
...49. Autumn di Hatiku (2)...
Garuda
Heli Bel 505 itu mendarat di helipad gedung Torrid Group. Ia turun sendiri. Sementara Jebe melanjutkan perjalanan ke Gorontalo.
Pertemuan tanpa sengaja dengan Ganisha sebenarnya mengubah sedikit kesimpulan yang diambilnya. Ia awalnya insecure. Kepercayaan diri yang biasa melekat pada sosoknya terjun bebas. Ibarat layang-layang yang terputus benangnya. Namun tanpa diduga, justru Kakak Gemala itu mengucapkan kalimat keprihatinan. Meski ia tidak bisa membalas satu patah kata pun. Tergugu—lidahnya kelu.
Sebab semua memang benar adanya. Ia adalah anak kandung Torrid. Anak dari penjahat. Terlibat kasus penganiayaan. Suap. Anak dari seseorang yang berusaha melukai saudara dari pacarnya sendiri. Lucu bukan? Hubungan yang aneh dan rumit.
“Mala sudah tahu?”
Ia menggeleng. Ragu.
Ganisha menghela. “Itu keputusan kalian. Aku hanya berharap semoga yang terbaik.”
Tidak ada lagi pembicaraan. Siren melambaikan tangan, “Da da ... Om. Thank you untuk bonekanya.” Siren mengibaskan fat puffin dengan senyum lucu menggemaskan.
Ia ikut melambaikan tangannya dan mengulas senyum. Ada desiran asing menyelusup dalam hatinya. Mampukah ia mengatakan ini pada Mala?
Bola raksasa dunia itu sudah melandai. Para pekerja juga sebagian besar telah pulang. Hari pertama ia kembali ke kantor setelah kabar kepastian hukum Torrid diputuskan.
Tidak banyak yang berubah. Hanya saja desas-desus di belakang masih mencuat. Apalagi beberapa media masih menjadikannya sumber berita.
Pengaruh terhadap saham Torrid Group di pasar bursa saham mengalami sentimen negatif. Harga saham terkoreksi turun dan masih rawan. Semua dikendalikan oleh sentimen pasar atas putusan hakim yang menjerat co-founder TG sedikit banyak mempengaruhinya. Emosi sering kali menggerakkan pasar saham, sehingga sentimen pasar tidak selalu berdasarkan fundamentalnya.
Sementara fundamental perusahaan adalah tentang kinerja bisnis. Maka penurunan harga saham di pasar tidak begitu berpengaruh terhadap jalannya roda perusahaan. Semua masih berjalan normal dan terkendali. Sejauh investor masih mempercayakan modalnya.
Beberapa kali ia menghela dan mengembuskan napasnya kasar. Ada beban yang membelenggu kalbu. Sedangkan matanya terus menatap kalender di hadapannya. Kepalanya tetiba berdenyut. Pening.
Ia menyandarkan kepala ke belakang. Matanya terpejam. Tapi tangannya tak mau diam. Terus meraba satu persatu gelang sebelik sumpah yang di melekat di lengannya.
Apa yang harus dilakukannya?
Dering ponsel seketika membuyarkan lamunannya. Ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja. Gemalanya Ru berpendar di layar.
“Hai,” sahutnya seraya duduk tegak. Tangan kiri menopang wajahnya.
“Ru, are you okay?”
“Hem,”
“Please kamu tidak bisa bohong sama aku lagi. Sebenarnya apa yang terjadi. Kamu pernah bilang kita akan terbuka dengan hubungan ini. Terus ini apa? Alasan apa lagi yang membuat kamu seperti itu?”
“Mala, aku—”
Jeda sejenak. Ia sendiri bingung mau mengatakan apa.
“Apa aku boleh tanya?”
Hening. Tidak ada sahutan.
“Oke. Baiklah. Aku merasa memang hubungan ini ... rumit. Serumit kamu yang tidak mau jujur,”
“Mala, aku ....”
“Tunggu sebentar lagi. Aku akan ke sana,”
“Maaf ... aku tidak bisa mengatakannya di sini.” Ia berdalih demi menutupi sesuatu yang memang belum siap diungkap.
Entah sampai kapan? Paling tidak, bukan untuk saat ini.
"Good night ... see you,"
Ia mengakhiri perbincangan melalui sambungan telepon tersebut. Bahkan sebelum gadis itu menyahut. I’m so sorry....
...***...
Gemala
Memasuki bulan ke-3 musim gugur datang. Waktu di mana hari-hari yang ditunggunya. Tapi sejauh ini belum ada kabar dari Garuda. Laki-laki itu mengaku akan datang. Tapi waktunya kapan. Entahlah, sepertinya memang ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
Bulan ke-3 terlewat begitu saja.
Hatinya seolah meranggas. Seperti pohon-pohon yang mulai menggugurkan daunnya.
