If Only You

If Only You
48. Fat Puffin



...48. Fat Puffin...


Melbourne


Hasil scientific paper (artikel ilmiah) yang akan dipublish telah siap. Lembaran-lembaran kertas terdiri dari 10 halaman sudah dijilid tergeletak di atas meja.


Pandangannya memang pada paper bersampul merah. Tapi pikirannya, melalang buana ke antah berantah.


Manakala ia menelepon Garuda. Suara yang menyahut bukan laki-laki itu. Kemudian, terdengar dua orang berdebat. Saling memperebutkan ponsel. Apa yang terjadi di sana sebenarnya?


Apa laki-laki itu mabuk, lagi?


Masih terdengar suara yang ia duga Jebe, “Ton, cheers ...!”


Kemudian disusul decakan, “Gila, minuman lo bikin gue lupa. Lupa semuanya ....”


Gemala yakin itu suara Garuda.


Sementara Toni terdengar menyergah, “Itu ponsel Pak Ru, Pak. Ponsel Pak Jebe ... ini,”


“Ponsel gue,” Jebe menukas tak terima.


“Coba lihat layarnya,” Toni berusaha menjelaskan. “Ada foto Bos Jebe di sini. Artinya ini ponsel, Bapak. Yang Pak Jebe pegang itu milik Pak Garu,” susahnya menjelaskan pada 2 orang setengah sadar di bawah pengaruh alkohol.


Ia menggeleng. Lalu memutuskan sambungan telepon.


Garuda.


Laki-laki itu benar-benar membuatnya gundah. Kemarin mereka masih bisa tertawa bersama. Hari ini penuh tanya. Esok? Entah tak dapat diduga.


Pernah sekali melihat Ru mabuk parah saat di Yogyakarta. Karena kecewa saat menemui Rahayu pertama kali. Ru mencari pelampiasan diri.


Lalu ini?


Masalah apa lagi yang dihadapi laki-laki itu? Kenapa selalu berakhir begini.


Ia menelepon Toni. Setidaknya ia tahu alasan Garuda mabuk-mabukan.


“Ya, Mbak.” Toni menyahut setelah dering kedua. Asisten pribadi Garuda itu menjauh dan membuka pintu balkon ruangan tengah.


Helaan dan embusan napasnya kesal. “Masalah apalagi yang sedang dihadapi, Ru?” cercanya.


Jeda sejenak. Belum ada jawaban dari Toni.


“Apa masalah pekerjaan? Atau masalah lain, Ton?”


“I-iya, Mbak. Pak Garu memang sedang sibuk.”


“Bukankah dia memang selalu sibuk?!” sindirnya sebal. Saking sibuknya lupa menghubunginya. Terkadang ia yang harus menghubungi lebih dulu. Dan hasilnya ... lihat, ‘kan? Ia menghubungi laki-laki itu malah dia mabuk-mabukan.


Ia mendengkus. Hubungan macam apa sebenarnya yang diinginkan Garu? Terkadang terasa membubungkan angannya tinggi hingga ia takut jatuh tiba-tiba. Terkadang penuh harapan, sampai ia takut tak dapat menggapainya. Bahkan terkadang membumikan. Hingga ia sadar hubungan mereka sepertinya ... rumit.


Entah apa penyebabnya.


Mereka memang saling mencinta. Tapi seperti ada jurang tak kasat mata yang menganga. Mereka memang saling sayang. Namun tak tahu mengapa terasa ada penghalang.


Apa ia yakin hubungan ini sampai dititik apa yang dijanjikan Garuda padanya. Satu setengah tahun. Artinya sebentar lagi. Autumn tinggal menghitung hari.


“Mbak,” suara Toni membuyarkan lamunannya. Ternyata sedari tadi Toni menunggunya.


“Ma-maaf, Ton.” Berbicara dengan Garu sekarang rasanya percuma saja.


“Sampaikan ke Ru kalau aku tadi menelepon. Tapi, sampaikan saja nanti kalau dia sudah sadar dan mampu berpikir dengan akal sehat,” ketusnya kesal.


“Baik, Mbak.”


