If Only You

If Only You
86. Hah!



...86. Hah!...


Gemala


Helipad dengan simbol TG semakin terlihat. Perlahan dan pasti heli yang membawanya mengatur posisi agar mendarat sempurna di atas gedung pencakar langit.


Senyumnya mengembang sempurna. Manakala bisa pulang dan menyelesaikan pekerjaannya. Setelah kemarin seharian bekerja tanpa jeda dengan tujuan agar bisa pulang ke Jakarta lebih cepat. Namun sayangnya sore hari ternyata cuaca tak bersahabat. Yang pada akhirnya baru bisa terbang untuk pulang keesokan paginya.


Pulang ke kotamu. Hehehe ....


Setelah heli mendarat dengan tepat. Ia melepas sabuk pengaman. Seseorang membukakan pintu untuknya. Dan ternyata Garuda juga menyambutnya.


Dengan sedikit menunduk, Ru melindungi kepalanya dengan tangan. Merangkum pinggangnya.


“Are you okay, Hon? Sorry ... padahal aku ingin jemput ke sana.” Ru menekan angka 30. Pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam.


“Good. Tidak kurang suatu apa pun. Aku tahu kesibukan kamu,” ia melarang Ru menjemputnya.


“Tapi ada yang kurang,” Ru menarik pinggangnya. Menjadikan tubuh keduanya melekat satu sama lain. Laki-laki itu tanpa kata meraup bibirnya. “Miss you so much,” kemudian merengkuhnya.


Ia terkekeh ringan. Menyurukkan kepalanya di dada Garuda. “Miss you too,” gumamnya.


TING.


Pintu lift terbuka. Keduanya melangkahkan kaki menuju ruangan Garuda.


“Kita ke ruanganku sebentar. Setelah itu baru pulang.”


Ia mengangguk.


Mereka berpapasan dengan Atat yang sepertinya hendak keluar. Ia memberikan senyum. Namun Atat tak menghiraukan mereka. Berlalu begitu saja tanpa sepatah kata. Jangankan kata, senyum keramahan tak juga tampak di sana. Berbeda saat mereka jumpa pertama kali. Atau perjumpaan-perjumpaan sebelum ini.


“It’s okay. Hanya masalah kecil.” Garuda membukakan pintu untuknya. Menyilakan dirinya untuk masuk terlebih dahulu.


“Makasih,” balasnya.


“You’re welcome.”


Ia duduk di sofa.


Ru tampak menelepon seseorang melalui sambungan interkom. “Sekarang antarkan ke ruanganku.” Kemudian menutup gagang telepon.


Tak lama pintu ruangan diketuk seseorang. Dua wanita dengan rambut disanggul dan satunya berambut sebahu muncul dari balik pintu dengan senyum. Membawa nampan berisi makanan dan minuman.


“Taruh di meja,” titah Ru menunjuk meja di depannya.


Dua wanita tersebut tersenyum malu. Meletakkan hati-hati makanan di atas meja di hadapannya.


“Mereka staf presdir,” kata Garuda seraya mendudukkan diri di sebelahnya. “Anggota Toni,” imbuhnya.


“Saya Gemala,” ia memperkenalkan diri.


“Istri saya,” Ru menambahi.


Ia menoleh sekilas pada laki-laki di sebelahnya.


“Ayo kita makan,” ajak Ru. Mengambilkan piring kosong untuknya, “mau apa?” tawarnya. Memindahkan satu persatu menu makanan dari piring sajian ke piring kosong untuknya.


“Kebanyakan,” selanya.


“Harus banyak Hon, mempersiapkan fisik sebelum ‘dia’ hadir.”


Ia kembali menoleh pada Ru, “Mas,”


Kedua wanita itu tersenyum kikuk melihat interaksi pimpinannya dengan dirinya.


“Maaf, Pak, Ibu. Kami undur diri. Jika masih ada yang kurang kami siap membantu,” ucap salah satu dari mereka.


Ia menyahut, “Terima kasih, Mbak. Sudah cukup kok.” Mengakhiri dengan senyuman ramah.


“Kenapa selalu melupakan makan pagi?” tanyanya di sela-sela mengunyah makanan. Ia juga menyuapi Garuda.


“Nungguin kamu,”


“Ya ... tapi gak gitu juga. Ini makan pagi sudah sangat terlambat. Aku gak mau kamu sakit,” tampiknya sambil menggeleng.


“Okay, mulai hari ini makan tepat waktu,” kilah Ru menyergah.


Ia mengembuskan napas kesal.


“Honey, no worries ... lihat, kan?” Garuda membentangkan tangan, “I’m fine.” Mengusap kepalanya.


Sudut bibirnya terangkat ke atas. Ia membereskan sisa makanan. Lalu beranjak, “Mas, aku ke tempat Kak Gayatri sebelum pulang. Aku tunggu di rumah.” Pesannya pada suaminya. Ia meraih tangan Ru, mencium punggung tangannya.


Laki-laki itu beranjak dari kursinya “I’ll be home soon.” Merengkuhnya dan mendaratkan kecupan di puncak kepalanya.


