
...91. A Special World (2)...
Bola raksasa dunia seolah berputar lebih cepat. Siang berganti malam, dan ketika malam dengan pesat berganti terang. Tak ada yang tahu, bahwa kesibukan manusialah yang membuat seakan-akan waktu bergulir cepat. Tanpa menyadari detik demi detik banyak perubahan yang tak terbantahkan. Begitu juga yang terjadi padanya.
Semua sudah digaris pada batas takdir yang tiap makhluk hanya bisa menerima. Kemudian berusaha. Lalu mengembalikan kepada sang pemutus peristiwa.
Gemala sadar, perjalanan hidupnya bukan sampai di sini. Bukan sekedar permasalahan keluarga yang sekarang telah kembali seperti semula. Bukan juga soal ... kehidupannya yang pelan namun melangkah pasti menuju kebahagiaan yang selama ini menjadi tujuannya.
Sebab, jika ia diberi pertanyaan. Apa ia memilih kehidupan seperti sekarang?
Ya, pasti.
Apa ia menyesal pernah mengorbankan keluarganya demi sebuah cinta?
Tidak.
Ia tahu, ini garis takdir yang diberikan untuknya. Agar bisa berada di titik sekarang. Kendati, rasa bersalah pernah menyelimuti. Bahkan, ia berharap bisa terus mendampingi Garuda. Mendampingi laki-laki itu selamanya.
80 tahun lagi. 100 tahun lamanya. Atau jikalau bisa 1000 tahun lagi. Meski dalam dunia berbeda.
Bukankah, setelah kematian akan ada kehidupan lagi setelahnya. Dan ia berharap selalu bersama suaminya. Sampai tidak ada lagi kehidupan.
Jumat sore kemarin ia sudah datang ke H-island. Bersama Garuda, Gayatri, Ganjar, Max dan Toni. Di susul Jebe dan sekretarisnya. Lalu papa dan mama. Tak lama kemudian ibu dan keluarga besarnya.
Malam harinya laki-laki itu disandera oleh para sahabatnya. Dan entah sampai jam berapa ketika ikut menyusulnya ke kamar. Sebab begitu pagi menyapa ia sudah mendapati Garu memeluknya dari belakang.
“Pagi, Hon.” Ru menyapa tanpa membuka kelopak matanya. Justru semakin mengeratkan pelukannya. Mungkin karena terusik dengan pergerakannya saat ia berusaha memindahkan tangan Ru yang melingkarinya.
“Don’t move,” pinta laki-laki itu. Sebab ia hendak beranjak membersihkan diri sebelum tim layanan spa treatment yang sengaja didatangkan dari kota tiba. Berharap dengan merelakskan otot-otot tubuh serta pikiran, keduanya siap menyambut para tamu undangan. Tentu saja dengan energi dan aura yang baru dan bersinar.
“Sayang, kita harus bersiap-siap. Bentar lagi tim spa datang.”
“Sebentar lagi,” Garuda mengiba. Ia yang tak tega memutar tubuhnya. Menghadap laki-laki itu. Menatap lekat-lekat wajah yang tampak lelah dan masih terpejam tersebut.
“Tadi malam sampai jam berapa?” tanyanya. Ia menyurukkan kepalanya di dada Garu. Menarik napas dalam guna merasai aroma yang begitu familier dan menjadikannya nyaman.
“Jam 2 mungkin,” sahut Ru. Mengecup kepalanya dengan mata masih tertutup sempurna.
“Aku tadi malam ngobrol sama keluarga ibu dari Yogya. Sama mama dan papa juga. Sampai jam 11-an. Sudah pada gak kuat akhirnya memutuskan untuk beristirahat. Ternyata kumpul sama keluarga itu menyenangkan, ya.” Bagaimana ia disambut ramah oleh keluarga ibu. Hingga tak terasa mengobrol panjang lebar dengan topik bermacam-macam.
“Bagaimana kalau kita,” Ru membuka mata. Menatapnya tanpa berkedip. “Kita mengulangi waktu itu.” Tanpa menunggu reaksinya, laki-laki itu telah mengungkungnya.
Ia menggeleng, “Mas, sebentar lagi. Tim ... emp,” Ru meraup organ kenyal yang berusaha melontarkan kalimat. Namun sayangnya, kalimat tersebut menguap. Berganti bunyi cecap yang terdengar bersicepat.
