
...15. Rambang?...
Gemala
Gadis itu rebahan di atas sun lounger. Usai berenang dengan keponakannya. Siren dan Juna.
“Un, kapan go back to kangguru?” Tanya Siren dengan ekspresi menggemaskan. Un panggilan mereka kepadanya (a.k.a aunty).
Siren bocah gembul itu mengunyah kue dengan mulut penuh dan berlepotan.
“Why, Siren mau ikut ke Melbourne?”
“Aku mau,” sergah Juna yang baru keluar dari kolam. Duduk di pinggiran dekat mereka.
“Siren juga mau. Mas Juna, nanti kita ke Luna Park, ke Sea Life lihat penguin, ke ....” Siren terlihat berpikir, “Manly beach,”
Juna menyambar, “Ngaco. Manly beach di Sydney tahu!”
“Betulkah, Un?”
Ia tersenyum, “Betul. Tapi kalau Siren mau ke Manly, nanti Un antar. Pokoknya Siren mau ke mana pasti Un temani.”
“Yeay ... Siren mau ... mau!” seru anak 5 tahun itu lucu.
“Siren, Juna.” Panggil Ganisha yang baru datang. “Udahan, Sayang. Sama Mbak Tuti ya, bilasnya,” ia duduk di sun lounger satunya. Menyampirkan handuk di pundak Siren—anak keduanya. “Tuti, tolong bantu Siren bilas.”
Tuti yang tak jauh dari mereka mendekat. “Mama, Siren ikut Un ke Melbourne.” Pinta anak kecil itu.
Ganisha menggeleng, “Not now, my girl.” Lalu melirik ke arahnya, “pasti Un yang bujuk ya, ngajak ke sana?”
Siren mencebik.
“Siren, kan masih sekolah. Tunggu liburan baru boleh ke sana. Okay?” tawar Ganisha. Tidak tega melihat anak gadisnya bermuka masam dengan bibir tak berbentuk lagi.
Pemandangan itu justru membuatnya tergelak, “Ih, lucu banget sih, kamu!” tukasnya sambil mencubit pipi Siren. Ia ikut duduk, ketika ponselnya bergetar di sebelahnya.
“Tuti,” panggil Ganisha. Tuti mengangguk kemudian membawa Siren. Pun Juna mengekori di belakang. “Mas Juna yang bersih bilasnya!” imbuhnya berseru.
“Kenapa, kok gak diangkat?” tanya kakaknya itu. Curiga panggilan di ponselnya tidak segera diterima.
Ia mengedikkan bahunya.
“Idiih ... kalau marahan selesaikan baik-baik. Jangan dipendam. Bikin nyeri hate!” saran Ganisha.
“Males!”
“Siapa sih?” kakaknya itu penasaran. Mencondongkan tubuhnya. Melongok. Lalu keningnya berlipat.
“Namanya kok aneh gitu?”
Lagi, ia mengangkat bahunya santai. Tidak peduli. Masa bodoh. Kembali rebahan.
“Kasihan, tuh sudah telepon berulang dia.”
“Sini, gue yang angkat.” Ganisha menyambar ponselnya
Berdehem sebentar. Tapi di saat akan menggeser ikon menerima panggilan. Telepon itu terhenti. “Terputus,” ujar Ganisha. Sementara ia cuek. Memejamkan mata.
Karena penasaran dengan nama yang aneh. Ganisha sengaja memanggil ulang. Bahkan memilih video call. Dengan kamera belakang. Yang otomatis menyorot di depannya. Ia terkekeh dalam hati.
Hal pertama yang membuat kakak pertamanya ini terkejut ialah ketika wajah laki-laki yang memenuhi layar itu tak sesuai dugaannya. Saat vicol itu tersambung.
Laki-laki itu mengernyit, lalu bilang “Halo.”
Ya ... Tuhan! Ganisha lupa bahwa adiknya yang masuk di layar laki-laki itu.
“Kamu habis berenang? Kamu berenang di mana?”
“Mala,”
“Hei!”
Ia masih rebahan sambil memejamkan mata. Memakai pakaian renang model tankini. Perpaduan antara tanktop dan boxer short. Masih wajar. Meski belahan dadanya tercetak jelas. Bahkan bahu seputih tahu sutera itu terbuka. Terpampang. Belum lagi pahanya yang sengaja di tumpangkan. Amboi, pasti membuat laki-laki di ujung dunia mana pun harus menelan ludahnya berkali-kali.
