If Only You

If Only You
34. Anjreeet!



...34. Anjreeet!...


Garuda


Hari-hari melelahkan. Harus membagi perhatian pekerjaan dengan kasus papi. Sore itu ia ke rumah papi. Hanya untuk membawakan makanan dan beberapa pakaian.


Ia memilih menunggu di teras belakang.


“Pak, biar kami saja nanti yang mengantarkan ke Trunojoyo seperti biasa,” ucap Yati.


“Aku mau sekalian ke sana, Bi. Sudah lama tidak menjenguk papi,” sanggahnya.


Yati mengangguk kemudian berlalu.


Wu menyapanya, “Torrid, are you okay?”


Ia hanya menatap Wu tanpa membalas. Entah kenapa kali ini ia enggan bermain-main dengan burung itu.


“Rrr ... good,”


Wu menyelingi dengan bersiul.


“Xìexie ....”


“RRu,”


Ia menatap Wu dengan menajamkan pendengarannya. Apa dia bilang tadi?


“RRu,”


Hah? Sejak kapan Wu bisa menyebut namanya? Pasti butuh waktu lama mengajari burung itu berbunyi sesuai keinginan kita.


“Baru diajari beberapa minggu sama Hadi, Pak.” Yati datang menghampiri. Membawa 1 tas jinjing dan rantang stainless steel.


“Kalau gitu aku langsung saja, Bi. Titip rumah,” ia beranjak dari sana diikuti Yati.


Tiba di Trunojoyo, dokter Tan dan perwakilan tim pengacara telah menunggunya. Seperti biasa mereka harus melewati beberapa tahapan pemeriksaan.


“Bagaimana perkembangan kasus Papi?” tanyanya. Sembari menunggu papi dipanggil.


“Sepertinya bulan ini sudah lengkap. Masuk ke pengadilan.”


“Pi,”


“Pak Torrid,”


Ketiganya menyapa Torrid bersamaan yang muncul di belakang petugas.


“Apa kamu sudah menyiapkan semua yang aku pesan?” tanya Torrid ketika baru saja duduk.


Mulya sebagai tim penasehat hukum mengangguk.


Ia masih belum mengerti arah pembicaraan papi dan Mulya.


“Kamu kenapa kesini, Tan?” Torrid menatap dokter Tan.


“Dokter Tan kesini karena aku ajak, Pi. Dokter akan memeriksa Papi. Kami sudah mengantongi surat izin,” tukasnya.


Torrid menghela, “Bukankah aku sudah bilang. Tidak perlu.”


“Pi,”


Mulya mengeluarkan lembaran demi lembaran dari tasnya. Menyodorkan kertas-kertas tersebut beserta pena pada Torrid, “Silakan Bapak tanda tangani,”


Ia menatap papi dan Mulya bergantian.


“Papi akan menyerahkan semua untuk kalian,”


Ia menggeleng—tidak setuju.


“Sudah saatnya,” tandas Torrid. “Seandainya Papi sudah tidak ada. Kalian sebagai generasi ke-3 Torrid Group berhak mengelola dan menjaga warisan kakek kalian secara penuh.” Torrid membubuhkan tanda tangan di beberapa lembar kertas. Menyodorkan kembali pada Mulya.


“Surat ini akan dibacakan saat ....”Mulya tidak melanjutkan kalimatnya.


“Aku mati,” timpal papi.


Ia lekas menukas, “Pi.” Menatap papi penuh dengan sorot mata keberatan. “Aku akan bawa Papi ke Singapura. Kita checkup ke sana.”


Papi menggeleng, “Jangan berlebihan Ru. Papi baik-baik saja.” Jeda sesaat. “Tan ....” Papi mengalihkan pandangannya pada dokter keluarga itu.


Dokter Tan paham. Dia tidak berani membantah perintah Torrid. Pertemuan mereka harus berakhir setelah 30 menit.


Papi kembali digiring masuk, “Pi,” ia memanggil Torrid. Papi yang hendak berbelok masuk ke dalam lorong berbalik, memutar tumit.


“Aku sudah menemuinya. Kami sudah bertemu,”


Papi mengulas senyum.


“Aku akan membawanya kesini,”


Papi terdiam hanya menatapnya dengan binar mata bahagia. Lalu kembali memutar tumit. Menghilang di balik dinding.


Ia mengembuskan napas. Dokter Tan menepuk pundaknya dan mengangguk.


Pagi-pagi sekali ia harus pergi ke Semarang. Menghadiri peluncuran residensial Garuda Land. Tidak jauh dari proyek reklamasi yang telah dilepasnya.


Memberikan sepatah dua patah kata sebagai sambutan. Kemudian diteruskan dengan prosesi gunting pita. Hunian yang dibangun dengan konsep perfect family home, smart perfect home in perfect location.


