If Only You

If Only You
99. Only You



...99. Only You...


 


If only you ...


...If only you ......


^^^If only you ...^^^


If only you ...


“Aargh!” Garu meletakkan pencil secara kasar di atas kertas. Menopang kening dengan tangannya. Cukup lama ia termenung menatap kata-kata yang baginya bagaikan simfoni memberikan harapan jika ialah yang punya skenario. Berandai-andai seperti kemauannya tanpa siapa pun turut campur tangan. Mengintervensi.


“If only ✖,” mencoret bagian kata ‘you’. Tak berapa lama menggeleng.


“✖ only you,” ujarnya menyebut ‘only you’ mencoret ‘if’.


Sudut bibirnya melengkung ke atas, “On ly you,” sebutnya secara bersamaan mengoreskan ‘o-n-l-y-y-o-u’ di atas kertas.


“Only you,” tukasnya sekali lagi.


“Ya ... only you,” lirihnya kembali. Ia menatap tulisan yang terakhir ditorehkan.


Only you Gemala ... there is no other.


Hanya kamu Gemala ... tidak ada yang lainnya.


Ia menunduk dalam di bawah temaram lampu yang remang-remang. Ini hari ke-7 Gemala masih terbaring koma di ICU. Hari-harinya terasa sepi. Malam-malamnya kelam. Walau sang mentari tak bosan menyapanya hingga ia tak lagi bisa membedakan waktu telah berganti siang dan malam.


Adalah Gemala yang mampu menghidupkan dunianya. Menerangi jalannya, mendamaikan hatinya. Bagaimanapun takdir mereka ke depan ia akan menghadapinya. Untuk mendapatkan Gemala kembali. Meski ... takdir telah memutarbalikkan kehidupannya bersama Mala. Bukankah, dengan doa dan usaha ia bisa meminta untuk kesembuhan Mala. Wanita sekaligus istri yang punya hati mulia. Menolong siapa saja, bukan hanya dirinya. Sederhana dan tidak pernah menilai orang dari satu sisi. Mala mampu menempatkan dirinya di mana pun dan kapan pun. Gemala tidak pernah mengecewakannya. Tidak pernah membuatnya marah dan sakit hati.


Adalah Gemala. Sosok wanita yang mampu mengubah arahnya. Mengubah persepsinya tentang cinta. Dulu ia pikir cinta ibu terhadapnya hanya servis di bibir. Dulu ia pikir ibu tak pernah berusaha mencari dan menemuinya. Hingga ia menyimpulkan bahwa ibu tak pernah mencintainya. Ia selalu digulung mimpi secara berulang-ulang menghantui. Seiring waktu stigma akan cinta mengubah persepsinya. Ia tidak percaya cinta. Meski Meylan menghujani perhatian lebih, tapi ia tahu wanita itu hanya cinta harta. Dan belakangan ternyata perhatiannya palsu belaka.


Stigma itu kian kuat manakala papi mampu hidup tanpa cinta. Membesarkan anak-anaknya tanpa pendamping. Dan nyatanya papi bisa. Ia menjadikan papi role model untuknya. Kendati belakangan ia baru mengetahui jika cinta sejati papi hanya untuk ibu. Sampai akhir hayatnya.


Semenjak ia mengenal Mala. Perlahan tapi pasti gadis itu mampu mengubahnya. Mengenalkan cinta dengan caranya. Cara sederhana yang ia sendiri dibuat kagum olehnya.


Butir tetesan air matanya membasahi kertas. Tuhan memberikan cinta yang luar bisa lewat Mala ... O, God sembuhkan dia, dia tidak pantas menanggung ini semua.


Kemarin Nayla datang dari negeri seberang. Ia sengaja memberitahukan kondisi Mala. Berharap jika sahabat Mala datang, istrinya merasa tidak kesepian.


