If Only You

If Only You
87. Itu Aku



...87. Itu Aku...


Gemala


Paginya kembali menggeliat. Di bawah sana aktivitas orang-orang bahkan telah berkutat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak bisa dibilang gampang. Pergi pagi bahkan sebelum mentari menyapa. Dan pulang ketika sang surya telah menepi di singgasana.


Ia menyapu wajah. Mengusir kantuk yang enggan enyah. Tubuhnya terkungkung oleh tangan kokoh yang melingkari. Tak ada sekat. Tubuh mereka saling melekat. Pasca-pertempuran yang entah berapa lama seolah tak mau berhenti.


Yang tersisa kini hanya lelah. Dengan perasaan bungah. Kendati ... refleks ia melipat bibir guna menahan senyum. Rasanya dari malu, kesal tapi senang.


Bagaimana Ru memaksanya untuk ikut membasuh diri. Meski ia menolak. Tapi dengan segala tipu muslihat laki-laki itu akhirnya ia tak kuasa menampik segala bujuk rayu.


“Hon, aku hanya ingin membantu menggosok punggungmu,” kilah Ru dengan gerakan tangan salah tingkah.


“Seminggu lebih di daerah pastinya banyak kotoran menempel,” cengir Garuda. “Dan kamu pasti tidak bisa melakukannya sendirian.”


Ia terpaksa mengangguk. Menyilakan laki-laki itu untuk membantunya.


Garu melepas pakaiannya. Menyisakan potongan kain yang hanya menutupi organ vitalnya. Sayangnya, ia tak menyadari. Sebab duduk dalam bathup membelakangi.


Nyatanya bukan sekedar gosok menggosok. Namun Garu benar-benar mengejawantahkan pertemuan 2 individu yang telah lama tidak saling melebur menjadi satu.


Modus!


“Hon, nanti kita lunch bareng.” Ucap Ru saat ia membantu mengancingkan kemeja batiknya. Dalam 5 hari kerja ada hari yang diwajibkan memakai pakaian kebanggaan Indonesia itu. Dan itu hari ini. Yang jatuh pada hari sebelum akhir pekan.


“Kamu mau makan apa? Di mana? Biar Toni reservasi.”


Selesai.


Ia mengusap dada bidang Garuda yang sudah berbalut kemeja batik. Lalu menatap wajah laki-laki itu. Yang juga tengah menunduk menatapnya.


Tampan. Sangat tampan.


“Ada apa?” tanya Ru.


Bibirnya melengkung ke atas.


“Aku terlalu tampan, ya?” tebak laki-laki tersebut.


Dan ... ya, kenapa selalu benar?


Ia mengangguk. Garuda tersenyum.


Sepersekian detik, ia menggeleng.


Alis Garuda spontan ikut mengerut.


“Bukan terlalu tampan,” kilahnya, “tapi ... sangat tampan.”


Bibir laki-laki itu mengembang. Menatapnya berbinar-binar. Tak lama menghujani ciuman di wajahnya.


“Thanks, Honey.” Ru kembali menatapnya. “Laki-laki sangat tampan ini hanya dipersembahkan untuk seseorang. Khusus diciptakan dan didesain untuk Gemala.”


Binar matanya tak kalah berseri. Berusaha menahan senyum saking terharu dan tersanjung.


“Snob,” ejeknya.


“Tapi kamu suka,” lawan Ru.


“Nasty,”


“Tapi kamu jatuh cinta,”


“Pede!”


“Itu aku.”


Ia berdecak.


Garuda meraup bibirnya. Tak lagi membiarkan bibir yang tidak tipis juga tidak tebal itu berbicara. Mencecap lembut. Juga memagut. Disertai rengkuhan pinggang yang begitu ketat. Membuat keduanya terhanyut. Terlarut oleh gelora cinta yang berdentam-dentam ingin diekspresikan.


Ia berhenti. Dengan deru napas satu-satu menatap laki-laki itu.


