If Only You

If Only You
89. Time's Ticking



...89. Time’s Ticking...


Gemala


Mempersilahkan Vivi masuk dan duduk setelah menanyakan keberadaan Garuda.


“Mbak, sebentar aku panggilkan Ru.” Ia bergegas menuju ruangan kerja Garuda. Laki-laki itu masih terdengar berbicara setelah beberapa detik menatap kemunculannya. Lalu kembali fokus pada layar di depannya.


“Okay, saya berharap semua berjalan sesuai rencana kita. Jika ada kendala lekas menghubungi department head masing-masing. See you next week. Saya ucapkan terima kasih. Happy weekend semua.” Ru mengakhiri video conference  dengan sahutan dari para peserta hampir bersamaan, “Terima kasih, Pak.” Layar langsung gelap.


“Sudah selesai?” ia memastikan suaminya. Sambil melangkah mendekat.


Garuda menutup laptop. Beranjak dari kursi, “Kenapa, Hon?”


“Kamu dicariin Mbak Vivi.”


Dahi Ru berlipat. Vivi?


“Dia nunggu di ruangan tengah.”


Laki-laki itu menukas, “Sama Atat?”


Ia menggeleng, “Sendirian. Tapi sepertinya ... penting, Mas.”


Garuda melangkah lebih dulu. Ia mengekori di belakangnya.


“Kenapa, Vi?” tanya Ru melihat Vivi menunduk.


Vivi menengadah menatap Garuda, “Nî néng bāng wô yí gè màng ma? (Bisakah kamu membantu aku?)”


“Dāngrán kěyî, (tentu saja)” sahut Ru.


Ia yang tak mengerti bahasa mereka ikut duduk di sebelah Vivi. Sementara Ru duduk di sofa tunggal.


“Ru, aku tidak tahu harus dengan apa lagi berbicara dengan Atat. Aku,”


Ia menggenggam tangan Vivi yang bergetar saling meremat di atas pangkuan.


“Mungkin ini juga salah aku. Aku terlalu sibuk. Aku ... yang tidak peduli dengannya. Aku yang,” Vivi menggeleng. “Pernikahan kami sepertinya ... tidak bisa dipertahankan lagi,” Vivi terisak. Bahunya bergetar.


Ia merengkuh Vivi. Mengusap punggung kakak iparnya tersebut. Setahunya Vivi bekerja di Torrid Insurance sebagai direktur di sana. Sekaligus wakil direktur di Torrid Foundation.


Vivi menceritakan Atat yang akhir-akhir ini berbeda. Temperamental. Lebih gampang tersulut emosi. Tepatnya setelah kematian Torrid.


Menurut laporan anak buah Vivi yang tanpa sengaja melihat. Atat pernah datang ke H-island bersama brand ambassador Torrid Insurance. Untuk apa? Ia memang tahu Atat membeli vila di H-island, bahkan berkat permintaannya. Namun, ia sendiri belum pernah ke sana. Brand ambassador yang tak lain dan tak bukan adalah Suri. Seorang model yang sangat dikenalnya. Malahan ialah yang meminta Suri untuk menjadi brand ambassador di Torrid Insurance. Kecolongankah dirinya?


“Apa kamu tahu tentang mereka, Ru?” tanya Vivi. Jelas Vivi tak punya bukti yang kongkret. Hanya mendengar, katanya, dan infonya. Tanpa kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.


Hening menjeda beberapa saat.


“Suri pernah cerita, kamu sama dia kuliah di jurusan yang sama di Melbourne. Apa kamu tahu sesuatu, Ru?” desak Vivi. “Dan aku sudah memastikan, kedatangan Suri ke H-island bertepatan kamu dan Mala ke sana. Apa kalian bertemu mereka?”


Ia dan Garuda saling padang. Mata mereka berserobok sejenak.


“Maaf,” cicit Vivi. “Masalah gugatan wasiat dan warisan papi, jujur aku tidak tahu. Atat tidak pernah cerita tentang gugatan itu.”


