
...69. Aku Saksi Dia Terdakwa...
Imam
Dorongan kuat untuk menyelesaikan konflik batin sekaligus beban benak yang tak kasat mata membuatnya mengambil tindakan untuk terbang ke Surabaya.
Setelah beberapa waktu ia memikirkannya. Dan pada akhirnya berani memutuskan. Inilah saatnya.
Biarpun ikatan persaudaraan menjadi taruhannya. Tapi ia didera rasa bersalah setiap waktu. Bahwa ia tidak bisa menyembunyikannya. Menutupi pernikahan Gemala dan Garuda.
“Pa,” Laras yang duduk di sebelah mengusap lengannya. Ia menoleh memberikan senyuman. Meski terasa kaku dan dipaksakan.
Bukan Surabaya tujuan pertamanya. Melainkan sebuah rumah sakit terbesar dan terfavorit di Singapura. Bahkan para dokter di Indonesia sering merekomendasikan rumah sakit ini untuk penanganan penyakit kronis. Seperti kanker, jantung, ortopedi dan lain sebagainya.
“Pa,” Garuda menyambutnya. “Ma,” bergantian menjabat tangan mertuanya.
Ia mengangguk dan mengulas senyum tipis. Seraya menepuk pundak menantunya tersebut. Ia sengaja mengabari Garu akan kedatangannya.
Menantunya itu membawanya menyusuri koridor, “Kondisi papi lebih baik. Terima kasih Papa dan Mama menjenguknya kesini,” ujar Ru. Mendorong pintu. Sepertinya kamar Torrid. Menyilakan dirinya dan Laras untuk masuk.
Setelah melakukan prosedur seorang pengunjung menjenguk pasien sesuai aturan pihak rumah sakit. Ru kembali mendorong pintu kedua.
Di sana ada 2 orang. Yang ramah menyambutnya. Lalu 2 orang tersebut mengangguk dan berlalu pergi.
Garuda menggeret kursi, menyilakan Laras untuk duduk di sana dekat dengan ranjang.
“Aku berdiri saja,” selanya ketika Garu akan mengambilkan kursi yang lain.
Ru mengatur ketinggian ranjang agar lebih nyaman.
Saat pertama kali melihat Torrid. Ia sedikit terkejut. Pasalnya kapan terakhir kali ia melihat pria ini yang sekarang menjadi besannya itu dalam kondisi segar bugar. Sedangkan kenyataannya sekarang ... jauh sekali dari pertemuan terakhir waktu itu.
Di persidangan.
Ya, persidangan di mana ia menjadi saksi. Dan Torrid menjadi terdakwa.
“Pi,” Garu berbisik di telinga Torrid. “Ada yang mau jenguk, Papi.”
Perlahan kelopak mata Torrid membuka. Mengerjap beberapa kali.
“Papi masih ingat?” tanya Ru.
Iris cokelat gelap dengan tatapan sayu itu menatapnya.
“Masih ingat?” kembali Ru memastikan.
Torrid mengangguk perlahan.
Ia mengulas senyum.
“Papa Imam, Papanya Mala,” sambung Garuda.
Bola mata Torrid melebar. Bergerak menatapnya. Kemudian menatap Garuda. Dan kembali menatapnya.
Ia mengangguk.
Sudut bibir Torrid tertarik. “Mala,”
Garuda tersenyum. Mengangguk. “Mala anak Pak Imam. Maaf, aku belum menceritakan ini sama Papi.”
Netra Torrid berkaca.
“Kita besanan Pak Torrid,” tangkasnya. Meyakinkan pernyataan Garu.
“Masa lalu biarlah akan tersimpan di tempatnya. Untuk saat ini dan nanti, kita menjadi keluarga. Menyaksikan anak-anak kita bahagia bersama,” sambungnya.
Torrid mengangguk pelan. Seiring satu bulir cairan menetes dari sudut matanya.
“Maaf,” kata Torrid dengan pandangan ke bawah.
Garuda pamit meninggalkan mereka.
“Maaf,” kembali terucap dari Torrid. Disusul cairan kristal yang bergulir dari pelupuk mata.
