
...41. You’re All I Need (2)...
Gemala
Perjuangannya tiba di Jakarta benar-benar penuh drama. Setelah terjebak dalam aksi demo penolakan rasisme atas kelompok neo-Nazi yang terjadi di beberapa titik kota Melbourne.
Ia sempat ditawan sekelompok orang yang membawa simbol swastika setelah dipaksa turun dari taksi. Perawakannya yang berbeda dengan warga lokal jelas mudah saja bagi mereka menandai.
Sementara taksi yang membawanya dipaksa pergi. Meninggalkannya sendirian.
Teriakan-teriakan dari anggota kelompok yang menghadangnya terdengar menghardik dan marah, “Oii Chinese, Asia ... why are you here!” ia ditunjuk-tunjuk seakan melakukan kesalahan fatal dan mendapat penghakiman masal. Ia menggeragap.
Yang lain pun ikut menyeru, “Go back to China!”
Ia berusaha membela diri. Mengatakan bahwa ia pelajar dari Indonesia bukan dari Cina. Tidak tahu menahu soal kelompok mereka. Tapi reaksi mereka berbeda. Menatapnya penuh kebencian. Menganggap bahwa Indonesia dan China sama saja.
Saat terkepung dengan kelompok tersebut polisi datang. Mereka kocar kacir membubarkan diri. Lalu sebuah taksi berhenti tepat di dekatnya.
“Masuk!” seru penumpang belakang yang membukakan pintu dari dalam.
Ya, wanita muslimah yang dijumpainya tempo hari. Tidak salah lagi. Tak membuang waktu ia bergegas masuk.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya wanita tersebut.
Ia menggeleng sambil mengulas senyum, “Terima kasih. Saya, Mala. Gemala.” Ia mengulurkan tangannya. Ternyata wanita itu pandai berbahasa Indonesia.
“Dilamurat,” wanita itu menyambut. Memberikan senyum. “Saya dari Malaysia. Tapi ibu orang Indo,” tukasnya. “Kamu mau ke mana?”
“Aku mau pulang ke Indonesia.” Ia menoleh pada arloji di lengannya, waktunya hampir mepet.
Dila memerintahkan pada sopir untuk mempercepat.
Ia bernapas lega ketika pintu lift terbuka tepat di depan pintu unit apartemen laki-laki itu. Toni menyambutnya dengan menghela kelegaan. Tadinya Toni yang akan menjemputnya di bandara. Tapi ditolaknya. Cukup sopir saja. Itu sudah cukup. Lagian Ru lebih membutuhkannya.
Awalnya ia sudah putus asa ketika terjebak dan sempat ditahan oleh sekelompok orang tak dikenal juga menyeramkan. Bahkan tiba di bandara sudah terlambat. Bisa jadi ketinggalan pesawat. Tapi ternyata keberuntungan itu masih dipihaknya. Beberapa jadwal penerbangan delay sebab para penumpang mengadu terjebak oleh aksi para demonstran. Dan beberapa pihak maskapai memutuskan untuk memberikan dispensasi. Termasuk pesawat yang akan membawanya.
“Mbak Mala, gak pa-pa?” tanya Toni. Yang melihatnya masih terbengong.
Ia menggeleng. “Ru, gimana keadaannya?” tanyanya memindai setiap ruangan. Mengekori Toni.
“Pak Ru, di atas. Baru saja tidur.”
Tentu saja orang-orang tengah terlelap tidur. Ia tiba di Jakarta hampir tengah malam.
“Mau langsung ke atas, Mbak?” tawar Toni.
Ia mengangguk. Meski dengan muka kusut, kucel, dan entahlah ... harusnya ia tiba tadi jam 7 malam. Berhubung delay sampai di Jakarta jam 11 malam.
Toni berlalu setelah mengantarkannya di depan pintu kamar Ru. Langkahnya perlahan mendekati ranjang tempat laki-laki itu berbaring.