“Please, jika kalian tahu sesuatu yang tidak aku ketahui tolong katakan. Aku sudah menemui Kak Maleo juga Mbak Sandra tapi mereka,” Vivi menggelengkan kepala. Putus asa. Mereka berada dalam satu gedung yang sama. Tapi ia benar-benar buntu akan alasan Atat yang banyak berubah. Seolah semua tampak baik-baik saja. Padahal ... ia menggelengkan kepala.


Setiap pagi ia dan Atat berangkat bekerja bersama-sama. Akan tetapi akhir-akhir ini Atat banyak berangkat sendiri. Pulang malam, bahkan pernah tidak pulang. Dan beberapa kali ia ke ruangan Atat, suaminya itu tidak ada di tempat. Sekretarisnya bilang, Atat sedang meeting di luar.


“Mas,” ia mengusap lengan Garu yang memeluknya dari belakang. Setengah jam lalu Vivi pamit pulang.


"Apa ada ... something I don’t know?” tanyanya.


Garuda mengendus tengkuknya. Mengetatkan pelukannya. “Itu rumah tangga mereka. Kita tidak usah mencampuri.”


Ia mendesakkan napas, “Kita hanya membantu supaya rumah tangga mereka terselamatkan.” Ia berbalik menghadap Ru. “Aku kasihan sama Mbak Vivi. Lagian pernikahan mereka sudah berjalan 6 tahun.”


“Hon, kita hanya akan memperkeruh. Lebih baik kita berada diuar lingkaran. Mereka sudah dewasa, pasti bisa menyelesaikan persoalan mereka sendiri.”


Ia menggeleng, “Tapi memang benar, kan? Saat kita ke H-island, kita bertemu Suri. Dia katanya sedang pemotretan. Dan minta kamu menemaninya. Tapi, kita tidak ketemu Kak Atat,” ia mencoba mengingat. Apa ada sesuatu yang terlupakan. Atau terselip mungkin. “Kamu bilang, Kak Atat juga beli vila di sana, apa jangan-jangan?”


“Hon,” Ru menggelengkan kepala. “Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Atau?” laki-laki itu mengerjapkan matanya.


Ia mencebik, tengah serius justru lawan bicaranya menganggap tidak perlu membahas. Siapa yang tidak kesal?


...***...


Garuda


“Kita jadi ke tempat ibu?” tanya Mala yang bangun terlebih dahulu.


Ia menghidu dalam bahu putih nan mulus yang belum terlapisi kain apa pun. Merengkuh ketat. Seakan enggan melepas cepat.


“Mas,” Mala mengusap naik turun lengannya yang melingkari perutnya.


“Sebentar lagi,” sahutnya. Kepalanya agak pening. Setelah kegiatan yang menguras energi, membuang kalori ia merasakan tubuhnya lelah. Kendati keinginan untuk melakukannya lagi membuatnya kembali bergairah.


Mala menarik selimut hingga ke leher. Berbalik menghadapnya. “Are you okay?”


Bibirnya melengkung ke atas, “Hem,”


“Kelelahan, ya?” tebak Mala. Mengusap rahangnya. Ia mencium telapak tangan yang menempeli wajahnya tersebut. "Not at all."


“Kita bisa undur minggu depan. Weekend ini kita di rumah saja, gimana? Aku tidak mau kamu kelelahan.”


Ia menggesekkan indra penciumannya dengan hidung Mala. Istrinya itu tertawa-tawa. Menahan geli.


Sampai ia berhenti, Mala baru bisa diam.


“Sudah?”


Mala mengangguk.


Namun, itu hanya beberapa detik. Sebab setelahnya ia membawa keduanya kembali meraup indahnya mahligai pernikahan.


...***...


Canberra


Duduk di teras samping sambil menikmati secangkir minuman herbal buatan Larasati. Rasanya masih sama. Dari belasan tahun lalu sampai sekarang tak beda sedikit pun.


