
...76. Too Hard To Understand...
Gemala
Beberapa hari setelah kepergian Torrid, Garuda lebih banyak menyibukkan diri. Mungkin berusaha menepis waktu yang tercuri oleh kilatan kenangan. Atau bisa juga karena kesibukan pekerjaan. Sebab, yang ia dengar laki-laki itu menjadi kandidat penerus papi.
Dengan potensi yang dimiliki lebih oleh Garuda dibanding kakak-kakaknya. Serta ... surat wasiat yang belum dibacakan oleh tim pengacara keluarga. Ditambah, desas-desus yang kian santer mendekati Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan dilaksanakan tepat 14 hari setelah kepergian co-founder Torrid Group. Bahwa suaminya tersebut adalah calon tunggal yang akan menduduki struktur paling tinggi di Torrid Group.
Di hari keempat ia kembali bekerja seperti biasa. Bahkan hingga hari ketujuh, ia selalu berusaha pulang sebelum acara pengiriman doa dimulai di kediaman papi.
Pun, Rahayu mendadak kembali ke Yogya tadi pagi. Belum genap 7 hari. Sebab salah satu pasiennya membutuhkan tindakan segera. Dan tidak bisa ditunda lagi.
Setelah acara 7 hari selesai, ia kembali tinggal di apartemen. Sayangnya, akhir-akhir ini ia selalu pulang saat hari sudah gelap. Begitu pula laki-laki itu. Yang selalu pulang malam. Bahkan saat ia sudah terlelap.
Nyaris komunikasi mereka senyap.
Hanya bertemu di pagi hari saat sarapan. Atau sebelum berangkat kerja. Itu pun kurang dari 1 jam pertemuan.
Apa kesibukan mereka yang menempatkan keadaan seperti ini? Atau ini hanya pelarian Garuda dari kesedihan. Entahlah ...
Entah juga sampai kapan. Situasi seperti ini akan mereka lalui. Yang jelas keduanya terjebak dalam kondisi yang mereka sendiri tak mengerti.
Ia yang berusaha membuktikan profesionalitas dan integritasnya pada perusahaan yang menaunginya. Mau tak mau menebus beberapa hari yang ditinggalkannya. Mengganti waktu cuti lalu dengan lembur dan mengerjakan semua tepat waktu. Bahkan kalau bisa selesai sebelum waktunya.
Tapi itu semua harus dibayar tanpa cuma-cuma.
Karena waktu sebagai kompensasi terbaik membuktikan integritasnya. Dan ia harus merelakan waktunya lebih banyak dikantor. Kendati, ia terus berusaha menjaga komunikasi dengan Garuda setiap hari.
Mengiriminya pesan, sebagai bentuk rasa perhatian dan kepedulian.
Seperti: Sudah makan siang, Mas? Atau: Jangan lupa makan siang.
Bahkan saat ia menunggu kepulangan laki-laki itu. Ia selalu menyempatkan bertanya melalui pesan:
Pulang jam berapa?
Makan malam di rumah gak?
Mau aku masakin?
Aku tunggu kamu di rumah 😊
Meski jawaban selalu singkat. Dengan ‘ya’ atau ‘sudah’ terkadang ‘tidurlah duluan aku pulang malam’. Sesingkat-singkatnya melebihi pidato seorang pejabat yang mengumumkan kenaikan bahan pokok atau bahan bakar minyak. Sebab ada gurat keprihatinan yang tak tega untuk diungkapkan. Namun terpaksa sebab keadaan yang memaksa—mengatakan hal pahit itu sangat sulit.
Apa itu juga alasan Garuda?
“Too hard to understand (terlalu sulit untuk memahami),” gumamnya. “Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Ready?” tanya Dila yang baru masuk ruangannya.
Ia mengulas senyum, meski sedikit dipaksakan. Suasana hatinya benar-benar sedang jungkir balik tak karuan.
