If Only You

If Only You
39. H-o-n-e-y



...39. H-o-n-e-y...


Gemala


Ganjar beberapa kali mengabadikan foto stasiun kereta api Flinders street sebagai salah satu ikon kota Melbourne. Sebuah stasiun populer di pusat kota yang merupakan tepat pertemuan seluruh jalur kereta api suburban Melbourne.


“Kita ke sana!” Tunjuknya pada area di seberang Flinders street. Ia melangkah lebih dulu, diikuti Ganjar di belakangnya.


“Apa namanya?” Tanya Ganjar.


“Federation square,” jawabnya. “Seperti  area public untuk warga,” lanjutnya.


“Semacam alun-alun gitu.” Ganjar menyimpulkan.


Ia mengangguk.


Berbagai bangunan kontroversial dari arsitek kenamaan ditampilkan. Tapi menjadi unik dan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan maupun warga lokal.


Ganjar berdecak, “Wow!”


“Ada 9 bangunan budaya dan komersial yang terpisah,” ujarnya. “Termasuk galeri Nasional koleksi Victoria seni Australia, ACMI (gedung untuk koleksi gambar bergerak) dan penyiar SBS (multi budaya),” imbuhnya sambil menunjuk gedung sesuai nama.


“Sebuah bangunan modern yang artistik,” tambah Ganjar.


Ia menyahut, “Ya,”


Mereka berfoto-foto sejenak. Hari ini cuaca masih panas. Tapi sudah lebih turun daripada minggu lalu.


Keduanya memutuskan untuk berjalan kembali menyusuri bourke street mall. Yang terletak di jalan Swaston dan jalan Elizabet. Berjalan kaki sekitar 6 menit dari federation square. Bourke street mall  adalah kawasan  pusat perdagangan atau bisnis.


Keduanya berjalan hingga ujung. Setelah melihat arsitektur bangunan lama tahun 1864 yang dulu dipakai sebagai kantor pos. Kini bangunan tersebut ditempati oleh peritel kenamaan dari Swedia H&M.


Beberapa kali Ganjar memintanya berpose. Meski awalnya menggeleng—keberatan, tapi Ganjar bilang, “Buat kenang-kenangan. Lagian aku belum tentu bisa kesini lagi,” tukasnya merayu.


Tiba di ujung jalan mereka memilih duduk-duduk di beranda depan state library Victoria. Sebuah perpustakaan pusat Victoria yang berada di Melbourne. Selain sebagai perpustakaan, state library ini juga dijadikan tempat wisata yang nyaman.


“Kamu yakin gak bareng aku pulang ke Indo besok?” tanya Ganjar kembali meyakinkan keputusannya.


Ia menggeleng. Keputusannya sudah bulat untuk mengambil summer course. “Terima kasih, sepertinya aku harus melewatkan tahun baru di sini.”


Ganjar menyergah, “Sayang sekali.”


Ia melempar senyum pada pria itu. Meski ia sendiri tidak tahu kapan bisa pulang ke Indonesia. Bukankah usai summer, autumn setelahnya. Di mana seseorang berjanji untuk menjemputnya dan membawanya pulang.


“Sorry ... itu,” Ganjar menunjuk bibirnya yang tengah mengunyah hamburger.


“Hem?” ia bertanya melalui isyarat mata.


“Itu,” kata Ganjar kembali menunjuk bibirnya. “Sorry,” tangannya terulur menyapu sudut bibirnya yang berlepotan saus. Lalu tersenyum menunjukkan bekas saus yang diusapnya.


Ia kikuk dan malu. “O ... thanks."


“Aku heran sama kamu. Tinggal lama di sini, tapi jati diri kamu Indonesia banget. Biasanya yang sudah lama tinggal di luar tuh, pasti beda. Malah suka lupa dari mana asalnya.” Ganjar kembali melanjutkan menghabiskan hamburgernya.


“Aku cinta Indonesia,” selorohnya sambil memperagakan finger heart. “Tidak semua apa yang kita dapat dari lahir harus kita tinggalkan. Malah kalau aku diberi pilihan dulu aku akan memilih tinggal di Indonesia. Tinggal sama mama-papa. Sama saudara. Kamu bisa bayangin, jika anak SD biasanya masih tinggal bersama orang tua mereka. Melalui masa-masa pertumbuhan dengan manja dan kehangatan keluarga. Tapi aku, justru terpaksa tinggal jauh.”


“Itu buat aku shock,”


“Shock semuanya. Dari lingkungan, makanan, budaya kebiasaan dan tentu bahasa. Meski ya ... aku memang tidak kehilangan perhatian mereka. Tapi tetap saja ada yang kurang,”


“Aku salut sama kamu.” Ganjar menimpali.


