
...47. Menanti Kepastian...
Jakarta
Belum genap 1 bulan dari sidang pledoi. Mulya mengabarkan bahwa putusan hakim akan dibacakan esok hari di Pengadilan Negeri.
Bahkan beberapa media berani memprediksi keputusan sendiri mengatas namakan berdasar ‘pengamat’, pakar hukum dan beberapa polling masyarakat. Seolah-olah merekalah hakim penentu keadilan. Itulah kuasa sebuah media. Mampu membangun citra.
Pihak keluarga korban juga telah melakukan konferensi pers. Garuda bisa melihat siapa saja yang berdiri di balik layar. Dan netranya tertuju hanya pada satu sosok.
Sementara para pencari warta masih memburu berita. Berusaha mendapatkan statement dari dirinya, Maleo maupun Atat.
“Ya,” jawabnya pada sambungan telepon.
“Ibu sama Om Pras di apartemen kamu. Tadinya kami ke rumah papi. Tapi di sana banyak wartawan.”
“Aku pulang sekarang.”
Ia memerintahkan beberapa pekerjaan pada Toni. Dalam 3 hari ke depan ia akan bekerja dari rumah. Toni mengangguk mengerti. Permasalahan yang membelit keluarga atasannya itu sedikit banyak memang menyita perhatian. Bukan hanya menyita keluarga Torrid. Tapi juga menyita publik.
Kepastian hukum.
Hal yang ditunggu-tunggu.
Hunian apartemen yang memberikan keamanan dan kenyamanan ekstra menjadi keuntungan tersendiri. Ia menjadi penghuni yang diprioritaskan.
“Kembalilah ke kantor. Standby di sana,” titahnya pada sopir. Sang sopir mengangguk, “baik, Pak.”
Ia bergegas menuju unitnya di lantai 31. Tiba di sana memang ibu dan Om Prasetyo sudah menunggunya.
“Ru,” begitu sapa Rahayu. Ia mendekap ibunya. Prasetyo menepuk pundaknya.
“Maafkan Ibu,” imbuh Rahayu. Ia membawa ibunya untuk duduk di sofa. Sementara Pras memilih duduk di seberang.
“Ibu mengecewakan semua,” sesal Rahayu mengucap kalimat yang sebenarnya ingin dikatakannya sudah lama. Sudut pelupuk mata Rahayu meneteskan kristal cair saat menunduk.
Garu meraih tangan ibunya. Menggenggam erat. Mengusapnya perlahan. “Bukan salah ibu,”
Rahayu menggeleng. “Beberapa kali papimu meminta tapi Ibu ....”
Keterdiaman menjeda. Semua larut akan pemikiran masing-masing yang terasa hampa.
Hari itu rasanya ia berada dalam persimpangan. Hanya ada 2 pilihan. Dan semua menyakitkan.
Tiba hari di mana kepastian itu datang. Putusan Hakim membacakan dengan lantang:
“Menyatakan Terdakwa Torrid Hartawan bin Hartawan telah terbukti sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana ‘Dengan sengaja melakukan perencanaan dan penganiayaan,”
“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Torrid Hartawan bin Hartawan dengan pidana penjara selama 4 (empat) tahun 8 (delapan) bulan penjara,”
“Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa, dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan,”
Hakim Yang Mulia masih terdengar membaca putusan. Hingga terdengar suara ketuk palu.
TOK ... TOK ... TOK!
Tentu bukan hanya putusan Hakim Pengadilan Negeri yang sudah mengetuk palu. Namun juga putusan Hakim Pengadilan Tipikor yang akan kembali menjerat Torrid dalam kasus suap (bagi-bagi upeti) siap menanti.
Tubuhnya membeku. Lidahnya kelu dan seakan raganya tak mampu lagi untuk bergerak. Apalagi sekedar menegakkan dagu untuk tetap menatap dan menapak masa depannya. Ia menunduk dalam.
Pras menepuk-nepuk bahunya.