“Like it or lump it (mau gak mau).” Sebab ini kepergian pertamanya untuk mengambil data secara langsung ke daerah.
“Kamu bisa menolaknya, Mal.” Dila tak setuju dengan keputusannya. Menerima tantangan dari Benita. “No hard feelings, ya (jangan diambil hati, ya). Benita memang seperti itu. Dia yang gak profesional. Mencampuradukkan masalah pribadi dengan absensi kamu yang memang hak kita. So ... kamu bisa cari alasan untuk menolak. Lagian, proyek ini baru pertama bagi WRI.” Papar Dila panjang lebar.
Memang benar isu perempuan selalu terangkat di depan. Menarik untuk dikulik. Tapi bagi WRI ini adalah proyek pertama yang mengangkat tentang perempuan. Dan ia diberikan mandat untuk terjun ke lapangan mengambil data langsung ke responden yang telah ditentukan.
Sore ini memang ia sengaja pulang tepat waktu. Setelah beberapa hari selalu mengambil lembur. Ia merasa saat inilah waktu yang tepat memberitahu pada laki-laki itu. Bahkan dengan makan malam bersama yang bisa jadi mengembalikan hubungan mereka mungkin yang sedikit renggang akibat kesibukan.
Ia ingin memberi kejutan pada Garuda. Meminta San langsung mengantarkannya ke kantor suaminya. Perdana setelah menikah kakinya kembali menginjak gedung Torrid Group mengunjungi laki-laki itu di ruangannya. Sebab beberapa kali menginjakan kaki di gedung TG hanya sekedar lewat untuk menuju helipad di lantai paling atas. Dulu sebelum menikah ia juga pernah ke gedung tersebut. Tapi ... waktu itu status mereka masih teman. Teman yang menyebalkan tepatnya.
Hatinya tetiba merasakan hangat. Entah karena memang ia begitu merindukannya. Dan inilah obat mujarab yang tepat.
Yaitu pertemuan.
Tiba di depan lobi TG, San menghentikan mobilnya. Seorang security membukakan pintu untuknya. Menyambutnya ramah.
Langkahnya mengayun dengan percaya diri tinggi dan konstan. Setinggi gedung TG yang punya 32 lantai dengan ketinggian 156 meter. Termasuk bangunan pencakar langit yang menghias ibukota. Tentu tidak akan terlupa bahwa gedung Sarinah lah, bangunan pencakar langit pertama yang dibangun pada tahun 1963. Dan kini gedung-gedung tinggi yang seperti pohon berjejer tegak menjulang sudah ratusan jumlahnya.
Lantai 30.
Tempat di mana ruangan Garuda berada.
Toni tampak keluar dari ruangan suaminya. Menutup pintu dan menjatuhkan pandangannya kepadanya. Pria itu terperanjat.
“Mas Ru ada?” tanyanya.
Toni terlihat gugup.
“Apa sedang ada tamu penting, Ton?” tanyanya lagi dengan dahinya sedikit mengerut.
“Itu, sedang ...,”
“Oke. Aku tunggu di sini saja. Kalau memang sedang ada tamu penting. Aku gak buru-buru, kok.”
“Em, itu.”
Sepertinya memang tidak ada yang beres. Gestur Toni mencurigakan. Ia urungkan untuk duduk menunggu di sofa ruang tunggu. Melainkan mendorong pintu ruangan Garuda.
Benar saja.
...***...
Garuda
Kedatangan Suri cukup mengagetkannya. Meski tanpa janji temu, ia terpaksa menerima wanita itu. Karena Suri memaksa. Bahkan sudah menungguinya hingga setengah jam yang lalu.
“10 menit,” pesannya pada Toni. “Sampaikan ke dia only 10 minutes. Tak lebih.”
Toni mengangguk. Ia sebenarnya juga sudah jengah dengan kelakuan wanita itu. Ujung-ujungnya ia yang direpotkan. Tapi ... berhubung ia menaruh ketertarikan pada wanita berparas setengah bule tersebut. Akhirnya, ia menyampaikan keinginan wanita itu untuk bertemu atasannya.