Ganisha mendesis, “Cowok lo, aneh Mal.”
“Hah! Aneh gimana?” sahutnya.
“Tapi kayak pebisnis gitu. Beneran itu cowok lo, Mal? Telepon cuma lihatin lo aja. Terus dimatikan.”
“Emangnya siapa yang telepon? Kok bisa lihatin gue.”
Kakaknya itu menyengir—merasa bersalah. “Gue vicol sih, di kontak Garuda ... lima ... ila,” Ganisha mengerutkan dahi, “gimana sih nih, bacanya?” masih menatap kontak yang baru saja dihubunginya.
Ia langsung terkesiap. Merebut ponsel di tangan kakaknya.
Dua jam kemudian. Ia bolak-balik seperti setrikaan. Sembari menggenggam ponsel. Terkadang ia menggigit bibirnya. Lalu berdecak. Berganti lagi mendesahkan napas. Tak lama mendesis.
Harus bagaimana bilang sama laki-laki itu? Ia menatap dirinya di cermin. Gila. Kenapa kakaknya itu baru bilang kalau dia menelepon Ru dengan vicol. Oh ... ya ampun. Ia mengusap dahinya.
Daftar kontak atas nama ‘Garuda 5ila’ ia tekan ikon panggilan. Belum tersambung, langsung mengakhiri panggilan. Rambang.
Lalu ia mengirimi pesan di whatsapp.
Gemala : Ru, sorry tadi bukan gue yang telepon tapi kakak gue. Sorry banget, gue gak tahu.
Hanya centang satu. Sepuluh menit kemudian centang 2, namun masih abu-abu.
Ia mengembuskan napasnya. Pasti laki-laki itu marah. Berpikiran yang tidak-tidak.
Dua puluh menit kemudian pesannya terbaca. Tapi tidak ada balasan ... meski status laki-laki itu,
Garuda 5ila : typing ....
Mengetik pesan hingga 10 menit lamanya tanpa ada kalimat atau kata yang masuk ke dalam ponselnya.
Sepuluh menit kedua status masih,
Garuda 5ila : typing ....
Aneh. Mengetik pesan terus. Ia menggerutu kesal.
...***...
Garuda
Satu hari menjelang RUPS ia benar-benar sibuk. Berada di kantor dari pagi hingga hampir tengah malam. Bersama Toni. Dibantu para sekretarisnya. Dan jajaran di bawahnya.
Tapi di saat sibuk itulah nama Gemala selalu menyelinap di benaknya. Akhirnya ia memutuskan untuk melakukan panggilan. Tiga panggilannya tidak mendapat respons.
Ia meletakkan kembali ponselnya. Bersiap melanjutkan pekerjaannya. Tapi, nama ‘Gemala’ muncul berpendar di layar. Bukan sekedar telepon tapi video call. Sudut bibirnya melengkung ke atas. Hatinya bersorak riang.
Begitu kata, “Halo,” menyapa justru pemandangan yang membuat gelora sisi kelaki-lakiannya mencuat. Bagaimana bisa gadis itu mempertontonkan tubuhnya? Bahu terbuka, polos sekaligus mulus. Turun ke bawah belahan yang ... Astaga ... ia menelan ludahnya. Ukurannya pas—tanpa sadar ia setengah mengepalkan tangannya mengira-ngira ukurannya sesuai genggaman. Bisa jadi lebih kecil sedikit. Lalu ... oh, sial! Paha itu.
Anjreeet ... ia merutuki isi kepalanya.
Sadar dengan pemandangan yang tidak menguntungkan sebab akan semakin membahayakan organ tubuhnya yang lain. Ia lekas menutup sambungan vicol tersebut. Dan melesat ke kamar mandi.
Dua jam telah berlalu. Ia masih tenggelam menekuri berkas-berkas di hadapannya. Setumpuk file di sebelah kanan. Sementara yang sudah selesai ia letakkan di sebelah kiri. Jumlahnya juga sama setumpuk. Lalu notifikasi ponsel mengisyaratkan pesan masuk.
Dari Gemala. Yang mengatakan bahwa yang melakukan video call tadi adalah kakaknya. Astaga. Jadi ....