Tak mengulur waktu, laki-laki itu dengan terampil melepas seluruh piyama tidurnya. Melemparkan entah ke mana. Dan ...
Suara gedoran pintu terdengar.
Ia ingin tertawa, tatkala melihat raut wajah laki-laki itu kesal. Lalu menenggelamkannya di dadanya.
Gedoran kembali terdengar. Kali ini berserta suara, “Mala, tim spa sudah menunggu di luar.”
Gelak tawanya meledak di udara. Ketika, Ru menghempaskan tubuh di sebelahnya.
“Ya, Ma. Sebentar,” sahutnya berteriak.
Terbukti benar, selama melakukan massage dan spa treatment mereka bisa merasakan rileks dan lebih segar. Bahkan setelahnya, beristirahat dengan lelap. Dan siap menyambut acara perhelatan resepsi pernikahan mereka beberapa jam lagi.
Bibirnya selalu terkembang merekah bak bunga-bunga mawar putih yang menghias setiap sudut venue. Aromanya semerbak wangi. Menguar di mana-mana. Mulai kamar tempatnya menginap tadi malam, seluruh sudut vila yang di tempati. Buggy car yang menjemputnya hingga karpet merah yang terbentang menyambut kedatangannya bersama Garuda. Ia dan Ru berjalan beriringan di belakang Juna dan Siren.
A Special world.
Garuda kembali memberikan dunia yang begitu istimewa untuknya. Dunia berserta isinya.
Manakala ia mengayun langkah menapaki red carpet menuju podium, keduanya dihujani taburan kelopak bunga. Senyum, tawa dan canda orang-orang yang datang menjadi pelengkap kebahagiaannya.
A special world.
Terlihat mama dan papa, ibu, keluarga besar mama dan papa. Keluarga besar dari Yogya. Semuanya hadir. Sementara dari pihak Garuda tampak keluarga kecil Maleo. Juga Vivi meski tanpa Atat. Para sahabat, kolega dan petinggi TG serta beberapa pejabat yang dekat.
“Silakan, kedua mempelai untuk melepas sepasang merpati.” Sang MC memberikan panduan.
“Hon, kamu ingat waktu kita di taman Suropati,” bisik Ru.
Ia menoleh pada Ru yang berdiri di sebelahnya. Mengulas senyum.
“Aku akan seperti merpati. Yang akan setia dan memiliki 1 pasangan seumur hidupnya,” imbuh Ru.
Suara MC terdengar kembali, “Kita hitung ya, sama-sama. 1, 2, 3 ....”
Ia dan Garuda melepas sepasang burung merpati putih ke udara. Burung tersebut langsung mengepakkan sayap. Terbang beriringan. Disambut tepuk tangan semua tamu undangan.
“Seremonial selanjutnya adalah special performance, kata sambutan yang akan diwakilkan dari pihak keluarga. Dalam hal ini kepada Bapak Imam untuk maju ke panggung,” ucap MC.
Papa tampak maju dan menebar senyum. Memberikan kata-kata yang membuat semua terdiam mendengar.
“... sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada seluruh undangan yang telah datang menghadiri resepsi pernikahan anak kami. Semoga doa-doa kebaikan dan harapan dari kita semua terkabulkan,”
“Untuk anak-anakku Gemala dan Garuda. Berbahagialah, Nak. Sambutlah masa depan dengan cinta kalian. Perkuatlah rumah tangga kalian dengan komunikasi, kepercayaan dan cinta kasih,”
“Percayalah dengan cinta semua beda itu sirna. Dengan cinta waktu jeda tak terasa. Dan dengan cinta, akan menunjukkan rumah sesungguhnya. Sebab cinta akan pulang ke tempatnya.”
“Terakhir, ingatlah bahwa your wedding day will come and go. Tapi, cinta kalian harus terus bertumbuh seiring waktu.”
Gemuruh riuh standing applause mengiringi papa yang turun dari panggung. Ia menyusut sudut matanya. Garuda merengkuh bahunya.
Acara dilanjutkan dengan bouquet toss. Ia dan garuda membelakangi para tamu undangan. Menghadap air laut yang bergoyang-goyang tersapu gelombang. Berkilauan terbias dari sinar matahari yang mulai melandai di kaki barat.
“Ready, ya.” Sang MC mulai memberi aba-aba untuk melempar bunga. “3, 2 ... 1.”