“Oh, ada tamu rupanya?” Gemala datang tanpa memberitahunya.
“Hon,” ia lekas bangkit dari duduknya yang berseberangan dengan Suri.
“Apa aku mengganggu?”
Ia menggeleng, “Sama sekali tidak. Dia ... dia hanya mampir. Ada kerjaan di sini.”
Suri bangkit, “Kita kayaknya pernah jumpa. Suri.” Wanita itu mengulurkan tangannya. “Kebetulan aku jadi brand ambassador Torrid insurance,” Suri membanggakan diri.
“Mala,” ia menyambut uluran tersebut dengan salah satu sudut bibirnya terangkat.
“Kita mau makan di mana?” tanyanya setelah dengan halus ia mengusir Suri. Hanya saja tanpa aba Suri kembali mencium pipinya sewaktu wanita itu akan berpamitan. Ia yang tak menyangka kini harus menerima konsekuensinya.
Istrinya memasang raut muka masam. Cemberut dan melakukan unjuk rasa diam seribu bahasa.
Padahal ia lebih suka Mala yang cerewet seperti biasa. Lebih suka Mala marah-marah dengan kata. Dibandingkan ... sekarang.
“Hon, please ... mungkin sudah menjadi kebiasaan Suri mencium setiap orang yang dianggapnya teman. Lagi pula dia tinggal lama di luar. Mungkin itulah yang juga mempengaruhi kebiasaannya di sini,”
Mala membisu.
Ia mendesakkan napas.
“Anggap seperti kita berjabat tangan di sini, Malaysia atau negara Timur Tengah. Sama halnya cium pipi juga lazim di negara Amerika, Perancis, Spanyol, Kanada, Italia dan negara barat lainnya. Atau seperti membungkuk yang sudah lazim di Jepang dan Kamboja. Hanya cium pipi sebagai salam. Tidak punya makna lebih.”
Gemala mendengus. Gampang sekali pikirnya menganalogikan. Kalau begitu tinggal saja di Eropa sana! Ingat, ini Indonesia.
“Okay ... terus aku harus bagaimana?” menyerah. Istrinya masih membuang muka tak mau melihatnya. “Hon,” ia meraih tangan Mala yang berada di atas tasnya. Menciumnya sekilas.
...***...
Gemala
Tiba di sebuah restoran kawasan Setia Budi-Jakarta Selatan. Keduanya turun. Karena sering berlangganan di restoran tersebut, maka tak sulit untuk mendapatkan private room tanpa reservasi. Sebab beberapa kali Garuda melakukan meeting di sini.
Sementara untuk dirinya inilah kali pertama ia datang kesini.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Garuda saat mereka duduk di private room yang peruntukkannya buat 4 orang. Sebab terdapat 4 kursi di sana. Ia sengaja menduduki kursi berseberangan dengan laki-laki itu.
“Cozy,” singkat dan padat. Mengingat dalam ruangan tersebut masih ada pelayan. Tidak mungkin, kan, ia melakukan gencatan percakapan.
Tak perlu menunggu waktu lama seorang pelayan kembali datang menyajikan makanan pembuka.
Disambung dengan makanan utama yang disajikan langsung oleh seorang chef.
“Bone marrow. Dari pasta jenis Malloreduss yang teksturnya sedikit chewy,” terang chef tersebut. Seraya menuangkan sumsum di atas pasta. “Silakan,” imbuhnya.
Makan malam ditutup dengan truffle truffle yang bentuknya seperti jamur truffle dengan rasa manis dari cokelat dan asin dari sea salt caramel. Sajian penutup yang menurutnya best dessert. Belum lagi minuman mocktail perpaduan jeruk sunkist dan lemon juice. Sempurna.
“Gimana menunya?” tanya Ru sembari mengelap mulutnya.