Ia menyempatkan berkeliling sebentar ditemani direktur resedensial Semarang Garuda Land. Dari tempatnya berdiri bisa terlihat proyek reklamasi yang mulai dikerjakan kembali oleh perusahaan lain.


Menjelang siang ia pamit undur diri. Duduk di bangku belakang sambil menikmati kota Semarang yang siang itu menyengat. Sementara Toni duduk di depan samping sopir.


Mobil berhenti di persimpangan lampu merah.


Seorang anak kecil mengetuk kaca mobilnya, “Koran ... koran. Korannya, Pak?” tawar anak tersebut. “Penglaris aja, Pak. Sudah siang harga setengah,” imbuhnya.


Ia masih bergeming.


Namun ketika anak tersebut mengangkat tinggi dan membuka lipatan koran menjadi lebih lebar ia sedikit terkesiap.


“Seorang pengusaha tersandung kasus pembunuhan. Beritanya menarik nih, Pak.” Anak itu tidak pantang menyerah, “Pengusaha TRD terancam penjara seumur hidup,” bocah itu bahkan menunjukkan koran lainnya pada halaman bagian depan dengan judul yang mirip-mirip.


Ia membuka kaca mobil, “Gimana, Pak? Mau beli yang mana. Saya kasih harga setengah. Ini sudah siang.” Bocah itu mengelap peluh di wajahnya.


“Saya beli semuanya,” ujarnya. “Ton,” Toni mengerti lalu menyerahkan uang beberapa lembar berwarna merah padanya.


“Semuanya saya beli,” dengan cepat ia menyerahkan uang tersebut pada penjual koran. Sementara bocah penjual koran terheran. Menatap tidak percaya, “semuanya?” ia mengangguk.


“Tapi ... ini kebanyakan uangnya, Pak.” Bocah itu menukas.


Ia hanya menyunggingkan senyum, “Ambil Ton, korannya,” titahnya pada Toni.


Lampu merah berganti kuning sejenak lalu berganti hijau. Perlahan mobil melaju. Sedangkan bocah penjual koran memandang tak berkedip mobilnya sampai hilang.


Setumpuk koran perkiraan 10 bundel dari berbagai media cetak teronggok begitu saja.


Hal itu ternyata membuat Toni heran dan penasaran. Meski dia tahu dalam kolom pemberitaan ada bos besar sebagai tajuk berita. Cuma ....


Tidak hanya waktu kunjungan di Semarang. Ternyata hari-hari setelahnya waktu kunjungan ke daerah ia selalu menemukan penjual surat kabar. Dan hal yang ia lakukan, memborong semuanya. Hingga tumpukan koran itu sudah menggunung di ruang kerja apartemennya.


Meski Toni penasaran namun urung bertanya. Cukup disimpan dalam benaknya saja.


“Ini identitas bearer stock (saham atas unjuk) yang akhir-akhir ini membeli saham GL mencapai 50.000 slot, Pak.” Toni menyerahkan secarik kertas di atas meja bulat.


Mereka sedang berada di salah satu bar kawasan Kuningan. Sengaja memilih sudut rooftop sehingga bebas pandangan.


Tanpa berpikir keras ia bisa menebak sosok yang seminggu ini memborong saham GL. Sudut bibirnya melengkung ke bawah. Meremas kertas lalu membuangnya sembarang.


“Mau apa dia?” gumamnya. Menegak minuman dalam gelas bening itu hingga tandas. Lalu menuangkan isi botol ke dalam gelasnya lagi.


“Pak,” Toni menelan ludahnya.


“Mau jadi super hero? Atau mau mencibir gue?!” tangkasnya kesal.


Toni salah tingkah. Memang hak setiap orang berinvestasi pada perusahaan mana pun. Jadi, ia urung berspekulasi setelah orang yang dikenalnya semakin dekat dan menyapa mereka.


“Hei, Bro!” orang itu menepuk pundaknya lalu ber’tos’ high five dengan Toni.


“Boleh gabung. Gue juga butuh teman.” Jebe menggeret kursi lalu duduk di sana. Menyambar gelas yang memang masih kosong dan belum terpakai. Mengisinya. Kemudian menegak. Terdengar ‘ah’ ... lalu berucap, "pilihanmu memang,” Jebe mengacungkan jempolnya, “anjreeeet ... rasanya lebih enak, Man!” Jebe menuang kembali gelasnya yang telah kosong.


Ia bergeming—tak acuh.


Sementara Toni hanya menjadi pendengar tanpa berani menyahut. Dia tahu bahwa hubungan bosnya dengan bos Jebe sedang dalam kondisi renggang.