Garuda kembali merengkuhnya erat. “Thanks, honey.” Mengecupi kepalanya, “So ... nanti siang kamu mau makan apa? Di mana?”


Jeda sesaat.


“Makan apa saja. Tapi aku gak janji ya, Mas. Soalnya ... banyak laporan yang harus aku selesaikan secepatnya. Tapi aku akan usahakan,” sahutnya merasa tidak enak hati. Pasalnya ia ingin sekali menemani Ru makan siang. Dan ia berjanji akan menemani waktu-waktu jadwal makan suaminya itu. Namun, kenyataan pekerjaan yang menumpuk apalagi setelah kepulangannya dari daerah pastilah banyak laporan yang menunggu diselesaikan.


“So sorry,” imbuhnya merasa bersalah. Mengusap lengan Ru.


Garuda mengangkat dagunya, “Tidak apa. Aku mengerti. Toni hanya reservasi, kalaupun cancel ... tidak masalah.”


Tiba di kantor, Dila dan Desti menyambutnya riang. Begitu juga Davin yang tak mau ketinggalan.


“Bawa oleh-oleh apa nih?” sambar Desti. Padahal pantatnya saja belum duduk sempurna. Saking antusiasnya mereka menyambutnya.


“Oleh-oleh cerita,” sahutnya.


Desti mencebik, “Itu mah bukan oleh-oleh tahu!”


Sedangkan Dila hanya geleng-geleng kepala, lalu mengangkat sebuah paper bag tinggi-tinggi, “Ini ... nih, oleh-olehnya.” Meletakkannya di atas meja.


“Wow, beneran ini? Makasih, Mal. Love you pake banget deh.” Desti langsung menyambar bungkusan tersebut dan membongkar isinya, “keripik balado, karak kaliang, dakak-dakak, arai pinang, kerupuk jangek,” selesai menyebut semua jenis makanan sesuai tulisan yang tertempel di setiap plastik kemasan.


“Semua oleh-oleh dari Padang,” Davin menyergah yang sedari tadi duduk di tepian meja.


Ia manggut-manggut, “Karena lokasi penelitian terakhir di sana. Ya ... itulah yang bisa aku bawa.”


“Ini juga udah banyak banget, Mal. Thank you,” balas Dila.


“Nanti lunch bareng yuk?” ujar Davin.


Memang beberapa minggu ini semua pada sibuk. Davin yang harus ke Surabaya dan Bandung. Desti ke Kepulauan Seribu. Dan dirinya yang ditugaskan ke Pulau Sumatera.


Baru hari inilah mereka bisa kumpul bercengkerama.


“Kerja, kerja, kerja!” Benita menukas dari ambang pintu yang terbuka. Seketika semua yang berada dalam ruangan menoleh, terdiam. “Kalian digaji untuk bekerja. Bukan ngegosip.”


“Huuuuuuu!” sambar Desti yang berani berucap setelah Benita menjauh.


Ia menipiskan bibir. Diikuti Davin yang keluar dari ruangan mereka. “Oke, lunch bareng.” Putus Davin kala berhenti tepat sebelum ambang pintu.


Dila menatapnya. Ia mengangkat bahu santai.


“Kerja, kerja, kerja ...,” cibir Desti. Membuat dirinya dan Dila tertawa, “hahaha ... ups!”


...***...


Garuda


“Tanah hibah dari ibu, lo apain?” tanyanya pada sang adik. Pembahasan mengenai proyek GL telah selesai. Saatnya rehat sejenak.


“Belum tahu,” jawab Ganjar. “Masih nonggok.”


“Sayang banget. Lebih cepat, lebih baik lo investasikan. Setiap waktu bisa menghasilkan uang. Atau lo kerja sama dengan GL di Yogya. Lo, mau bikin apa. Percayakan sama ahlinya,” urainya memberikan masukan. Sayang sekali menurutnya. Tanah kosong tidak dimanfaatkan, padahal bisa mendatangkan cuan.