Pertama kali Laras membuatkannya karena melihatnya yang kelelahan. Awal-awal kampanye, di mana ia harus berpindah tempat dalam satu hari ke berbagai penjuru daerah. Waktu istirahatnya otomatis terkurangi.


Time’s ticking (waktu akan terus berjalan).


Di usianya kini memasuki angka 65 tahun, rasanya ia tak percaya. Begitu banyak kemurahan-kemurahan yang di dapatkannya beserta keluarga. Anak-anak bahagia, cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan serta ...


“Pa, sudah siap.” Larasati muncul dari pintu.


Ketika sang ajudan membukakan pintu ruangan kerjanya ia disambut dengan,


“Happy birthday Papa ....” Sipongang dari sepaker yang menyambutnya.


Layar 1 ada Ganisha dan suaminya beserta Siren dan Juna. Layar 2 ada Gayatri sendirian. Kemudian layar 3 tampak Gemala dan Garuda. Tak ketinggalan layar 4 berisi orang-orang yang bekerja di rumah Surabaya yang baginya sudah seperti saudara.


Ia tak percaya, ia pikir pemberitahuan teleconference dengan menteri luar negeri. Sebab sang ajudan mengatakan bahwa Ibu Menteri ingin bicara dengannya. Menyangkut soal perkembangan isu-isu hubungan Australia-Indonesia.


Tapi nyatanya ....


“Happy birthday Papa, wish you all the best. Papa selalu sehat, sehat terus, sehat selalu ... kami semua rindu,” ucap Ganisha. “Selamat ulang tahun, Pa ... semoga keberkahan selalu tercurah untuk Papa,” Abhi menambahi. Di susul Siren dan Juna berbicara, “Kung, kita kangen. We love you ... mmuaah,” Juna dan Siren memberikan kiss bye.


Matanya berkaca-kaca, disertai gumaman, “Aamiin ... aamiin.”


Kini giliran Gayatri, “Selamat ulang tahun Papa Imam yang ter ter ter the best ... pokoknya Gaya berdoa dan berharap Papa sehat selalu, bahagia sama Mama. Tambah cucu dari Mala dan Garuda. Eh, dari Mbak Nisha juga Mas Abhi,” pembicaraannya dipotong Siren, “Siren gak mau adik. Baby cucu untuk Kung dari auntie saja.” Semua peserta teleconference bahkan orang-orang yang berada di ruangan tersebut tertawa.


“Auntie Mala ya ... soalnya auntie yang ini belum kawin,” sambar Gayatri.  “Ups, sorry Pa ... maksud aku nikah.” Gayatri meringis. Kembali para peserta tertawa.


“Papa, happy birthday. Thank you for being the hero in my life. Papa always made me feel special with your love and care. We love you, Papa. (Papa, selamat ulang tahun. Terima kasih untuk menjadi pahlawan dalam hidupku. Papa selalu membuat aku istimewa dengan cinta dan perhatianmu. Kami sayang Papa)” Gemala memberikan ucapan yang membuatnya tak lagi bisa menahan kristal cair yang telah menggenang. Luruh. Ya, ia terharu dan bahagia. Meski mereka semua tidak ada di sini sekarang, tapi cinta dan perhatian mereka ada. Terkirim lewat perhatian-perhatian kecil, doa-doa dan cinta.


“Papa, happy birthday. Maaf kami tidak bisa ke sana. Tapi doa kami selalu menyertai Papa. Semoga Papa dan Mama bahagia selalu selamanya,” pungkas Garuda dan ajudannya menghampirinya. Membawa sebuah kado besar.


“Dari Pak Garuda, Pak,” kata sang ajudan.


“Buka ... buka ... buka.” Suara kor dari speaker sorak sorai.


Ia dan Laras saling pandang. Istrinya itu melempar senyum dan mengangguk. Keduanya bersama-sama membuka kado tersebut. Ia terbelalak, ketika sebuah lukisan karikatur yang diidamkannya sekarang di hadapannya. Sebuah lukisan karikatur ia dan keluarganya. Lengkap.


