
...30. Fight OR Flight (2)...
Jepang
“Saya Ganjar,” orang itu memperkenalkan diri, “dari Indonesia juga,” tambahnya.
“Aku Gayatri. Kamu wisatawan juga?” Tanya Gayatri.
“Ada urusan pekerjaan,” sahut Ganjar. Gemala dan Gayatri hanya ber ’oh’ saja.
“Kalau kamu mau, boleh gabung. Sebaiknya kita cari tempat yang lebih hangat. Kita sudah lama berada di sini. Bisa-bisa mati kedinginan.” Tukas Gayatri.
Ganjar terlihat mengangguk. Mereka keluar area festival menuju sebuah kafe yang tak jauh dari tempatnya menginap.
Masuk ke dalam kafe mereka memilih tempat duduk sofa. Ia dan Gayatri bersebelahan. Sementara Ganjar menempati sofa di seberangnya.
Setelah memesan minuman ia melepas sarung tangannya. Menggosok telapak tangannya yang masih dingin. Meski suasana di dalam kafe hangat.
“Sudah berapa lama tinggal di Jepang?” tanya Gayatri membuka percakapan setelah minuman datang.
“Sekitar 2-3 tahun,”
“Lama juga, ya.” Ia menyahut.
“Ini kedua kalinya kami kesini.” Sergah Gayatri.
Ia menegak minumannya. Memilih cokelat hangat.
“Sampai kapan di sini?” tanya Ganjar.
“Sekitar 5 hari. Sebenarnya ada pekerjaan juga. Sekalian main,” jawab Gayatri.
“Dulu kita kesini pas musim semi. Bunga sakura bermekaran,” ucapnya menimpali.
Obrolan mereka terus berlanjut. Membahas segala hal. Terutama yang sedang trending akhir-akhir ini. Hingga akhirnya bertukar nomor telepon. Dan mereka harus berpisah kembali ke hotel masing-masing.
“Oh, ya.” Ganjar menyergah sebelum bangkit. “Berarti saya tidak salah orang. Perusahaan kami bekerja sama dengan perusahaan Richard. Dan saya pernah melihat kalian di kuil Sensoji waktu itu. Maaf kalau saya salah orang.”
“Kamu tidak salah orang,” balas Gayatri. “Itu memang kami.”
Ganjar tersenyum.
...***...
Jakarta
Berita mengenai status tersangka Torrid mencuat ke publik begitu cepat. Beberapa media bahkan ada yang melebih-lebihkan. Seperti penangkapan yang terkesan di dramatisir. Berbagai headline langsung memenuhi layar dan halaman depan media cetak maupun online.
...‘Pengusaha taipan berinisial TRD menjadi tersangka kasus pembunuhan’...
...‘TRD salah satu tersangka pembunuhan wartawan senior terancam hukuman 20 tahun penjara’...
...‘Pengusaha Indonesia berinisial TRD dan keempat tersangka lainnya diganjar pasal 340 KUHP. Berikut nama-nama 4 tersangka lain yang ikut terlibat’...
...‘TRD terancam dipidana 15 tahun terkait pembunuhan seorang wartawan’...
...‘Co-founder Torrid Group tersandung kasus pembunuhan’...
Dan masih banyak berita bertebaran. Belum lagi berita tersebut disangkut pautkan dengan keluarga Torrid. Semua seakan dikuliti habis oleh media. Lalu membuat mereka mengurung dan menjauh dari publik.
Sandra yang sudah 2 bulan vakum tidak tampil di layar kaca. Begitu juga anak semata wayangnya yang memilih homeschooling akibat pemberitaan yang begitu masif. Sandra dan Maleo berusaha melindunginya.
Sementara Atat dan Vivi sempat cek-cok dan bersitegang. Tapi akhirnya reda dengan sendirinya. Mungkin ini pukulan telak bagi semua keluarga Torid. Berada di titik terendah dalam fase kehidupan. Tapi beruntung, mereka dididik untuk bisa melalui berbagai ujian. Didikan Torrid terhadap anak-anaknya agar fight menjalani setiap masalah ternyata bermanfaat dikemudian hari.
