitu membuka pintu. Gorden pintu balkon melambai-lambai tertiup angin.


Ia menggeleng. Laki-laki itu ada di sana.


Tak acuh ia menuju kamar mandi. Seharian ini begitu melelahkan. Ditambah Garu yang menyebalkan. Dengan mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin mungkin akan bisa mengembalikan emosinya. Bukankah harusnya dirinya yang berhak marah. Karena laki-laki itu secara tiba-tiba, tidak ada angin dan hujan menyusulnya dan menyuruhnya dengan paksa untuk pulang! Aneh bukan? Tapi kenapa justru laki-laki itu yang ... ah, dasar nasty!


Malam ini keduanya benar-benar melakukan demo mengatupkan bibir. Tidak ada yang memulai untuk mengakhiri kebisuan sejak 3 jam terakhir.


Tidur saling memberikan punggung. Menyisakan jarak. Dan berusaha keras terlelap dalam keteguhan masing-masing.


Sampai kapan?


“Kamu marah?” akhirnya kalimat perdana keluar dari mulutnya. Jujur ia tidak bisa tidur.


Mereka masih saling membelakangi. Ru tak menjawab.


Bahunya tertarik lalu merosot perlahan.


“Apa alasan kamu marah?” kalimat kedua yang meluncur. Kesal bercampur ... penasaran.


Ru masih terdiam.


Ia mendengus. Laki-laki itu memang tidak mau menyelesaikan malam ini juga. “Okay ... good night.” Ia menarik selimut hingga menutupi lehernya. Memaksa matanya untuk terpejam meski kesulitan.


“Apa itu Davin?”


Kelopak matanya yang dipaksa menutup perlahan terbuka.


“Apa itu teman SMA kamu?”


Ia menelinga.


“Kenapa tidak bilang kalau Davin suka sama kamu?”


“Hah!” refleks ia memutar tubuhnya menghadap Garuda yang masih memunggunginya.


“Kata siapa dia suka sama aku?” bantahnya. Davin tidak ... eh, belum pernah menyatakan suka padanya.


“Bodoh!” Ru berbalik cepat. Menghadap dan menatapnya. Menyentil keningnya hingga berbunyi, “tak.”


“Duh,” ia meringis sembari mengusap keningnya. “Siapa yang bodoh?!” tak terima dibilang seperti itu.


“Dia suka sama kamu. Masa gitu saja gak tahu!” cibir Ru.


“Terus kamu cemburu?”


Laki-laki itu menghela napasnya, “Bukan cemburu. Tapi kamu harus jaga jarak sama dia. Jangan ngasih kesempatan dan kebersamaan. Apalagi berdekat-dekatan. Kamu tahu artinya apa?”


Ia menggeleng.


“Bodoh!”


Ia kesal. Dibilang bodoh. Menggembungkan pipinya.


“Artinya kamu tidak boleh berdua-duaan sama dia,” pungkas Ru.


“Sia—”


Ru menyergap bibirnya. Memaksanya untuk membuka bibir yang terkatup.


“Aku tidak mau melihat kalian berduaan lagi,”


“Aku ti—”


Laki-laki itu kembali mendesakkan bibirnya. Membungkam mulutnya.


“Aku tidak ingin kamu dekat-dekat dengannya. Apalagi sering pergi bersama.”


“Ta-tapi dia, aku—”


Tak memberi celah. Ru kembali menyergapnya. Kali ini lebih lama. Awalnya kasar. Namun lambat laun membuainya penuh kelembutan. Hingga ia terperdaya dan terlena dengan sentuhannya.


“A case in point is (intinya adalah) ....” Ru merangkum wajahnya. Menatapnya posesif.


Bibirnya menahan senyum yang dikulum. Tapi hanya beberapa detik. Sebab tawanya akhirnya meledak di akhir, “Jea ... lous (cemburu).” Cibirnya penuh kemenangan.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