If Only You

If Only You
27. Hanya Ada Kamu dan Aku



...27. Hanya Ada Kamu dan Aku...


Garuda


Gugusan gemintang menghias gelapnya angkasa. Malam ini cuacanya sangat cerah. Ia memutuskan mengajak Mala menyusuri Sungai Yarra. Sungai yang mengalir membelah pusat kota Melbourne dan bermuara di Teluk Port Philip, di mana terletak pelabuhan tersibuk di Melbourne.


Di kanan kiri terdapat pedestrian bagi pejalan kaki sepanjang sungai. Ramai orang berlalu lalang. Sebagian memilih duduk-duduk santai sambil menikmati kudapan dan gemerlap lampu yang terbenam oleh aliran, sehingga tampak kilau menawan.


Ia memilih membawa Gemala masuk dalam Yarra cruise.


Dengan Yarra cruise, keduanya menyusuri sungai yang terkenal di Melbourne tersebut. Sementara gadis itu menunjuk satu persatu nama gedung-gedung yang mereka lewati. Di mulai sisi sebelah kiri gereja Chathedral, seberangnya gedung pertunjukan kesenian. Hingga mereka melewati salah satu jembatan tertua yang berdiri di atas sungai Yarra.


“Princes bridge, dibangun tahun 1888. Masih kokoh sampai sekarang,” terang Mala menunjuk jembatan penghubung kawasan Southbank dengan Flinders street. Jelas, Mala bertahun-tahun lebih lama tinggal di sini dibanding dirinya sehingga hafal seluk beluk kota ini. Gadis itu merogoh ponselnya lalu mengambil gambar jembatan iconic Yarra river.


Dengan penerang dari cahaya lampu yang menghias dan lampu sorot sekitarnya, jembatan itu terlihat lebih cantik.


Yarra cruise terus berjalan perlahan. Angin sepoi-sepoi membuai malam. Begitu juga rambut gadis itu terkibar-kibar terkena sapuannya. Mala masih berdiri di ujung kapal. Begitu menikmati pemandangan kanan dan kiri yang tersaji.


Ia mendekat, menyampirkan jaketnya pada punggung gadis itu, “Dingin,” ucapnya. Mala menoleh padanya sesaat, “Thanks,” sahutnya dengan mengulas senyum.


“Kalau kamu diberi pilihan, Indonesia atau Melbourne. Kamu pilih mana?” tanyanya berdiri di sebelah Mala.


Mala mengangkat bahu, bukan pilihan sebenarnya. Karena menurutnya, “Indonesia dan Melbourne punya tempat tersendiri buatku. Sama-sama spesial.”


“Bahkan di umurmu sekarang, kamu lebih banyak menghabiskannya di kota ini.” Mala mengangguk. “Apa kamu tidak ada rencana untuk tinggal di Indonesia?”


Hening menjeda. Deru suara mesin kapal perlahan menyibak air sungai yang alirannya begitu tenang. Jernih dan bersih. Apalagi saat siang hari air tampak berwarna kebiruan. Benar-benar bebas polusi.


“Apa tidak ada seseorang yang membuatmu spesial untuk tinggal di Indonesia?”


Mala masih terdiam. Mengetatkan jaket pemberiannya.


“Dua tahun lagi, mungkin?” ia menukas seraya memasukkan kedua tangan di sakunya. Menatap kelamnya air yang berkilauan akibat bias lampu dari atas.


“Aku belum memikirkannya sampai situ. Paling tidak untuk 1,5 tahun ke depan. Setelah itu,” Mala menggeleng, “belum tahu. Tapi menjadi seorang antropolog merupakan keinginanku sejak kecil.”


Ia menghela napas. Mengeluarkan tangan kiri dari sakunya.


“Manusia diberi kesempatan hidup. Untuk memulai perencanaan. Melakukannya. Membuatnya menjadi kenyataan. Jika hanya berserah, just go with the flow ... sama saja menyerah dan menerima takdir begitu saja. Padahal ada hal-hal yang perlu kita perjuangkan, kita raih. Ada barang ada harga ... ada usaha tentu tidak akan menghianati hasil, bukan?” Urainya. Beda dengan dirinya yang penuh perencanaan, perhitungan dan tentu saja ia suka tantangan untuk mengasah kemampuannya.


Kapal melewati kawasan Royal park. Yang tidak jauh dari Melbourne Crikcet Ground. Banyak fasilitas olahraga tersedia di sana.


Perlahan ia meraih tangan kanan gadis itu. Digenggamnya. Rasanya dingin. Ia semakin mempererat genggamannya.