“Pak,” Toni menyadarkannya. Ia yang tadinya hendak membalas pesan, lupa.
“Tender multi project GL tahun ini. Di mulai dari sisi barat,” Toni menerangkan di layar besar. “Mulai Sumatera Utara: jalan tol Tebing Tinggi-Kisaran hingga kawasan industri Kuala Tanjung dan Sei Mangkei. Status on progress 40%,”
“Sisi tengah di Provinsi Banten, pembangunan Bendungan Karian di kawasan Serpong. Proyek kerja sama dengan pemerintah pusat. Status on progress 25%,”
“Geser ke Provinsi Jawa Tengah. Project reklamasi di pantai Semarang. Pembangunan real estate. Status on progress 30%,”
“Sisi timur. Di Lombok. Status on progress 80%, project pengembangan bandara internasional Lombok. Meliputi: memperpanjang dan memperbaiki daya dukung runway, memperluas terminal dan fasilitas penunjang, memperluas apron sisi barat, mengembangkan fasilitas kargo, dan memperluas area parkir.” Jelas Toni detail. Semua dokumentasi terlampir dan terkini.
Ia manggut-manggut sambil matanya tak beralih dari layar besar tersebut. Dengan jemarinya masih mengetuk-ngetuk layar ponselnya.
Tepat hari RUPS tiba semua petinggi dan pemegang saham baik GL dan TRP duduk memenuhi ruang meeting.
Torrid sebagai pemegang saham terbanyak. Sekaligus anggota dewan direksi membuka RUPS luar biasa hari itu. Dikatakan luar biasa dikarenakan dilakukan di luar jadwal semestinya. Jika RUPS tahunan diselenggarakan setiap tahun di akhir tutup buku tahunan. RUPS luar biasa bisa dilakukan kapan saja sesuai kepentingan dengan alasan urgensi.
Dua jam setengah ke depan semua berjalan lancar. Mayoritas pemegang saham menyetujui perubahan struktur jabatan. Pun Garuda Land yang dipimpin dirinya.
Tepuk tangan membahana dalam ruangan kedap suara tersebut. Ia berdiri bersanding dengan Maleo. Menerima ucapan dari para peserta meeting.
Menyusul gedung TG yang dipenuhi oleh kiriman bunga dan berbagai hadiah. Semua seolah ikut bereuforia, menyambut pemimpin baru dengan wajah lama. Harapan mereka pasti menginginkan GL lebih maju dan berkembang. Garuda Land dipimpin CEO muda dan berbakat. Semua media memberitakan.
Bahkan beberapa media televisi membuat janji temu untuk mewawancarainya. Namun semua ditolak. Ini baru tahap awal kariernya di GL. Ia tidak mau dipublikasi berlebihan.
...***...
Gemala
Musim dingin sudah berlalu. Berganti musim semi. Kios-kios dipenuhi penjual bunga. Cuaca berkisar 9,6°C sampai 19,6°C. Musim paling berwarna tiap tahunnya. Sebab cuaca dapat berubah dalam sekejap. Semisal yang tadinya tenang dan cerah dan berubah dingin dan berangin tiba-tiba.
Banyak warga Melbourne menyambut musim ini dengan sukacita. Beraktivitas di luar, menikmati panorama alam yang hanya bisa dinikmati sekitar 3 bulan.
Berbagai festival pun disajikan. Mulai festival musik, fauna, bunga, budaya hingga olahraga. Dan yang paling populer adalah festival bunga.
Tepat di minggu kedua pergantian musim itulah ia kembali ke Melbourne. Bertepatan juga RUPS di Jakarta. Ia mendapat informasi itu melalui Toni. Sengaja ia menanyakan laki-laki itu. Sebab status ‘typing’ menjadi kabar terakhir. Bahkan saat ia mengirimi pesan kembali. Pesan tersebut tidak di bacanya. Apalagi dibalas!
“Pak Ru sedang sibuk, Mbak. Hari ini RUPS luar biasa. Pergantian Pak Ru dengan kakaknya,”
“Kalau senggang, nanti akan saya sampaikan ke—”
“Eh, gak usah, Ton. Gak usah disampaikan kalau aku menghubungimu. Thanks.”