Mungkin bagi sebagian besar orang, melihat daun berubah menjadi merah, kekuningan serta kecokelatan dan pada akhirnya akan gugur satu persatu adalah pemandangan yang indah.
Tapi tidak baginya.
Pohon itu seperti dirinya. Disiksa oleh cuaca yang mulai tak bersahabat. Rentang mendapatkan sinar matahari yang pendek mengakibatkan pohon berhenti menghasilkan klorofil. Akibatnya daun membusuk dan vegetasinya ibarat ‘sekarat’.
Perumpamaan hatinya saat ini.
Satu daun jatuh di atas pangkuan. Ia menengadah. Mengulas senyum namun dengan kegetiran yang menyeruak pelan.
Satu jam lalu Garuda mengabarkan akan datang menemuinya. Betapa bahagia ia mendengarnya. Satu bulan tanpa kepastian. Lalu sekarang ... dia akan datang. Laki-laki itu akan menemuinya di salah satu taman yang tak jauh dari rumahnya.
Sepuluh menit yang lalu ia berjalan kaki dari kediamannya. Tiba di taman yang dituju 6 menit kemudian. Masih ada sisa 4 menit sebelum waktu janji temu pikirnya. Ia duduk di salah satu bangku di sana. Tepat di bawah pohon.
Satu dua orang berlalu lalang tak acuh. Di bangku yang tak jauh ada beberapa keluarga sedang bercengkerama. Anak-anak bermain di playground. Terlihat intim dan bahagia. Menularkan rasa ikut senang melihatnya.
Cuaca sedikit lebih dingin. Meskipun cahaya bola raksasa menyinari di siang hari. Masih terasa menusuk pori-pori kulitnya. Ia mengusap kedua lengannya. Mungkin juga ia salah mengenakan pakaian. Kemeja pendek dengan kardigan hitam.
Angin semilir juga menerbangkan surai panjangnya. Meski berulang kali ia mengaitkan ke belakang telinga.
Jantungnya berdebar tak menentu. Kerinduan dan perasaan yang terpendam melatarbelakangi suasana hatinya saat ini. Bukankah ini sudah 1,5 tahun yang dijanjikan? 6 musim sudah dilewati. Bahkan autumn akan berganti winter. Sebentar lagi.
Ia bisa bernapas lega ketika melihat sosok yang ditunggunya datang. Seutas senyuman ia lukis untuk menyambut kedatangan orang yang begitu dinantinya.
“Kamu sudah menungguku lama?” kalimat pertama yang diucapkan Garuda. Terasa kaku dan asing di telinga.
Ia menggeleng.
Mereka duduk di bangku bersisian. Terkesan ada jarak. Padahal hanya terbentang 30 centimeter saja. Lebih terasa ada bentang ketimbang hubungan LDR yang mereka jalani selama ini.
“Bagaimana kabarmu?” Ru bertanya basa-basi. Tanpa melihat sedikit pun padanya.
Ia mengangguk, “Fine. Alhamdulillah,” balasnya.
Ru terdengar mendesakkan napasnya berat. “Sorry membuatmu menunggu. Membuatmu dalam ketidakpastian,”
Ia menegakkan punggung.
“Mala,”
“Hem,” ia menoleh pada laki-laki itu
Tatapan Garuda lurus dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku jaket.
“Aku rasa hubungan kita tidak bisa dipaksakan. Hubungan ini ....”
Ia terkesiap, melebarkan mata sesaat. Menatap Ru tak percaya.
“Aku tidak ingin membawamu dalam masalahku. Sebelum semuanya terlambat. Maaf ....”
Keningnya berlipat. Lalu menggeleng.
“Cinta saja tidak akan cukup untuk menopang sepasang anak manusia agar berdiri menatap masa depan,”
"Aku tidak mungkin membawamu ke dalam masalahku. Aku juga tidak mungkin merusak nama dan masa depanmu. Maaf,"
Ia termangu. Menelan ludahnya yang terasa sulit untuk masuk ke dalam tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Satu persatu hatinya berguguran.
Garuda berdiri, “Lupakan. Lupakan janjiku untuk menjemputmu. Lupakan tentang kita.”
Refleks ia ikut berdiri. Matanya memanas seiring hatinya yang ikut meranggas.
Garuda meraih tangannya. Meletakkan gelang sebelik sumpah pada telapak tangannya. “Maaf,” berlalu meninggalkannya.
Ia terpukau sesaat. Ini seperti mimpi baginya. Mimpi buruk. Kenapa keputusan ini yang didengarnya? Kenapa Ru meninggalkannya?
“Apa maksudmu?”
Ru tak menjawab. Melangkah tanpa memedulikannya.
“Ru, jawab. Apa maksud semua ini?” ia mengusap kristal cair yang lolos dari pelupuk mata dengan kasar.
“Beri aku satu alasan. Apa maksud dari semua ini?”
