If Only You

If Only You
25. Tetaplah Menjadi Garuda



...25. Tetaplah Menjadi Garuda...


Gemala


“Ru, lihat ... taraaaa!” Ia memperlihatkan sebuah undangan wisuda dalam video call sore itu.


Laki-laki itu menatapnya tanpa ekspresi. Datar dan lurus seperti jalan tol yang baru jadi.


“Aneh. Kok kayaknya gak senang gitu,” ia memberengut. Bersandar pada kepala ranjang. Tujuannya menelepon laki-laki itu untuk memberinya kejutan, malah ia terkejut dengan ekspresi yang diperlihatkan Garu—tidak antusias.


Garu membalas, “Terus aku harus bilang apa?”


Nah, kan? Sepertinya ia salah waktu dan orang.


“Issh, masa gitu saja harus diajari sih? Kayak beo saja!” Dengusnya kesal.


“Aku Garuda bukan beo,”


“Sama saja, sama-sama burung. Yang tidak punya perikemanusiaan.”


“Tapi burung garuda lebih besar dari beo.”


“Mau bigger or smaller, intinya sama mereka burung.”


“Jelas beda!”


“Sama!


“Beda!”


“Ish, kenapa kita jadi bahas masalah burung?”


“Karena aku punya burung, eh ... maksud aku,” Ru tampak salah tingkah. Sialan tuh, kan namanya kena bullying lagi. Huh.


“Hahaha ....” Gelak tawanya tak bisa dielakkan lagi. Dua menit ke depan ia masih menyisakan tawa.


“Oke ... oke. Burung garuda memang lebih besar dari beo. Makanya dia dipilih menjadi lambang negara kita. Tapi menurut sejarah yang aku baca, bahwa burung garuda Indonesia itu adalah cerminan dari elang jawa. Meski sebagian mengatakan memang ada burung garuda tapi tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Konon sih katanya sudah punah.”


“You know, elang jawa kenapa disebut-sebut yang paling mirip dengan garuda?”


Garu di layar tampak terdiam.


“Elang adalah jenis burung predator ... pemangsa. Punya organ tubuh dari mulai kakinya yang kuat, kuku yang tajam, paruhnya yang mampu menyobek mangsa, lalu penglihatan yang tajam untuk memindai mangsa yang jaraknya sangat jauh dan elang jawa punya ciri beda dari sekian jenis elang yang ada. Yaitu pada jambul di kepalanya.”


“Dan kamu tahu elang itu punya keistimewaan?”


Garu masih terdiam.


“Gak jadi deh. Aku berasa nguliahin CEO hebat. Nanti kamu malah ngetawain.”


Garu mengulum senyum, “Lanjutkan aku dengerin.”


“Seekor elang itu umurnya bisa mencapai 70 tahun. Tapi sebelum mencapai umur segitu, dia harus memilih.”


Kening Ru mengerut.


“Ya, take it or leave it. Pilihan sulit. Dilema. Apakah dia mau terus berumur sampai 70 tahun apa terhenti di umur 40 tahun. Karena, kalau elang ingin sampai di umur 70 tahun dia harus melewati masa di mana dia harus melakukan transformasi tubuh yang sangat menyakitkan,”


Ru masih menelinga.


“Kamu bisa bayangkan,” mimiknya sangat serius. “Saat umur 40 tahun paruh elang sudah sangat bengkok dan panjang bahkan sampai ke dadanya. Sehingga menyulitkan dia makan. Belum lagi cakar-cakarnya sudah tidak tajam. Begitu juga bulu-bulu di bagian sayapnya sangat lebat dan tebal ... jadi menyusahkannya untuk terbang mencari mangsa.”


Laki-laki itu benar-benar serius mendengarkannya. Apa Ru masa kecilnya tidak pernah mendengar cerita ini? Ini, kan cerita yang sering dibacakan waktu anak-anak.


“Terus apa lagi?” sergah Ru. Tidak sabar menunggu kelanjutannya.


“Ya, kalau elang memilih tetap hidup dia harus melewati transformasi menyakitkan itu. Tapi kalau dia memilih berhenti di umur 40 ... artinya dia akan menjemput kematiannya sendiri.”


Ru mengerutkan dahi, “Apa yang dilakukan untuk tetap melanjutkan hidupnya?”


“Si elang akan terbang ke pegunungan yang tinggi. Membuat sarang di pegunungan tersebut. Dia akan mematuk-matukkan paruhnya ke bebatuan pegunungan itu sampai paruhnya terlepas. Dia juga harus menunggu paruh baru muncul kembali. Sementara ia tidak mungkin terbang mencari mangsa.”


“Dia hibernasi?” Ru menyahut antusias.


“Tepatnya bertransformasi. Karena setelah tumbuh paruh baru. Dia harus mencabut kukunya  satu persatu. Dan harus menunggu lama lagi untuk kuku-kuku baru muncul. Tidak berhenti di situ, setelah itu dia akan mencabuti bulu-bulunya sendiri hingga rontok semua. Kamu bisa bayangin elang yang gagah perkasa, kuat dan seram jadi botak, bugil ... hihihi,” ia cekikikan sambil menutup mulutnya.


Sementara Ru terdiam. Dengan air muka biasa saja.


“Dan kamu tahu berapa lama dia bertransformasi?”


Garu menggeleng.


“Setengah tahun. Selama 6 bulan dia akan  mengasingkan diri. Mengalami kesakitan yang luar biasa. Hanya bisa pasrah. Bisa jadi di saat itu ada elang lain yang memangsa. Atau jenis hewan pemangsa lainnya. Padahal kondisi tubuhnya sedang lemah. Tapi ... kamu bisa lihat. Setelah itu dia akan hidup normal kembali. Seperti terlahir baru. Dan akan meneruskan kehidupan 30 tahun ke depan.”


Hening sesaat. Keduanya saling terdiam. Dengan manik mata yang saling menatap di layar ponsel.


Laki-laki itu menyulam senyum tipis.


“Dari elang kita bisa belajar. Apa pun masalah yang kita hadapi, itu sebuah bentuk transformasi dari sebuah perjalanan. Akan menyakitkan. Membutuhkan perjuangan yang tidak sedikit dan sebentar. Tapi yakinlah, Tuhan akan selalu menyediakan tempat setelah kita berjuang. Sebuah masa depan yang lebih baik. Lebih indah. Atau bisa jadi sebuah mimpi yang akan terwujud.”


“Ru ....” Ia menjeda, “tetaplah menjadi Garuda yang aku kenal.”


Keduanya tersenyum.


“Thanks, Mala.”


 


...***...


Garuda


“Ton, bagaimana?”


Toni ternyata sedari tadi menunggu dan berdiri mematung. Mendengar percakapan atasannya yang asyik dengan pacarnya. Koreksi, belum sah. Baru pedekate.


“Ton,” panggilnya berulang.


“Eh, iya Pak. Burung.”


Ia mengerutkan dahi, “Maksudmu?


“Ma-maaf, Pak. Maksud saya. Ehm ... e ....” Kenapa Toni jadi hilang konsentrasi. Sialan gara-gara burung. Umpatnya dalam hati.


“Kamu menguping pembicaraanku?” ditatapnya sang sekretarisnya itu.


“Ton,”


Toni meringis, “Saya tidak sengaja, Pak.”


Ia berdecak. “Kamu harus jaga rahasia ini. Jangan sampai keluar.”


“Hah! Rahasia apa? Perburungan maksudnya?” ucapnya. Tentunya cuma berani dalam hati sekali lagi.


Toni mengangguk. Meski dalam hati ingin ketawa ngakak guling-guling. Bosnya ini lucu pikirnya. Soal perburungan saja kenapa harus dirahasiakan.


“Bagaimana perkembangan kasus Papi?” tanyanya dengan menatap berkas yang ia pegang. Laporan budgeting bulanan Garuda Land.