Penahanan Torrid juga berimbas pada saham TRP, GL dan SGC. Saham ketiga perusahaan itu mengalami crash. Beberapa investor memilih cutloss. Kepercayaan publik terhadap TG mulai tergerus.
Sebagian yang lain tetap memilih bertahan. Memberikan kepercayaan pada penerus TG menjalankan roda kepemimpinan. Mereka bertahan sebab melihat track record dalam mengelola perusahaan. Dan mengesampingkan berita negatif yang tidak ada urusannya dengan bisnis.
Lalu Garuda.
Ia berdiri tegak menatap kelamnya langit sore itu. Hari-hari yang sangat berat. Hari-hari yang terasa lama. Bahkan 1 menit serasa 1 bulan. Tapi ia bisa apa?
Hanya terus memilih tetap fight (kuat—menghadapi) dalam masalah yang menerpa. Ia akan terus menghadapi badai bagaimanapun bentuknya. Dan ia yakin badai itu ada masanya.
Namun ia teramat kecewa. Sebab papi memilih jalan sendiri. Tidak mau melibatkan anak-anaknya.
Papi selalu menolak tawarannya. Bahkan papi mengikuti semua proses hukum sesuai prosedur. Sedangkan para tersangka lain berusaha untuk mengajukan pra peradilan. Mengajukan penangguhan penahanan dengan uang.
Ia sangat mengkhawatirkan kondisi papi. Terakhir dokter Tan memberitahukan agar papi melakukan check up bertepatan proses pemeriksaan. Tapi ditolak.
“Aku ragu dengan kesehatan papimu,” terang dokter Tan.
“Kondisi di penjara jauh sekali. Baik dari segi kebersihan dan makanannya, aku takut,” dokter Tan tidak melanjutkan kalimatnya.
Tapi ia paham.
“Kirimkan dokter terbaik yang menangani papi selama ini, Dok.” Titahnya.
“Aku sudah berusaha membawa dokter itu ke sana. Tapi ditolak oleh papimu dan pihak kepala rutan. Pihak berwajib berdalih sudah mengirimkan dokter sendiri.”
Ia mengepalkan tangannya.
Beberapa kali ia menjenguk papi. Kondisi papi memang tampak baik-baik saja. Tapi ... papi menutupinya.
Hingga ia memutuskan menemui papi di saat jutaan tetesan air hujan turun ke bumi.
“Pi,” sapanya saat duduk di ruang jenguk tahanan. Di luar masih hujan deras. Udara dingin menerobos masuk melewati celah-celah ventilasi.
Papi menyambutnya dengan tersenyum. “Papi akan melanjutkan cerita kemarin.”
...***...
Torrid
Kehadiran buah hati menjadi perekat, pelipur, dan penambah kebahagiaan rumah tangga kami. Hari-hari terasa berjalan cepat. Terlewati dengan senyum dan tawa melihat tingkah laku Garuda kecil waktu itu. Lucu dan menggemaskan.
Hingga tepat di usia Ru, 2 tahun. Rahayu mampu menyelesaikan spesialisnya. Resmi sudah Rahayu menyandang gelar: dokter Rahayu Notonegoro, Sp.PD.
Keberhasilan Rahayu tidak berhenti di situ saja. Melainkan terus menanjak. Kerja keras otak dan tangannya yang terampil mengobati pasien-pasiennya membuat Rahayu menempati tempat tersendiri. Dalam 3 tahun kemudian nama dokter Rahayu menjadi terkenal. Menjadi dokter yang mampu bersanding dengan dokter-dokter senior. Dipercaya mengisi seminar, kuliah umum, dan bergabung dengan dokter-dokter di dunia dalam misi kemanusiaan.
Aku bangga padanya.
Garuda kecil memasuki preschool. Dari usia 3 tahun sudah terlihat kecerdasannya. Melebihi teman-temannya di sekolah. Selalu mendapat juara umum.
Hingga memasuki usia 6 tahun, di mana saat itu Ru sudah masuk Sekolah Dasar. Baru semester awal. Aku dihadapkan oleh sebuah pilihan.
Awalnya aku tidak tahu jika Rahayu sering mendapat teror dari Meylan bahkan mama. Sebab Rahayu tidak pernah cerita.
Setelah Meylan mengetahui pernikahan kami. Juga mama mengetahuinya dari Meylan dengan bukti-bukti akurat.