“Ton, gimana bos lo sudah berani menyatakan lagi cintanya sama gadis itu?” tanya Jebe. Ini sudah ke-3 kalinya menegak minuman. Dan menginjak yang ke-4, ia baru menyergah, “cih, gak modal!” ketusnya.


Jebe terkekeh.


“Mana sertifikat saham lo? Gue beli sekarang.” Bearer stock memang saham yang mudah dipindahtangankan. Meski tanpa identitas pada saat pembelian. Tapi bisa ditelusuri secara akurat pihak-pihak yang berinvestasi. Apalagi ini dalam jumlah besar, baginya itu sangat mudah.


“Gue beli saham lo, karena gue lagi banyak duit, Man.” Aku Jebe snob. “Kurenai Metal kuartal kemarin profitnya besar. Saking banyaknya gue sampai bingung. Duit mau dikemanain. Ya ... gue lihat pertumbuhan dan perkembangan GL selama lo pimpin mengalami perubahan positif yang signifikan. Gue tertarik. Ya, gak Ton?!” Jebe mencari dukungan.


Toni meringis. Menegak minumannya, demi menghindari tatapan atasannya.


Ia berdecak, “Masih banyak perusahaan yang lebih menjanjikan.” Sanggahnya.


“Suka-suka gue mau investasi ke mana!”


“Sorry ... sorry,” ucapnya berusaha membantu orang tersebut yang hampir terjatuh.


Orang itu justru terpaku menatapnya, “Garu?” katanya dengan aksen kental.


Ia mengerutkan dahi, “Suri?”


“Hey ... we meet again,” Suri tersenyum.


Jebe yang baru datang menyusul spontan berseru, “Anjreeet!”


Toni menyahut, “Siapa, Pak?”


“Suri, teman kami dulu di Melbourne.” Jawab Jebe. Lalu ikut menyapa Suri, “Hey, Sur ... gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini,” Jebe dan Suri bersalaman lalu cium pipi.


“Ini,” tunjuk Suri pada Toni.


Tanpa diperkenalkan Toni berinisiatif, “Toni,” dengan senyum terkembang.


Ia berdecak, “Sorry ... gue gak bisa lama. Gue duluan.” Ia menepuk lengan Suri. Tapi justru Suri mencium pipinya dengan sengaja. Tanpa kata ia bergegas pergi sambil mengusap-usap bekas ciuman cewek tersebut.


Blam.


Suara pintu terbanting cukup keras. Ia kesal. Mengembuskan napasnya. Menatap Jebe dan Toni yang malah asyik mengobrol dengan cewek itu.


Anjreeet!


Kesabarannya mulai menipis. Lima menit ia menunggu mereka yang tak kunjung datang. Malah terlihat tertawa-tawa.


Habis sudah stok sabarnya. Baru akan menekan klakson, dua laki-laki itu berjalan menuju ke arahnya.


Terdengar percakapan mereka, “Nanti gue kasih nomor teleponnya. Aman Ton.” Jebe menukas duduk di belakang.


Ia menyergah, “Lo, mau ngapain?”


“Pulanglah,” sahut Jebe santai. Menyandar ke belakang.


Ia berdecak. Tapi pada akhirnya menginstruksikan Toni untuk jalan.


“Lo, nginep di hotel mana?” tanyanya setelah mobil melaju 5 menit kemudian.


“Gue nginep tempat, lo.” Balas Jebe.


“Hah! Lo kira apartemen gue hotel?” sindirnya ketus.


“Duit gue habis buat beli saham lo!”


Tanpa sengaja Toni tergelak. Tak lama mulutnya terkatup ditatap atasannya yang duduk di sebelah.


Ia berdecih, “Tadi snobby, sekarang statusnya melebihi gelandangan.”


“Ton, lo sempat foto gak tadi? Lumayan Ton, bisa kita kirim ke Melbourne.” Celetuk Jebe merasa punya kartu As.


“Anjreeet! Damn you!”


 


...***...


Gemala


Ia baru saja mendarat di bandara Hobart bersama Nayla. Tiga minggu ke depan mereka akan melakukan penelitian studi kasus di sini.


“Nay, lihat!” tunjuknya pada Gunung Wellington yang tinggi menjulang di hadapan mereka. Keduanya memutuskan untuk mengambil penginapan yang tidak jauh dari Gunung Kunanyi, begitu penduduk asli menyebutnya.


Karena sedang musim gugur, maka Hobart bersuhu dingin, bahkan lebih dingin dari kota-kota lainnya.


Mempelajari studi kasus penduduk yang tinggal di Tasmania sebab mengalami tren penurunan. Bahkan tercatat paling rendah di antara wilayah Australia lainnya. Dengan prosentase pertumbuhan hanya 0,1%. Sementara kota-kota lain mencapai 1,8%.


