If Only You

If Only You
42. You're All I Need (3)



...42. You’re All I Need (3)...


Gemala


“Buka matamu!” Titah Ru padanya.


Ia menggeleng, “Ru kamu menodai mataku. Mana mungkin aku membukanya. Kamu janji dulu kalau aku buka mata, kamu sudah mengenakan pakaian,” cerocosnya kesal. Pasalnya baru kali ini ia melihat laki-laki di depannya sekarang hanya mengenakan boxer dengan massa otot tubuh yang padat. Kulit kecokelatan disertai beberapa tetesan air yang masih membasahi tubuhnya. Menambah ... dag dig dug jantungnya tak berirama semestinya.


Ya ... Tuhan. Kenapa matanya pagi ini disuguhi pemandangan yang ... yang membuat dadanya berdegup tak karuan.


Sementara laki-laki itu malah tertawa renyah. Seolah sudah biasa menampilkan tubuhnya pada semua orang. Sialan. Mungkinkah Ru sering melakukan hal ini pada wanita lain? Suri misalnya.


Oh tidak!


Bagaimana wanita itu tidak akan tergila-gila dengan penampilan Ru seperti tadi. Ia saja sampai kepayahan menelan ludah ... tetiba semburat rona kemerahan menyelusup perlahan di wajahnya—tersipu malu. Jujur ini beda. Sudah biasa ia melihat para adam berjemur di pinggir pantai hanya dengan swim shorts berbagai model dan merek. Dari yang panjangnya selutut, di atas lutut atau hanya bermodel segitiga.


Tapi ini ... oh my god. Lagi dan lagi detak jantungnya tak mau kembali normal. Justru semakin mendobrak fantasi liar yang pernah ditontonnya di dalam film-film. Pada akhirnya memberikan sinyal-sinyal yang membuatnya merinding dan ....


Pletak.


Ia mengaduh. Keningnya terasa sakit. Kemudian mengusap-usapnya. Namun matanya masih terpejam enggan membuka.


“Pasti pikiran kamu travelling ke mana-mana!” tebak Ru. Dan kenapa selalu benar tebakan laki-laki itu.


“Buka mata kamu!” imbuh Ru dengan napas hangat menerpa wajahnya. Sedekat itukah wajah Ru pada wajahnya? Apalagi bau napas yang menguar memenuhi indra penciumannya. Aroma segar bercampur mint. Yang, begitu menggoda. Semriwing ....


Ia menggeleng.


“Beneran kamu gak mau buka mata?” peringat Ru, “oke, aku tinggal keluar.”


“R-Ru, stop. Oke ... oke aku buka mata. Tapi janji kamu sudah pakai pakaian.” Ancamnya ia tidak mau melihat pertunjukan model underwear lagi. Bisa-bisa ....


“Aku hitung sampai 3,” tangkas Ru mulai menghitung, “1, 2 ....”


Ia membuka matanya perlahan. Mengerjap 2 kali.


“Gimana?” Ru mengedipkan matanya. Sementara ia membelalak tak percaya.



Ia melipat bibirnya—menahan senyum, senang dan tentu rasa bangga yang hadir atas anugerah pesona laki-laki itu di hadapannya kini.


“Aku ganteng, kan?!” Ru dengan jemawa menegakkan dagu.


Ia melengos. Pura-pura kesal. Nasty-nya kembali lagi pikirnya.


“Kamu harus bangga punya pacar kayak aku,”


Nah ... nah, selain nasty ... sassy juga muncul.


“Ayo cepat kita pergi sekarang!”


Huh ... lengkap. Nasty, bossy, sassy. Ia masih menatap Ru yang kembali mematut di depan cermin.


“Memangnya kita mau ke mana?” bukankah Ru sedang sakit. Kenapa laki-laki ini malah mengajaknya pergi?


“Pergi,”


Ia menggeleng. “Kamu masih sakit. Harus banyak istirahat.”


Ru berdecak. Melewati dirinya lalu berbisik, “Sudah diobati dengan resep tadi malam. Thanks, Hon.” Laki-laki itu menyisakan gelak renyah sambil berlalu meninggalkannya.


“Iish,” ia mendesis kesal. Sepersekian detik kemudian tersenyum dikulum.


Tiba di meja makan tampak Toni sudah duduk di sebelah Garu. Ia mengeluarkan fritata dari microwave. Menuangkannya ke dalam piring bulat, memotong-motong lalu menyimpan di tengah meja.


“Buatan kamu?” tanya Ru.


“Pembuktian kalau aku bisa masak. Gak cuma omong doang!”


Toni menyahut, “Kayaknya enak nih, Mbak.”


Garu menyodorkan pancake pada Toni, “Khusus kamu makan ini, Ton. Spesial buatan Bi Yati,” ucapnya mengejek.


