If Only You

If Only You
29. Anata ni aitakatta



...29. Anata ni aitakatta...


Garuda


“Bagaimana?” Tanyanya ditelepon.


“Bukti mereka kuat. Bahkan salah satu jendral mantan petinggi juga menyerahkan bukti-buktinya. Sepertinya pihak kita lemah.”


“Lalu yang lain?”


“Chance kita sama,”


“Bagaimana tanggapan papi?”


“Bapak menyuruh kita mengikuti saja.”


Ia berdecak lalu mematikan sambungan telepon. Memejamkan mata cukup lama. Bersamaan kepalanya menyandar ke belakang.


Desas-desus. Headline di sebuah media yang menyorot tajam. Tidak sedikit mengguncang TG. Meski harga saham masih stabil dan belum berpengaruh secara kasat mata. Tapi dirinya tidak yakin, hal ini akan bertahan lama.


Ia memutuskan untuk pergi ke Sumatera Utara. Meninjau proyek di sana.


“Ton, progress kita sampai mana?” tanya pada Toni. Mereka tengah berada dalam kendaraan menuju Tebing Tinggi.


“Progress tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat sudah 60%, dari panjang total pengerjaan 133,45 kilometer.” Lapor Toni sambil membuka data-data di ipad-nya.


“Ada masalah sejauh ini?”


“Aman terkendali. Hanya ada beberapa pihak yang meminta ganti rugi dengan angka di luar logika,”


Ia mengernyit. “Bukankah masalah ganti rugi sudah selesai di awal?”


“Iya, Pak. Benar. Ini hanya masalah kecil. Pagar pembatas kita yang ambruk kemarin mengenai lahan mereka.”


Ia menunggu keterangan Toni.


“Mereka tidak terima. Padahal kita sudah mengganti rugi sesuai perhitungan. Bahkan menghitung setiap item yang terdampak. Tapi ... mereka katanya akan tetap berdemo bawa panci sampai buka baju.” Imbuh Toni.


“Bawa panci, buka baju?” ia tak percaya info dari Toni.


Toni mengangguk, “Ini Medan, Bung! Kata emak-emak itu. Kalau tuntutan mereka tidak dipenuhi. Mereka akan melanjutkan gelar tikar dan tidur di jalan.”


Ia menggaruk alisnya yang tidak gatal. Ada-ada saja.


“Memangnya mereka berapa orang, Ton?”


“Dua, Pak.”


“Hah!” ia terkesiap. Hanya dua tapi seolah-olah satu kampung pikirnya.


“Masa kamu menghadapi 2 emak-emak saja kalah, Ton?!” cibirnya.


Toni menggaruk kepala, “Dua yang berstatus terdampak, Pak. Tapi dari dua itu jadi puluhan. Mereka mengerahkan Pangaribuannya. Dari Siregar, Dongoran, Ritonga, Sormin sampai Siagian. Sehingga jumlahnya jadi puluhan,” terang Toni sambil meringis. Hebat sekali ikatan emak-emak ini.


Ia berdecak. “Bukankah kamu satu pangaribuan dengan mereka Toni Alexander Siregar?!”


Toni semakin meringis.


“Kamu pasti bisa menjinakkan mereka. Percuma bapak kau kasih nama Siregar!” ejeknya.


Toni tidak berkutik.


Ia berdecak lagi, “Bah! Rupanya batak kau sudah hilang. Gara-gara makan ketoprak dan soto betawi.” Sarkasnya pada sekretarisnya itu.


Toni memang anak Medan. Tapi sayangnya cuma numpang lahir saja. Ia besar dan tinggal di Jakarta.


Empat hari ia di Sumatera Utara. Hari berikutnya mengunjungi Lampung memantau proyek pembangunan residensial dan kawasan logistik. Setelah penandatanganan MOU dan KSO (kerja Sama Operasi) bersama PT. GK Investama mengenai rencana pemindahan lahan, persiapan lahan, perencanaan, pemasaran, pembangunan dan pengelolaan proyek yang disepakati 1 bulan lalu di Jakarta.


Tanah yang dikembangkan seluas 14 ha. Dengan proyeksi laba 3 triliun dalam lima tahun ke depan. Atau 600 milyar dalam 1 tahun. Angka yang fantastis.


