
...32. Never be Enough...
Yogyakarta
Wanita berparas ayu itu sengaja memarkir mobilnya di klinik. Ada hal yang harus dibicarakan dengan dokter Hari, rekan sejawat yang ikut bergabung membuka praktik di klinik miliknya.
Tadi pagi dokter Hari tidak ikut pertemuan bulanan sebab menangani pasiennya yang kritis butuh tindakan segera.
Ia menyampaikan beberapa program di bawah naungannya. Salah satu di antaranya peningkatan kompetensi K3 bagi pelaksana pelayanan kesehatan. Dari mulai perawat, bidan dan dokter. Dan dokter Hari menjadi salah satu kandidat yang akan mengikuti pelatihan tersebut.
“Oke, Yu. Thanks lho infonya.” Dokter Hari menukas sembari menyimpan kembali alat USG. Sudah selesai memeriksa pasiennya.
“Bersihkan, Ning.” Titah dokter Hari pada Ningsih.
“Oke deh, aku duluan.” Pamitnya pada Hari dan Ningsih yang berada dalam ruangan itu. Namun baru mencapai ambang pintu, Ningsih memanggilnya.
“Dokter Rahayu tadi ada yang nyariin ke rumah,” ucap Ningsih sambil membersihkan perut pasien yang telah selesai di USG itu. "Laki-laki. Masih muda ... ganteng lho hehehe ....” Ningsih berseloroh. “Sudah, Bu.” Imbuh Ningsih berbicara pada pasien tersebut. Pasien itu tersenyum mengangguk.
Ia masih berdiri di ambang pintu, “Sopo, Ning?”
Ningsih mengangkat bahunya, lalu menepuk jidatnya. “Lupa je, Dok tadi nanyain namanya.”
"Ish, kebiasaan, Ning!" desisnya sambil menggeleng.
Hari menyahut, “Wah ... wah ... dokter Ayu saiki selerane brondong.” Celetuk Hari terkekeh.
“Hush!” Ia menyergah. Tergesa meninggalkan klinik. Di luar masih hujan deras. Ia memilih meninggalkan mobilnya di klinik saja. Dan pulang dengan berjalan kaki, dekat ini pikirnya.
Beberapa kali flash alami membuatnya menjengit. Kemudian dibarengi gelegar membuatnya mengucap, “Subhana man sabbahat lahu. (Maha suci zat yang maha petir bertasbih kepada-Nya)”
Langkahnya terhenti ketika melihat seseorang berdiri di depan pintu pagarnya. Ia mengerutkan kening sejenak. “Kenapa hujan-hujanan, kan bisa tunggu di teras,” ucapnya pelan. Tentu hanya dirinya saja yang mendengar. Ditambah lagi tetesan hujan yang meredam suara lain.
“Kamu bisa sakit,” ucapnya sambil memayungi orang tersebut dari belakang. Orang itu masih terdiam. Ia mengerutkan lagi keningnya. Aneh ini orang.
“Mas,” ia menepuk pundak orang tersebut. “Mari masuk ke dalam,” ajaknya untuk beranjak. Namun orang itu masih bergeming.
“Mas,”
Perlahan orang tersebut memutar tumitnya dan menghadapnya.
DEG.
Ya Allah.
Ia sungguh terkejut. Tak menyangka.
Menutup mulutnya yang menganga sebab sontak terperangah. Payung itu terlepas begitu saja lalu terhempas angin entah ke mana.
“Ibu,” orang di hadapannya memanggil lirih. Ia mendengarnya samar.
Lidahnya terkelu walau hanya ingin sekedar berucap, “R-Ru ....” Matanya tetiba memanas. Dadanya sesak. Bahunya bergetar. Kristal cair yang cepat bergumul di pelupuk matanya luruh bersamaan air hujan.
Garuda menatapnya sendu. Lalu perlahan turun menekuk lututnya. Dan menunduk.
Ia terguncang hebat. Sambil menutup mulutnya dengan satu tangan.
Terisak kuat.
Lama keduanya larut dalam suasana yang susah digambarkan. Membeku dalam pilu. Terlara-lara.
Ia merengkuh anaknya yang dirindukan. Menunduk, menciumi kepala Ru. Mendekapnya penuh kehangatan, “Maaf-kan, Ibu.” Kalimat yang ingin diucapkannya dari dulu.