Wajah Toni kesal. Tapi apa mau dikata. Ia terpaksa memasukkan potongan demi potongan pancake yang telah disiram saos ke dalam mulutnya. Tapi dengan mata menatap fritata yang menggiurkan liurnya.


“Kamu mau, Ton. Tenang aja, masih banyak kok.” Tukasnya membela Toni.


“Hon,” protes Ru tidak terima.


“Pak Ru pelit, Mbak. Padahal waktu sakit. Saya yang ngurus. Gak ingat dia. Yang telpon Mbak Mala siapa? Kalau bukan saya, pasti Mbak Mala masih di Melbourne. Pak Ru masih terbaring sakit ... boro-boro mau makan, Mbak. Semua yang dimasakin Bi Yati tidak laku. Terpaksa saya yang makan semua ... sayang mubazir. Ya, kan, Bi?!” tepat Yati lewat dan membawa minuman jus buah. “Ya, kan, Bi?!” imbuh Toni lagi untuk meyakinkan.


Sementara Bi Yati hanya meringis. Garu cuek menyantap fritata tanpa terganggu.


Ia mengambil piring kosong, meletakkan potongan fritata di atasnya dan mengangsurkan pada Toni.


“Terima kasih ... sudah mengurus Ru selama sakit,” ucapnya tulus.


Toni membalas senyum, “Makasih, Mbak. Sshh ... enak nih,” ia mencium dahulu. Kemudian langsung melahap.


“Sudah tugasnya. Lagian dia digaji. Jadi wajar,” Ru menukas. Mengelap mulutnya. Piringnya telah kosong. Fritata 2 potong tandas.


“Mau lagi?”


Ru menggeleng, “It’s tastes good (rasanya enak), delicious ... tapi perutku penuh. Nanti pasti aku habisin.”


Ia menunggu sebentar Ru dan Toni yang membicarakan pekerjaan di ruangan kerja laki-laki itu. Ia pikir hanya sebentar ternyata hingga dirinya ketiduran di sofa sambil mendekap buku berjudul ‘Magic of Thinking Big’ karya David Schwartz yang ia ambil dari rak buku di belakang sofa.


...***...


Garuda


Setelah melakukan video call dengan papi dan mendapat jawaban hasil kemajuan pengobatan dari dokter Tan. Ia sedikit bernapas lega.


“Kami hanya berusaha untuk memperpanjang survival rate tidak bisa membunuh sel kanker secara keseluruhan,”


“Pengobatan juga mengarah ke terapi paliatif supportif. Untuk mengurangi nyeri kankernya, mengurangi gejala mual dan muntah. Serta memperbaiki selera makannya.”


“Sejalan itu pengobatan tetap berlanjut,”


“Kemungkinan 2 atau 3 minggu lagi bisa pulang.” Dokter Tan merinci dengan jelas.


Ibunya juga kemungkinan 3-4 hari lagi pulang ke Yogya. Sempat menghawatirkannya, setelah mengetahui dirinya sakit.


“Aku sama Mala akan menyempatkan ke sana, Bu.” Pesannya sebelum menutup sambungan video call tadi.


“Kamu handle semua pertemuan 6 hari ke depan sampai tanggal 2. Carikan Mala tiket. First class,” hanya tinggal pertemuan kecil dan tidak ada yang penting. Sebab akhir tahun biasanya semua orang mengambil holiday, tak terkecuali. Bahkan sebagian orang jauh-jauh hari melowongkan waktu agar liburan tak terganggu.


Toni mengangguk.


“Jangan lupa kalau tidak urgen jangan mengganggu liburanku,” pesannya lagi pada asisten pribadinya.


Toni mengangguk kembali. Walau dalam hati menggerutu. Kapan dirinya liburan? Padahal tahun baru orang tuanya berencana mengajaknya pulang ke kampung halaman di Pematang Siantar. Setelah bertahun-tahun tidak pernah ke sana. Meski ia beberapa kali ke Medan. Tapi baru inilah ia akan mudik. Nasib.


Sudah lama Toni merancang agenda liburan ke kampung halaman. Satu di antaranya melihat bekas rumah opungnya di perkebunan teh Sidamanik. Di sana katanya terdapat air terjun Bah Biak yang masih virgin. Ia belum pernah ke sana.


“Ton,”


Toni tergeragap, “Ba-baik, Pak.”


Ia keluar dari ruang kerjanya. Tampak Mala tertidur di sofa. Dengan pelan diambilnya buku yang di dekap gadis itu. Lalu menggeleng sambil tersenyum.


Bi Yati datang membawakan selimut. Ia menyelimuti perlahan tubuh Mala hingga ke perutnya.


“Saya izin pulang ke rumah dulu, Pak,” pamit Yati.