Menatapnya sejenak. Melihat wajah Garu yang tidak biasanya. Rambut kumis dan dagu tumbuh menghias. Tidak terawat. Sedikit lebih tirus.
Ia duduk di tepi ranjang dengan hati-hati. Takut membangunkannya. Tapi semakin dekat justru menariknya untuk mengusap wajah yang dirindukannya.
Senyumnya terkembang, “Good night, sleep tight.” Mengusap lembut pipi laki-laki yang tengah terlelap tersebut.
...***...
Garuda
Baru 15 menit ia memejamkan mata. Belum terlelap, masih dalam tahap fase tidur ayam atau tidur ringan. Setengah sadar masih bisa merasakan seseorang memasuki kamarnya. Apalagi bau ini. Ya, bau khas parfum ini. Parfum gadis itu. Gemala. Tak salah lagi.
Ranjangnya bergerak perlahan. Mala mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin nyaman dan tenang. Usapan pipinya juga mampu menerbangkan ke awang-awang.
Ia tidak mau ini cepat berakhir. Ingin selamanya seperti ini. Tapi, tangan Mala tiba-tiba berhenti.
Jangan!
Pintanya dalam hati.
Refleks ia mencekal lengan gadis itu. Lalu membuka mata. Benar, Mala ada di hadapannya.
“Mala,” sapanya setengah terkejut. Ternyata ini benar dan nyata. Gadis itu ada. Benar-benar ada untuknya.
“Kenapa gak ngasih tahu kalau mau kesini?” tanyanya.
Mala tersenyum. “Aku khawatir kata Toni kamu sakit. Sudah 2 hari gak membaik,”
Ia berdecak. Toni benar-benar melakukan itu. Memanggil Mala. Padahal ia sudah melarangnya.
“Terus summer course kamu gimana?” ia mengubah posisinya bersandar ke sandaran ranjang. Masih menggenggam erat tangan Mala.
“Libur natal sama tahun baru. Habis itu mulai lagi.” Mala menatapnya, “kamu kurusan. Kenapa, sibuk banget sampai gak ingat makan?”
Senyumnya tersungging, “Karena kamu gak ngingetin,”
Mala mendesis, “Chat aku saja yang balas Toni. Kadang balasnya beberapa jam kemudian. Gimana aku mau ngingetin kamu?!”
“Iya ... iya, sorry. Aku memang sibuk. Apalagi,”
Gadis itu menyergah, “Bagaimana kabar papi?”
Genggaman tangannya melunak. Berganti mengusap lengan Mala pelan. “Sepertinya ada kemajuan. Mudah-mudahan.”
“Aamiin. Semoga,” balas Mala cepat.
“Kamu mau apa? Biar aku masakin.”
Matanya memicing, “Kamu yakin?”
Mala menimpali, “Kamu meragukanku? Apa perlu pembuktian?”
Ia hanya mesem menatap Mala yang serius. Tanpa komando gadis itu mencubitnya.
Justru ia tergelak.
Mala mencebik kesal. Menggembungkan pipinya dan memelotot.
“Cukup Mala. Kamu membangunkan cacing-cacing dalam perutku,” derai tawanya belum juga terhenti.
“Ish, apanya yang lucu. Kamu tunggu sini. Aku buatkan makanan untukmu.” Mala hendak beranjak namun ditahannya.
“Jangan malam ini!” tukasnya, “kamu masih capek. Besok pagi saja.”
Mala tak membantah. “Okay ... take a good rest.” Mala bangkit dan menata selimutnya.
“Bagaimana aku bisa istirahat. Sementara kamu berada di rumah ini. Bagaimana kalau tiba-tiba aku datang ke kamarmu?” godanya.
“Solusinya aku harus menginap di hotel kalau begitu. Biar kamu tidak sembarangan mendatangiku sewaktu-waktu.”
“Ini sudah malam, Mal. Sopir juga sudah pulang istirahat. Toni juga sudah pulang. Di bawah hanya tinggal Bi yati,” dalihnya.