Garuda menggeleng. Membenamkan kepalanya dalam rengkuhannya. “Aku yang harusnya minta maaf, Bu ....”
Dengan cepat ia menggeleng.
Rinai hujan terus berjatuhan. Menambah suasana pilu kian haru. Meluruhkan segala prasangka tanpa kata. Membuncahkan bahagia tanpa jeda.
Keduanya saling mengeratkan rengkuhan. Mengeluarkan rasa yang lama terpendam akibat salah paham.
Sementara tetesan hujan masih terus mengiringi pertemuan ibu dan anak itu. Menghantam apa pun di bawahnya tanpa pandang bulu. Lalu menempias ke segala penjuru.
Keduanya masih terhanyut dalam lara kerinduan. Hingga beberapa saat kemudian.
Ia membawa masuk Ru ke dalam rumah. Memberikan baju ganti milik Ganjar. Dan ternyata pas. Ia tersenyum, meski sepersekian detik menghasilkan buliran yang kembali menetes. Dengan cepat ia mengusapnya.
Ini hari bahagianya, ia tidak boleh larut dalam kesedihan. Ia membuatkan teh hangat untuk Ru. Menunggu anaknya keluar dari kamar.
Kondisi di luar masih hujan. Malam telah merambat perlahan. Samar-samar ia mendengar pintu kamar terbuka.
Ia menoleh. Mengulas senyum menatap Ru yang berdiri di ambang pintu.
“Ini baju siapa?” tanya Ru membentang kaos yang dikenakannya.
“Duduk sini,” ia mengusap sofa sebelahnya yang sengaja diluangkan.
Ru mendekat dan duduk di sebelahnya.
Ia menyodorkan gelas berisi teh hangat, “Baju adik kamu.”
Garu menegak minumannya. Menyimpan kembali di atas meja.
“Ganjar namanya,” ia mengetatkan jaketnya. Mendekap tubuhnya sendiri. Efek dingin diguyur hujan masih tersisa.
“Ganjar Gumilar. Kalian anak-anak Ibu. Lahir dari rahim Ibu.” Satu bulir kembali menetes. Melow sekali suasana hatinya saat ini. Mungkin tepatnya sedang rapuh.
Garuda merangkul bahunya. Ia memeluk pinggang anaknya. Begitu lebar. Berapa hari sudah terlewati. Berapa musim telah silih berganti. Dan berapa kejadian yang ia lewatkan? Sampai tak terhitung lagi. Inilah kali pertama setelah sekian lama ia bisa kembali menyentuh, merangkul dan memeluknya.
“Berapa tahun umurnya?” tanya Ru. Mungkin laki-laki yang pernah dilihatnya dulu bersama ibu.
“25,”
“Kenapa dia tidak tinggal di sini menemani Ibu?”
Ia mengurai pelukan, kembali duduk tegak. “Adikmu punya cita-cita. Punya keinginan, tidak mungkin Ibu melarangnya. Yang penting kalian bahagia ... Ibu pasti juga bahagia.” Tandasnya sambil tersenyum.
Jeda sejenak menghinggapi keduanya. Meski bentang itu telah hilang. Tapi, tidak dapat dipungkiri kecanggungan masih menyelimuti.
“Aku minta maaf ... selama ini tidak mencari Ibu,” sela Ru.
Ia menggeleng, “Ibu percaya hari ini adalah hari yang tepat buat kita,” sembari menyusut sudut matanya.
Ru menggenggam tangannya, “Terima kasih, Ibu ....”
Ia menatap wajah Ru. Mengulas senyum kebahagiaan.
Mereka sepakat menghabiskan waktu bersama. Malam itu ia begitu bahagia. Menunjukkan kamar Ru kecil yang masih terawat sampai saat ini. Ranjangnya, alas kasur dan selimut tetap tidak berubah. Seprei karakter kura-kura ninja yang tayang di stasiun TV kesukaannya dulu.
Ia duduk di atas kasur. Ru berdiri menghadap meja belajarnya. Mengusap setiap sudut. Mengingat puluhan tahun silam. Meski sulit tapi Garu tidak asing dengan semuanya. Ia ingin menapaktilasi.
“Leonardo, Raphael, Michaelangelo ... dan Donatelo,” ucap Ru. Duduk di sebelahnya.
“Kamu masih ingat nama-nama kuartet kura-kura ninja itu?” tanyanya seraya tersenyum.