“Hei, Mala. I miss you so much,” ucap Nayla. Menyusut sudut matanya. Tak mampu lagi berkata-kata manakala melihat kondisi sang sahabat yang memprihatinkan. “I hope you find fast healing with each everyday, my best friend. (Aku berharap kamu cepat sembuh setiap harinya, sahabat terbaikku) I love you ....”


Kemudian disusul Dila dan Desti yang juga menjenguknya tadi pagi.


“Mala ... kita kangen banget,” ucap Desti. “We miss you so much ...,” imbuh Dila. “Kata kamu kita bisa meet up? Kapan? Aku sudah gak sabar nagih janji kamu, Mal. Kita bercanda lagi, main tebak-tebakan lagi, sambil mengisi jam pulang ngantor. Tahu gak, ruangan kita semenjak gak ada kamu rasanya sepi kayak kuburan,” Dila menyikut lengan Desti. “Eh, maksud aku sepi kayak lagi ujian,” koreksi Desti.


“Wake up, Mala. Kami semua menunggu kamu. Kami semua sayang kamu,” tukas Dila.


Tak berapa lama Mely dan Davin juga datang. Memberikan semangat dan doa. Semua untuk kesembuhan Mala.


Ia mendesakkan napas. Memejamkan mata.


“I’m still here, Hon.” Menatap suasana di luar dari balik kaca jendela kamarnya. Di mana ia bisa melihat masih ada geliat keramaian kota dari sini. Ditambah lampu-lampu yang menerangi gedung, jalan, taman, pedestrian yang tak pernah padam meski hampir tengah malam.


Berbanding terbalik kondisinya saat ini. Sunyi. Sepi. Sendiri. Jiwanya kosong.


Keesokan paginya aktivitasnya masih sama tak pernah berubah. Menemui Mala setelah waktu kunjung diperbolehkan. Bergantian dengan mama dan papa. Juga Ganisha serta Gayatri.


Papa menepuk pundaknya, “Masuklah, Ru.”


Ia mengangguk, “Makasih, Pa,” sahutnya.


“I always have a reason to wake up, and that’s simply to say ‘good morning, Honey’ ...,” mencium kening Mala. “Feel better soon,” imbuhnya. Menyimpan tulip merah baru ke dalam vas. Setelah membuang tulip merah kemarin ke tong sampah. Biarpun tulip tersebut masihlah bagus dan segar. Ia ingin tulip baru setiap hari.


Ia menyeka wajah mala dengan washlap seperti biasa. Mengajaknya bercakap-cakap meski, Mala belum mau meresponsnya. Meraih tangan Mala lalu meletakkan pada dadanya.


“Kamu merasakannya? Hati kamu di sini ... tumbuh di sini.” Helaan napasnya terasa berat bersama cairan kristal yang jatuh melesat, akibat rongga dada yang tumpat. Kendati berusaha untuk tegar dan kuat. Bukankah ia hanya lah manusia biasa? Seorang laki-laki yang bisa sedih dan terluka.


“Jangan biarkan hati ini tanpa pasangannya. Jangan biarkan bahagia yang aku rasakan ini pergi. Aku gak akan sanggup,” ucapnya dengan tatapan kosong.


“Kamu tahu, Hon. Kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa aku pantas bersanding denganmu? Kenapa begitu besar cintamu untukku? Kenapa saat bahagia hadir semua harus cepat berakhir?” ia mencium lama punggung tangan Mala. Menghidu aroma yang begitu membuatnya candu dan nyaman. Walau semua masih sama namun terasa beda. Ia takut kehilangan sesuatu. Sesuatu yang begitu berharga dalam hidupnya.


“Kamu boleh pergi sementara, tapi cepatlah kembali. Boleh tertidur tapi lekaslah bangun. Karena aku selalu di sini ... selalu di sini menunggumu.”


Di hari ke-8, kondisi Mala masih sama.