Ia mencium pipi Ru. “Semangat Pak Garuda.” Mengusap pipi bekas ciumannya. Lalu mengurai pelukan mereka dan melambaikan tangan.


Menemui Gayatri di lantai 20. Beberapa kali kakaknya menelepon seperti menyiratkan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Apalagi ia dan Gayatri sudah terbiasa saling bertukar kata. Apa pun. Lagi pula 20 menit lagi waktunya jam makan siang.


“Gayatri ada?” tanyanya pada resepsionis yang menempati lantai 20. Lantai yang dikhususkan untuk perusahaan Garuda Land. Selain lantai 21 tentunya yang ditempati oleh petinggi GL.


“Ada, Mbak. Silakan masuk saja. Di depan pintu ruangannya ada papan namanya,” jawab resepsionis tersebut.


Ia mengucapkan terima kasih dan berlalu melangkahkan kaki sesuai petunjuk. Melewati beberapa kubikel dengan orang-orang yang tengah serius di meja kerjanya masing-masing.


“Ini dia,” gumamnya. Mengetuk pintu dua kali. Terdengar jawaban dari dalam, “masuk.”


Kepalanya menyembul. Gayatri ternyata tengah mengevaluasi hasil gambar pra-rancangan. Berdiri membelakanginya.


“Serius amat.” Ia masuk dan menutup pintu.


Gayatri menoleh ke belakang, “Eh, lo, Mal. Udah balik?” lalu menyimpan pencil ke dalam kotak di atas meja. Mereka saling menyapa dengan menempelkan pipi kanan dan kiri.


“Tadi pagi sih, nyampenya.”


“Makan di luar aja, yuk. Udah lunchtime nih.” Gayatri menukas.


“Oke. Tapi aku cuma temani aja, ya. Soalnya baru saja makan sama Ru.”


“Yaa,” Gayatri terlihat kecewa. Tiga detik kemudian, “oke deh. Dari pada gak ada teman.”


“Ish, memangnya lo belum ada teman di sini?” ia melihat kakaknya memasukkan ponsel ke dalam tas selempang. Lalu mencangklong tas ke pundak.


“Yuk,” ujar Gayatri. “Ya, ada. Tapi belum kenal dekat. Lagian dari kemarin ke luar kota. Lihat project. Jadi belum sempat ngobrol banyak sama yang lain,” mereka menuju lift ikut mengantre dengan karyawan lainnya.


“Jadi apa sih yang mau diobrolin? Bikin penasaran saja,” tanyanya ketika mereka telah sampai di salah satu kafe yang tak jauh dari kantor.


“Gak penting sih,”


“Aiih ... tahu gitu gue langsung balik tadi.”


“Hehehe ... bukan gitu juga. Gue lagi bingung.”


Dahinya berlipat. Gayatri bingung? Sejak kapan? Ia tahu betul kakaknya itu orangnya super cuek. Tidak pernah menganggap hal yang menurut orang lain serius tapi bagi dia ya ... biasa saja. Orangnya easy going.


Gayatri menyantap makanan. Ia menyeruput minumannya.


“Menurut lo, maksud gue. Dengan umur gue ... maksud lo ... gue ini ....”


“Duh, belibet banget ngomongnya. Ada apa sih?” timpalnya penasaran.


“Gue bingung, Mal.” Belum juga setengah porsi habis, Gayatri menyudahi makannya.


Embusan napasnya kentara, “Bukan lo banget. Ada apa sih?” desaknya.


Gayatri menatapnya. Membasahi bibirnya. “Ganjar ngajak jalan.”


Ia terkesiap, “Hah!”


...***...


Gayatri


“Maksud kamu?”


Ganjar melukis senyum, “Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak salah ngajak jalan.”


Hening menjeda. Bukan tidak peka. Ia tahu adik Garuda itu memberikan tatapan lain. Bahkan sosok Jebe yang sering bercanda dengannya saja membuat Ganjar bertanya dan curiga. Padahal ia dan Jebe hanya teman. Teman mengobrol yang mengasyikkan. Sebab Jebe sepertinya punya sifat mirip dengannya. Easy going.


Sementara Ganjar.


Adalah laki-laki yang menurutnya serius. Tidak banyak cakap. Ya ... menurutnya mirip Garuda sebelas dua belas. Mungkin karena masih sedarah jadi punya karakter hampir mirip. Bahkan terkadang di sela-sela kebersamaannya di waktu kerja bareng. Ia dan Ganjar seperti orang profesional saja. Tidak ada kesan humoris. Malah terkesan tegang, walhasil ... jadinya garing dan kaku.


“Aku pernah terlambat mengungkapkan perasaan pada seseorang. Pernah kecewa pada diri sendiri karena tidak mau memperjuangkan seseorang untuk masa depan,” Ganjar menjeda.


“Aku tidak mau mengulanginya lagi.”