“Gurunya seekor tikus bernama Splinter.”
“Dulu waktu tayang di TV, aku percaya saja kura-kura ninja mutan itu bisa karate, melek teknologi, suka musik hip-hop, dan suka makan pizza ... padahal tinggalnya di selokan kota Newyork,” cibir Ru. “Sekarang aku tahu, ternyata mereka peliharaan si O’neil saat masih anak-anak. Dan ayah O’neil adalah ilmuwan yang menciptakan bahan kimia tempat para mutan itu diciptakan,” terang Ru lalu berdecak.
...***...
Keesokan paginya mereka berziarah ke tempat peristirahatan eyang Noto dan eyang putri di pemakaman khusus keluarga di atas perbukitan.
Keduanya disambut ramah oleh juru kunci. Rahayu menunjukkan makam-makam leluhur mereka. Setelah sebelumnya sempat transit di bangsal khusus sayap kiri tangga masuk menuju pintu gerbang utama.
Para juru kunci mengikuti dari belakang sambil membawa ubo rampe yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Mereka mengikuti arahan juru kunci yang berjumlah 2 orang tersebut. Menggelar doa kemudian ditutup dengan tabur bunga.
“Kenapa Ibu masih pakai mobil lama?” tanya Ru yang mengemudikan mobil, “apa gak takut tiba-tiba mogok di jalan?” imbuhnya.
Ia tersenyum, “Ini mobil sejuta umat. Mobil jaman dulu orang pengin. Kayaknya keren kalau punya mobil ini. Lagian, ini mobil pemberian papimu.”
Ru berdecak, “Itu dulu, Bu. Sekarang mobil ini sudah seperti gorengan. Identik mobil taksi online. Sudah ketinggalan jaman,” sanggahnya. Lalu ia merogoh ponsel dalam saku celananya.
“Ton,” sahut Ru ketika sambungan telepon itu terangkat.
“Tolong carikan mobil terbaik untuk ibu. Secepatnya. Aku tunggu. Nanti kukirimkan alamatnya.”
Ia menoleh pada Ru, “Semudah itu?” mengerutkan dahi, “tapi ini masih bagus, Ru. Masih bisa jalan. Masih bisa dipakai ... masih—”
“Bu, kapan lagi aku bisa membahagiakan Ibu?”
Ia berdecak, “Tapi,”
“Ibu tenang saja. Itu pemberian dari aku. Dari uang aku. Bukan uang korupsi, uang gelap atau uang siluman ... aku tahu, karena Ibu bekerja di rumah sakit. Pasti takut prasangka orang lain yang buruk tentang Ibu.” Ru menoleh padanya sekilas, “kalau ada yang masih tidak percaya, kasih tahu saja pada mereka. Anak Ibu punya perusahaan, bukan sembarangan.” Pungkas Ru.
Ia menipiskan bibirnya, “Kamu nih, beli mobil kayak beli gorengan ....” Ia terkekeh setelahnya.
Dermaga di Pantai Glagah siang itu tidak begitu panas. Hari ini seperti kemarin, bumi Yogya masih dirundung mendung.
Suara deburan ombak pantai selatan begitu kuat. Memecah tetrapod breakwater yang sengaja ditata apik mengelilingi pinggir pantai bahkan sampai mengarah ke tengah.
Ia dan Garu berjalan menuju dermaga.
“Kamu masih ingat, Ru. Sewaktu kecil kita sering ke pantai ...,” ia membentangkan kedua tangannya. Menghela napas sebanyak-banyaknya. “Sebelum kamu pandai berjalan malah, kamu sudah Ibu kenalkan dengan pantai. Dengan pasir, rasa asin air laut, ombak, suara gemuruh ... dan kotor.” Bibirnya tersungging ke atas.
Ru menyelipkan kedua tangan ke dalam saku celananya, “Itu sebabnya aku suka pantai. Aku nyaman berada di sini. Karena ternyata sedari kecil aku sudah dekat, sudah menjadi mainanku,”
Ia mengangguk.
“Bahkan kamu dulu hampir pernah terseret ombak. Kamu tahu sendiri ombak pantai selatan terkenal ganas. Aku sempat trauma, lama tidak mendatangi pantai gara-gara kejadian itu,”
“Tapi, kamu selalu merengek meminta ke pantai lagi dan lagi. Padahal sebagai gantinya aku bawa kamu ke gunung, ke tempat rekreasi lain,” ia terkekeh ringan, “tetap saja kamu hanya ingin pergi ke pantai. Papimu sampai kewalahan. Membuatkan kolam-kolaman lalu diisi dengan pasir,” kenangan itu begitu dekat dan seperti terputar kembali.
