
...71. Suri (bukan) Teladan...
Jakarta
Sore harinya saat bola raksasa mulai melandai di kaki barat. Mala dan Ru menyudahi kegiatan berenangnya.
Eeiiit ... bukan berenang di kolam renang belakang resort yang langsung bisa melihat pemandangan laut terhampar. Sebab berulang kali ia memprotes ‘malu’. Kendatipun embel-embel private island tapi, tetap saja area terbuka.
Jangan-jangan ... ada orang nyasar bagaimana?
Jangan-jangan ... ada yang candid foto dari kejauhan.
Atau ....
Orang lewat.
Bukan ide bagus. Beda saat mereka melakukannya di rooftop apartemen. Yang punya 1 akses menuju ke sana. Sekelilingnya terlindungi pagar.
Sementara ini.
Astaga!
Mengingat itu ia benar-benar malu bukan main. Meja makan panjang bergaya rustic terbuat dari kayu jati menjadi tempat selanjutnya.
Garuda membuktikan ucapannya.
Ups!
“Hon,” Ru menghampirinya. Melepas scuba diving mask (kaca mata dan alat bantu pernapasan).
Ia masih duduk di pinggir pantai. Mengenakan full wetsuit long-sleeve (baju penyelam) dengan celana selutut.
“Come on,” laki-laki itu mengulurkan tangannya.
Ia berdiri menyambut tangan Garuda.
Mereka berjalan agak ke tengah. Memakai kembali scuba diving mask. Kali ini punyanya dilengkapi tripod mount sport camera. Bisa merekam setiap kejadian dan semua peristiwa yang tertangkap kamera di bawah laut.
Bibirnya terkembang merekah sempurna. Manakala menemukan ikan pertama kali tertangkap indra penglihatannya.
Clown fish.
Atau ikan Nemo yang terkenal itu. Tidak hanya satu. Melainkan banyak. Bahkan tidak hanya berwarna oranye. Tapi juga hitam.
Garuda berusaha mendekatinya. Namun ikan-ikan tersebut berenang menjauh.
Laki-laki itu menarik tangannya untuk mengikutinya. Membawanya menyusuri terumbu karang.
Indah.
Satu kata yang pantas disematkan.
Amazing.
Kata lain yang cocok mewakili atas penyajian karya penciptaan tiada bandingannya.
Ru menunjuk sesuatu di balik karang. Sepertinya ikan. Namun punya tubuh yang mirip karang. Bahkan jika tidak jeli mata kita akan tertipu. Sebab bentuk dan warna benar-benar mirip batu karang.
Robust ghost pipe fish namanya. Sangat pintar menipu mangsa. Menyerupai terumbu karang guna menghindar dari predator yang memangsanya.
Hampir 30 menit keduanya meng-explore keindahan biota bawah laut. Berbagai aneka ragam hayati tersaji cantik.
Turtle si reptil yang punya cangkang menggemaskan dipegang Garu. Keempat kaki dan kepalanya langsung bersembunyi menghindar di balik rumahnya. Malu-malu.
Lalu stone fish (ikan batu) yang keluar dari pasir. Bulu babi yang punya banyak duri. Dan tak ketinggalan ....
Puffer fish.
Laki-laki itu menunjuk pipinya yang menggembung dengan bola mata memutar. Sekian detik setelahnya menunjuk ikan tadi dan berusaha mendekati puffer fish atau ikan buntal.
Reaksi ikan tersebut jika disentuh akan menggembungkan tubuhnya. Ia melipat bibirnya—menahan tawa sambil menggeleng. Ada-ada saja pikirnya.
Ia meminta untuk menyudahi petualangan bawah laut. Menyembul ke permukaan dan melepas scuba diving mask. Duduk di pinggir pantai. Menghalau sinar matahari yang kian merangkak turun.
“Ugh!” Ru datang dan langsung menghempaskan tubuh di sebelahnya. Telentang menatap langit-langit cerah yang sebagian berawan.
“Are you happy, Hon?” tanya Ru.
Ia tersenyum. Menatap sekilas Garuda. Kemudian mengangguk. “Very happy.”
“Masih ada tenaga?”
Alisnya terangkat sebelah. Maksudnya?