“Buatlah perencanaan 1,5 tahun ke depan. Sebelum aku memintamu kembali ke Indonesia,” mereka masih menatap ke depan. Dengan kedua tangan yang masih bertaut.


“Ru,"


Jeda sejenak. Gadis itu terdiam.


“Selama 1,5 tahun kamu bebas mau melakukan apa pun. Tapi setelah itu ... kita buat masa depan. Masa depan hanya ada kamu dan aku.”


Mala melihat pertautan tangan mereka. Kemudian mendongak menatapnya.


“Aku akan menunggu waktu itu,” tukas gadis itu lirih.


...***...


Gemala


Malam ini ia tidak bisa tidur. Bayangan Ru selalu melintasi benaknya.


“1,5 tahun ....” Ia bergumam. Lalu meraba bibirnya.


Detak jantungnya berdegup begitu kencang saat Ru menariknya dalam dekapan. Ru mendekapnya erat. Bahkan ia bisa merasakan irama jantung laki-laki itu. Apakah Ru juga merasakan apa yang dirasakannya?


“Cuma kamu yang ada dalam hatiku,” bisik Ru.


“Aku akan memintamu setelah 1,5 tahun. Aku janji.”


Ia mengangguk. Lalu keduanya mengurai pelukan. Saling memandang penuh lekat. Laki-laki itu mengusap pipinya pelan. Dan mencium bibirnya penuh kelembutan.


Rasanya saat itu aliran darah yang dipompa jantungnya berhenti seketika. Ia memaku sekaligus membeku. Tapi buncah bahagia menyelimuti hatinya. Menghadirkan  pancaran rona kemerahan di wajahnya. Ia bahagia.


Mengapa perasaan ini baru muncul. Untuk laki-laki itu. Dulu saat bersama Ethan ia tidak pernah merasakan seperti ini. Apakah ini bukti bahwa ia benar-benar jatuh cinta dengan Garu?


Ia menggeleng.


Lalu membenamkan wajahnya ke bantal. Berharap mimpi yang indah. Mimpi tentang dia. Tentang mimpi-mimpi yang akan dibangunnya bersamanya. Aku akan menunggu waktu itu.


...***...


Garuda


Pagi sekali ia ke rumah Mala. Bahkan saat bola raksasa itu belum muncul dari peraduannya.


Seorang wanita yang membukakan pintu. Mempersilakan masuk. Tapi ia izin membangunkan Mala di kamarnya.


“Dia susah dibangunin. Kalau tidur kayak orang pingsan,” Ganisha mengantarkan sampai depan pintu kamar Mala.


“Tapi, dia pakai—” ragu mengatakan kelanjutannya. Sebab ia pernah melihat teman-teman wanitanya kalau tidur setengah telanjang. Bahkan berpakaian seksi. Itu tidak baik, tentu buat penglihatannya dan ... ah, gadis itu menggunakan tankini saja saat berenang sangat menyiksa raganya. Apalagi kalau ....


Ganisha terkekeh. “Kamu belum tahu Mala. Dia itu anak yang paling polos. Paling sopan. Paling penurut. Paling lurus. Pokoknya dia masih di jalurnya,” Ganisha menepuk pundaknya. “Tapi,” jeda sesaat, “susah dibangunin. Itu kelebihan yang tidak kami punyai.” Ganisha meninggalkannya.


“Kamu udah sarapan, Ru?” teriak Ganisha dari dapur.


Ia menggeleng.


“Oke, aku buatkan sarapan untuk kita.” Tandas wanita yang ramah menyambutnya.


Awalnya Ganisha menatapnya lama ketika membukakan pintu tadi. Bahkan ternganga, “Kamu?”


Ia tersenyum.


“Bukankah kamu ... kamu yang di-vicol waktu itu. Ehm, si ... Garuda 5 ila ... ya itu namamu, kan?”


Ia meringis. Mengusap kepala belakangnya. Namanya benar-benar kutukan. Apalagi nama kontaknya di ponsel Gemala yang bikin geli orang lain baca. Habis ini ia akan mengubah namanya di daftar kontak ponsel gadis itu. Protesnya dalam hati.


“Garu,” ia menyodorkan tangannya. “Nama saya, Garu. Panggil aja, Ru.”


Ganisha menyambutnya, “Nisha. Ganisha. Kakaknya Mala. Ayo masuk.”