Ia mengangguk, “Nanti malam gak usah masak, Bi. Saya sama Mala makan di luar.”


Satu jam telah berlalu. Gadis itu masih terlelap. Bahkan ia sudah menghabiskan fritata yang tersisa.


Ia iseng mengambil gambar Mala yang tengah tertidur. Dari mulut terbuka. Tertutup. Sampai gaya lucu seperti bayi. Untung tidak ileran. Ia terkekeh tanpa suara.


Memandangi wajah polos Mala yang cantik natural tanpa bosan. Sederhana, tapi ia suka. Dan jatuh cinta pada gadis itu.


Dua jam ia menunggu, Mala tak kunjung terbangun. Akhirnya ia pun ikut terlelap.


...***...


Rahayu


Tinggal di Singapura sudah hampir 1 minggu lamanya. Meski sempat pulang beberapa hari lalu. Ada pekerjaan yang mengharuskan ia hadir.


Kepulangan Ganjar juga satu di antara lain yang menjadi alasan.


Meski awalnya Ganjar tidak terima tentang keputusannya membantu Torrid dalam masa penyembuhan.


“Apa Ibu belum cukup tersakiti?” cecar Ganjar, “apa karena Ibu masih cinta padanya?” kalimat yang menohok berikutnya.


Ia tidak pernah menjelekkan siapa pun dan menceritakan keburukan pernikahan pertamanya maupun keduanya yang tak lain dengan ayahnya Ganjar.


Bahkan dulu Ganjar sering bertanya. Mas Garuda di mana? Tinggal sama siapa? Kenapa tidak pernah menemui ibu? Kenapa tidak pernah kesini.


Perlahan seiring waktu berjalan. Ganjar mengerti. Meski ya ... mungkin masih banyak pertanyaan di benak anak keduanya. Tapi ia selalu meyakinkan bahwa,


“Ibu sayang sama kamu dan Garuda,”


“Tidak pernah membedakan. Meski masmu tinggal jauh. Mas Ru memilih tinggal dengan keluarga papinya. Kamu memilih tinggal sama Ibu. Dan anak-anak ayah lain tinggal sama ayah,”


“Ibu juga tidak melarang kalau kamu mau tinggal sama ayah di Belanda.”


Ganjar selalu berucap, “Mumet, punya keluarga banyak. Tapi aku selalu pilih tinggal sama Ibu. Sampai kapan pun.”


Ia berusaha memberikan perhatian dan kasih sayang pada Ganjar. Pun ayahnya yang nun jauh tinggal di Belanda. Meski jarang beradu fisik. Sebab jarak yang membentang. Tak menyurutkan Mas Hario memberikan perhatiannya. Dia masih bertanggung jawab sebagai seorang ayah. Agar Ganjar tak kehilangan figurnya.


“Mas Garu gak pernah datang kesini? Padahal dia punya segalanya. Sesibuk apakah sampai melupakan Ibu?”


Akhirnya mau tak mau ia menceritakan pernikahan pertamanya dengan Torrid. Alasan di balik kakaknya itu tidak pernah datang.


Dan yang membuat ia tersenyum bangga adalah,


“Tenang, Bu. Aku selalu di sini. Anggap saja aku, Mas Ru. Aku tidak akan pernah membiarkan Ibu kesepian,” aku Ganjar berusaha melindungi dirinya. Meski pada akhirnya ia harus melepas anaknya itu pergi jauh juga ke Jepang. Toh, Ganjar sudah dewasa. Bisa memutuskan masa depannya. Juga paham kehidupan seperti apa keluarga mereka.


Ayahnya di Belanda yang hidup bahagia dengan 2 anak beserta keluarga barunya. Kakaknya yang juga bahagia tinggal dengan papinya. Dan Ganjar juga harus bahagia tinggal bersamanya.


Pernah ia bertanya memberikan pilihan pada Ganjar. Jika ingin tinggal sama ayah, ia tak mengapa. Mas Hario juga selalu menawari hal itu. Lagi, lagi Ganjar tetap memilih berada di sisinya.


“Rahayu,” Pras datang menyapa. Duduk di kursi taman sebelahnya.


Ia tersenyum tipis, lamunan flashback masa lalunya mencuat di sela-sela kesendirian.


“Terima kasih,” imbuh Pras. Menatapnya sejenak lalu mengalihkan pandangan menatap air mancur di depannya.


“Sudah tugasku Mas. Semenjak aku dinyatakan tergabung dalam tim dokter yang menangani Torrid,” dalihnya.


“Ya, aku tahu itu. Lagian juga sudah sepantasnya keluarga pasien memberikan ucapan terima kasih,” sanggah Pras sambil terkekeh.