Toni memaparkan laporan tim pengacara. Bahwa pelaporan kasus menyangkut SGC beberapa tahun silam melibatkan banyak orang. Tidak hanya bos besar saja.


Dan para terlapor akan dipanggil satu persatu.


“Kapan?”


“Kemungkinan dalam bulan ini. Karena menurut informasi dari pengacara. Bukti-bukti pelapor telah lengkap.”


Ia menyandar ke belakang kursinya.


“Sebaiknya tim pengacara segera memberitahu bos besar, Pak. Lebih cepat lebih baik.” Kata Toni memberi saran.


“Apa saham SGC mengalami penurunan?”


“Sejauh ini belum.”


“Kamu boleh keluar, Ton.”


“Baik, Pak.” Toni pergi meninggalkannya.


Ia menemui Atat di ruangannya. Kakak keduanya itu tengah menatap ke luar jendela kaca.


“Apa Papi siap menghadapi ini?” sergah Atat yang tahu keberadaannya. Dan ternyata Atat juga telah mengetahui perihal kasus yang menimpa papi.


“Siap tidak siap. Tim pengacara kita sudah siap. Dan akan memenangkan kasus ini.” Balasnya. Ia duduk di pinggiran meja kerja Atat.


“Kamu yakin?”


Ia bergeming. Tapi ia percaya papi tidak mungkin terlibat. Dalam dunia bisnis, hal seperti itu sudah bukan rahasia lagi. Saling sikut. Sudut. Berebut. Bahkan mengkambing hitamkan.


 


...***...


Gemala


Menurut bureau of meteorology besok Melbourne memasuki musim panas. Kota-kota sibuk berhias menyambut Natal. Begitu pula warganya.


Jika di negara bagian belahan bumi utara, pada saat natal sedang mengalami musim dingin bahkan ada yang bersalju. Berkebalikan dengan Australia yang berada di belahan bumi selatan. Akan mengalami musim panas. Hal ini disebabkan oleh kemiringan sumbu bumi dan posisi bumi terhadap matahari.


Ia duduk di bangku taman menunggu Nayla.


“Sorry, Mala ... I’m late.” Nayla ikut bergabung duduk di sebelahnya.


“Congrats, Bachelor of Art.”


“Kamu juga, kita sama-sama mendapatkannya.”


“Bagaimana, kamu jadi melanjutkan study?” tanyanya pada Nayla.


Nayla mengangguk, “Lihat!” menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.


“Wow! Cincin?”


“Ya, semalam saya dilamar Arfin.”


“Alhamdulillah ... double congrats donk!” ia memeluk Nayla, menepuk punggungnya. “Pasti bahagia banget.”


Mereka mengurai pelukan, “Bagaimana denganmu?” tanya Nayla.


Ia mengembuskan napas. “Lupakan Ethan. We’re just friends,” lalu mengangkat bahunya.


“So sorry,”


Ia mengulas senyum, “Sepertinya aku juga lanjut study.”


Nayla melebarkan bola matanya, “Are you serious?”


“Hem,” seraya mengangguk.


“Wahahaha, kita sekelas lagi. Lalu bagaimana tawaran di Canberra?”


Ia menggeleng lemah.


“No worries, pasti ada kesempatan lagi.”


Tiba di rumah sudah malam. Ia melihat Gayatri tengah berkemas-kemas.


“Kakak mau ke mana?” tanyanya menuangkan air ke dalam gelas lalu menegaknya. Menggeret kursi duduk di sana.


“Gue ada job di Sydney.”


“Berapa hari?”


“Dua minggu,”


Ia memberengut, “Gak lihat gue wisuda dong!”


“Kan, ada mama-papa. Kak Ganisha sama Siren juga Juna mau datang. Mereka mau liburan sekalian di sini.”


“Iya sih, cuma ....”


“Lo, mengharap si nasty juga datang?” tebak Gayatri. Menggeret kursi di depannya ikut duduk di sana.


“Perasaan lo ke dia gimana sih?”


Ia terdiam. Menatap gelas kosong yang dipegangnya.