Ia menyunggingkan senyum, “Awalnya tidak biasa dan terpaksa. Tapi pada akhirnya terbiasa,” ia menarik napas. Masa-masa itu sudah terlewati olehnya.


“Apa kamu tidak ada rencana pulang dan menetap di Indonesia? Atau jangan-jangan mau jadi warga negara sini?!” Ganjar terkekeh.


Ia tersenyum miris.


“Aku bisa tebak,” Ganjar menukas. “Kamu harus menikah sama orang Indo biar balik ke Indonesia. Sayang banget Indonesia harus kehilangan salah satu asetnya.”


Keningnya berlipat, “Memangnya aku aset?” tidak terima dengan pernyataan Ganjar.


Ganjar tergelak, “Iya donk. Mahasiswa yang sekolah di luar negeri itu aset. Kalau balik ke Indo harusnya mengabdi. Apalagi kamu punya potensi. Selain pintar juga cantik.”


“Gak kebalik nih?” sindirnya. “Kamu juga kenapa masih stay di Jepang. Padahal cerita kamu pernah ditawari kerja di cabang Indonesia?” todongnya.


Ganjar berdecak, “Karena aku punya alasan kuat untuk kembali ke Jepang. Tapi next ... dunno, maybe some day ... bisa jadi aku memilih Indonesia. Apalagi ibuku sendirian.”


Bola raksasa dunia itu sudah berada di kaki barat. Mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan.


“Thanks, Mala.” Ucap laki-laki itu setelah mobilnya berhenti tepat di hotel tempat Ganjar menginap. “See you ... tapi aku berharap kita masih bisa berjumpa lagi. Terima kasih udah menemani aku.”


Ia tersenyum, “See you. Semoga besok lancar sampai Indonesia. Salam buat ibumu.”


Ganjar turun dan melambaikan tangan. Menerbitkan senyum. Ia melambaikan tangan sekilas. Memutar setir kemudi dan perlahan menjauh.


...***...


Garuda


Pengajuan berobat ke Singapura dikabulkan oleh majelis hakim. Hari itu juga Torrid diterbangkan ke sana.


“Ibu sama Om Pras istirahatlah dulu. Biar aku sama dokter Tan dan Maleo jaga di sini. Ibu akan diantar sopir ke apartemen.”


Rahayu mengangguk. “Kalau kamu butuh Ibu, kabari secepatnya.” Pesannya sebelum pergi ditemani Pras.


Ia membalas, “Pasti.”


Dokter Tan dan Maleo mengurus masalah administrasi dan menemui salah satu tim dokter yang akan menangani papi.


Di dalam ruangan itu hanya tinggal dirinya sendiri. Sementara Atat tetap stay di Jakarta. Memantau kondisi dan tentunya tidak bisa meninggalkan Torrid Group tanpa perwakilan satu pun dari pimpinannya.


Papi tengah berbaring memejamkan mata. Kondisi lemah papi mengharuskannya banyak beristirahat.


Soal Rahayu, Maleo dan Atat sebenarnya sudah tahu dari dulu. Hanya saja kakaknya itu tidak pernah mencampuri urusan orang. Namun, sedikit terkejut ketika tiba-tiba ia dan Rahayu muncul dan hubungan mereka membaik. Sebab selama ini yang mereka tahu hubungannya dengan ibu kandungannya clash.


“Dia ibuku. Selama ini kami hanya salah paham. Dan itu sudah selesai,” terangnya malam itu ketika ia melihat Maleo dan Atat menatapnya heran bersama Rahayu yang datang bersamaan.


Tidak ada lagi pertanyaan. Mereka bahkan menghormati Rahayu sebagai ibu kandungnya.


“Istirahatlah.” Maleo datang membawa kopi 2 gelas yang terbungkus paper cup. Menyodorkan 1 padanya.


“Berapa jam lagi tim dokter datang?” tanyanya.


“Menurut dokter Tan nanti malam. Sebab salah satu dokter spesialis Onkologi masih di Malaysia,” jawab Maleo sembari mendudukkan dirinya di sofa tunggal yang menghadap jendela kaca.


Ia membuka ponselnya. Ada pesan dari Mala.


Gemalanya Ru : Ru, tebak ini di mana?



Sudut bibirnya melengkung ke atas.


Garuda : State library Victoria


Garuda : Kamu lagi di sana?


Lama tidak ada balasan. Pesan Mala masuk 5 jam yang lalu. Ia terlambat membuka dan membalasnya.