“Kalau gitu mana kunci cadangan pintu kamarnya?” telapak tangan Mala terbuka, “aku takut tiba-tiba kamu masuk sembunyi-sembunyi.”
Ia terkekeh ringan, lalu mengusap kepala Mala. “Tenang, aku akan mengambil hakku pada waktunya. Kalau sekarang—”
Ia menarik lengan Mala hingga gadis itu terjerembap di dadanya. Mata keduanya saling beradu. Bertumbuk sekian waktu.
Lampu yang temaram ditemani degup jantung keduanya yang berdetak melebihi detik jarum jam seolah menambah kesyahduan.
Pipi Mala diusapnya lembut. Tanpa sadar jarak kian ditepis oleh gerakan mereka. Hidung keduanya saling melekat. Berganti organ kenyal yang mulai mencecap manisnya kehangatan dan kerinduan.
Ia dan Mala terlena beberapa saat hingga, “Maaf,” ucapnya menghentikan ciumannya.
Sudut bibir gadis itu melengkung ke atas. “I love you,”
...***...
Gemala
Ternyata benar apa yang dikatakan Garu. Malam ini ia tidak bisa tidur. Pipinya masih menyisakan rona kemerahan. Beruntung kamar Ru remang, sehingga melindunginya dari ketersipuan. Ciuman mereka membayang dan mengusir rasa kantuknya. Bibirnya terkembang bahkan tanpa sadar ia selalu mengusapnya.
“I love you too,” balasan Ru sebelum ia benar-benar keluar dari kamar laki-laki itu sukses melambungkannya.
Bukan hanya itu, perlakuan Garu benar-benar mengusiknya. Baik hati dan pikirannya. Ah, mengapa malah menyiksa batinnya.
Awalnya ia miring ke kiri. Telentang. Miring kanan. Tengkurap. Meringkuk. Berbagai gaya tidur dicobanya. Justru menambah matanya susah terpejam.
Kini dicobanya tidur ala bintang laut. Matanya semakin nyalang.
“Huh!” Embusan napasnya kasar. “Please, Ru ... biarkan aku tidur. Besok pagi aku janji buat sarapan untuk kamu. Ya, ya, bye ... bye ... sampai ketemu besok pagi,” ujarnya sudah seperti orang gila saja.
Akhirnya ia memilih mendengarkan lagu kesukaan laki-laki itu. Lagu yang pernah direkamnya saat Garu menyanyi untuk menemaninya tidur.
Berhasil.
Meski harus diputar berulang kali. Dan entah putaran yang ke berapa pada akhirnya matanya tertutup sempurna.
Keesokan paginya ia berusaha bangun lebih pagi. Meski hanya tidur beberapa jam. Bisa jadi cuma 4 jam. Atau malah hanya 3 jam.
Ia melihat Bi Yati tengah sibuk di dapur membuatkan sarapan.
“Pagi, Bi.” Sapanya sambil mengulas senyum. Tak lama menyusul mulutnya yang ia tutup sebab menguap beberapa kali.
“Pagi, Mbak.” Balas Yati, “ kayaknya semalam Mbak Mala kurang tidur?” sambungnya.
“Iya, Bi. Kayaknya memang kurang tidur.” Ia menguap lagi. “Bibi buat sarapan apa? Aku sudah janji sama Ru mau buatkan sarapan pagi ini.”
“Saya buat pancake Mbak,” sahut Bi Yati.
“Oke, gak pa-pa, Bi. Lanjutkan aja. Aku mau bikin Fritata. Omelete ala Italia.” Jelasnya. Yati tersenyum. Lalu memberikan ruang padanya.
Saking fokusnya ia tidak memperhatikan sekitarnya. Tangannya cekatan memotong sayuran yang terdiri dari paprika, bawang bombay, daun bawang dan wortel serta kacang polong. Menumis bawang bombay lalu memasukkan daging kornet hingga matang. Menambahkan sayuran lainnya.