Ia melihat gadis itu tidur memeluk guling. Dengan pakaian tidur yang sopan. Benar kata Ganisha. Ia melihat isi kamar Mala. Mulai pemilihan warna dinding dan wallpaper. Penataannya. Semua rapi dan pas. Seleranya boleh juga. Lalu matanya menangkap bunga tulip merah di atas meja yang disimpan dalam wadah kaca berisi air. Bibirnya melengkung ke atas.


Perlahan ia mendekat dan mendudukkan diri di tepi ranjang. Menyibak rambut gadis itu dan menyelipkan ke belakang telinganya.


“I’ve fallen for you,”


“There is no other (tidak ada yang lainnya lagi).”


“Mala, wake up ... ayo bangun,” ia menepuk pelan pipi gadis itu.


“Mala ....” Gadis itu tak bergerak sama sekali. Benar, tidurnya seperti orang pingsan.


Ia menepuk lengan Mala, “Mala. Kamu dengar. Aku sudah di sini. Di kamar kamu. Ayo bangun,”


Tetap saja gadis itu bergeming. Ia meraih ponsel Gemala yang berada di atas nakas. Mengotak-atik layarnya yang memang bebas tanpa pengaman, “Ceroboh. Kenapa gak pakai kode akses. Gimana kalau dicuri. Jatuh dan ditemukan orang. Mudah saja mengakses yang lain.” Omelnya lalu menyimpan kembali di atas nakas.


Ia menghela napas. Berpikir mencari cara. Wajahnya didekatkan pada sisi wajah gadis yang tidur miring itu. Lalu berucap perlahan, “Kamu tahu ... time is money buatku. Waktu itu sangat berharga. Kalau kamu tidak bangun sekarang juga. Aku yakin kamu tidak akan melihat aku pergi hari ini. Mal, aku hitung sampai 5. Five, four, three ...,” ia melipat kening. Belum bergerak juga. “..., two.”


“Hem,”


“Ayo bangun.”


“Ini masih pagi. Tadi aku udah solat. Jadi bisa melanjutkan mimpi,” gadis itu berucap dengan mata terpejam.


“Mimpi?”


“Hem,”


“Mimpi apa?”


“Mimpi bersama laki-laki yang aku cinta, Kak,”


“Siapa?”


Gadis itu tersenyum. Aneh pikirnya ini ngelindur apa sadar? Ia melipat bibir menahan senyum 'laki-laki yang aku cinta', bukankah itu dirinya?


“Dia ... dia si nasty. Tapi,” tangan Mala meraih lehernya. Spontan wajahnya terjerembap menempel di pipi gadis itu.


“Kok kamu di sini?” tanya Mala mendorong wajahnya.


Ia mengulum senyum. Lalu memasang wajah kesal, “Kamu tidur apa pingsan? Dibangunin susah. Aku sampai capek tahu. Pegel.” Ia pura-pura menggeliat dan meregangkan ototnya.


“Siapa yang bolehin kamu masuk?”


“Aku?”


“Iya, kamu satu-satunya laki-laki selain papa yang masuk ke kamar ini. Jadi kamu masuk tanpa izin.” Gadis itu beringsut dan menyender di kepala ranjang.


“Aku,”


Terdengar pintu dibuka. “Kakak yang ngizinin, Mal. Benar, kan, Ru dia susah dibangunin.”


“Udah, yuk. Sarapan sudah siap. Siren sama Juna juga sudah nungguin.” Ganisha kembali menutup pintu.


Mereka saling berpandangan.


“Kamu akan tetap di sini?”


“Kalau diizinkan,” sahutnya santai sambil rebahan.


Mala memelotot dan menggembungkan pipinya—kesal. Kemudian meraih bantal dan mengusirnya.


Ia tergelak, bangkit dan perlahan meninggalkan kamar gadis itu. Namun sebelum menutup pintu, “10 menit, aku tunggu di luar.”


What?!


Nyatanya gadis itu memang tepat waktu. Meski air mukanya ditekuk dan menyisakan gurat kekesalan. Tapi justru membuatnya kian mengulum senyum kemenangan.


Pagi itu ia merasakan keluarga Mala yang begitu hangat. Sayangnya, ia tidak sempat berkenalan dengan orang tua gadis itu. Tapi ia bisa menebak. Dari keramahan Ganisha dan Gayatri. Pasti mama-papa Gemala juga tak jauh beda. Ah, seandainya ia juga memiliki keluarga utuh seperti mereka. Papi, ibu, dirinya. Tapi tidak mungkin. Bukankah ia punya mami. Punya Maleo, dan juga Atat.


Bug ... bug ... bug


Sebuah bola basket terlempar ke arahnya. Ia sigap menangkap saat berdiri di teras belakang.


“Om, bisa main basket?” tanya Juna.


Ia mengangguk.


“Kita main. Kalau Om menang, Om boleh dekat sama auntie. Tapi kalau kalah,” alis bocah laki-laki itu naik sebelah. “Masih ada ujian lagi yang harus Om lewati.”


Hah! Gila. Tidak salah dengar telinganya. Apa dia bilang? Syarat. Pakai syarat? Ia pikir keluarga Gemala menyambutnya ramah. Ternyata bocah tengil ini sama gadis kecil adiknya itu lebih menyeramkan. Memproteksi Gemala dengan sebegitunya.


Ia mengembuskan napas, “Oke.” Sahutnya sebagai tanda kesepakatan. Seraya membuka kancing kemejanya. Menanggalkannya di kursi. Ia hanya memakai kaos putih dan celana pendek selutut model denim short.


Juna membuka permainan. Bola di dribble dengan cara menyilang.


Bug ... bug ... bug ... jump shoot ... prang!


Juna menggeleng. Bola tidak masuk dalam ring.


Ia mendapat kesempatan. Mengecoh Juna dengan dribble crossover. Tapi ternyata di luar perkiraan, Juna mampu merebut bola.


Juna mengejek dengan mengacungkan jempol ke bawah.


Ia menggeleng.


Bug ... bug ... bug ... prang!


Juna bertepuk tangan. Bola masuk ke dalam ring.


Ia berkacak pinggang. Napasnya mulai terengah-engah. Matahari juga sudah mulai meninggi. Peluh mulai membasahi seluruh tubuh.


Bug ... bug ... bug ... prang!


Masuk lagi.


Ia mulai panas. Belum mendapatkan poin sama sekali. Sekarang gilirannya. Menggiring bola.


Bug ... bug ... bug ... prang!


Gagal masuk ring. Tapi dengan cepat ia rebound. Meski Juna mem-block, tapi ia mampu lolos dengan shoot satu tangan sambil melompat


Ia tersenyum. Lalu tangannya tengadah-bisa lihat, kan? Juna menggeleng.


Tak patah arang. Ia kembali mampu merebut bola. Kali ini, dengan teknik slam dunk. Dan ... prang! Sempurna. Bola mulus melewati ring. Senyumnya kian terkembang.


Bug ... bug ... bug ... ia mampu merebut kembali bola dari Juna. Dan shoot ... prang.


“Yes!” Pekiknya senang.


“The last,” ucapnya. Sambil men-dribble bola dari kejauhan. Lalu ... prang. Lagi, lagi ia melakukan slam dunk.


Ciamik!


Juna hanya terperangah. Menatapnya penuh kekaguman.


“Om, menang.” Seringainya puas.


Juna mengangguk. Melakukan adu jotos, “Oke. Om boleh dekat sama auntie, tapi awas jangan buat auntie sedih.” Pesan bocah kecil itu.


Ia membalas dengan senyum, mengusap kepala bocah 10 tahun tersebut yang berlalu meninggalkannya.


Ia duduk di anak tangga teras. Napasnya masih memburu. Mengusap peluh yang masih mengucur. Mala mengangsurkan sebuah handuk, “Juna memang gitu. Tapi sebenarnya dia baik dan ramah sama semua orang.”


Ia meraih handuk tersebut. Mengusap peluh di wajah, leher dan tangannya.


Mala ikut duduk di sebelahnya. “Kamu jadi berkeringat. Padahal sebentar lagi harus balik ke Jakarta.”


Ia menggeleng, “It’s okay. Aku suka gaya Juna.”


Gadis itu tergelak, “Percis kayak kamu. Waktu awal-awal kita kenal. Gaya sengak, nasty, bossy dan sassy.” Cibirnya.


Ia berdecak.


Gemala semakin tak tahan menahan tawanya.


“Sudah puas!” sungutnya. Mala menghentikan tawanya sambil mengangguk.


“Aku gak tahu lagi kapan bisa kesini. Gak tahu juga kapan bisa menemui kamu seperti saat ini. Tapi aku janji,” ia meraih tangan Mala. “Akan membawamu pulang ke Indonesia. Saat di waktu yang sudah aku janjikan. Sekarang ... kita menikmati seperti ini. Menikmati hari-hari yang mungkin akan terasa lama dan menyiksa. Tapi percayalah, kita akan memetik kebahagiaan nantinya. Kamu mau, kan?”


Mala mengangguk menyunggingkan senyum.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