Ia menggeleng. “Manusia tempat salah. Tempatnya berbuat khilaf. Saya juga tidak terlepas dari kesalahan. Kita semua pasti pernah berbuat kesalahan. Tapi ... Tuhan maha adil. Selalu memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, mengakui ... dan bertobat.”
“Saya dan ini,” ia bergeser, “Laras istri saya.” Meskipun dulu mereka pernah bertemu dalam ajang formal di beberapa kesempatan. Ia sebagai kepala daerah. Sementara Torrid sebagai pemimpin Star Gold and Copper (PT. SGC) yang mana perusahaannya berdiri di areal wilayah kerjanya. Tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.
Torrid selalu mengutus perwakilannya apabila mengalami kendala di perusahaannya. Seperti saat demo besar-besaran SGC. Di mana dirinya baru saja dilantik. Masih dalam masa 100 hari kerja. SGC tetap beroperasi, kendati masyarakat sekitar SGC serta aliansi masyarakat peduli dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) termasuk Demas yang teguh menyuarakan aspirasi atas nama keadilan dan keberpihakan kecewa padanya. Lantaran ia tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Untuk menutup industri tambang emas dan tembaga tersebut. Yang dicurigai menyalahi beberapa peraturan.
Itu masa lalu.
Kini.
Torrid yang telah dinyatakan bersalah dan tengah menjalani hukuman terbaring lemah. Akankah ia masih akan mendakwanya?
Torrid menarik sudut bibirnya ke atas. Laras menjura, “Larasati,” ucapnya. Ikut membalas senyuman Torrid.
Meskipun tak banyak bicara. Sesekali Torrid menyahut jika ia bertanya dan meminta pendapat.
Raut wajah Torrid terlihat beraura senang. Ia bisa melihat dan merasakannya. Pun, ia juga merasa bahagia. Sebab kedatangannya bukan hanya sebatas menjenguk saja. Tapi tak lain dan tak bukan juga membawa berita. Bahwa kini mereka terikat tali persaudaraan. Melalui Garuda dan Gemala.
“Terima kasih,” Torrid berucap ketika ia dan Laras berpamitan.
“Semangat, Pak. Semoga lekas sembuh.”
...***...
Gemala
“Oke ...,” jemarinya mencoretkan pena di bagian atas lembar berkas data yang terdiri dari 5 lembar dengan mencontengnya. Urban park area (taman kota) begitu sub judulnya.
“Fix,” 4 lembar berikutnya berisi data urban forest area (hutan kota)
“Done,” data mengenai greenbelt (jalur hijau) di wilayah pemda ibukota. Semua lengkap.
“Saatnya pulang.” Ia menyandar ke belakang kursi kerjanya. Memutar kursi beroda itu hingga 90 derajat, manik matanya bisa melihat cuaca di luar dari jendela ruang kerjanya.
Ternyata tidak terasa hari sudah sore. Bahkan matahari hampir tenggelam sebentar lagi.
Ia lekas membereskan semua berkas data yang berserak di mejanya. Membawa kuesioner yang akan di berikan kepada responden ke dalam map folder.
Mencangklong tas kanvas pada pundaknya. “Dila, gue duluan.” Ia melihat Dila masih fokus di depan meja menatap layar komputer.
“Okay,” Dila mengacungkan jempolnya.
Sementara Desti tengah berada di Kepulauan Seribu. Bersama tim ekologi laut yang melakukan penelitian di sana.
“Jalan, Pak.” Titahnya pada San. Perlahan mobil keluar dari area basement. Bergabung dengan kendaraan lain yang padat merayap. Bertepatan dengan semua pekerja yang ingin pulang. Kembali ke rumah. Kembali ke keluarga untuk melepas penat dan lelah.
Bibirnya tersungging. Ingat keluarga otomatis ingat Garuda. Satu minggu lebih sejak musibah yang menimpanya. Laki-laki itu benar-benar protektif.
Dua pelaku penjambret yang menyerangnya juga telah tertangkap. Telah diproses oleh pihak yang berwajib. Ternyata hari itu bukan dirinya saja yang menjadi korban. Melainkan ia menjadi korban kedua.
Ponselnya telah berhasil diketemukan dan menjadi barang bukti. Semua data di ponsel lama juga telah kembali dan tersimpan di ponsel baru. Pemberian Garu.