“Terima kasih,” ucapnya sambil memegang lukisan di sisi kiri. Sementara Laras berdiri di sisi kanan. Sebab lukisan itu tingginya hampir sama dengan tinggi tubuhnya.


“Sugeng ambal warsa, Pak Imam. Mugi-mugi gusti tinansah paring binerkahan lan yuswa ingkang panjang, ugi kajembaran rezekinipun Pak Iman sekeluarga. (Selamat ulang tahun, Pak Imam. Semoga Allah memberikan keberkahan dan umur yang panjang, serta rezeki yang lapang buat Pak Imam sekeluarga).” Bi Ema mewakili orang-orang dari rumah Surabaya.


“Aamiin.”


Obrolan itu masih berlanjut hingga 30 menit ke depan. Hingga harus terjeda sebab ada beberapa video call yang juga ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Dari sahabat-sahabatnya serta sang adik Ito di Jakarta.


“Pak, ada tamu dari Indonesia.” Sang Ajudan memberitahukannya dengan berbisik.


Ia mengangguk.


“Ito, nanti dilanjut lagi ya. Suwun, salam go keluarga. Anakku Mala juga di Jakarta saiki, kapan-kapan tak kon dolan gone awakmu.” Ia melambaikan tangan pada sang adik yang setahun lagi pensiun dari anggota kepolisian.


Ito membalas melambaikan tangan dan tersenyum. Lalu layar kembali ke menu utama.


“Di mana?” tanyanya sambil beranjak pada ajudan yang masih berdiri menunggunya.


“Di teras samping, Pak. Sudah ditemani sama Ibu.”


“O, ya?” artinya Laras mengenal tamunya ini. Dari Indonesia? Kira-kira siapa?


Kejutan yang entah ke berapa, ketika matanya menangkap sosok tamu dari Indonesia sedang tertawa bercengkerama dengan istri dan ...


“Mas,” tamunya berdiri menyambutnya.


Ia yang tak kuasa lagi terharu sebab baru saja dilimpahi kebahagiaan. Ini kembali dicurahi kebahagiaan lain. Yang tak pernah diduganya.


“Gas,”


Ia dan Bagas saling mendekap. Saling mengusap punggung. Menepuk. Dan meluruhkan segala ego yang menguasai. Tak ada masa lalu yang sempurna. Justru dari masa lalulah semua belajar menjadi sempurna.


“Sugeng ambal warsa, Mas. (selamat ulang tahun, Mas)" Keduanya mengurai dekapan.


“Makasih ... suwun. Kesini kok gak kabar-kabar?” tanyanya. Mereka berempat kembali duduk. Seolah tidak ada sekat sebelumnya. Sebab kedatangan Bagas dan Anita tersebut pastilah sebuah pertanda baik.


“Sengojo. Merayakan ulang tahun sampeyan. Sekalian mau jalan-jalan,” sahut Bagas.


“Iya, kami memang sengaja mau ke sini. Terakhir ke Aussie kayaknya sudah 4 tahun lalu. Mas Bagas ini payah kalau mau diajak jalan. Yang katanya capeklah, kakinya kesemutan, namanya sudah berumur. Ya wajar, ya Mbakyu. Tapi selagi masih diberi umur, kita nikmati hidup ini. Jalan-jalan juga ibadah. Membuat kita semakin mensyukuri ciptaanNya, semakin tawadhu ... juga menyambung tali silaturahmi,” urai Anita.


“Betul,” Laras menimpali.


Hangat.


Begitu hangat sore ini. Kala Canberra tengah dilanda musim semi. Bunga-bunga bermekaran di setiap sudut kota. Tak ubahnya laksana etalase bunga yang tengah mempersolek semesta.


Sebagaimana hatinya kini dan ke depannya nanti. Sempurna. Kata yang pantas untuk kado ulang tahunnya kali ini dari Tuhan. Semoga dan selamanya. Doa dan harapannya.


Aamiin.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