“Gimana dengan cowok nasty itu?” celetuk Gayatri yang menjemput di bandara membuyarkan lamunannya. Mobil yang membawanya tengah melaju menuju kawasan Clayton tempat tinggal keluarganya.
Ia mengangkat bahunya.
“Ethan, kemarin juga ke rumah. Nanyain kamu. Katanya kamu gak balas pesan dan angkat teleponnya.”
Kembali ia mengedikkan bahu.
“Ck, bikin runyam. Si nasty kayaknya sukses bikin kamu ragu soal Ethan.” Tebak Gayatri. Terkekeh setelahnya. “Dan aku setuju,” imbuhnya mantap.
Ia bergeming. Memang suasana hatinya sedang kacau. Ia sendiri pun tidak tahu penyebabnya.
Tiba di kamar ia langsung merebahkan tubuhnya. Menatap jam yang menggantung di dinding ber-wallpaper gradasi dan kupu-kupu. Pukul 7 malam, artinya di Jakarta baru jam 3 sore. Apa meeting itu belum selesai?
“Mala,” suara Gayatri terdengar di balik pintu. “Ethan, telepon.”
Ia bangkit, membuka pintu kamarnya. “Ethan,” ucap Gayatri tanpa bersuara sambil membawa ganggang telepon.
Ia berdehem, “Ya,” sahutnya.
“Thank god you’re here. I miss you so much, Babe.”
“Can we meet?”
“So sorry, Ethan. I’m burn out (kecapean). Ehm ....”
“Okay, I’m getting. Take a good rest. See you tomorrow. Bye ... I love you,”
Ia terpaku. Gemuruh dadanya yang dulu ia rasakan saat Ethan mengucapkan cinta mengapa kini terasa beda. Bahkan ia merasa ... ia menghela napas dalam.
“Kenapa? Masih galau?” sergah Gayatri yang muncul dari kamarnya.
“Ethan, Nasty, Ethan, Nasty ....” Gayatri mengejek dan terkekeh. Sementara ia hanya bisa memberengut kesal. Lalu duduk di kursi meja makan.
Gayatri sibuk mengeluarkan oleh-oleh dari mama.
“Wow!” pekik Gayatri ketika menemukan harta karun, “rendang, sambal ati ampela, sambal pecel, bumbu rawon, sambal terasi, dendeng, abon ....” semua makanan membuat kakaknya itu menarik air liurnya—ngeces. “Feel at home,” imbuhnya.
Semenjak ia kuliah kembali ke sini memang asisten rumah tangga yang dulu dikirim mama ditarik ke Surabaya. Dengan alasan mereka sudah dewasa, bisa hidup mandiri dan belajar mandiri.
Suara dering telepon kembali berbunyi, ia langsung menyahut, “Kalau dari Ethan, bilang aku sudah tidur, Kak.”
Gayatri mengangguk, “Halo,”
“Assalamu'alaikum ... Mala sudah sampai, Sayang?”
“Wa'alaikumsalam. Sudah, Ma. Nih, orangnya di depan lagi galau,”
Ia langsung melotot mendengar kakaknya mengadu.
“Hahaha,” Gayatri tertawa bahkan nasi rendang sampai menyembur.
Ia mendesis.
“Syukurlah, Mala sudah sampai. Kamu sendiri gimana sama Richard?”
Gayatri langsung terdiam. Gurat mukanya berubah. Nasi rendang masih menyumpal mulutnya.
“Gay,” panggil mama.
“I-iya, Ma.”
“Kalau memang, Richard serius sesuai kesepakatan dulu waktu lamaran, 2 bulan lagi kalian menikah. Harusnya dari sekarang dipikirkan. Jangan mendadak.”
Ia ikut menatap kakaknya itu.
“Nanti aja, ya, Ma. Kita bahas lagi. Aku lagi makan rendang nih, kangen banget masakan Mama,” elak Gayatri.
“Pokoknya kalian harus bicarakan soal ini. Jangan diundur-undur lagi. Pernikahan itu bagus disegerakan. Mama takut kalian tuh anak cewek. Jauh dari Mama ....” Dan mama memberikan petuah yang panjang dan bijaknya. Ia ikut menelinga.
Gayatri tersenyum kecut ketika panggilan dari mama usai. Meneruskan makan. Sama sekali tak mengidahkan dirinya yang menatap curiga.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