Saat ia tersenyum menerima ponsel baru sebelum berangkat kerja. Ru bilang, “Semua data sudah kembali. Terkecuali ...,” ia menjedanya.
Alisnya terangkat sebelah, “Kecuali?”
“Foto-foto kamu sama mantan kamu yang di Melbourne.”
Ia tergelak.
Laki-laki itu menatapnya datar—tanpa ekspresi yang bisa dibaca.
“Aku tahu bukan gak bisa kembali,” ia berusaha menahan tawa. “Tapi ... karena ... kamu gak menginginkannya tersimpan di handphone-ku, ya, kan?”
Ia menang. Sebab seingatnya foto-foto lama memang sudah terbackup.
“Sudah sampai, Mbak.” Suara San membuatnya tersadar akan lamunannya. Hari ini entah mengapa ia begitu rindu. Rindu dengan laki-laki itu. Kemarin dia bilang tidak pulang karena menjaga papi.
Malam ini?
Belum ada kabar. Apa Ru akan pulang.
Suara denting lift dibarengi pintu terbuka setelahnya. Ia keluar dari sana.
“Mala,” Ru menyambutnya dengan senyum khas dan lesung pipi di kiri.
Bibirnya melengkung ke atas. Seketika ia menghambur ke pelukan laki-laki itu.
“Hei, baru juga sehari.” Garu meledeknya.
Ia mencebik. Memukul dada bidang dan mengusap rahang tegas milik laki-laki itu.
“Lihat. Siapa yang datang?”
Ia mengurai pelukannya. Menatap suaminya penuh tanya. “Siapa?”
Ru menyilakan dirinya untuk berjalan. Mengusap punggungnya, “Mereka sudah menunggumu dari tadi.”
Ia masih termangu, ragu.
Kemudian laki-laki itu menarik lengannya. Membawanya ke ruangan tengah. Di sana tampak ....
“Aku kangen,” imbuhnya masih bergelayut manja pada mama. “Kok gak pada ngasih kabar kalau mau kesini?”
“Sengaja,” Mama menukas, “mau kasih kejutan sama kamu.”
Ia masih tak percaya, “Ini beneran?! Sengaja kesini? Atau?”
Ru ikut duduk di sofa tunggal. Ia duduk di tengah antara mama dan papa.
“Mampir. Bentar lagi pulang.” Papa menyahut.
Ia menelengkan kepala ke arah papa, “Hah! Yang benar!” protesnya. Baru juga ketemu, masa iya langsung berpisah lagi.
“Papa di sini sudah 1 jam yang lalu. Lagian Papa gak lama. Lusa harus balik ke Canberra.”
Pipinya menggembung—kesal. Menghempaskan tubuhnya ke belakang.
Garu yang melihatnya geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum. Tingkahnya seperti anak-anak pikirnya.
“Papa tuh kerja. Terikat. Gak bisa bebas lagi kayak dulu,” keluh mama.
Ia lekas menyergah, “Sama dong. Aku juga terikat kerja. Baru juga pulang. Masa iya mau ditinggal lagi.”
“Please ....” Matanya memohon. Lalu menatap Garuda meminta bantuannya.
Tawa Garuda meledak. Lucu.
Ia semakin kesal. Orang ingin dibantu, ini malah diketawain pikirnya. Aneh dan menyebalkan.
“Papa dan Mama nginap sini. Besok pagi baru pulang,” ucap Ru. Akhirnya tak tega membeberkan fakta sesungguhnya.
Ia langsung menegakkan punggung. Menatap mama, “Bener, Ma?” bergantian menatap papa, “iya, Pa?!”
Mama dan papa mengangguk dan tersenyum. Berhasil membuatnya kesal. Padahal hanya akal-akalan mereka.
Malam itu mereka makan malam bersama. Menghabiskan waktu hingga jam 10 malam bercengkerama di ruangan keluarga.
...***...
Imam
Esok paginya mereka pamit langsung pulang ke Surabaya. Gemala dan Ru mengantarkannya hingga ke lobi apartemen.
“Jaga diri dan kesehatan kalian,” pesannya.