“Kita coba satu lagi,”
“Hah!” coba apaan? Oh my gosh. Oh ... no. Di sini??
“Yuk!”
Ia tersentak. Sebelum wajah perlahan merah merona. Gila saja. Mau mencoba di sini? Mau jadi tontonan orang-orang.
Garuda bangkit. Punggung dan rambutnya kotor terkena pasir yang menempel. Lalu berdiri.
“Ayo!” ajak Ru lagi.
Ia masih kebingungan.
“Ck, pikiran kamu ngeres!” sentak Ru. Membuatnya mengernyit.
“Kalau yang ada di pikiranmu kita coba lagi nanti malam,” bisik Garu dengan membungkuk. “Sekarang ... kita coba canoe,” imbuhnya menegakkan badan. Meninggalkannya yang masih duduk melihat laki-laki itu menjauh.
Ru berbalik. Mengibaskan tangan. Seumpama diartikan seperti ‘ayo’.
Senyumnya terukir di bibir. Tak lama menepuk kepalanya sendiri. Ngeres hehehe ....
Garuda mendorong canoe menuju tengah. “Naik,” titahnya.
Ia duduk di bagian depan. Sedangkan Ru di belakang. Menyodorkan dayung berbilah tunggal.
“Eh,” ujarnya ketika canoe mulai bergoyang labil. Padahal ia mendayung benar. Menurut instingnya.
“Lanjutkan,” bisik Ru tepat di sisi kepalanya.
Ia tak menyadari posisi Garuda yang begitu intim di belakangnya. Bahkan menempel satu sama lain.
“Curang! Masa aku yang kayuh.”
Laki-laki itu tergelak. Mencuri cium pipinya.
“Ish,” gerutunya kesal.
Ia menyerah setelah beberapa menit mengayuh. Tapi perasaan kok tidak bergerak maju. “Capek!” paddle (dayung) canoe itu ia letak begitu saja di depannya.
Garu semakin tergelak. Berhasil mengerjai istrinya pikirnya.
“Udahan ah ... yuk, pulang ...,” sungutnya semakin sebal. Ditambah laki-laki yang di belakangnya tertawa mengejek.
Ru menyergah setelah derai tawanya berhenti, “Gitu saja nyerah.”
“Nih ... pegang yang benar.” Ru memberikan tutorial memegang dayung yang benar. Tangan mereka saling tumpang tindih menggenggam erat paddle.
“Gayuh sesuai arah mata angin. Bukan melawan mata angin seperti tadi. Sia-sia ... buang tenaga. Juga gak akan ke mana-mana.”
“Terasa, ‘kan?” tandas Ru. Memang terasa canoe bergerak maju. “Kalau sesuai angin berembus kita mengayuhnya juga akan lebih ringan,” pungkas Ru.
Ia menyerah. Setelah beberapa waktu mengayuh bersama. Menyerahkan paddle sepenuhnya pada laki-laki itu. Untuk menjadi pilot. Menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Ru. Sembari menatap matahari yang mulai tenggelam. Meski tak sempurna seperti sunset sesuai ekspektasinya. Akan tetapi pemandangan di hadapannya sungguh tak kalah menakjubkan. Panorama alam yang tercetak gratis untuk dinikmati.
Keduanya sejenak terhanyut atas suguhan bola raksasa dunia yang membiaskan cahaya kuning-kemerahan. Menyemburat melukis cakrawala. Tak pelak bias itu juga menerpa wajah mereka.
Canoe tandem itu bergoyang-goyang. Mengikuti gelombang yang menyapunya. Garu merengkuhnya dari belakang. Jari jemari panjang dengan telapak tangan lebar nan kokoh itu mengusap perutnya. Lalu saling topang di sana.
“Beautiful ... seperti kamu,” ucap Ru.
...***...
Surabaya
Kepulangannya ke Surabaya untuk menjelaskan duduk masalah yang tersimpan di benak tak sesuai angannya.
Bagas sang adik tak memberikan respons apa pun. Bahkan berakhir dalam keterdiaman. Cukup lama.
Kemudian beranjak pergi dengan kalimat, “Aku mau istirahat.”
Tidak ada lagi obrolan.