Keesokan harinya ia melihat proyek di daerah Bakauheni. Mega proyek yang bekerja sama dengan pihak pemerintah dan beberapa perusahaan swasta untuk pengembangan kawasan pantai, pelabuhan, ekonomi serta wisata dengan konsep integrated tourism complex.


Proyek ini merupakan konsorsium bersama dalam bentuk joint venture company.


“Bagaimana?” sahutnya dalam sambungan telepon yang baru saja Toni berikan. Ia berdiri di atas bebatuan. Menatap Selat Sunda di hadapannya. Gunung Krakatau juga terlihat jelas.


“Status Bapak tersangka bersama keempat lainnya sepertinya akan naik menjadi tahanan,”


Rahangnya mengetat. Begitu juga tangan kirinya yang mengepal kuat di dalam saku celananya.


“Apa Papi sudah tahu?”


“Kemungkinan belum. Saya harus mendampingi beliau. Dalam waktu dekat polisi akan datang membawa surat penahanan. Dan beliau akan ditahan dalam 20 hari ke depan, sebab alasan penyidik untuk memperlancar penyidikan tahap 2 yang akan dimulai dalam waktu dekat.”


“Kita akan mengajukan penangguhan penahanan secepatnya.”


Ia menghela napas dan memejamkan mata.


Hening menyelimuti percakapan itu. Lalu ia mematikan sambungan telepon.


“Ton, kita pulang.”


 


...***...


Gemala


Musim panas hampir berakhir. Ia disibukkan dengan padatnya kuliah. Kadang harus ke kampus Couldfield.


Ia memutuskan untuk mengambil program master by research. Artinya lulus tanpa ujian.


Kok bisa?


Bukan tanpa ujian sebenarnya. Hanya saja ujiannya tidak dalam bentuk oral defense. Atau ujian seminar maupun presentasi tesis pada umumnya. Program ini memang berbeda dan biasanya sejak awal perkuliahan sudah difokuskan untuk riset.


Begitu juga Nayla. Mengambil opsi yang sama.


“Saya sudah sakit kepala, Mal. Mau ditambah lagi? Tidak deh. Still choice by research.” Tandas Nayla sore itu. Mereka duduk-duduk di depan kampus.


“Ya, deh. Yang mau nikah sebentar lagi.” Ledeknya menyindir.


Nayla tersenyum, “Libur pergantian musim. Where are we going?”


Ia mengedikkan bahunya. “Biasanya kamu punya ide, Nay.”


Nayla menggeleng. “Pulang ke KL (Kuala Lumpur) ... maybe. Kamu, Mal?”


Ia terdiam sejenak. Lalu menggeleng, “Eh sorry ... bus aku udah datang nih. Duluan ya, Nay. Bye ... see you.” Ucapnya terburu-buru sambil melambaikan tangan. Ia menuju shuttle bus.


“Hey, Maria.” Ia menyapa tetangga sebelahnya yang tengah duduk di teras depan.


Maria tersenyum, “Baru pulang?” tanya Maria dengan bahasa Indonesia.


Ia mengerutkan dahi sekilas, sejak kapan Maria menambah kosa kata bahasa.


“Mala, wait!” cegah Maria menghampirinya.


Ia berhenti tepat di depan teras rumahnya.


“Aku sudah kursus bahasa. Aku mau ke Bali.” Ucap Maria bersemangat.


Ia ikut senang, “Oh, ya? Kapan?”


“Kapan?”


“I mean ... when do you want to go to Bali?”


“Next week,”


“For,”


“Holiday,” sahut Maria, “with Elyzabeth dan ... Ethan,”


Bibirnya tertarik ke atas samar.


“Kamu mau ikut? Come on, Mala ... kita explore Bali.” tawar Maria bersemangat.


Ia menggeleng pelan, “So sorry ... Saya tidak bisa.”


“Okay, next time.” Wajah Maria terlihat kecewa, tapi sedetik kemudian, “I’m happy, mau melihat Balinya Indonesia. The first time.” Seru Maria senang.


“Okay, selamat berlibur Maria.” Ia pamit terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.