“Oya, Ton. Jangan pernah meninggalkan dia sendiri dalam kondisi seperti ini.”


“Sudah tugas saya, Mbak.”


Sambungan telepon itu berakhir.


Tatapannya pada paper beralih pada layar wallpaper. Foto dirinya, Garuda dan anak-anak rimba.


Kenapa kamu selalu buat aku kesal. Tapi dalam waktu yang sama buat aku jatuh cinta.


Layar ponsel kembali gelap.


“Gue pulang ...!” Gayatri muncul dari balik pintu. Ia menoleh sejenak ke arah kakaknya datang.


“Wow ... paper lo udah jadi? Selamat ... selamat. Bentar lagi lulus. Apa planning lo selanjutnya?” tanya kakaknya itu ikut duduk di sebelahnya. Meraih paper, membacanya sebentar lalu menyimpannya kembali.


Ia mengangkat bahu.


“Apa si nasty akan melamarmu?”


Ia kembali mengangkat bahu.


“Hah ... hubungan kalian aneh. Kalau memang kalian yakin ya, go on. Gak usah melihat ke belakang, pendapat orang, ini itu. Yang jalani kalian berdua, buat apa mikirin orang lain yang belum tahu kebenaran,” tangkas Gayatri. Bersandar ke belakang sambil memainkan kunci mobil yang diputar-putar dengan jari telunjuknya.


Ia melihat Gayatri seraya mengerutkan dahi.


“Maksud gue, ya jalani aja. Simple.” Gayatri mengoreksi kalimat sebelumnya.


...***...


Garuda


Entah sampai jam berapa party tadi malam berakhir. Yang jelas begitu ia sadar keesokan paginya, ia sudah berada di dalam kamar.


Kepalanya masih terasa berpendar. Ia memijit pelipisnya.


Suara ketukan pintu dan langkah membuatnya menoleh ke arah sumber suara.


Toni dan Bi Yati datang.


“Bapak sudah bangun? Bi Yati buatkan sup hangat,” ucap Toni. Yati menyimpan nampan di atas nakas.


Ia bangkit dan duduk di tepi ranjang. Berlalu tanpa bicara. Kemudian menghilang di balik dinding.


“Ton,” panggilnya saat Toni sudah di ambang pintu hendak menutup pintu kembali.


“Aku mau ke Yogya,” imbuhnya.


Bersama Jebe, ia ke Yogya menggunakan heli. Tiba di sana langsung menuju proyek yang tengah digarapnya.


“Akhirnya lo ambil juga residensial di sini,” ujar Jebe ketika mereka telah sampai.


“Hem, gue hanya meneruskan pemberian nyokap. Dari pada terbengkalai.”


“Otak bisnis lo langsung mencerna. Gue setuju.”


“Di sana,” ia menunjuk sebidang tanah yang masih pada tahap pondasi. “Gue mau bikin rumah. Untuk masa depan gue,” aura wajahnya tetiba berseri-seri. Membayangkan masa depannya bersama ...


Jebe manggut-manggut, lalu menyergah “Lo, mau buat vila?”


“Ya, seperti townhouse konsepnya. Tapi ini berada di kaki gunung. Kalau lo berbalik lo bisa lihat gunung saat pagi hari. Dan saat malam di sana," tunjuknya ke bawah. "Lo bisa lihat gemerlap lampu kota," urainya dengan bersemangat.


“Perfect,” sahut Jebe. “Lo, yakin masa tua lo mau dihabiskan di sini?”


“Di sini tempat kelahiran gue. Ya ...,” ia mengedikkan bahu, “... meski sebentar, tapi gue merasa punya ikatan dengan kota ini. Tempatnya juga nyaman. Tidak terlalu ramai.”


Mereka berjalan melalui orang-orang yang tengah bekerja.


“Lo, mau ambil?”


Jebe terkekeh ringah, “Ujung-ujungnya tetap bisnis.”


Ia ikut tergelak.


Dari Yogya mereka ke Surabaya. Mengunjungi proyek residensial berikutnya. Di kawasan Wonokromo. Sebuah apartemen mewah yang tak jauh dari stasiun Wonokromo.


Tahap pengerjaannya sudah 70%. Apartemen yang dirancang memiliki 20 lantai. Lokasi strategis, dekat pusat kota dan fasilitas umum serta transportasi publik.


“Gue gak rugi invest kemarin,” sergah Jebe.


“Pakai bearer stock segala!” sindirnya.


“Gue sudah terkenal. Buat apa tambah terkenal gara-gara beli saham lo, 50.000 slot!” cibir Jebe.


Ia berdecak, “Kita ke plaza yang gak jauh dari sini. Sekalian lunch.”


Mereka memilih resto Indonesia. Menu nusantara yang ditawarkan. Pilihannya tetap jatuh pada gulai tempoyak ikan patin. Ditambah nasi bali. Sementara Jebe memilih sop konro.


Kala tengah menyantap makanan, seorang gadis kecil mendekatinya.


“Om Garuda.”


Ia menoleh. Menghentikan makannya. Gadis kecil itu tersenyum manis.


“Om sama siapa?”


Jebe mengernyit. Dari mana sahabatnya itu mengenal gadis kecil ini pikirnya. Tapi ....


“Siren. Kenalin, ini teman Om.”


“Auntie mana?” cecar Siren tanpa menunggunya memberikan penjelasan.


“Kok gak sama auntie?!”


Jebe menyahut, “Auntie siapa?”


“Auntie—”


“Siren ...,” panggil seorang wanita berpakaian seragam. Mungkin asisten rumah tangga yang menjaga Siren. “Mama nyariin,” sambungnya.


“Mbak Tuti aku mau ngomong sebentar sama Om ini,” tukas Siren ketika Tuti mengajaknya pergi.


Gadis kecil itu menggeleng.


“Aku kangen auntie. Katanya auntie mau pulang autumn. Tapi di sini gak autumn. Terus autumn itu kapan?”


“Oke ... oke, Om mau jelasin tapi Siren duduk dulu. Gimana, mau?” tawarnya. Ponakan Mala memang harus diberikan pengertian dan perhatian lebih.


“Janji?” Siren mengancungkan jari kelingkingnya. Ia tersenyum dan menyambut.


“Mbak boleh kembali ke mamanya. Bilang, Siren sama saya. Mamanya kenal dan tahu saya,” terangnya pada Yati.


Ia menggeret kursi dan menepuknya. “Siren duduk di sini,” gadis kecil itu mengangguk, menurut.


“Siapa?” tanya Jebe. Ikut menyudahi makannya, “kayaknya pernah lihat.”


“Keponakan Mala,”


Jebe menipiskan bibirnya. “Aku Jebe,” menyodorkan tangan pada Siren. Tapi bukan sambutan yang diterima. Malah gadis kecil itu melengos memasang wajah cemberut.


Ia tergelak. Sementara Jebe dengan wajah memelas.


“Masa lupa sama Om. Kita kayaknya pernah ketemu, ya?” Jebe mengingat-ingat gadis kecil ini. “Oh ... I see, kita pernah ketemu di ....”


“Siren,” Ganisha datang bersama Tuti menghampiri mereka. “Lho, kalian?”


Ia dan Jebe menyambut Ganisha, “Kebetulan makan siang.” Ia menukas.


“Kalian?” Ganisha menunjuknya kemudian beralih menunjuk Jebe.


“Teman,” sahutnya.


“Oo ...,” Mama Siren itu manggut-manggut.


“Kita ketemu lagi,” Jebe menyergah.


Ganisha memutuskan untuk duduk bersama mereka. Mengobrol sebentar. Ia juga tak menyangka Jebe sepupunya Kirei berteman dengan Garuda. Dan bisa bertemu dengan mereka.


“Ya, kita ketemu waktu syukuran kehamilan Kirei sama lahirannya si kembar. Dua kali kalau gak salah, ya?”


Jebe mengangguk.


Obrolan itu mengalir saja. Hingga Siren berucap, “Bosan.”


Mereka kompak menoleh pada anak kecil tersebut. Lalu tergelak bersama.