Akhirnya aku menceritakan yang sebenarnya. Memang benar aku sudah menikah. Dan punya anak.
Meylan tampak syok begitu juga mama. Mereka menangis dan mengumpat kasar. Tapi aku tidak peduli. Sementara papa tidak memihak siapa pun. Papa menganggap aku pria dewasa, bisa menentukan kehidupan sendiri. Asal aku bertanggungjawab.
Tepat di satu malam. Aku mendapat kabar dari Pras bahwa mama menyuruh seseorang untuk ... untuk menghilangkan nyawa kalian.
Hening beberapa waktu. Hujan deras enggan gentas. Aku menghela napas.
Belum lagi Meylan akan mengancam menghancurkan karier Rahayu. Dengan berita murahan seperti: pelakor, istri simpanan, anak haram dan ancaman-ancaman lainnya. Sebab publik tahu Meylani lah istri sah Torrid. Sementara hanya beberapa saja yang mengetahui tentang pernikahan keduaku.
Kecuali ....
Aku berpisah dengan kalian.
Berat. Sungguh berat. Aku dihadapkan pilihan sulit. Aku mencintai dan sangat menyayangi kalian. Sampai kapan pun. Tapi, aku juga tidak mau membiarkan kalian selalu dalam rong-rongan mama dan Meylan.
Hingga aku putuskan setelah beberapa malam memikirkannya. Malam itu ... ya malam kelam yang akan membuatku menyesal seumur hidup.
“Ma-maaf aku talak kamu, Ay ....” Kalimat itu keluar tanpa basa basi. Sebab aku tak sanggup.
Rahayu menggeleng sambil menangis. Aku tahu dia pasti terkejut. Sangat terkejut. Tanpa angin, tanpa hujan. Aku menghadiahi talak perpisahan.
Aku pun menangis. Sakit. Tapi aku berusaha menahan. Dengan langkah cepat aku akan membawa Garu keluar dari rumah Rahayu.
“Ko, please ... apa maksud dari semua ini?” Rahayu mengikuti setiap gerakanku.
“Apa salahku, Ko? Jawab!”
“Kenapa kamu tiba-tiba menalak aku?”
“Apa salahku?”
Aku membuka kamar Ru yang sedang tertidur pulas.
“Aku sayang Ru, kenapa Garu juga dibawa?” berondong pertanyaan demi pertanyaan tak mampu aku jawab saat itu.
“Ko ....” Rahayu berteriak frustrasi.
Aku membopong Ru masuk ke dalam mobil. Sementara Rahayu masih berusaha mencegah seraya menangis.
“Kamu tega, Ko! Kamu jahat! Kamu benar-benar tidak sayang kami ....”
“Ko ... Koko ...!” teriakan Rahayu sama sekali tak kuindahkan. Seiring mobil meninggalkan rumah penuh kenangan itu. Hatiku sakit. Hancur. Lebur. Menatap Rahayu dari kejauhan lewat kaca spion, bersimpuh sambil terisak memanggil-manggil namaku. Dan nama Garu.
“Aku juga sakit, Ay.” Gumamku, “maafkan aku. Maaf ....” Air mataku deras membobol seketika. Dadaku sesak. Suaraku tercekat ... bahkan tubuhku bergetar hebat menahan sakit. Amarah. Sekaligus penyesalan dan kekesalan. Berkali-kali aku memukul setir kemudi.
“Demi kamu. Demi anak kita. Demi masa depanmu. Aku terpaksa.” Ucapku dalam hati.
...***...
Jakarta
Papi menyusut sudut matanya. Mata sembab dengan kerutan penanda usia.
Sementara Garu berusaha menahan gumpalan embun yang berusaha mendorong keluar dari kelopak matanya. Tapi ingus di hidungnya tak mampu menghianati. Ia ikut menyusutnya, lalu berpura-pura menggosok hidung.
Papi mengembuskan napas panjang. “Kesalahan terbesar dalam hidup Papi. Selain kesalahan-kesalahan lainnya yang mungkin sulit terampuni.” Tukas Papi. Kembali menyeka sudut matanya.
Hatinya ikut berdesir sakit. Tragis nasibnya. Tentu juga ibunya yang ... yang begitu menyayanginya.