Bertiga yang tersisa di teras belakang dalam kediaman. Bahkan rasa-rasanya ia kesulitan untuk menelan ludah seperti ada duri dalam kerongkongan.
Hingga Anita menukas, “Sebaiknya kita menelaah kejadian ini. Bukan berarti kami membenci apa yang telah keluarga Mas Imam dan Mbak Laras lakukan. Tapi untuk menerima kenyataan ini, aku rasa memang sulit,”
Anita menjeda. Membasahi bibir atas dan bawahnya. Ada sirat kecemasan tergambar di sana.
Ia memahami. Tak akan mudah. Seperti membalikkan telapak tangan.
“Apalagi Mas Imam tahu. Bagaimana persahabatan Mas Bagas dan Demas. Bagaimana perjuangan keluarga kami,”
Imam kembali menelan ludahnya. Seiring sudut bibirnya yang berkedut. Persahabatan mereka memang tak bisa diragukan.
Sementara Laras menunduk memilin jari jemari yang berada di atas pangkuan. Sesekali menatapnya sekilas dengan sinar mata meredup. Jauh sekali saat pertama datang tadi.
“Bukan berarti kami mengusir Mas dan Mbak Laras. Tapi ada baiknya ... kita mendinginkan kepala. Aku yakin Mas dan Mbak Laras masih capek. Butuh istirahat juga.” Alasan elegan yang teruntai dari Anita. Meski makna sesungguhnya adalah menyuruhnya untuk pulang.
Kepalanya mendongak menatap langit-langit.
Kilasan kenangan berpendar di otaknya. Susul menyusul. Menggedor-gedor silih berganti muncul melingkupi.
“Tapi jangan lupa, Ka. Penyelesaian PT. SGC juga salah satu misi kampanye waktu itu,”
“Bukan berarti ditekan sana sini membuat nyali ciut dan mengerut,”
“Janji adalah hutang. Dan hutang harus dibayar lunas. Kecuali ....”
Kalimat Demas terngiang. Membuat bulu kuduknya meremang.
“Gas ... Demas?”
“Ya, Mas ....”
“Innalilahi wainnailaihi rojiun ....”
Bagas memberitahukan bahwa Demas meninggal.
“Mas tolong bantu anak dan menantuku. Aku tidak mau menyesali untuk kedua kali. Kalau dulu posisi kita memang sulit. Kita terikat jabatan dan ... tekanan. Tapi sekarang kita bebas.”
Permintaan sang adik saat menjadi saksi penyelidikan.
“Saudara Imam Luwi Jaya. Benar?” tanya Jaksa.
Ia mengangguk, “Benar.”
“Apa saudara kenal dengan terdakwa?"
"Kenal."
"Pernah bertemu? berapa kali?"
"Pernah. Sekitar ... 2 atau 3 kali. Saya lupa pastinya."
"Apa saudara punya hubungan dengan terdakwa? Semisal sebagai teman, sahabat, rekan kerja mungkin, atau ada hubungan lain. Besan misalnya, sebab bisa jadi hubungan semacam ini akan mempengaruhi kesaksian Anda.”
Ia menggeleng, “Tidak.”
“Pa, semua orang pernah melakukan kesalahan. Apa tidak pantas diberikan kesempatan meski kesalahan yang diperbuat besar dan sengaja?”
“Maaf ... maaf, saya memalukan Pak Imam sekeluarga. Saya tidak pantas menjadi besan Anda, saya—”
“Pa,” Laras datang. Pikirannya yang tadi mengembara kembali pulang. Membawa kesadaran untuk menerima kenyataan. Bahwa ... ia juga manusia biasa. Menjadi anak tertua di keluarganya setelah kakak pertamanya meninggal. Diharapkan bisa memberi suri teladan bagi adiknya.
Nyatanya.
Ia mengembuskan napas berat.
“Bagas dan Anita butuh waktu. Kita tidak bisa memaksakan. Mama yakin, suatu saat mereka akan menerima ini.” Laras duduk di ujung kursi bagian kaki. Mengusap tungkai bawahnya.
“Papa bukan saudara yang baik dan adil, Ma. Bukan kakak yang bisa memberi teladan untuk adiknya. Juga bukan, sosok yang selama ini baik di mata orang lain.”