Sementara Rahayu menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia pernah sekali menemui Torrid setelah sidang nota pembelaan.
“Ko, kita mulai lagi. Kita mulai lagi menjalani hari-hari ke depan. Bersama anak-anak.” Ya, Rahayu akhirnya memutuskan untuk menerima Torrid kembali.
Torrid waktu itu tersenyum. Wajahnya tersirat semringah. Lalu berucap, “Kamu yakin, Ay?”
Rahayu mengangguk.
“Terima kasih ... terima kasih sudah mau menerimaku lagi,” air mata ayah Garuda itu merebas lewat sudut matanya. Rahayu juga ikut terhanyut.
Namun hari-hari di mana Rahayu menunggu. Torrid tak kunjung memberikan kepastian. Hingga ia memperoleh jawaban melalui Prasetyo.
Bahwa, “Torrid tidak ingin membuatmu menjadi janda untuk kesekian kali, Yu.” Torrid sudah bahagia dengan keadaannya sekarang. Melihat Ru dan ibunya bersama.
Jantungnya bagai ditikam sembilu. Rahayu tahu. Mungkin ini terlambat. Dan tentunya dilema buat mereka. Seandainya mereka menikah sebelum kepastian hanya ada 2 pilihan. Torrid dibebaskan dan mereka akhirnya bersatu. Pilihan berikutnya Torrid mendapat hukuman dan mereka tetap terpisah.
Dan Rahayu menemukan alasan Torrid. Pria itu tidak ingin menyakitinya lagi. Sebab dia tahu pilihan kedualah yang akan dihadapi Torrid.
Sementara di kediaman Maleo, anak pertama Torrid juga tampak terpukul. Begitu juga Atat yang datang bersama istrinya.
Layar televisi itu masih menyiarkan jalannya persidangan. Maleo bisa melihat Torrid yang selalu menunduk. “Papi pasti kuat. Aku yakin,” gumamnya.
Sandra mengusap punggungnya, “Kita semua harus kuat. Demi papi.”
“Tat, bagaimana menurutmu? Kita melakukan langkah apa?” tanya Maleo pada adiknya yang masih duduk dengan tatapan kosong.
Atat menggeleng.
“Apa Ru menghubungi?” imbuh Maleo.
Lagi, lagi Atat menggeleng. Begitu juga Sandra dan Vivi.
...***...
Torrid
Ia langsung digiring ke rumah tahanan di Jatinegara menggunakan rompi oranye. Sorot kamera. Kilatan lampu flash. Serta berondong pertanyaan pewarta berita berusaha mendesak mendekat hanya untuk mendapatkan statement-nya.
Namun ia bungkam.
Tetap menunduk dan berlalu cepat masuk ke dalam mobil tahanan.
Justru bukan putusan Hakim yang baru saja ia terima. Atau putusan Hakim Tipikor yang menanti selanjutnya. Berapa tahun lagi ia akan mendekam di balik jeruji besi tersebut. Yang mengganggu pikiran juga batinnya.
Adalah kalimat Rahayu yang bagai oase di tengah gurun pasir beberapa waktu lalu.
“Ko, kita mulai lagi. Kita mulai lagi menjalani hari-hari ke depan. Bersama anak-anak,”
Kalimat itu terasa menyejukkan. Terasa indah dan membahagiakan.
Tapi ia sadar. Tindakan kesalahan yang dilakukan di masa lalu akan dituainya. Sebentar lagi.
Ia tidak ingin membuat Rahayu bersedih kembali. Menjadi janda untuk kesekian kalinya. Toh, penyakitnya juga dapat kambuh kapan saja. Dan mungkin hidupnya ....
Ia menyusut sudut matanya.
Kebahagiaannya sekarang melihat Garuda dan Rahayu bersama. Anak-anak bahagia. Kompak. Itu sudah cukup.
Mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan tidak konstan. Sebab beberapa kali terjebak macet di persimpangan. Inilah mungkin terakhir ia bisa melihat suasana di luar.