Ia mengembuskan napas, “Kami menyerah. Akhirnya kembali membawamu ke pantai. Dan di sana kamu terlihat bahagia. Sejak itu hampir setiap 2 minggu sekali pasti kita ke sana. Tukang jaga pantai, tukang parkir, nelayan bahkan tukang jualan sampai mengenalimu.” Ia terkekeh ringan lagi.
Garu ikut tertawa lalu bertanya, “Apa aku dulu bandel?”
Ia menggeleng, “Bukan bandel. Tapi tidak bisa diam. Suka mengeksplore sesuatu. Asyik dengan dunianya tidak mau diganggu. Bahkan marah kalau sepupu-sepupu kamu datang mengganggu mainan kesukaanmu,”
Jeda sejenak. Gelombang demi gelombang mendesau tanpa henti lalu terhantam dan pecah di tetrapod. Begitu seterusnya. Begitu menenangkan.
Keduanya beberapa menit terhanyut karenanya.
“Mereka sudah pada menikah, Ru. Pakde-pakdemu udah pada punya cucu.” Ia membuka kembali obrolan. Bersedekap menatap gelombang yang datang secara konstan.
Garuda menarik bibirnya ke atas, “Ibu mau cucu?” tetiba ia membayangkan Mala hamil, kemudian melahirkan ... 1, 2, atau 3 anak. Oh ... sial. Kenapa pikirannya sampai ke situ.
“Siapakah gerangan gadis itu?”
Garu terkekeh ringan, “Dia ... dia gadis biasa. Gadis sederhana perilakunya, sederhana penampilannya, sederhana juga cara berpikirnya dan ...,” jeda sesaat.
“Itulah yang membuat dirimu jatuh cinta kepadanya,” timpalnya berkelakar, “apa Ibu benar?” ia menelengkan kepalanya.
Ru menyahut, “Suatu saat aku akan bawa dia bertemu sama Ibu,”
“Ibu akan menunggu hari itu.”
Seharian kebersamaan mereka nyatanya tidak akan cukup untuk mengganti waktu yang hilang dan terlewatkan.
Setelah dari pantai, ia mengajak Ru melihat sekolahnya waktu kecil. Bersilaturahmi dengan pakde dan sepupu-sepupunya. Hingga mereka harus berpisah sementara waktu.
“Aku pasti akan ke sini lagi, Bu. Jangan khawatir.”
Ia mengangguk dan melempar senyum. Menepuk-nepuk punggung tangan Ru yang menggenggamnya.
“Papi,” Ru menjeda. Menatapnya meminta melanjutkan kalimat melalui sorot mata wanita di hadapannya.
Dengan berhati-hati Ru melanjutkan kalimatnya, “Papi ... butuh kita, Bu.”
Ia masih terdiam. Menatap Ru yang tengah menatapnya. Lalu tersenyum tipis.
Rasanya memang belum cukup. Tidak cukup. Bahkan tidak akan pernah cukup. Seandainya ia bisa meminta waktu lebih banyak. 30 jam, 50 jam dalam sehari, atau setiap detik yang terganti untuk menebus waktu yang telah terlompati di hari ini.
“Ru,” ucapnya ketika anaknya itu akan keluar. Garu memutar tumitnya. Menghadapnya kembali. Ia menghambur, memeluk tanpa kata-kata.
“Aku pasti akan kesini lagi, aku janji. Aku sayang Ibu.” Garu mencium kepalanya, punggung tangannya dan bergegas meninggalkan rumahnya.
Air matanya kembali mengatar kepergian anak pertamanya. Kali ini bukan air mata perpisahan dan kesakitan. Bukan air mata kerinduan. Tapi air mata kebahagiaan. Air mata keharuan. Sebab setelah ini ia akan bisa bertemu dengan Ru kapan saja. Di mana saja. Dan setelah ini akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya.
Mobil yang ditumpangi Ru melaju perlahan setelah memberikan tanda klakson. Ia melambaikan tangannya, “Ibu juga sayang kamu, Ru.” Lirihnya menatap mobil tersebut hingga hilang tak terlihat lagi.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