“Bentar lagi, ya.” Ganisha berusaha membujuk. Tapi gadis kecil itu memasang wajah cemberut. Pipinya menggembung, bola matanya memutar malas. Percis ....


“Boleh, aku bawa sebentar Siren?” izinnya pada Ganisha.


“Nanti dia ngrepotin kamu,” Ganisha merasa tidak enak. Pasalnya ia tahu sifat anaknya.


“It’s okay. Gak pa-pa. Lagian tadi aku udah janji.”


Ia mengajak Siren jalan.


“Siren mau apa?” ia menggandeng lengan mungil itu memasuki etalase penjual boneka.


Siren menggeleng. “Aku kangen auntie,”


Ia berjongkok. “Kita telepon auntie, tapi kita beli boneka dulu gimana?”


Siren mengangguk. Ia menawarkan beberapa boneka. Dari teddy bear. Gadis kecil itu menggeleng, “Sudah punya.”


Panda?


“Punya 2,”


Hello kitty?


“Punya 4,”


Ia berturut-turut menyodorkan berbagai jenis boneka yang biasa disukai anak-anak. Yang lagi nge-hits neukun, goblin, lovely cat hingga barbie.


Namun lagi dan lagi gadis kecil itu menggeleng.


Otaknya diperas berpikir. Bahkan ini lebih sulit menentukan proyek mana yang akan diambil.


Lalu terbersit ide. Ia bertanya pada penjaga etalase tersebut. Tak berapa lama penjaga toko datang membawa boneka seperti keinginannya.


“Siren ... tadaaa,” ia muncul dari balik boneka fat puffin (ikan buntal) berukuran besar yang tengah menggembungkan tubuhnya. Bagian atas boneka berwarna hijau dengan totol-totol putih. Sementara bagian bawah berwarna putih polos.


Gadis kecil itu tersenyum malu-malu. Tak lama mengangguk. Akhirnya ....


Ia mengajak Siren untuk duduk di salah satu kursi pengunjung yang kosong.


“Kita telepon auntie, ya.” Ia melihat arloji di lengannya. Di sana masih sore pikirnya. Bisa jadi Gemala sudah berada di rumah.


Sambungan video call itu langsung terhubung. Itu berarti Mala menunggunya. Atau oh sial ... mungkinkah yang menghubungi kemarin Mala? Ia baru teringat.


“Auntie!” seru Siren.


Gemala mengerutkan kening, “Siren? Sama siapa?”


Siren tampak senyum senang. Rindunya terobati melihat tantenya.


“Taadaa ...,” ia muncul dengan bersembunyi di balik boneka fat puffin.


“Hai,” imbuhnya.


“Kalian?”


“Siren ketemu sama Om di Plaza. Lagi makan siang,” celetuk gadis itu.


Mala tersenyum.


“Auntie kapan pulang? Katanya autumn. Tapi autumn itu kapan?” layar dan suara didominasi Siren. Sementara ia bertugas memegangi ponsel. Jika geser sedikit untuk menampilkan wajahnya agar tampak di layar, Siren menggesernya kembali.


Ia terkekeh dengan tingkah menggemaskan gadis kecil itu.


“Doain ya, Un pulang sebentar lagi.”


“Jangan lama-lama, auntie. Siren kangen.” Wajah Siren berubah sendu.


“Auntie janji. Sekarang ponselnya kasih Om, ya. Auntie, mau ngomong sebentar.”


“Ya ... I’m here,” sergahnya begitu wajahnya memenuhi layar.


“Aku butuh penjelasan kamu. Tapi tidak sekarang,” todong Mala. Pasti tentang kemarin.


“Kamu lagi di Surabaya?” tebak Gemala.


“Sama Jebe,”


“Ketemu sama Kak Ganisha?”


Ia mengangguk.


“Salam buat mereka,”


“Mala, nanti kita sambung lagi. Kayaknya Siren tertidur.” Benar saja baru beberapa menit ditinggal mengobrol gadis kecil itu bersandar di lengannya. Dan tertidur sambil mendekap boneka.


“Okay, tapi aku tunggu penjelasan kamu ... see you ....”


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