Laras menggeleng—tidak setuju dengan pernyataannya. “Papa akan selalu menjadi teladan bagi Mama, anak-anak dan cucu kita. Sampai kapan pun.”
...***...
Jakarta
Ia meminta Garuda untuk membawanya mengelilingi H-island menggunakan buggy car. Sebelum sore nanti mereka kembali pulang.
Tadi malam laki-laki itu juga mengajaknya candle light dinner. Di teras belakang samping kolam.
“Itu punya Atat.” Ru menunjuk bangunan vila. Yang letaknya agak jauh dari tempat mereka.
“Dia juga punya di sini?”
“Baru beli juga. Mungkin 3 hari yang lalu. Dengar aku beli properti di sini. Istrinya membujuk untuk beli juga.”
Syal membungkus lehernya berkibar-kibar terkena angin. Bukan tanpa alasan. Di hari dengan cuaca terik dan panas ia menggunakan ‘syal’. Mungkin orang yang menemuinya akan berpikir aneh. Atau saltum (salah kostum).
Adalah laki-laki di sebelahnya sebagai tersangka utama. Menjejakkan tanda sebagai pemegang kuasa. Bukan 1 atau 3. Akan tetapi ... wajahnya kembali memerah merona.
Ia tidak tahu besok pagi kerja akan mengakali dengan apa. Atau menyiapkan jawaban apa. Yang jelas ia belum siap untuk diperolok-olok teman-temannya.
“Garuda!” seru seseorang.
Ia dan Garu menoleh ke sebelah kiri. Buggy car berisi wanita cantik setengah bule dengan pegawai berseragam. Wanita itu melambaikan tangan.
“Hey ... I miss you. A long time no see you,” teriak wanita tersebut.
Ia menatap Ru penuh tanya. Penasaran ... juga sejumput rasa cemburu mulai mencuat perlahan. Mengubah wajah yang tadi riang lambat laun mulai redup dan memasang benteng pertahanan.
“Please ... aku mau bicara. Ada yang mau aku omongin,” pinta wanita itu. Menghalau jalan buggy car mereka.
Ru membanting setir ke kanan dan menghentikan buggy car di bahu jalan. Kemudian turun.
Wanita itu menghampiri Garu. Menghujani ciuman pipi kiri dengan sengaja.
Keningnya melipat. Melihat interaksi keduanya. Meski Garuda tampak biasa saja. Bahkan ... enggan menanggapi wanita itu. Tapi laki-laki itu membiarkan pipinya ... dicium. Sungguh menyebalkan.
“Kamu sama siapa?” wanita itu melihatnya sekilas. “Aku ada pemotretan di sini. Lihat dong.”
“Sorry ... aku bentar lagi mau balik.”
“Yaa, sayang sekali. Eh, tapi kapan-kapan kita hangout bareng ya. Jangan seperti waktu itu. Main tinggal aja. Atau aku samperin ke kantor deh.” Wanita itu mengusap lengan Garuda manja.
Dadanya tetiba bergemuruh. Ia mengalihkan padangan.
Ru menoleh padanya. “Aku harus pergi. Sorry,” kembali naik dan perlahan meninggalkan wanita tersebut.
“Kapan-kapan aku main,” teriak wanita itu masih lamat-lamat terdengar.
“Siapa?” tanyanya dengan nada ketus.
“Suri.”
“Oo ...,” kepalanya manggut-manggut. Kendati demikian rasa kesal bercokol menguasai hatinya. Suri .... Jadi ini yang namanya Suri?
Kata Gayatri dijuluki si seksi. Betul juga. Apalagi ditunjang dengan pakaian yang serba minim. Body idaman. Belahan dada yang ... oh my god.
Refleks ia menilik dadanya.
“Dia suka kamu. Kayaknya juga masih ngarep kamu.” Entah mengapa kalimat itu meluncur begitu saja. Apa efek tidak rela? Efek cemburu? Atau ....
Ru tergelak.
Ia mencebik.
“Suri yang bukan teladan. Bahkan aku tak pernah tertarik padanya.”
“Hah!”
-
-
📷 : unsplash
Terima kasih yang sudah membaca, mampir dan memberikan dukungan ... 🙏