Huh! Ia mengembuskan napas. Menghempaskan tubuh lelahnya di sofa.


“Kenapa, lo?” sergah Gayatri yang baru muncul dari dapur.


Ia mengangkat bahunya.


“Ke Jepang lagi?” tanyanya selidik. Waktu itu ia antusias diajak Gayatri ke Jepang. Yang katanya liburan. Semua akomodasi ditanggung Richard. Sebab Richard sekalian ada urusan bisnis di sana.


“Gak deh!”


“Tumben.” Kakaknya itu menimpali. "Di Jepang masih musim dingin. Lagi ada festival salju di Sapporo.” Pancing Gayatri.


Ia menggeleng, “Lagi males.”


“Kenapa lagi?”


“Pengennya pulang ke Indonesia.” Sahutnya sekenanya. Tapi itulah refleksi keinginannya saat ini.


“Idih ... kangen sama si nasty?” cibir Gayatri menipiskan bibirnya.


Ia terdiam.


“Kalo kangen datangin donk. Kasih surprise. Atau video call. Sekarang jaman sudah canggih. Teknologi sudah maju. Lagian lo tinggal terbang ke sana. Ngapain bersakit-sakit gini. Nahan rindu itu yang kuat cuma aku.” Aku Gayatri snoby.


“Cih, Richard ke mana?”


“Entahlah,” sahut Gayatri malas.


“Kak, hubungan lo sama Richard gimana sih? Mama khawatir tahu. Bukan cuma mama, tapi mungkin juga papa, Kak Ganisha dan gue juga.”


“Gue kemarin terpaksa bohong sama mama,” lalu berdecak, “kata mama,”


“Gue putus sama Richard.” Tandas kakaknya cepat.


Hah! Apa kakaknya barusan bilang?


Keningnya berlipat, “Putus?”


“Tapi ....” Gayatri menggantung kalimatnya. Lalu terdengar helaan berat. “Dia minta balikan lagi.”


“Terus?”


“Belum gue jawab. Males.” Gayatri bangkit dan meninggalkannya.


Ia masih penasaran. Membuntuti Gayatri dari belakang, “Wacana OM Richard gimana?”


Gayatri malas menjawab. Justru berucap, “Ke Jepang aja yuk, temani gue.”


Awalnya ia malas dan berat. Tapi melihat kakaknya itu dengan wajah memelas. Akhirnya tidak tega juga.


Tiba di negara sakura itu masih menyisakan musim dingin dengan suhu mencapai minus 2°C. Mereka sengaja menuju kota Sapporo, Hokaido.  Mencari hotel terdekat dengan diselenggarakannya festival.


Pilihan mereka dekat taman Odori. Di mana menjadi lokasi utama pameran ukiran es dan salju terbesar. Bahkan berbagai miniatur bangunan terkenal juga dipamerkan.


Selain taman Odori, lokasi lainnya bertempat di Susukino dan Satoland. Namun lokasi Susukino hanya untuk menampilkan pameran yang ukurannya lebih kecil dari taman Odori. Sementara Satoland untuk rekreasi keluarga.


Ia menatap miniatur bangunan Taj Mahal. Sebuah bangunan bersejarah dan salah satu ikon negara India. Bangunan yang dipersembahkan oleh kaisar Mughal—Shah Jahān—kepada istrinya Mumtaz Mahal. “Representasi atas nama cinta,” gumamnya sambil menatap bangunan tersebut.


Setiap pasangan punya cara tersendiri menunjukkan cintanya. Dan di hadapannya adalah bukti Shah Jahān mencintai istrinya. Selain sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan Mumtaz Mahal.


Luar biasa.


Rentang waktu 22 tahun untuk membangun sebuah pembuktian cinta. Sementara dirinya? 1,5 tahun. Belum ada apa-apanya.


Begitu romantisnya ala mereka. Tetiba hatinya berdesir. Anata ni aitakatta (aku rindu kamu).


Gayatri menepuk pundaknya. “Jangan ngarep si nasty bikin gedung seperti Shah Jahān,”


Ia memutar bola matanya malas.


“Kita kesini untuk senang-senang.” Tandas Gayatri. Berjalan mendahuluinya.