Suara teriakan, histeris dan tawa tak terelakkan. Gayatri berusaha meraih buket bunga tersebut. Namun ia harus gigit jari sebab bukan keberuntungannya. Begitu juga Desti, Mely, Dila dan beberapa tamu undangan yang belum mempunyai pasangan. Tampak kecewa.
Nahasnya buket tersebut justru meluncur pada seseorang yang berdiri tak jauh. Bahkan tak berniat untuk ikut memperebutkan bouquet toss tersebut. Ia menelengkan kepala ke kanan dan kiri. Merasa aneh, sebab semua orang kini menatapnya.
“Boleh maju ke depan, Mbak yang menerima buket bunga. Kita hanya ingin berkenalan sebentar,” pinta MC.
Gadis itu ragu. Namun tak urung maju meski kakinya terasa berat melangkah.
“Siapa nama Anda?” tanya MC.
“Gendhis,”
“O, oke Mbak Gendhis. Dengan mendapatkan buket bunga dari pengantin artinya Mbak Gendhis dalam waktu cepat atau lambat, mudah-mudahan lekas menyusul untuk melangkah ke pelaminan.”
“Aamiin ...,” ujar sebagian tamu dan suara MC.
Gendhis terlihat kikuk. Tersipu dan menatap seseorang yang tak jauh berdiri dari panggung. Laki-laki yang menggunakan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu. Senada dengan sepatu pantofel warna hitam yang dikenakannya.
Acara selanjutnya terus bergulir. Ia dan Garuda menyapa para tamu undangan. Garuda mengenalkannya pada kolega, petinggi di Torrid group dan beberapa pejabat.
Kemudian beralih menyapa keluarga besar dari Yogya. Meski kemarin malam mereka sempat bercengkerama. Namun ada beberapa yang tadi siang baru datang.
“Mala,” ibu memanggilnya. “Beristirahatlah kalau kalian lelah. Jangan memaksakan.”
Ia mengulas senyum. Ibu selalu mengingatkan mereka tentang kesehatan. Sekecil apa pun. “Iya, Bu. Setelah ini kami istirahat sebentar. Sebelum nanti malam acara gala dinner,” sahutnya.
“Om, Tante,” sapanya pada Bagas, Anita serta Ito dan istrinya. Ia menyalami mereka bergantian. Disusul Garuda yang menyalami Bagas, Anita, lalu Ito dan istrinya.
“Selamat Mala. Semoga kalian bahagia selalu,” ucap Bagas.
“Sampai maut memisahkan,” sambung Ito.
“Aamiin ... salam dari adik-adik kamu. Maaf mereka tidak bisa hadir masih di US,” imbuh istri Ito. “Jangan lupa kita tunggu di rumah,” timpal Ito.
“Terima kasih. Insya Allah, Om, Tan.” Ia menoleh pada Garuda. “Kita agendakan, Hon,” Garuda menukas.
“Mas Danang sama Mbak Rei di mana?” tanyanya. Ia berharap sepupunya itu datang.
“Tuh,” tunjuk Anita pada sosok yang tegap berjalan ke arah mereka. Menggandeng batita laki-laki.
“Hei,” sapa Danang memberikan ucapan selamat padanya dan Garuda. “Cograts, Bro, Mal. Atas pernikahan kalian. Semoga bahagia selalu. Maaf Kirei gak bisa datang. Lagi morning sickness parah.”
Danang meraih Tala. Menggendongnya, “Salim dulu sama, Tante.” Tala mengulurkan tangannya. Ia mencubit pipi Tala, “thank you Tala udah datang. Salam buat Gry sama bunda, ya.”
Tala mengangguk tanpa menyahut.
“Bro, sorry—” Garuda menyergah. Namun terburu dipotong Danang.
“It’s okay. Kalau tidak begitu kita tidak akan kenal. Dan kumpul di sini sekarang,” ujar Danang. Menepuk pundak Garuda.
“Thank you,” balas Ru.
“Ma, besok pagi paling cepat pesawat jam setengah 10 dapatnya. Yang lebih pagi habis,” Danang berbicara pada Anita.
“Ya, bagaimana lagi. Yang penting ada yang menemani Rei dan Gry.” Anita terlihat pasrah. Pasalnya mendengar sang menantu yang kembali hamil dan mengalami morning sickness parah membuatnya khawatir. Ditambah belum menemukan asisten rumah tangga. Ia dan suaminya yang baru saja pulang dari Aussie berencana mau melihat cucu dan menantunya tersebut.