Lalu di bulan berikutnya ia pergi ke Australia bagian barat. Tepatnya di Perth. Menganalisa antropologi budaya penduduk asli suku Aborigin di sana. Selama hampir 2 minggu ia ikut berbaur dan mengikuti kegiatan dan tradisi mereka.


Menapaktilasi Penacless Desert di Nambung National Park yang diyakini menjadi tempat pemukiman suku Aborigin ribuan tahun lalu menurut arkeolog.


Tiba di Melbourne hampir tengah malam. Hujan mengguyur cukup lama. Udara begitu dingin dengan suhu 8 derajat celcius. Menurut badan prakiraan cuaca setempat, esok Melbourne memasuki winter.


Pakaian yang dikenakan rasanya tidak begitu membantu. Ia tergigil. Begitu sampai di rumah, ia lekas melepas trech coat ke standing hanger yang menempel di dinding. Meletakkan koper asal. Mengusap lengannya yang masih berbalut sweater.


Berulang kali mengembuskan napas. Ia memilih langsung menuju dapur membuat sesuatu yang menghangatkan. Pilihannya jatuh pada cokelat hangat.


Ia duduk di sofa. Kakinya terangkat ke atas dan duduk bersila. Gayatri belum pulang dari Sydney. Kemungkinan 2 hari lagi.


Ponsel yang ia simpan di atas meja layarnya berpendar, ‘Garudanya Mala’ tampak di sana.


“Hem, hai ...,” sahutnya


“Kamu lagi ngapain?” tanya Ru dari seberang.


“Baru pulang dari Perth,” jawabnya.


“Aku ubah video call, pakaian kamu lengkap, kan?” kelakar Ru.


Ia berdecak, “Di sini sedang winter, hanya orang gila yang tidak pakai baju.”


Tak pakai lama, sambungan telepon itu berubah menjadi video call.


Ia mengerutkan kening ketika tampak di layar Jebe duduk di belakang Ru sambil da da da da ... membuatnya terkekeh kemudian. Ru menelengkan kepala memelotot pada Jebe.


“I miss you,” kalimat Ru membuat wajahnya merah merona. Apalagi kulitnya kini tengah putih pucat sebab kedinginan, malah semakin menambah warna merona kian kentara. Senyumnya tersungging malu.


“Kamu gemesin kalau wajahmu seperti itu,” rayuan Ru semakin membuatnya tersipu. Baru kali ini, pertama dihidupnya mendapat rayuan gombal dari seorang Garuda. Sedang kerasukan apa dia?


Sementara Jebe menulis sesuatu di tisu lalu di angkat, ‘G O M B A L’ cepat-cepat diturunkan lagi.


Ia mengulum senyum.


Garu kembali menelengkan kepala ke belakang, memelotot memberi peringatan. “Sialan! Pay some respect, please (tunjukkan rasa hormatmu).”


Jebe menipiskan bibirnya.


“Sorry, Mala. Aku terpaksa menampungnya malam ini di sini. Dia kehabisan uang, jadi gak mampu bayar hotel.” Satire Ru pada sahabatnya itu.


“Daripada menggelandang di jalanan, kalau ketangkap lebih repot lagi harus mengurus ke Dinsos.” Imbuh Ru.


Ia tersenyum.


“Mala, sepertinya kita harus pindah ke tempat yang lebih private ... jangan ditutup dulu,” Ru pergi dan menghilang entah ke mana. Hanya terlihat Jebe tengah duduk di kursi meja makan. Kemudian mendekati layar.


“Mal, kamu tahu, kan kalau sahabat gue itu baru jatuh cinta. Jadi gayanya ya gitu, childish. So, jangan termakan rayuannya ... apalagi tadi baru saja kami berjumpa—” tiba-tiba kerah belakang kaos Jebe ditarik.


“Mal, jangan percaya omongannya baru saja,” teriak Ru menimpali.


Jebe menyergah, “Mala, wǒ bù zhîdào gāi rúhè biàodà wǒ de xīnqíng, kěshí wǒ de gàosù wǒ: wǒ hěn xǐhuān nǐ (Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku, tapi hatiku mengatakan bahwa aku: Aku sangat menyukaimu)” jeda sejenak, “kamu mau tahu artinya, Mal?”


“Anjreeet ... damn you!” Ru lekas membungkam mulut Jebe.


Dan pada akhirnya 2 lelaki dewasa itu seperti kucing dan anjing yang memperebutkan tulang.


Ia hanya geleng-geleng kepala melihat polah mereka dari layar.


-


-


Catatan :


1 slot saham : 100 lembar saham (minimal pembelian)


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