“Huh ... huuuuh!” ia mengembuskan napas. Saking dinginnya mulut seperti mengeluarkan asap. Padahal yang terjadi karena proses kondensasi atau pengembunan. Sebab suhu di dalam tubuh manusia itu hangat. Sehingga karbon dioksida yang keluar dari tubuh juga hangat. Walhasil saat karbon dioksida bertemu udara dingin di luar tubuh maka akan mencair. Seolah-olah yang terlihat seperti asap.


“Huh ... huuuuh!” serunya lagi. Momen yang langka. Jika di Melbourne musim dingin tidak sampai mendatangkan salju. Hanya tempat-tempat tertentu di negara bagian Australia. Di sini ia bisa puas bermain salju.


“Dasar MKKB!” teriak Gayatri.


“Biarin,” sahutnya. Ia menggosok-gosokkan telapak tangannya yang memakai sarung tangan. Berlarian kecil dengan sepatu boot salju. Memutar-mutar tubuhnya. Berkali-kali juga mengeratkan syal di lehernya yang terurai.


Gayatri hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


Ia mengambil salju membentuknya bola. Dilemparkannya pada Gayatri yang tengah menatap miniatur kastil Jepang. Kakaknya itu cuek. Tak menghiraukannya. Tujuan Gayatri selain bertemu dengan klien di Hokaido memang ingin melihat karya seni arsitektur yang dipahat dengan nilai tinggi. Seorang arsitek tentu paham dengan nilai kesenian suatu bangunan. Tidak sembarangan. Apalagi waktu yang dibutuhkan hanya sebentar menyesuaikan musim dingin yang hanya berjalan sekitar 3 bulan. Jadi ini benar-benar nilai seni yang spektakuler.


Selain miniatur bangunan terkenal. Patung salju hingga mencapai tinggi 15 meter juga ditampilkan. Berbagai tokoh negara juga dipamerkan. Termasuk karakter anime.


“Sailor Neptunus,” gumamnya. Ia melakukan selfie di sana. Lalu meminta Gayatri mengambil gambarnya.


“Dasar bocil!” keluh Gayatri. Menyerahkan kamera padanya.


“Gayatri, aku akan menghukummu!” teriaknya lantang sambil melempar salju. Gayatri refleks menghindar.


“Gila nih, adik gue.” Ujar Gayatri sambil mencoret dahi dengan telunjuknya—gila.


Ia tergelak. Puas. Sedangkan Gayatri berkacak pinggang.


Dari lokasi miniatur bangunan mereka menuju perosotan salju raksasa di area Tsudome.


“Aaaaaaaaa!” teriak keduanya ketika turun dari perosotan. Diakhiri dengan gelak tawa.


“Kak.” Teriaknya sambil melempar bola salju yang dibuatnya. Gayatri menoleh, tepat mengenai tubuh bagian perutnya.


Gayatri terlihat kesal, sedari tadi diganggunya. Akhirnya membalas dengan melempar kembali salju ke arahnya. Ia pun membalas. Dan aksi balas membalas itu pun berlangsung lama.


Tapi nahas, tanpa sengaja lemparan bola itu mengenai seseorang yang tengah melintas.


“Gomen nasai, (saya minta maaf)” ucapnya sambil menunduk.


“Nan demo nai, (tidak apa-apa)” balas orang tersebut juga menunduk.


“Are you okay?” ia bertanya lagi. Tak sengaja menatap wajah orang itu. Memastikan memang orang itu baik-baik saja. Sementara Gayatri ... oh sial, kakaknya itu kabur meninggalkannya.


Orang itu juga menatapnya. Cukup lama. “I’m fine. It’s okay.” Jeda sesaat, “you?”


“Indonesia. I’m from Indonesia.” Balasnya.


“Indonesia?”


“Ya,”


Orang tersebut tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. “Saya juga dari Indonesia.”


Alisnya naik sebelah, “Oh, ya? Kita sama. Saya Gemala.” Ia menyambut uluran tangan itu.


“Saya ....”


“Mal,” panggil Gayatri. Spontan ia dan orang itu menoleh. Lalu melepaskan jabatan tangan.


“Ini,” Gayatri menunjuk orang yang berdiri di depannya.


“Saya Ganjar.”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