“Mas Pras hebat. Dengan umur sekarang masih kuat. Energinya masih oke. Apa rahasianya, Mas?” selidiknya. Pasalnya umur pria di sebelahnya ini sudah melebihi 70 tahun.


“Bahagia, Yu. Itu kuncinya,” tangkas Pras. Semenjak memutuskan mundur menjadi orang kepercayaan Torrid. Pras memilih hidup di kampung bersama istrinya.


Ia mengangguk-angguk.


“Kamu sudah hafal teori itu. Aku tidak perlu menjelaskan,”


Ia berdecak.


Pras menghela, “Aku yakin ketidakbahagiaan yang di jalani Torrid semenjak berpisah denganmu memicu penyakit ini.”


“Awal pertemuanku dengannya dan juga kamu di rumah sakit. Persahabatan kita bermula dari sana. Aku tidak ingin persahabatan kita berakhir di tempat yang sama. Meski ya ... kita dihadapkan dengan kenyataan. Kematian bisa datang sewaktu-waktu.”


Ia menggeleng—tidak setuju.


...***...


Gemala


Entah sudah berapa jam ia tertidur. Ketika bangun ia menyadari bahwa keberadaannya bukan lagi di atas sofa. Melainkan di atas kasur.


Kok bisa?


Siapa lagi, pasti Ru yang memindahkannya. Dengan kebiasaan buruk tidur susah dibangunin. Pasti mempermudah laki-laki itu.


Ah, ia merutuki sendiri kelemahannya.


Ia mencuci muka. Mengeringkan dengan handuk. Lalu keluar kamar. Ru terlihat tengah membaca buku.


“Maaf, Ru. Aku ketiduran,” ucapnya seraya duduk di depan laki-laki itu.


Ru menutup bukunya dan tersenyum.


“Bahkan kamu sudah berganti pakaian ... hehehe,” cengirnya merasa bersalah. Lagian siapa juga yang akan pergi. Dengan ini, kepergian mereka tertunda. Eh, maksudnya batal.


“It’s okay. Tapi sebagai gantinya ada harga yang harus dibayar.” Ru tersenyum seringai.


Huh ... mulai lagi. Teori-teori yang menjengkelkan.


“Apa?” tantangnya tak mau kalah.


“Kamu masak buat aku.”


Hah? Siapa takut! “Oke. Aku terima tantangannya. Deal,” lagaknya penuh kemenangan.


Ia memutuskan untuk membuatkan burger the lot yang terkenal di negara kanguru tersebut. Semua yang pernah mendatangi dan tinggal di sana pasti tahu.


“Tunggu!” potong Ru ketika ia akan mengikat rambutnya tinggi.


“Aku yang ikat,” sela Ru. Mengikat rambutnya asal, “bukan gitu, Ru.” Protesnya. Sebab rambutnya jadi berantakan.


“Harus nurut,” bisik Ru tepat di telinganya. Ia sampai bergidik.


Laki-laki itu membantunya memotong-motong sayuran, selada, beatroot, nanas dan tomat.


“Honey,”


Ia menoleh pada Ru.


“Please help me. I can’t see ... I can’t see.” Ru memakai potongan tomat sebagai kaca mata. Seraya menggembungkan pipinya—meniru kebiasaannya.


Ia terkekeh dengan kekonyolan laki-laki itu. Bukannya disimpan, justru potongan tomat masuk ke dalam mulutnya.


“Issh ...,” desisnya kemudian.


Ia memanggang daging burger dan bawang.


“Can I help you?” Ru berdiri di sebelahnya. Lalu tanpa aba mengecup puncak kepalanya.


Ia memelotot, “Please sit down, Ru. Kamu malah bikin aku gak konsen.”


Garuda tergelak.


Terakhir ia membuat telur setengah matang.


“Finish. Sekarang plating,” ujarnya.


Ia menyodorkan piring berisi burger the lot hasil kreasinya pada Ru yang menunggu di meja makan.


“Hem, sepertinya ....” Ru sengaja menjeda dengan mengerutkan kening. “Yang masak dulu yang harus coba,” imbuhnya sambil menyodorkan burger ke mulutnya.


Ia menggigit bagian ujung.


“Gimana?” Ru melahap dengan gigitan besar. Setelah beberapa detik, “enak!” seraya mengacungkan jempolnya. “Gak kalah sama yang aslinya,” tambahnya lagi dengan mulut penuh. “Thanks, Hon.” Jemari Ru menyeka sudut bibirnya yang berbekas mayones di sana. Lalu menjilatnya.


“Ish, Ru jorok!” elaknya.


“Justru enak. Burger rasa cinta.” Kekehan Ru membuatnya menipiskan bibirnya. Namun dalam hati, ia berbunga-bunga.


-


-


📷 : unsplash (artist by Lewis Tan)


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