Ia masih berusaha menahan gumpalan embun yang terus mencoba mendobrak kelopak matanya. Tapi ... akhirnya jebol juga. Luruh dengan cepat melintasi pipi lalu jatuh ke bumi.
“Papi minta maaf ... memisahkan kamu dengan ibumu,” suara papi sengau dengan nada bergetar.
“Salahkan Papi. Papi yang salah dalam hal ini. Papi yang memisahkan seorang anak kecil dengan ibu kandungnya. Salahkan Papi,”
Ia menggeleng. Menggigit bibir bawahnya. Menahan rasa yang ... entahlah ... rasa apa ia tak mampu menuangkannya. Hanya saja, dadanya sesak. Dadanya sakit. Dadanya ngilu ... dadanya ... ia menggeleng lemah.
“Ibumu sangat menyayangimu. Sangat sayang kamu, Ru. Melebihi apa pun.” Papi berdeham, berusaha mengeluarkan suaranya yang tercekat. Seandainya waktu itu ia bisa menukar nyawanya. Torrid pasti dengan sukarela memberikannya.
Hening melanda sejenak. Kebekuan rasa menyelimuti keduanya.
“Setelah keputusan Papi berpisah dengan ibumu. Papi hijrah ke Jakarta. Dengan membawamu serta. Tentu Meylan dengan Maleo dan Atat juga. Kebetulan juga Torrid Group mendirikan kantor pusat di sana. Awal-awal perpisahan itu masih terasa. Menyakitkan dan menyisakan nestapa. Apalagi Pras mengabarkan bahwa ibumu mengalami depresi berat.”
“Kehilangan kamu menjadi awal pemicunya,”
“Papi pantas mendapat semua karma atas perbuatan Papi. Jangan khawatir. Papi bisa melaluinya.”
Ia menatap papi. Gurat kesedihan itu sangat kentara. Penyesalan ... sekaligus pengharapan.
“Waktu berkunjung habis,” ucap salah satu petugas. Ia mengangguk.
“Papi jaga kesehatan. Aku akan mengirimkan makanan yang sehat untuk Papi. Aku juga akan mengirimkan dokter untuk melihat kondisi Papi setiap waktu.”
Papi menggeleng, “Tidak usah. Di sini makanannya enak. Dokter juga ada. Lagian kasihan penghuni yang lain. Mereka pikir Papi diistimewakan.”
...***...
Yogyakarta
Pandangan matanya kosong. Meski layar televisi yang tertanam di dinding itu menyala dengan suara cukup keras.
“Selamat petang Saudara. Setelah 2 bulan berstatus sebagai tersangka kasus pembunuhan wartawan senior Demas Prasetyo. Tersangka Torrid alias TRD akhirnya ditahan pihak kepolisian. Penahanan dilakukan setelah tersangka diperiksa penyidik Direktorat tindak pidana kriminal khusus Bareskrim Polri, Jumat siang. Berikut petikan wawancara Kepala Biro Humas Mabes Polri ....” Suara pembawa acara berita salah satu televisi itu masih berdengung.
Berita status tersangka terhadap Torrid dan penahanannya ikut mengguncang jiwanya.
Tubuhnya langsung lemas. Terperenyak di kursi kerja.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin dia yang melakukannya.
Ia langsung merogoh ponsel dalam saku jas putihnya.
“Mas Pras,” sahutnya begitu sambungan telepon itu diangkat.
“Aku akan berangkat ke Jakarta, Yu. Mungkin besok. Kamu ada pesan? Atau kamu mau ikut menjenguknya?”
Nyenyat sesaat.
“Bagaimanapun dia butuh dukungan dan doa dari kita. Terlepas dia salah atau tidak. Manusia tempat khilaf. Salah. Bahkan kadang sifat manusia bisa melebihi iblis. Tapi aku tahu Torrid. Dia tidak mungkin melakukan itu. Atau ....”
Ia menelinga, menunggu kelanjutan kalimat Pras. Tapi cukup lama. Hanya helaan napas Pras yang terdengar.
“Atau apa, Mas?” tekannya tidak sabar.
“Torrid ... hanya bermain-main saja. Tapi, permainan itu berujung fatal.”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