“Kata Jebe, Garuda suka lo. Tahu kenapa kita jemput kalian terlambat dan lama waktu di Brighton beach?”


Ia menggeleng lemah.


“Karena—”


Ia menatap kakaknya, “Apa?”


Gayatri mendesahkan napas, “Sebenernya kalau dibaca dari gelagat lo. Lo, tuh suka dia juga, kan? Gak usah muna. Akui saja. Cinta jangan dipendam. Kalau ditahan bisa-bisa buat mati berdiri.” Tandas Gayatri. Mencomot anggur di depannya.


“Mati berdiri gimana?” ia tak mengerti maksud Gayatri.


“Hadeh ... cinta itu bukan hanya membuat bahagia. Tapi rasa lain yang harus siap kita terima. Rasa sakit, pahit dan kecewa. Semua rasa itu bersandingan. Dan tidak sedikit juga wanita memilih cinta dalam diam atau bahasa kerennya cidaha alias cinta dalam hati.”


“Tidak berani jujur. Takut mengungkap. Karena banyak faktor. Bisa karena gengsi. Merasa ‘gue kan cewek, masak nembak duluan?’ nah, itu gengsi. Mau nunggu sampai rambut memutih? Makan tuh gengsi! Atau karena itu bukan adat kita? Sekarang bukan zamannya. Kalau zaman penjajahan mah, iya ... kita kaum wanita hanya bisa diam, menurut. Terus gunanya memperingati hari Kartini buat apa dong?!”


“Wanita itu bukan hanya di belakang. Tapi juga bisa di depan. Dipimpin juga memimpin,”


Ia mendengarkan Gayatri. Yang ceplas-ceplos. Kakaknya itu kadang ada benarnya. Terkadang.


“Atau karena belum siap memulai hubungan baru. Karena hubungan lama yang menyisakan memori buruk. Kayak si Ethan misalnya. Itu juga salah. Mau sampai kapan nunggu siap? Sampai lo umur 40 tahun? Keburu menopause!” sarkas Gayatri.


Ia menggembungkan pipinya. Mendesahkan napas.


“Atau belum siap karena faktor lain lagi. Faktor keluarga? Lingkungan? Atau masa lalu? Itu semua bikin mati berdiri. Meski ya ... cinta gak memandang itu semua sih. Tapi ada kalanya itu menjadi penyebab cinta dalam diam,” Gayatri berdiri. Pergi ke kamarnya.


Ia menimpali, “Kak, belum selesai.”


Gayatri berteriak dari kamarnya, “Apa lagi? Masa lo gak bisa lihat perlakuan dia ke elo. Mau gue yang bilangin!” ia berdiri di ambang pintu.


Ia bertopang dagu, memasukkan satu butir anggur hijau ke dalam mulutnya. Lalu berdiri. “Gak usah, terima kasih.” Pamitnya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.


Sementara Gayatri hanya geleng-geleng  kepala. Adiknya itu memang beda. Polos, terkadang bikin gemas.


Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Bersamaan melempar ponsel begitu saja. Omongan kakaknya itu sedikit banyak mempengaruhinya.


Layar ponselnya berpendar. Tanda sebuah notifikasi masuk.


Garuda 5ila : Good night, have a nice dream.


Hah!


Ia sampai terkesiap membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya—saking tak percaya. Pertama kalinya.


Gemala : typing ....


Gemala : typing ....


Sebab bingung mau membalas apa.


Garuda 5ila : Apa kamu kekurangan kosa kata sampai bingung mau menulis apa?


Matanya membulat sempurna. Dasar nasty.


Gemala : Good night, have a nice dream ... too.


Garuda 5ila : Hahaha ....


Gemala :🙄


Garuda 5ila : 😜


Gemala : 😌


Garuda 5ila : 🤩


Gemala : END


Garuda 5ila : 😉 extra.


Gemala : typing ....


Ia mendekap ponselnya. Bibirnya membentuk lengkungan senyuman sempurna. Apa ini perasaan yang sesungguhnya?


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