Sementara menunggu sayurannya matang. Ia mengocok beberapa telur menambahkan garam, keju parut dan black pepper. Lalu menuangkan pada pan yang berisi sayuran tersebut.
Ia begitu cekatan. Sepagi ini berada di depan kompor membuatnya gerah. Ia mengikat rambutnya tinggi. Sampai tidak sadar Bi Yati sudah tidak ada di sebelahnya. Entah ke mana.
“Finish. Tinggal dipanggang,” gumamnya senang. Pekerjaannya telah selesai.
Sementara di belakangnya sedari tadi Ru mengamati tanpa mengganggu. Berdiri menyandar meja makan dengan tangan menyilang di dada tanpa bergeser sedikit pun. Bahkan sembari tersenyum-senyum sendiri.
Namun ketika melihat leher jenjang gadisnya. Ia kepayahan untuk menelan ludah. Anjreeet. Ru mengumpat dalam hati.
Perlahan mendekati gadis itu yang tengah mencuci piring. Mendekapnya dari belakang.
“Don’t move,” lirih Ru mencium tengkuknya. Menyapukan bibirnya penuh kelembutan di sana.
Ia menggeliat kegelian, “Ru,” refleks tubuhnya membeku kemudian. Spons pencuci piring jatuh ke wastafel begitu saja.
Ru terus menciumi leher jenjangnya. Sementara dirinya berusaha menghindar namun gagal. Reaksi tubuhnya justru menerima setiap sentuhan yang laki-laki itu berikan.
“Ru,” gumamnya. Kedua tangan Ru melingkari perutnya. Perlahan naik ke atas meraba tonjolan seksi yang sungguh menguji imannya. Begitu pas dalam genggaman. Ribuan sensor ujung syaraf mengirimkan rangsangan yang memprovokasi organ lainnya langsung menegang. Sebab mendapat respons yang di luar dugaan.
Tak hanya sampai di situ, Ru kembali melancarkan pergerakan tangannya. Kini turun meraba perut rata yang seksi menurut versinya. Ru mengusapnya lembut. Dagunya menempel pada bahu gadisnya. Sementara gadis di dekapannya menggeliat manja.
“Ru,” ia mengerutkan dahi. Mendekati laki-laki itu yang tengah menatapnya kosong. “Hei,” panggilnya dengan mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Garu.
Ru tersentak kaget. “Mal ... aku, kamu.” Oh sialan! Kenapa hanya dalam khayalannya saja. Menggaruk kepala belakangnya.
“Ru, kamu kenapa?” tanyanya kebingungan.
Laki-laki itu menyapu wajahnya, “Aku ... aku mandi dulu,” pamitnya bergegas melesat. Menghilang di balik tangga.
Ia menggelengkan kepala. Aneh pikirnya. Pagi-pagi sudah melamun.
...***...
Garuda
Harapannya guyuran shower paling tidak mengembalikan otak yang konslet dan organ tubuhnya yang meronta melihat keseksian Mala. Padahal gadis itu hanya ... hanya mengenakan kaos dan celana training. Celemek yang biasa Bi Yati pakai. Dan rambutnya dikucir tinggi. Oh my gosh.
Sepuluh menit rasanya belum mampu mengembalikan ketegangan tubuhnya. Sampai gedoran pintu kamar mandi membuatnya tersadar dari pikirannya yang mengembara.
“Ru, aku tunggu di bawah. Sarapan sudah siap.” Mala menukas dari balik pintu.
“Ya,” sahutnya bersamaan ia memutar keran shower. Kucuran air seketika berhenti.
Letak kamar mandi yang bersebelahan dengan walk in wardrobe mempermudah baginya berganti pakaian di sana. Hanya mengenakan handuk dililit keluar kamar mandi.
Ia pikir Mala sudah pergi dari kamarnya. Namun begitu terkejut ketika ia keluar dari walk in wardrobe hanya mengenakan boxer bertelanjang dada.
“Aaaa!” teriak Mala sambil menutup matanya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