“Hei, Hon. Good morning.” Ia mengulas senyum. Pagi ini ia melihat Mala yang tampak lebih cantik dan bersinar. Mencium kening dan pipinya, “hari ini kamu terlihat sangat cantik. Percis di hari ketika aku memintamu sepenuhnya menjadi milikku. Kamu ingat? Kita tidak boleh bertemu saat itu sebelum kamu benar-benar menjadi istriku. Padahal saat itu aku ingin melihatmu. Saat itu aku ingin memelukmu,” jeda sesaat. “Kamu mengubah panggilan menjadi video. Dan aku langsung terpukau ... pagi itu kamu sangat cantik. Aku bilang kamu bidadari,” bisiknya.


“Bidadari yang berhati mulia,” imbuhnya. “Kelak, aku akan menceritakan pada anak cucu kita bahkan dunia. Bahwa Gemala adalah istri sekaligus kepingan hati seorang Garuda. Ini bukan kisah menggemparkan laksana Romeo dan Juliet yang menyedihkan karena kasih mereka tak sampai. Atau Layla Majnun yang tidak pernah bersatu sampai akhir hayat. Atau kisah cinta Shah Jahan terhadap Mumtaz Mahal yang diabadikan melalui monumen Taj Mahal,”


“Tapi ini ... tentang kisah Garuda dan Gemala dalam sejarah anak manusia. Mereka bukanlah pahlawan. Bukan pula pasangan yang fenomenal untuk dikenang.” Ia mengusap lembut lengan Mala lalu mengecupnya.


“Ini tentang kisah kita. Garuda dan Gemala yang saling mencinta, berbagi suka dan duka serta hati bersama. Tentang perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Tentang pengorbanan yang begitu besar dan mulia. Thank you, Honey ... kamu telah menerima aku apa adanya. Mengorbankan waktu dan nyawa untukku. Mengukir hari-hari bersama ... standing by my side during my good or bad times. Meski aku tidak selalu menjanjikan kebahagiaan untukmu. Di sini,” ia memegangi dadanya. “Gemala akan selalu hidup. Akan selalu menetap. Selalu dan selamanya.”


Ia mengajak Gemala mengobrol seperti biasa. Menghabiskan waktu yang terasa bergulir cepat saat bersamanya. Namun terasa lambat saat ia harus terpisah oleh sekat.


Tepat di hari ke-9. Pagi itu ia datang bersama Nyalin. Yang sengaja dijemput oleh Toni dan Gayatri. Membiarkan Nyalin berdua di ruangan bersama Mala. Ia hanya menatap keduanya dari balik kaca.


Entah apa yang Nyalin bicarakan. Tapi ia yakin, Mala pasti akan mewujudkan keinginan Nyalin. Membantu Nyalin meraih cita-citanya. Itu janji Mala tatkala mereka berkunjung ke rimba terakhir kalinya.


Sepuluh menit kemudian Nyalin menatapnya. Mengangguk lalu beranjak. Memberikan sesuatu padanya dan berkata, “Ini untuk Bebet,” ia menatap benda yang tak asing lagi baginya. Mengulurkan tangan untuk menerimanya. “Semoga Bebet lekas sembuh,” imbuh Nyalin. Kemudian berlalu meninggalkannya.


Dengan langkah gontai ia masuk ke dalam ruangan Mala, duduk di kursi tak jauh dari ranjang. Meraih pergelangan tangan Mala.


“Kamu masih ingat, Hon?” membuka telapak tangan Mala. “Ada titipan dari Nyalin,” meletakkan benda tersebut di sana. Lalu membantu mengatupkan kembali telapak tangan Mala.


“Gelang sebelik sumpah.”


Ia jadi teringat gelang miliknya pemberian dari Bekasuh yang ia kembalikan pada Mala waktu ... ya, waktu ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Mala. Betapa bodohnya ia saat itu.


Di manakah gelang itu sekarang? Apa Mala menyimpannya? Yang ia dengar dari cerita Mala bahwa gelang pemberian Nyalin waktu itu rusak, terputus talinya akibat tersangkut handle lemari dan belum sempat diperbaiki.