“Ada, Ma. Aku menyuruh anggota mengawasi mereka,” jawab Danang.
“Memangnya mau ke mana?” tanya Garu.
“Pulang ke Palembang,” tandas Danang.
“O, pakai saja heli. Biar lebih cepat. Dari sini langsung tidak perlu ke Jakarta.” Garuda tampak mengedarkan pandangan. Mencari seseorang. “Ton!” serunya. Melihat Toni yang berada tidak jauh. Bergabung dengan Maleo, Tan, Max, Jebe, dan Om Pras berserta keluarganya.
Toni yang merasa dipanggil atasannya menghampiri.
“Besok pagi ...,” Ru menoleh pada Danang, “besok rencana jam berapa?”
“Jam ... 6.”
“Ton, besok pagi jam 6 kasih tahu kapten Donny untuk mengantar keluarga ke Palembang,” titahnya pada Toni.
“Baik, Pak” Toni mengangguk sambil berlalu.
“Thanks, Bro. Sorry ngerepotin,” tukas Danang.
“Not at all,” balas Garu. Mereka berhigh five.
Ia dan Garuda kembali menghampiri undangan lain. Sahabat-sahabatnya yang membaur dengan Gayatri dan Ganjar. Sebab Mely, Prita dan Davin pernah beberapa kali bertemu dengan Gayatri dan Ganisha. Sehingga mereka kenal.
“Selamat buat Mala dan Mas Garuda,” ucap Mely dan Prita hampir bersamaan.
“Itu suami gue,” Prita menunjuk dan memanggil suaminya yang kebetulan tidak jauh. “Yang, kenalin. Ini Mala dan suaminya,” imbuh Prita.
Mereka berkenalan. Bahkan ia gemas ingin mencubit anak Prita yang tengah digendong suaminya.
“Congratulations on your wedding, Mal dan ... Pak Garuda,” sela Davin. Mengulurkan tangannya.
Ia dan Ru menyambut bergantian, “ Thanks, Vin.”
“Congratulations my best friend, Mala dan Pak Garuda. Happy life together,” ucap Dila dan Desti menambahi, “wishing you a long and happy marriage.”
Tak berapa lama setelah bercakap-cakap ia dan Garuda pamit. Sebab acara malam akan dilanjutkan kurang dari 2 jam ke depan.
“Aku ke toilet dulu,” ujar Ganjar pada Gayatri. Meninggalkan Gayatri serta keluarga Ganisha. Yang juga meninggalkan venue kembali ke vila.
Tak disangka Ganjar bertemu seseorang yang ... ia sendiri memprediksi. Sebab berada di lingkaran Gayatri. Bahkan sempat melihat sekilas kedatangannya tadi bersama anak kecil.
“Sepertinya kita memang harus bertemu lagi,” sapa Danang. Ketika tanpa sengaja keduanya bertemu muka saat sama-sama keluar dari toilet.
Ganjar mengulurkan tangannya, “Apa kabar?” tanyanya.
Danang menyambutnya, "Baik. Aku baik. Dan kamu?”
Ganjar mengangkat bahu, “Good. I’m good.”
“Gak nyangka kita bisa bertemu di sini. Kamu ada undangan juga?” tanya Danang. Mereka memilih menepi. Sayup-sayup terdengar wedding band melantunkan lagu-lagu romantis.
“Ya ... tepatnya aku kerabat sang mempelai.”
Danang mengerutkan dahi.
Ganjar paham, pasti laki-laki di dekatnya ini penasaran, “Aku adik Garuda.”
Jeda sejenak.
Danang tampak terkejut, “Wow, surprise!” tangkasnya.
“Yah, yah ...,” seorang bocah kecil laki-laki menghampiri dengan berlari. Di belakangnya seorang wanita paruh baya mendekat dan berpesan, “Tala, jangan lari sayang nanti jatuh.”
Danang langsung sigap menangkap anak tersebut. Mencium gemas pipinya.
“Nang, sebaiknya kita balik dulu ke vila.”
Danang mengangguk. “Sorry, aku duluan.” Menatap Ganjar seraya mengulas senyum. “Eh, Tala salam dulu donk sama Om,” imbuhnya.
Anak kecil itu melambaikan tangan dan tersenyum. Memperlihatkan lesung pipi yang membuatnya teringat akan seseorang.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...