“Nanti akan aku pikirkan.”


“Oke. Jangan lama-lama.” Pesannya pada Ganjar. Seiring sang adik bangkit dari kursi, “jadi ...,” ia menunggu Ganjar.


“Ck, sesuai saran lo.  Gue sudah bilang ke dia.”


“So, is there an answer? (Jadi, adakah jawabannya)” desaknya.


“She didn’t answer, (dia tidak menjawab)” jawab Ganjar pasrah.


“Hahaha ... come on. Dia tidak menjawab artinya belum menjawab. Masih ada kesempatan. Jangan putus asa.” Padahal jika ditelisik ia pun merasa tak pantas berdiri di samping Mala yang kini menjadi istrinya. Begitu banyak Gemala berkorban untuknya, dengan apa pun itu ia tidak akan bisa membalasnya. Hanya satu janjinya. Janji yang ia patri ketika mempersunting Mala.


Bertepatan Ganjar keluar, Toni masuk ke ruangannya. Toni dan Ganjar berhigh five, “Makin ganteng aja, Bro!”ucap Toni.


Ganjar hanya terkekeh ringan membalas dengan, “Gue, gak ada receh!”


“Apa laporan terbaru?” tangkasnya.


“Mengenai gugatan hak waris belum ada kabar terbaru, Pak. Hanya saja yang saya dengar dari sekretaris Pak Maleo, kemarin bosnya bertengkar dengan Pak Atat. Kebetulan dia hendak masuk ke dalam ruangan Pak Maleo,” ucap Toni. Beda dengan sekretaris Atat yang berjenis kelamin sama dengannya. Sekretaris Maleo mudah terbuka padanya. Karena ... oh sialan. Ia harus memakai kalimat maut agar si Jessy bercerita.


“Hubungi bagian marketing. Tinjau ulang semua brand ambasador yang bekerja sama dengan kita. Terutama Torrid insurance. Siapkan saja gantinya saat kontrak itu selesai,”


“Tidak diperpanjang, Pak?” tanya Toni heran. Sebab sudah 2 kali perpanjangan kontrak dan selama ini tidak masalah.


“Jangan banyak tanya, Ton. Lakukan saja instruksiku.”


“Baik, Pak.” Toni undur diri.


Nama Gemalanya Ru muncul di layar.


“Em ... Mas, laporanku belum selesai. Maaf,” cicit Mala. “Aku usahakan pulang cepat. Siang ini aku selesaikan sebagian.”


“No, kamu jangan mengorbankan waktu makan siang dengan bekerja. Aku tidak setuju kalau begitu.”


“Aku tetap makan siang sambil bekerja. Jangan khawatir. Aku justru mengkhawatirkan kamu,” tukas Mala.


“Aku gampang, Mal. Okay ... jangan maksain kalau kamu cape. Atau aku perlu hubungi direkturnya biar kamu diberi keleluasaan dan—”


“Masss ...,” sanggah Mala memprotes.


“Ya ... ya, I know,” ia terkekeh. “See you soon.”


...***...


Gemala


Bolak-balik ia mencocokkan datanya dengan data yang sudah di analisa Dila.


 “Gimana?” tanya Dila menyorong kursi rodanya mendekat ke mejanya.


“Sejauh ini, oke!”


“Lunch dulu yuk. Udah jam 12.” Dila bangkit.


Ia tak menjawab. Tatapan netranya masih fokus pada layar komputer.


“Mal,”


“Eh ... iya, ya. Duluan aja, Dil. Dikit lagi. Lagian tanggung ini.”


Dila menyergah, “Udah nanti saja. Pekerjaan pasti akan selesai pada waktunya.”


Ia menatap Dila, “Hope so ... tapi beneran duluan aja. Lagian tuh,” ia menunjuk bungkusan di sebelah tasnya. “My husband udah kirim makanan.”