“Kalau dikasih orang itu diterima. Sebagai bentuk penghargaan.” Kalimat Mala terngiang.


“Kalau dikasih orang itu diterima. Sebagai bentuk penghargaan,” ia mengulangi kembali ucapan Mala. Membuka telapak tangan Mala. Meraih gelang tersebut dan memakaikan di pergelangan tangan istrinya. "Sudah," sambungnya dengan tersenyum samar.


...***...


Sipongang anak-anak rimba mengeja menguar memenuhi gendang telinganya.


“A ... B ... C ... D ....”


“Bebet ... ayo ikut kami,” salah satu anak rimba menggeret tangannya menjauhi tempat belajar di bawah pohon.


“Kita mau ke mana?”


“Ke tempat yang indah. Pasti Bebet belum pernah ke sana?!”


Ia sebenarnya ragu, sebab Nyalin, Selengking, Ngijap, Ngadun dan beberapa anak rimba yang dikenalnya sedang belajar. Ia tidak ingin meninggalkan mereka. Tapi ... anak ini ... sepertinya ia mengenal anak ini.


Anak laki-laki itu tersenyum. “Bebet tidak mengenal aku? Bebet yang membantu aku mengenal dunia.”


Ia mengerutkan keningnya.


“Bebet yang membawa aku dan ibuku ke rumah sakit. Sehingga aku dan ibuku terselamatkan.”


Keningnya kian berlipat. Bahkan kedua alisnya seolah terpaut saking berpikir keras mencoba mengingat sosok yang sepertinya tak asing baginya.


“Ayo, Bebet!” seru anak laki-laki itu. Kembali menyentak lengannya yang dicengkeram kuat oleh anak laki-laki tersebut.


Langkahnya terayun paksa. Mengikuti langkah anak laki-laki yang berjalan gesit dan lincah. Ia sampai terengah-engah hanya untuk mengimbanginya.


Melewati jalan setapak di mana kanan dan kiri terdapat pohon-pohon besar tinggi nan menjulang. Semakin ke dalam kian gelap dan menyeramkan. Hanya suara beberapa binatang hutan yang bersenandung dengan alam. Bahkan ia merasakan beberapa pasang mata tengah menatapnya liar.


“Kita mau ke mana?” tanyanya penasaran sekaligus takut. Sebab sepertinya mereka telah berjalan jauh. Tanpa ada tanda-tanda untuk menghentikan langkah.


“Bebet pasti akan senang.”


“Ta-tapi ... bagaimana dengan Nyalin dan yang lainnya?” mereka tiba di pinggir sungai.


“Lihat!” seru anak laki-laki itu. Menunjuk seberang sungai yang pemandangannya begitu indah. “Bebet suka, ‘kan?”


Sudut bibirnya terangkat. Melihat panorama alam yang begitu menakjubkan. Bahkan ini adalah versi New Zealand dalam angannya.


“Bebet pasti suka,” anak tersebut meyakinkan. Dan ia mengangguk sepakat.


“Kita ke sana.” Anak itu berjalan terlebih dahulu di atas jembatan kecil yang lebarnya hanya mampu menampung satu orang. Seperti jembatan gantung yang terbuat dari kaca tembus pandang. Anak itu memutar tumit dan berseru, “Bebet, ayo!” menatapnya yang masih termangu di pinggir sungai.


Patah-patah kakinya melangkah pelan.


“Bebet!”


Ia berhenti. Seseorang memanggilnya. Membuatnya mengedarkan pandangan ke segala arah. Tepat di belakangnya, tak begitu jauh Nyalin berdiri. Ia berbalik menatap gadis remaja tersebut.


“Aku ingin belajar sama Bebet. Bukankah Bebet pernah bilang, ingin membantuku meraih cita-citaku?”