Ia tak pernah menyangka hidupnya berakhir luka. Dalam masa tua dan tentu saja terkungkung di balik dinding kokoh yang menjulang. Bak neraka bagi sebagian penghuninya.
Bukankah hukum alam siapa yang menabur akan menuai. Dalam rentang waktu singkat atau lambat? Beruntung ia masih menikmati hidup meski harus diganjar di usia senja.
Kali ini lukanya membawa bahagia.
Sudut bibirnya melengkung ke atas samar. Aneh. Luka bahagia?
Tentu saja.
Berapa waktu yang dihabiskan untuk menunggu Rahayu kembali padanya. Tapi tanpa dinyana, di siang itu dia datang membawa makanan kesukaannya dan mengatakan ingin menjalani hidup bersama.
Konyol. Kenapa tidak dari dulu ia menjalani hukuman saja. Dan mungkin sekarang ia hidup bahagia dengan Rahayu bersama anak-anak. Ia menggeleng pelan.
“Kita sudah sampai, Pak.” Suara petugas membuatnya sadar kemudian mendongak. Ia tersenyum samar.
Terima kasih Ay.
...***...
Tangan kirinya terselip di saku celana. Sementara tangan kanan memegang gelas kaca berisi minuman berwarna kekuningan jernih. Ia berdiri di balkon kamarnya. Dengan tatapan lurus.
Tiga hari ia benar-benar di apartemen. Tidak keluar ke mana pun. Rahayu bahkan menawarinya untuk mengambil liburan bersama di Yogya. Tapi ia tolak.
Sementara laporan Mulya mengabarkan bahwa papi tidak akan mengajukan banding. Papi menerima putusan Pengadilan.
Suara ketukan pintu tak membuatnya terganggu. Pun menoleh.
“Pak, ada Pak Jebe.” Kata Toni, yang ternyata sahabatnya itu telah berdiri di belakang sekertarisnya.
Toni kembali menutup pintu. Membiarkan 2 sahabat itu bertemu.
Jebe menghampirinya. Mencengkeram railing besi pembatas berwarna putih.
“Gue ikut prihatin. Dan gue percaya bokap lo,”
Tak ada sahutan.
“Terus langkah lo selanjutnya apa?” tanya Jebe.
Tak ada sahutan lagi. Ia menegak isi dalam gelas yang tinggal sedikit.
“Bagaimana dengan gadis itu?” tukas Jebe. Berbalik dan menyandar di pojok pagar sambil bersedekap.
Semburat sinar sore menyorot 2 wajah laki-laki itu. Tapi tak membuat mereka terganggu. Justru mereka tak acuh. Meski sesekali mata keduanya menyipit untuk menghalau silau.
Ia mengedikkan bahu.
“Come on, gue pernah bilang. Keadaan apa pun lo, lo tetap sahabat gue.” Jebe melihatnya dari bawah hingga atas. Wajah kusut, rambut acak-acakan dan tentunya bau alkohol menguar dari mulutnya. Tiga hari ia menghabiskan entah berapa gelas. Ia tak mengingatnya. Atau jangan-jangan sudah berapa botol. Pun ia tak peduli. Hanya minuman itu yang mengerti keinginannya. Kondisinya. Bisa jadi isi hatinya.
“Lo tahu, sebuah pesawat untuk terbang membutuhkan tenaga lebih dan besar. Dia harus melawan angin, bukan mengikuti angin,”
Ia terdiam.
“Begitu dia mengudara dengan ketinggian di atas 35 ribu kaki. Apa dia tenang di atas sana? Apa tidak ada badai selama dia di sana? Jawabnya ya, kalau dia sedang beruntung. Tapi ... keberuntungan tidak selalu berpihak. Bisa jadi badai datang. Mesin mati. Atau mengalami kerusakan yang lain,”
“Semua orang pasti pernah mengalami berada di titik terendah sebelum mencapai zona nyaman,”
Jebe menghela napas. Mengalihkan pandangan ke arah barat. Bola raksasa itu mulai tergelincir di sana. Lalu beralih menatap ke bawah.