Dila berdecak. Dua detik kemudian tersenyum, “Oke deh. Jangan lupa dimakan ya ... nanti your husband marah. Sudah cape-cape kirim ujung-ujungnya terlupakan gara-gara pekerjaan.”


Ia mengulas senyum, “Aman. Thank you.”


Dila membalas dengan senyuman. “Aku ke bawah ya. Si Desti udah nungguin. Dari luar dia langsung ke kantin.”


“Oke.”


“Yuk?!” sambar Davin yang baru datang.


Ia menatap Dila. Pun, sahabatnya itu juga menatapnya.


“Vin, maaf ...,”


“Dia lagi tidak bisa diganggu gugat. Lagian suaminya sudah mengirimi makanan,” Dila menimpali.


Davin terlihat terkejut, “Suami?” Tak percaya apa yang baru saja didengarnya.


Sementara dirinya berusaha mengulas senyum.


“Eh, iya. Maksud aku suaminya Mala,” koreksi Dila. Barangkali dia salah menyebut tadi.


Dan pada akhirnya ia harus menjelaskan pada Davin. Sementara Dila telah pergi meninggalkan ruangan.


“Jadi kapan kamu menikah, Mal?” kalimat pembuka Davin yang tampak sedikit kecewa mendengar kabar ini. Davin menghempaskan tubuhnya di kursi kerja Dila.


Ia sedikit memutar kursi berodanya. Dengan tangan satunya bersandar pada meja. “Sorry, Vin. Bukan aku menutupi statusku. Pertama aku masuk sini aku sudah menikah. Statusku bekerja di sini juga menikah. Jadi aku tidak—”


“Waktu di rumah sakit Singapura?” timpal Davin


Ia mengangguk.


“Oh ... damn it!” lirih Davin seraya memejamkan mata.


“Sorry, Vin. Bukan aku, maksud aku menutupi semuanya,” kilahnya.


“Mal, kita ini teman. Teman sejak SMA. Kenapa seolah-olah lo sama gue kayak rekan kerja? Gue tahu lo, dan lo tahu gue. Gue udah anggap Mely, Prita dan ... lo semua teman dekat. Tapi, lo kayaknya anggap gue ....”


“Bukan gitu, Vin. Ada alasan mengapa gue gak publish.”


“Ck,” Davin menghela. “Well ... selamat atas pernikahan lo,” ia mengulurkan tangan.


Patah-patah ia menyambut tangan Davin.


“Semoga lo bahagia.”


Ia mengangguk, “Makasih, Vin.”


Davin bangkit dari kursi. Membuka pintu, tak lama kembali menoleh padanya. “Kita masih berteman, kan?”


“Sure. Kita masih berteman sampai kapan pun,” disertai senyum.


Ia menarik napas dan mengembuskannya. Rasanya lebih baik ia mengisi tenaganya dengan makanan yang dikirim Garuda. Membawa bungkusan tersebut ke pantry. Membukanya di sana.


Layar ponselnya berpendar menampilkan nama Garudanya Mala.


Garudanya Mala : Udah makan, Hon.


Ia menepuk keningnya. Kenapa ia bisa lupa. Justru Ru yang mengingatkan makan siang.


Gemala : Baru mau. Kamu udah makan?


Garudanya Mala : Baru mau!!! What time is it??


Wah ... gawat Ru marah. Ia melihat jam digital di layar. Waktu sudah menunjukkan 13.20.


Gemala : Iya ... tadi ada sedikit masalah. Jadi tanggung. Sayang ... kamu sudah makan?


Berharap Ru tidak marah dengan menambahkan kata ‘sayang’ di sana.


Garudanya Mala : Aku datang sekarang ke kantor kamu.


Hah! Mau apa? Ia lekas menelepon laki-laki itu.


“Mas mau ngapain ke sini?”


“Terserah aku, Hon.”


“Isshh ... gak lucu. Nasty tahu!”


“Itu aku."


Ia mengembuskan napas kasar hingga terdengar di seberang.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