Saling mendekap bergantian. Ia mengukir senyum sebelum benar-benar kaca mobil yang mengantarkannya menutup.
Bahagia.
Definisi yang sesungguhnya dirasakannya. Melihat Mala dan suaminya bahagia. Itu pula yang mengantarkan dirinya menemui Bagas sang adik.
Bahkan aura kebahagiaan itu menular padanya. Bagaimana Garu memperlakukan Mala. Melindungi Mala. Memberikan kenyamanan dan Mala menerimanya dengan senang. Ia tak salah menyerahkan Mala pada anak Torrid tersebut.
Pun, Mala memberikan cinta dan perhatiannya. Yang diterima Garuda sepenuh hatinya.
Tepatnya saling memberi dan menerima.
Tiba di bandara Juanda ia dan Laras langsung menuju rumah Bagas. Waktu masih pagi menunjukkan pukul 10.10 WIB.
Bahkan Anita yang menyambutnya terheran atas kedatangan mereka. Setahu keluarganya, ia tengah di Aussie bertugas di sana.
“Mas Bagas di teras belakang,” ucap Anita. Ia langsung menyusul ke sana. Sementara Laras dan Anita duduk di sofa.
“Mbakyu, sehat?” kalimat Anita yang masih didengarnya lamat-lamat seiring langkahnya menjauh.
“Gas,” ia menyapa adiknya yang tengah duduk santai setelah kegiatan berjemur dan berolahraga ringan.
“Eh, sampeyan to.” Bagas terlihat sedikit terkejut. Soalnya baru sekitar 2 bulan lalu ia pamit berangkat ke Australia. Tapi sekarang datang ke rumahnya tanpa kabar terlebih dahulu.
“Libur opo katek ono perlu?” imbuh Bagas.
Ia duduk di sebelah Bagas. Mengembuskan napas. Dengan pandangan lurus ke depan.
“Ono opo?” bagas menyeruput teh madu. Bertepatan kedatangan Anita dan Laras yang membawa nampan berisi minuman dan camilan.
“Sehat, Mbakyu?” tanya Bagas pada Laras.
Laras tersenyum, “Sehat, Dik. Alhamdulillah.” Menggeser kursi, duduk dekat suaminya.
Sementara Anita mendudukkan dirinya di sebelah Bagas.
“Kami ... ada perlu dengan kalian.”
Bagas dan Anita menatapnya serempak.
“Mesti penting. Sampe dibelain jauh-jauh kesini, prihal opo jane?” tukas Bagas.
Ia mengangguk.
“Gas, Gemala sudah menikah.”
“Alhamdulillah ...,” Bagas dan Anita mengucap syukur. Sepersekian detik, “kapan? Kok gak undang-undang.” Bagas menimpali.
Ia tersenyum samar. Begitu pula Laras.
“Sekitar 2 bulanan yang lalu,”
“Wah ... kami ikut bahagia. Selamat Mas, Mbak, semoga Mala dan suaminya sakinah, mawadah, warrahmah. Segera nambah cucu.” Bagas menyergah menebar senyum.
Anita dan Laras terdengar bergumam, “Aamiin ....”
“Tapi,” mulutnya serasa kaku untuk melanjutkan kalimatnya.
Bagas dan Anita menelinga. Menunggu jeda kalimat yang membuat keduanya penasaran. Alasan dibalik pernikahan Gemala keponakannya.
“Besanku ... mertua Mala,” jeda sejenak. Ia menatap adiknya. “Aku pernah jadi saksi di persidangannya. Dia ... terdakwa,” ia menelan ludahnya yang terasa payah melewati tenggorokan.
Bagas dan Anita mengerutkan kening.
“Dia ... salah satu terdakwa penganiayaan Demas.”
“Kami minta maaf, Gas ... kami,”
Bagas yang tadinya menatap menunggu kelanjutan kalimat yang diungkapnya. Tampak mengalihkan padangan. Dengan raut muka yang berubah pias. Emosi yang tidak dapat dideskripsikan secara jelas.
Begitu juga Anita yang menatapnya bergantian dengan Laras.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan vote, gift, like dan comment ...
Xie xie ni de ai ... 🙏