“Aku tahu kamu pernah gagal bertunangan. Pernah sakit ditinggal orang yang pernah mengisi hatimu. Jadi ... maukah kamu memulai hubungan baru lagi?” Ganjar menatapnya serius.


Ganjar tahu dari mana sejarah hubungannya dengan Richard?


“Kita memulai hubungan saling mengenal satu sama lain. Hubungan ... layaknya wanita dengan laki-laki. Hubungan special ... cause you are special to me.”


...***...


Gemala


“Jadi Ganjar nembak lo?” tanyanya, saat Gayatri mengantarkannya pulang ke apartemen.


“Terus jawaban lo apa, Kak?” todongnya.


Gayatri mengedikan bahu.


“Aiiih ... bukan lo banget. Terima kek atau apa gitu,” tangkasnya memprotes.


“Gue 3 tahun lebih tua dari dia, Mal. Eh ... mau 4 tahun malah.”


“Isshh,” ia mendesis. “Lo, tuh gak bakalan mikirin hal begini-begini. Temeh tahu gak. Kalau Kakak suka dia ... ya, go on. Bukannya itu yang dulu lo ajarkan ke gue. Kenapa sekarang lo jadi ragu begini?”


Kembali Gayatri mengangkat bahunya. Mobil berhenti tepat di depan lobi apartemen.


“Anyway ... Kakak beli mobil baru?” tanyanya sebelum turun dari mobil yang dikendarai Gayatri. Bau toko masih tercium.


Kakaknya itu meringis dengan senyum mencurigakan.


“Uang jerih payah di Mebourne dibelikan ini?” terkanya. Wajar sih ... kakaknya kerja di perusahaan arsitektur yang punya cabang di beberapa kota dan negara. Bisa jadi uang pesangon kemarin dibelikan Land Rover. “Worth it lah ....”


“Bukan,” sanggah Gayatri.


Ia mengerutkan alis.


“Dari uang pelangkah kalian.”


Ia kembali terkesiap, “Hah!”


Sore harinya saat ia berkutat di dapur, Garuda datang. Memeluknya dari belakang, “Buat apa?” meletakkan dagu di atas pundaknya.


“Aku ingat, kamu suka makanan ini waktu kita di kopitiam. Jadi aku buatkan untuk kamu,” bubur ketan merah dengan topping  buah nangka, mangga dan ice cream vanila.


Ru mengurai pelukannya. Duduk di tepi kitchen set. Menerima angsuran semangkok bubur buatannya.


“Silakan, jangan lupa dihabiskan.”


Laki-laki itu mengukir senyum manisnya yang begitu menggoda dengan adanya lesung di pipi kiri.


“Heem ... enak. Rasanya gak kalah sama yang kemarin,” tukas Ru. “Thanks, Hon.”


Layar ponsel Garuda berpendar di atas meja. Nama Toni muncul di sana. Ia menjerembanya. Mengangsurkan pada laki-laki itu.


“Ya, Ton ...,” sahut Ru.


Ia memberi kode pada Garuda menunjuk ke atas, “Aku mandi,” dengan suara pelan. “Habiskan,” imbuhnya kemudian.


Ru mengangguk.


Langkahnya perlahan menyusuri tangga demi tangga menuju lantai atas.


“Oke. Seperti itu saja. Aku percaya sama kamu Ton. Handle semua. Besok laporkan.” Sambungan telepon Garu matikan sepihak. Padahal di seberang sana Toni belum selesai berbicara. Berdecak kesal.


Garuda lekas menghabiskan isi mangkoknya. Berharap bisa secepatnya menyusul ke atas, “Hon, tadi kamu bilang apa?” teriaknya dari bawah.


Ia yang sudah sampai di ujung tangga menyahut, “Mandi!” Tak kalah berteriak.


“Mandi?” suapan demi suapan Ru paksa masuk ke dalam mulutnya. Padahal es krim yang masih beku tersebut terasa ngilu di mulut. Tapi mendengar kata ‘mandi’ seakan menari-nari memancingnya untuk segera berlari.


“Tunggu aku, Hon.” Suapan terakhir masuk. Pas 1 sendok penuh es krim. “Huh ... huh ...huh,” Ia mengibaskan tangan di depan mulutnya yang menganga menahan dinginnya es krim yang berasa sedang tak mendukungnya. Dengan langkah cepat dan insting tepat ia yakin istrinya belum membuka baju seluruhnya. Atau baru melepas pakaian atasannya saja.


BRAK.


Pintu kamar mandi terbuka setengah kasar.


“Hah!” ia terkejut seraya memegangi 2 benda yang sangat berharga.


Sementara Garuda menyeringai diikuti cengiran salah tingkah setelahnya.


-


-


Bab kemarin menceritakan tentang siblings rivalry, jika masih ada yang belum paham memang sengaja belum dibuka semuanya. Nanti akan ada part yang akan menjawab soal yang masih menggantung tersebut. Sabar, ya men ... temen 😁.


Tenang ... semua persoalan yang dihadapi Garuda dan Gemala akan terjawab sebelum kita berpisah dengan mereka.


Terima kasih ... happy reading 🤗