Ia tersenyum. Tak lama mendengar suara anak laki-laki yang kembali berseru, ia menoleh pada anak tersebut. “Ayo, Bebet!” anak tersebut masih berdiri di atas jembatan gantung. “Bebet, ayo!” ajaknya lagi dengan melambaikan tangan.


“Honey,”


Suara itu ya ... suara yang sangat akrab di indra pendengarannya. “Let’s go home, tempat kamu bukan di sini.” Laki-laki itu berdiri di samping Nyalin.


"Mala," mama datang dan berdiri di samping laki-laki itu.


Matanya berkaca-kaca. Berulang kali menoleh pada anak laki-laki yang masih berdiri di atas jembatan menunggunya. Sekian detik beralih pada Nyalin dan laki-laki yang tak lain dan tak bukan adalah Garuda. Lalu pada mama.


“Bebet, ayo!”


“Honey.”


"Mala."


“Bebet.”


“Bebet, ayo!”


“Hon, please ... kita pulang. Papa, Gayatri, Kak Nisha, semua menunggu kamu.”


“Mala ....”


Suara-suara itu terdengar membingungkan. Membuatnya menyumpal telinganya ketat. Lalu tersimpuh lunglai. Menunduk dan menggeleng kuat.


Cukup lama dirinya terdiam. Hingga dirasa tak ada suara yang mengganggu. Ia bangkit dan berdiri menatap laki-laki itu sejenak. Beralih pada mama dan Nyalin. Kemudian menelengkan kepala ke arah anak yang masih berdiri di atas titian. Ia memutar tumit, melangkah perlahan mendekati titian kaca tersebut.


...***...


Sore harinya Ru kembali datang, “Aku tadi pagi menyuruh Tyo mencari gelang ini di brankas. Dan ternyata kamu menyimpan gelang ini di sana.” Ia menunjukkan gelang pemberian Bekasuh. “Sekarang kita memakai gelang yang sama,” menyandingkan gelang miliknya dengan milik Mala.


“Hon, please ... let’s go home ... papa, mama, Gayatri dan Kak Nisha menunggu kita. Menunggu kamu pulang. Kita semua rindu.”


“Sudah lama kamu tertidur. Sembilan hari, cukup 9 hari ... selama itu pula aku merasa sendiri dan sepi. Aku merasa rapuh. Aku yakin dan percaya ini bukan kemauan kamu. Aku tahu kamu ingin pulang. Pulang bersama kami. Kamu masih ingat, janjiku belum aku tunaikan untuk membawamu ke New Zealand. Janjiku untuk tidak membuatmu dalam kelaparan, kedinginan, kesedihan maupun kesakitan. Bagaimana kalau aku belum memenuhi itu semua? Aku akan menjadi orang yang tidak berguna ... menjadi orang yang ...,” ia membiarkan cairan bening itu meluruh dari kelopak matanya. Menatap Mala yang bergeming. Tampak sudut matanya meloloskan cairan yang sama.


Ia bangkit. Memastikan penglihatannya. “Hon, ka-kamu dengar aku?” mengusap pelipis Mala yang basah. “Please ... wake up. Aku menunggumu,” pintanya mengiba berputus asa. Sebab Mala masih bergeming.


Mendadak terdengar denyut pantient monitor yang berubah melambat. Dengan grafik yang tak lagi sama. Sontak ia geragapan menekan tombol memanggil perawat yang bertugas.


“Wait outside, please.” Seorang perawat dan dokter yang standby menyuruhnya untuk keluar.


“MALA!”


“Mala, Honey ... please jangan tinggalkan aku.”


“Wait outside!”


Ia panik, “I can’t even imagine my life without you (aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu),” ia sempat meronta tidak terima harus menunggu Mala di luar. Ia ingin mendampingi Mala. Bagaimanapun, ia harus tetap di sana. “Honey.” Bersamaan pintu ICU yang tertutup rapat. Dan suara denyut patient monitor yang tak lagi terdengar.


“Noooo ...! Please don’t go. Please ... don't go."


-


-


Menuju epilog ....


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ...