
...53. Morning Surabaya!...
Surabaya
Semburat bola raksasa dunia menanggalkan jejak kemerahan mulai melukis cakrawala. Tetesan embun perlahan bergulir di ujung daun mengalir sesuai gravitasi.
Rumput masih basah tampak berkilauan. Namun ART (Asisten Rumah Tangga) sudah sibuk berbenah membersihkan rumah 2 lantai bercat putih tersebut.
Gadis itu menggeliat. Matanya perlahan terbuka. “Morning Surabaya!” gumamnya dengan bibir yang mengembang. Rasanya ia masih belum percaya. Kembali ke rumah masa kecil yang penuh kenangan.
Setelah dihempas oleh harapan. Kini ia diterbangkan lagi oleh mimpi. Dan yang pasti mimpi inilah yang membuatnya kembali ke sini.
Ia membuka gorden kamarnya lebar-lebar. Tampak Sri tengah membersihkan area kolam renang. Tak membuang waktu ia lekas masuk kamar mandi.
Terlihat mama sedang membuat sarapan di dapur. Ia mengendap-endap seperti maling. Bahkan memberi kode pada Bi Ema yang melihatnya dengan memberi telunjuk di depan bibirnya. Sembari menahan senyum.
Memeluk mama dari belakang, “Miss you,” ucapnya sambil mencium pipi mama.
“Astaghfirullah ...,” Mama menjengit seraya mengelus dada. “Jantungan Mama, Mal ... iih, kamu ini ngagetin.” Mama berbalik dengan air muka kesal. Tapi sepersekian detik, “kok gak bilang mau pulang? Jam berapa sampai? Sama siapa? Kok gak minta jemput? Pake pesawat apa?” bla bla bla sederet kalimat masih meluncur dari bibir mama.
Ia yang menyandar meja dapur hanya menggeleng. “Satu-satu Mama ...,” mencomot tempe mendoan di piring. Memasukkan dalam mulutnya.
Bi Ema yang berada di sana ikut tertawa.
“Sehat, Bi?” tanyanya.
“Alhamdulillah, Mbak Mala. Mbak Mala sendiri gimana?” tanya Bi Ema melanjutkan pekerjaan mama memotong-motong sayuran.
“Aku sehat, Bi. Alhamdulillah.”
Ia merangkul mama yang berjalan ke meja makan. Mama membawa sepiring tempe mendoan. Menyimpan di atas meja.
“Papa mana, Ma? Tumben jam segini belum keluar kamar?” tanyanya ikut menggeret kursi dan duduk di sebelah mama. Semenjak papa pensiun di dunia politik. Murni sekarang kegiatannya mengurus usaha keluarga dan momong cucu.
“Papa di Jember udah dari kemarin,” sahut mama.
“Ya ... gak ketemu donk.” Raut mukanya berubah kecewa.
“Susul saja ke sana. Katanya sama Om Bagas,” tutur mama.
Bi Ema datang membawa nasi goreng dan telur dadar. Sarapan sederhana tapi membuatnya kangen. Nasi goreng buatan mama.
Ia menyendok nasi goreng. Mama mengambilkan telur dadar dan meletakkan di piringnya.
“Lama gak, Ma?”
Mama mengerutkan dahi, “Kamu ada perlu sama Papa?”
Ia mengangguk. Sembari mengunyah nasi goreng dalam mulutnya.
“Papa ditawari jadi dubes di Aussie.”
“Oya?”
“Makanya papa lagi galau. Antara diterima atau gak?”
“Kenapa galau?”
“Tahu sendiri papa kamu. Semenjak berhenti dari politik. Gak mau lagi nyemplung ke sana. Banyak godaan, Mal.”
Benar juga kata mama. Dunia politik memang kejam. Kawan bisa jadi lawan. Lawan bisa jadi kawan. Dalam kurun waktu singkat. Semua karena kepentingan.
Ia pun mengalami imbas. Diungsikan ke Melbourne. Hidup jauh dari orang tua di perantauan.
Kalau tidak. Mungkin keluarganya menjadi konsumsi publik. Apalagi masa-masa kampanye. Semua data diri pribadi dan keluarga dikulik habis bak ditelanjangi di muka umum. Itulah yang ingin dihindari papa. Menyelamatkan keluarganya. Dan alasan-alasan lain yang baru ia mengerti sekarang. Kalau dulu ia hanya bisa protes.
Kasus yang menimpa Papi Garu juga menyeret papa. Semenjak ia tahu dari Gayatri. Ia mencari tahu lewat dunia maya. Kejadian itu adalah awal-awal papa menjabat gubernur.
Sempat nama papa dicatut salah satu tersangka. Bersyukur, tidak ada bukti yang kuat. Sehingga papa hanya berstatus saksi. Memang papa tidak terlibat. Hanya kebetulan berada dalam pusaran kasus tersebut.
Tipis. Antara diskresi dan penyalahgunaan wewenang. Banyak pejabat yang kebijakannya terkadang ambigu. Sehingga jika jajarannya tidak paham, bisa dimanfaatkan pihak yang berkepentingan dan pada akhirnya bisa menyeretnya ke meja hijau.
“Mal,”
“Eh ... iya, Ma.” Suara mama menyadarkannya dari pikirannya yang tadi mengembara tentang papa.
Ia menghela, “Jadi papa gak terima tawaran itu?”
“Papa belum mutuskan. Diberi waktu dua minggu.” Mama menyudahi makannya, “kamu sendiri gimana? Katanya sudah selesai tinggal wisuda?”
“Iya, Ma.”
Mama menukas, “Syukurlah. Anak-anak Mama sudah berhasil sekolahnya. Sekarang kalau kamu mau kerja, atau mau lanjutin sekolah lagi terserah kamu. Tapi kalau Mama boleh kasih saran. Mending kerja dulu deh. Eh ... itu ada teman Papa di Jakarta butuh staf di perusahaannya. Kali saja cocok, Mal. Jadi public affairs specialist. Kayakya cocok sama kamu dan jurusan kamu, Mal. Coba saja dulu,” usul Mama bersemangat menatapnya.
Ia meringis, “Nanti deh, Ma. Mala pengen istirahat dulu. Mala pengen nikmati liburan.”
“Terserah kamu deh ... tapi jangan keblabasan.”
“Don’t worry Ma,” ia menjeda. “Ma,” sambungnya.
Mama yang hendak bangkit jadi urung.
“Nanti ada yang mau ke sini. Sebenarnya mau ketemu papa juga. Tapi karena papa gak ada, jadi sama Mama dulu.”
Kening Mama melipat, “Siapa?”
“Namanya Garuda. Dia ....”
Mama menyahut, “Namanya lucu, kayak lambang negara kita,” mama terkekeh ringan.
Lucu?
“Maksud kamu. Dia mau melamar kamu?”
Kok tebakan mama tepat? Apa mama punya ilmu nujum?
Mama tersenyum, “Kalian tuh. Gak kamu, gak Gayatri sama saja. Bilang mau dilamar tiba-tiba, padahal kita belum kenal bibit, bebet dan bobotnya ... lihat kakakmu ... jadinya,” mama menghela napas. Mungkin masih kecewa dengan putusnya pertunangan Gayatri dan Richard.
“Belum, Ma. Hanya perkenalan. Lagian Mama dan Papa belum kenal sama dia,” koreksinya. Toh, memang tahap perkenalan dulu. Setelah itu baru menapaki fase selanjutnya. Harapannya sih, seperti itu.
Menjelang siang Garuda datang. Ia menyambut di depan pintu. Memberikan senyum terbaiknya.
“Om Garuda!” seru Siren yang menyembul dari balik tubuhnya.
Laki-laki itu melambaikan tangan, “Hai ...,” membalas dengan mengulas senyum bersamaan dengan Ganisha dan mama yang keluar.
“Hai, Ru,” Ganisha mengulurkan tangan dan lekas disambut Garu. “Masuk, yuk,” ajaknya.
“Ma, ini ...,” ia memperkenalkan laki-laki itu.
Garuda menimpali, “Saya Garuda, Tante.” Mengulurkan tangan dan langsung di sambut mama, “saya Larasati. Mama Mala.”
Mereka masuk dan duduk di ruang tamu.
“Om Garuda, makasih ya ... Om, bawa auntie pulang. Kata auntie di sana lagi autumn, jadi auntie menempati janji.” Gadis kecil itu mencerocos dan membuat suasana di ruangan luas tersebut ramai.
Sementara mama masih terlihat kebingungan.
“Kami udah kenal, Ma.” Ganisha menyergah, “dulu waktu kita liburan di Melbourne pernah ketemu. Kemarin juga sempat ketemu lagi di Plaza.”
Garu tampak salah tingkah begitu juga dirinya.
“Hush ... Siren ke belakang dulu, ya. Main sama Mbak Tuti.” Ganisha beranjak membawa anaknya. Bisa kacau jika Siren terus berada di sana.
Tak lama ia pun menyusul, meninggalkan Garu dan mama. Memberi ruang dan waktu untuk mereka saling mengenal. Meski ada sejumput kekhawatiran. Tapi ia tahu sang mama adalah ibu yang protektif namun tetap bijak terhadap anak-anaknya.
Bagaimana mama selalu mewanti-wanti anak-anak. Yang notabene semua perempuan. Kata mama menjaga anak perempuan itu ibarat menggenggam telur mentah. Jika digenggam terlalu kuat maka telur akan pecah. Sebaliknya, jika genggaman tidak baik maka telur mudah lepas atau jatuh. Sama-sama berakhir pecah.
Dekadensi moral menjadi latar belakang kekhawatiran mama. Mengirimnya ke Melbourne juga menjadi satu di antara alasan lainnya. Bahkan Gayatri yang selengekan seperti itu masih memegang teguh prinsip. Bahwa kesucian seorang wanita hanya diserahkan pada suaminya kelak. Itu harga mutlak ajaran mama.
“Mal,” Ganisha menghampirinya di dapur yang tengah memotong kue lapis surabaya. “Kalian serius?” tanyanya.
Ia mengangguk.
Kakak pertamanya itu menepuk pundaknya, “Abaikan omongan orang lain. Fokus sama hubungan kalian. Kalau kalian serius, aku dukung.”
Bibirnya terkembang. Setidaknya kakaknya mendukung keputusannya. Meski ... ya, ia juga harus siap dengan semuanya.
Samar-sama ia mendengar percakapan mama dan Ru. Entah apa yang dibicarakan keduanya. Tapi di sela-sela itu terdengar tawa. Sesantai itu? Kelegaan sedikit timbul menyembul.
Pertemuan itu diakhiri dengan makan siang bersama. Ia mengantarkan laki-laki itu hingga teras depan.
“Aku nanti menyusul ke Jember. Hari ini aku harus balik ke Jakarta ada banyak pekerjaan,” ujar Garu. “Sampai ketemu di sana,” lanjutnya seraya mengusap pelan kepalanya.
Ia tersenyum semringah. Mendapat kode bahwa mama menyambut Ru dengan baik. Kabar yang menggembirakan bukan?
...***...
... ...
Sore itu ia menemani Siren dan Juna yang tengah les berenang di belakang rumah.
“Auntie ... ayo turun.” Siren berulang kali mengajaknya turun ke kolam.
Ia menggeleng, “Auntie lagi gak boleh berenang,” sahutnya. Ia tengah mendapat tamu bulanan. Bisa-bisa air kolam menjadi merah darah.
Namun gadis itu tetap belum mengerti dan paham, “Ayolah, Un. Temani Siren,” pintanya memelas. Anak itu cerewetnya bukan main. Padahal sudah diberi pengertian bahwa ia sedang mendapat tamu bulanan.
“Apa itu?” kata Siren.
“Haid,” balasnya.
“Apa haid?”
“Keluar darah?” balasnya lagi.
“Auntie berdarah? Mana coba. Lihat, lihat ... aku mau lihat.”
Hem, rasanya susah memberi pengertian pada anak umur 5 tahun. Yang punya rasa keingintahuan begitu besar. Akhirnya ia menyerah, “Nanti tanya sama mama aja, ya.” Jurus andalannya. Hehehe.
Mama datang bersama Bi Ema yang membawa minuman jus jeruk beserta camilan anak-anak. Meski Ganisha tidak tinggal di rumah ini. Tapi setiap hari Juna dan Siren datang menyambangi.
Kesibukan Ganisha dan suaminya sedikit banyak tertolong. Bisa menitipkan anak-anak pada sang mama.
Mama duduk di lounger. Ia yang tadinya duduk di bagian ujung jadi merebahkan tubuhnya. Berbantal paha mama.
Entah berapa kali momen seperti ini terjadi. Mungkin bisa dihitung dengan jari. Sebab keberadaannya yang jauh di negeri orang tidak memungkinkan bermanja-manja dengan mama.
“Bagaimana, Ma?” tanyanya. Setelah Garuda pulang tadi siang ia belum mendengar tanggapan mama mengenai laki-laki itu.
Tangan mama menyugar rambutnya. Lalu menatap Siren dan Juna yang latihan menggunakan teknik gaya punggung.
“Kamu yakin, Mal?” tanya mama tersirat sedikit kekhawatiran.
“Kamu yakin dengan pilihan kamu?” tanya mama lagi.
Ia mengangguk perlahan.
“Dulu Mama juga bertanya begini dengan Gayatri. Waktu itu kakakmu menjawab mantap. Tapi,”
Ia menyergah, “Ma,” sambil meraih tangan mama yang masih menyugar rambutnya. Ia menatap wajah mama dari bawah.
“Kamu siap apa resikonya?”
Ia mengangguk lagi.
“Setiap saat kamu bisa di bully. Bukan hanya orang lain. Tapi bisa jadi keluarga terdekat kita. Kamu siap untuk itu?”
“Mama takut mereka mencemooh kita?” tukasnya.
Mama tampak sendu, “Mama,” lidahnya terasa sulit melafalkan. Seorang ibu pasti lebih mementingkan kebahagiaan anaknya. Apa pun akan dilakukan. Tapi, bagaimanapun mereka punya keluarga besar. Mereka tidak bisa abai begitu saja. Bahkan bagaimana perasaan Bagas dan Anita serta anak dan menantunya itu. Jikalau anak ....
Larasati juga mengikuti jalannya kasus yang menghebohkan publik itu. Bahkan suaminya dipanggil beberapa kali menjadi saksi baik pada saat penyelidikan di kepolisian maupun di pengadilan.
Meski pertemuan dengan Garuda sedikit membuka mata hatinya bahwa laki-laki yang mencintai anaknya itu bilang, “Saya menyukai Mala, Tante. Saya serius dengannya. Bahkan saya siap menikahinya.”
“Maaf jika, saya dan papi saya akan mencoreng keluarga Tante. Papi saya punya skandal. Bahkan berhubungan dengan keluarga Tante. Saya minta maaf. Seandainya saya diberi kesempatan dan restu. Saya janji akan membahagiakannya.”
Laki-laki itu berbicara dengan keyakinan yang kuat. Ia bisa melihat dan merasakannya. Beda pada saat Richard datang meminta Gayatri.
“Ma,” ia kembali meraih tangan mama. “Kalau Mama malu punya calon menantu seperti Garuda. Mama—”
“Bukan malu,” potong mama. “Tapi, Mama memikirkan kamu.”
“Aku baik-baik saja, Ma. Aku tidak peduli mereka mengatai apa pun nanti. Papinya Garu juga sudah mendapat hukuman dari perbuatannya. Lantas apa kita akan terus menghujatnya? Sampai kapan? Kita pantas memberikan kesempatan, bukan?” urainya. Ia sudah mendengar dan menyaksikan potongan-potongan video yang beredar selama persidangan Torrid. Meski tidak seutuhnya.
Mama mengulas senyum, “Mama serahkan sama kamu."
Ia bangkit dan langsung merengkuh mama. “Makasih, Ma ... I love you,”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