“Come on, Man. Masalah itu ibarat badai. Tidak akan selamanya ada. So, kita lewati badai ini ...,” Jebe menepuk dadanya. “Gue siap menemani lo party malam ini,” sambung Jebe terkekeh ringan.
Sementara ia berdecak kesal. Party, dia bilang?
Ia berlalu begitu saja. Menuruni tangga. Jebe masih berusaha mengekorinya.
“Gue ke sini bawa Macallan. Lebih strong rasanya. Gue udah coba sekali,”
Mereka tiba di ruangan tengah. Jebe menyambar Macallan yang tadi diletakkan di atas meja.
“Ton, ambil gelas,” titah pria Gorontalo itu pada Toni yang tengah duduk di sofa sambil memangku laptop. Toni langsung berdiri setelah menyimpan laptop di atas meja. Pergi ke dapur mengambil gelas.
“Ini, Pak.” Toni menyodorkan 2 buah gelas.
Jebe menukas, “Gelas lo, mana? Kita party bareng, Ton.”
Toni kembali pergi ke dapur dan membawa gelas kosong.
“Nah,” Jebe menuangkan minuman tersebut ke dalam 3 gelas.
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa. Menyugar rambut dan menerima gelas yang disodorkan Jebe.
Toni menghirup aromanya terlebih dahulu, “Bau khas madu, kopi dan ada ekstrak ....”
“Ekstrak apel, jeruk dan jahe,” timpal Jebe. “Rasanya?”
Toni memejamkan mata sesaat, setelah menegak lalu manggut-manggut, “Ada sensasi rasa panas-pedas gitu ya, Pak?”
Jebe menyeringai, “Kamu memang cita rasanya tak perlu diragukan, Ton. Hampir sama dengan bosmu,” cibirnya. “Eiit, tapi masih kalah jauh denganku.” Jebe terkekeh.
Sementara ia hanya menelinga tanpa mau berkomentar apa pun. Meski dalam hati apa yang semua dijabarkan Toni benar. Setidaknya, ia mencecap kedua kali.
“Ada rasa manis dari vanila yang tertinggal,” tukasnya tanpa sadar.
Jebe bernapas lega. Akhirnya sahabatnya itu mau berbicara juga. Memang ia sengaja datang ke Jakarta untuk menghibur sahabatnya.
Setelah hampir 2 minggu berada di China. Menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan di sana. Jebe mendapat informasi bahwa Torrid telah mendapat putusan pengadilan. Maka ia harus secepatnya menemui sahabatnya tersebut.
Dugaan Jebe benar. Beruntung Jebe langsung memutuskan untuk melihat kondisinya. Paling tidak itulah gunanya persahabatan. Meski ya, entah benar atau tidak apa yang dilakukannya sekarang ini. Jebe hanya ingin menghibur.
Di saat tiga laki-laki tengah party dengan celoteh masing-masing. Suara telepon yang tergeletak di meja berdering.
Jebe meraihnya. Menggeser ikon berwarna hijau, “Ya,” sahutnya.
Suara lawan bicara tak menyahut. Hening.
Jebe kembali menukas, “Siapa ini? Saya lagi di Jakarta. Kalau mau bertemu, dua hari lagi saya pulang. Silakan datang ke kantor.”
Ia mengerutkan kedua alis. Masih setengah sadar. Matanya mengerjap. Sebab pandangan matanya antara jelas dan buram.
Sementara Toni sudah tak kuat lagi untuk menegak minuman dalam gelasnya. Ia menolak ketika Jebe mengajaknya beradu gelas. Cukup atasannya yang mabuk. Sementara dirinya. Jangan sampai. Sebab ia tetap harus sadar untuk menjaga bosnya.
“Ponsel gue,” tangannya menengadah meminta pada Jebe.
“Ponsel gue,” Jebe tak mau kalah.
Padahal sambungan telepon itu terus berjalan. Mendengarkan percakapan 2 laki-laki yang tengah mabuk.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