Ia manggut-manggut. “Recommended,” tangkasnya.
“Aku tidak salah pilih berarti.” Ru tersenyum puas.
Tiba di apartemen ia langsung menghambur ke kamar mandi. Rasa kesal yang bercokol masih bersembunyi di hati. Meski, Garu malam ini sedikit berbeda.
Mungkin jika ia tidak datang ke kantor laki-laki itu, Ru belum pulang sampai sekarang. Bisa jadi, juga tidak akan bercerita tentang kedatangan Suri ke kantornya.
Embusan napasnya sangat kentara. Ia lelah. Dengan keadaan yang akhir-akhir ini mengimpit. Sementara ....
“Mal, aku di ruangan kerja.” Garuda mengetuk pintu kamar mandi. Meninggalkan pesan atas keberadaannya.
Ia tak menyahut.
Satu jam lebih ia menunggu laki-laki itu yang tak kunjung datang ke kamar. Karena penasaran ia pun menyusul ke ruang kerja Garuda.
Pintu yang tak menutup sempurna membuat telinganya mencuri dengar percakapan Ru dengan seseorang lewat sambungan telepon.
“Aku serahkan semuanya. Tolong atur. Serapi mungkin. Aku tidak mau mendengar kembali ke permukaan. Terserah kalian. Yang penting semua aman.”
Ia menggeleng. Masih menelinga.
“Bagian itu aku yang tangani. Mudah saja. Kalian bungkam mulutnya. Kalau perlu ancam keluarganya. Pasti dia tidak akan berkutik dan menyerah.”
Ia menyapu wajahnya. Tulang tungkainya seakan lemas seperti jely tak mampu lagi menahan bobot tubuhnya. Ia meraih daun pintu yang membuat seketika pintu itu terdorong ke dalam.
Garuda tersentak, “Mala?” memutus sambungan telepon sepihak. Dan menghampirinya. “Kamu gak apa-apa?”
Ia menggeleng.
“Kita duduk dulu,” Ru membantunya untuk berjalan ke sofa. Namun dengan cepat ia menepisnya.
“Hon,” Ru menatapnya. “What’s wrong?” tanyanya keheranan.
Ia menggeleng. “Jadi ini. Ini yang buat kamu sibuk setelah kepergian papi? Jadi ini ... kamu menggunakan cara-cara kotor seperti ... seperti ...,” ia kepayahan menelan ludahnya yang terasa ada duri di tenggorokkan membuatnya nyeri.
Garuda mengetatkan rahang menatapnya.
Matanya berkaca, “Aku sengaja datang ke kantor kamu, memberikan surprise tapi ternyata aku salah timing. Justru aku yang diberikan surprise oleh kamu. Kalau menurutmu ciuman itu biasa. Okay ... mulai besok aku akan mencium teman-temanku saat bertemu dengan mereka,” butir-butir air matanya luruh bersamaan erangan kata yang keluar dari mulutnya.
“Dan kalau menurut kamu cara-cara tadi itu juga hal biasa ... maaf. Ternyata aku salah besar. Aku ...,” ia sudah tak bisa melanjutkan lagi kalimatnya. Melihat Ru yang tampak menahan emosi. Ia memutar tumit dan berlari menuju tangga.
Menutup pintu dengan kasar hingga bunyi berdebam sampai bawah. Menggetarkan dinding dan lantai yang tak tahu menahu permasalahan mereka menjadi saksi bisu perselisihan keduanya.
Tubuhnya merosot. Sedu sedan membuat bahunya naik turun tak seirama dengan letupan degup jantungnya. Mungkin inilah puncak kesenyapan hubungan mereka akhir-akhir ini. Ia menduga, meraba bahkan berprasangka buruk terhadap laki-laki itu. Kebiasaan yang berbeda dan perlakuan Garuda yang tak biasa, membuatnya bertanya-tanya. Dan ternyata benar, bukan?
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