Ia kembali menutup chat dari Mala. Menyimpan ponsel di meja.


“Menurutmu, gelombang kedua akan datang?” tanya Maleo. Kakak tertuanya itu membuka ipad.


Ia mengangkat bahunya. Pertanyaan retoris, yang sebenarnya Maleo sudah tahu. Tentu saja gelombang selanjutnya pasti datang setelah vonis. Atau ketetapan hukum tetap. Tapi ia tidak mau mereka-reka. Pun menerka-nerka. Ikuti saja apa maunya takdir untuk mereka.


“Yes!” tandas Maleo sambil mengepalkan tangan. “Harga minyak sawit naik lagi 60 US dolar. Top di enam tahun terakhir, Ru," ucapnya senang.


“Ya, itu sudah melesat jauh melampaui threshold  750/ton,” sanggahnya. Ia masih memantau pergerakan minyak mentah sawit. Meski ia sekarang memimpin Garuda Land.


“Effort whortwhile (tidak sia-sia), Indonesia menyuplai 70% kebutuhan dunia.”


“Jangan terlena. Kita tidak tahu sampai kapan ini bertahan.” Ia berpesan dan memperingati Maleo.


“Ya ... benar. Jangan terlena maksudmu!” Maleo mencibir lalu tersenyum.


Layar ponsel di atas meja berpendar. ‘Gemalanya Ru’ tampak di layar


Maleo sempat menatap layar sesaat lalu, “Cih, Gemalanya Ru ...,” cibir kakaknya. “kalah sama anak gue.”


Ia menyahut, “Emang anak lo udah pacaran?”


“Entahlah ... cuma kadang gue lihat tanpa sengaja di ponselnya namanya aneh-aneh. Ada Boo, Bun, Cutey, Cute, duuh pusing gue. Dulu perasaan gue sama Sandra gak gitu-gitu amat.”


Sudut bibirnya ke bawah, “Lo, yang kuno kali.”


“Terus itu Gemalanya Ru gak kuno apa?” sindir Maleo, “udah ah ... gue keluar bentar. Mulut udah pahit gak merokok.”


Ia membuka pesan dari Gemala.


Gemalanya Ru : Yuup, kamu benar. Aku baru saja sampai rumah.


Bukannya membalas ia justru menghubungi lewat panggilan telepon.


“Hai, Ru. Aku kira kamu lupa membalas pesanku.”


“Oh, ya. Maaf ....”


“Kamu tidak salah, Mala. Aku yang sibuk, sampai gak sempat ngasih tahu kamu,”


“Uhhuuk ... huuk!” terdengar suara papi yang terbangun dan batuk. Ia menaruh begitu saja ponselnya di atas meja.


“Pi, Papi mau apa? Minum?” tanyanya mendekati ranjang papi.


Mata papi terbuka perlahan lalu mengangguk. Ia membantu papi dengan mengatur ranjang hospital agar lebih tegak. Memberikan gelas berisi air putih yang dibantu dengan pipet untuk memudahkan meminum.


Papi memejamkan mata. Ia menyimpan kembali gelas ke tempat semula. Dan kembali mengatur posisi ranjang agar landai.


“Lanjutkan,” kata papi lirih seraya membuka mata.


Artinya papi mendengar percakapannya dengan Mala. “Nanti saja Pi,” kilahnya.


Papi menggeleng perlahan, “Salam buat dia,” papi menutup matanya kembali.


Ia membenarkan selimut papi. Lalu  keluar sebentar. Memanggil Tyo dan seorang perawat khusus. “Aku keluar bentar. Titip papi,” ujarnya. Tyo dan perawat tersebut mengangguk.


Ia menyambar ponsel di atas meja. Terlihat sambungan telepon itu masih terus berjalan.


“Mala, are you still there?”


Jeda sesaat. Mala tak menjawab pertanyaannya. “Mal,”


“Hem,”


“Sorry ... tadi aku,”


“Kenapa gak bilang papi kamu sakit, Ru? Aku merasa jadi orang yang kurang peduli sama kamu.”


“It’s okay. Papi sudah tertangani. Aku tidak ingin membuatmu khawatir. Lagian kamu tengah sibuk summer course. Cukup—”


“Ru,” sela Gemala memotong. “Aku siapa sih bagi kamu? Bagi kamu apa aku orang lain?”


Tak ada yang berbicara—nyenyat dalam sesaat.


“Oke kalau menurut kamu memang itu tidak penting buat aku ketahui. Itu artinya aku bukan siapa-siapa kamu,”


“Mal, that’s not what I mean. Tapi,”


“Ru. Sepenting apa aku dalam hidupmu?”


“Aku,”


Keheningan kembali menjeda.


“Baiklah. Aku anggap memang keberadaanku tidak penting.” Mala terdiam sejenak, “salam kembali buat papi kamu. Maaf bukannya aku menguping tadi. Tapi tidak sengaja mendengarnya. Semoga papi kamu cepat sembuh.”


Sambungan telepon terputus. Ia menyugar rambutnya hingga ke tengkuk. Menyandar ke dinding. Menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke menu utama. Foto dirinya bersama Mala saat di Yarra cruise. Sesaat kemudian layar itu kembali gelap.


Ia mencoba menelepon kembali Mala. Tapi diabaikan. Yang kedua kalinya masih tetap sama. Oh sialan!


...***...


Gemala


Dering ponsel dan layar yang berpendar tak membuat hatinya bergetar. Ia tahu itu Ru. Tapi keberadaannya dalam hidup laki-laki itu nyatanya tidak penting. Tidak sesuai harapannya. Alasan itu yang membuatnya malas untuk membalas.


Ia bergumam, “Dasar nasty ... Kamu bikin aku jatuh cinta. Tapi kamu juga nyakitin.”


“Untuk apa bilang I love you, kalau ternyata aku gak ada artinya bagimu.”


Ia membenamkan wajahnya ke bantal. Dering ponselnya kembali nyaring. Bodo amat! Tak diacuhkan.


Lalu,


Kriiing ....


Giliran suara telepon rumahnya mengusik indra pendengarannya. Mau tak mau ia bangkit dan bergegas ke ruangan tengah. Menyambar ganggang telepon lalu membawanya duduk di sofa.


“Ya,” sahutnya malas—emosinya sedang labil.


“Mala, bukan maksud aku tidak memberitahumu karena kamu tidak penting. Aku hanya tidak ingin kamu khawatir. Itu saja.”


Ia menghela sambil memejamkan mata. Ternyata Ru masih berusaha membujuknya. Bukankah ini kabar gembira? Tandanya ....


“Okay ... papi memang sakit. Sudah lama. Dan harus menjalani pengobatan di Singapura,”


“Maaf ... Hon,” terdengar rasa sesal Garu. Hatinya meluluh. Apalagi memanggilnya dengan ‘Hon’. Mungkinkah itu ‘Honey’?Sudut bibirnya tertarik ke atas. Namun ia harus berpura-pura untuk mengelabui Ru di seberang sana. Ia terdiam beberapa saat.


“Apa aku harus ke sana sekarang? Oke ... aku telepon Toni sekarang biar mengirimkan pesawat untukku. Perkiraan aku sampai Melbourne,” hening sejenak. “bisa tengah malam atau dini hari. Aku tutup teleponnya sekarang.”


“Ru,” panggilnya sebelum laki-laki itu melakukan hal konyol.


“Hem,”


“Aku terima maafmu. Tapi dengan syarat.”


“Syarat?”


“Ya, itu kalau kamu setuju.” Tawarnya memberikan pilihan. Hitung-hitung mengerjai laki-laki yang sudah membuat emosinya rusak hari ini.


“Oke.”


“Syaratnya mudah. Jangan diulangi seperti itu lagi. Justru aku lebih mengkhawatirkan kalau kamu tidak mau cerita padaku. Tidak mau terbuka. Aku senang kita berbagi. Paling tidak menjadi pendengar itu sudah membuat aku merasa dibutuhkan,”


“Hem ....”


“Ada lagi,” sambungnya.


Garuda di sana mengerutkan dahi. Syarat apa lagi? “Hem,”


“Jangan cuma ham, hem, ham, hem ... tidak adakah kosa kata lain yang lebih enak didengar?”


Jeda sesaat melingkupi.


“Ya, apa lagi syarat lainnya?”


“Can you spell what you just said?”


“Which one?”


Ia berdecak kesal. Memang laki-laki tidak peka dan mudah lupa. Pusat memori di otaknya lebih kecil dari kaum hawa. Sehingga apa yang dikatakan baru saja bisa terlupa. Sementara wanita bisa mengingat secara detail. Apalagi yang menyangkut perasaannya.


Ru terdengar tergelak. Apanya yang membuat laki-laki itu tertawa coba?


“Okay, Hon. H-o-n-e-y.” Eja Ru dengan pelafalan cepat. “Apa perlu aku tambahi lagi? Honey, Bunny, Sweety," laki-laki itu masih menyisakan kekehan kentara. Meski masih kesal.


Namun tak ayal membuatnya melambung ke udara.


-


-


📷 : unsplash


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