Laki-laki itu menyeberangi jalan. Ia hendak mengikuti namun sebuah mobil melaju kencang. Ingin mencoba lagi menyeberang. Mobil berikutnya datang. Disusul bus di belakangnya.
Tak patah arang ia menyusul di jalur yang berbeda. Mereka terpisahkan jalan.
Ia berteriak, “I love you!” jeda sejenak mengatur napasnya, “aku akan menunggumu nanti malam di Yarra river. Sampai kamu datang.”
Garuda di seberang jalan bergeming. Terus melangkah tanpa menoleh ke arahnya.
“Kamu mencintaiku, kenapa jadi seperti ini?!”
“Garuda!” pekiknya kesal bercampur beban yang melesak di dada.
Ia tak tahu lagi harus melakukan apa? Dadanya bergemuruh kuat. Napasnya memburu. Bercampur kesal dan juta tanya yang merasuk memenuhi benak.
Sementara laki-laki itu terus beranjak tanpa melihatnya.
Ia berteriak lagi, “Garuda!” please lihat aku. Pintanya dalam hati mengiba penuh. Tetap saja Ru tak mau menoleh. Sampai ia merasa laki-laki itu benar-benar sudah tak peduli padanya. Sudah tak mencintainya. Marah dan kesal berkecamuk. Menggulung perasaan yang meluap begitu saja.
Garu tiba di sebuah halte yang bertepatan dengan bus datang. Ia semakin tidak tenang. Cemas. Dan ...
Benar saja laki-laki itu hilang bersamaan bus yang perlahan pergi.
Ia berseru dengan kesal. Mengikuti laju bus.
“Aku GAK akan pernah memaafkanmu. GAK akan pernah! Kamu dengar, ‘kan!? Aku ulangi sekali lagi. GAK akan pernah,” isaknya keras tak terbendung. Lalu tersimpuh ruai.
Bus itu sudah menjauh dan ia tak mungkin untuk mengejarnya lagi. Napasnya terengah-engah.
“You’re my heartbreaker!” Ia menunduk dalam dengan suara lemah, “please ... jangan pergi.”
Ia mengusap lelehan air mata yang terus melintasi pipinya. Mencoba berdiri walau kepayahan menjalari. Hatinya masih terasa nyeri. Entah mengapa ia begitu merasakan luka. Meski ia menggantungkan asa bahwa Garuda masih mencintainya.
Mungkin ini hanya sekedar salah paham.
Atau ada hal mendasar yang membuat Garu melakukan itu.
Ia tak boleh menyerah. Bukankah cinta harus diperjuangkan. Harus ada pengorbanan. Ia yakin dan percaya mereka masih saling mencintai.
...***...
Garuda
Bukannya ia tak mendengar semua yang dilontarkan Mala. Tapi ini sudah menjadi keputusannya. Meski di sudut hatinya yang paling dalam ia tak tega melihat gadis itu. Hatinya juga sakit. Melepaskan Mala bukan perkara gampang. Selama 1 bulan ia memikirkannya.
Apalagi Gemala adalah cinta pertamanya. Cinta yang tumbuh dari kesederhanaan. Hingga menjadikan hatinya kaya akan kasih sayang. Dipenuhi riak-riak yang mampu membuat jantungnya berirama tak semestinya.
Gemala.
Ia tidak akan pernah lupa. Gadis polos yang mampu menariknya bak magnet. Mampu menghadirkan getar dan gelenyar aneh di dada. Dan juga mampu membuatnya jatuh cinta.
Kendati demikian, ia tidak bisa mengingkari. Latar belakang keluarga membuatnya sadar. Bahwa gadis itu tak pantas mendampinginya. Mala tak pantas berada di sisinya.
Apa tanggapan orang-orang jika mereka bersama?
Ia tak mau merusak nama Mala. Nama keluarganya dan tentu saja masa depan gadis itu.
Maafkan aku ....
Melepas artinya mereka tidak punya hubungan lagi. Berjalan sendiri-sendiri. Bahkan gadis itu mungkin akan lebih mudah mendapatkan pengganti dirinya.
“I love you!” teriak gadis itu. Terdengar luapan emosi yang begitu dalam.
I love you too.
Matanya berkaca-kaca. Kristal cair yang menggenangi kelopak matanya itu jatuh ke bumi dengan cepat.
“Aku akan menunggumu nanti malam di Yarra river. Sampai kamu datang.”
Bodoh. Kenapa dia harus datang ke tempat itu. Cukup ini pertemuan terakhir mereka. Ia tidak ingin membuat gadis itu semakin sakit dan terluka. Menyeretnya dalam pusaran masalah keluarganya. Cukup.
Suara gadis itu masih terdengar sayup-sayup terbawa angin. Dan kendaraan yang berlalu lalang.
Tiba sebuah bus datang ia sengaja masuk ke dalam. Melihat Mala dari kejauhan yang terus berharap kepadanya. Bus yang ditumpanginya perlahan menjauh. Bertepatan dengan Mala yang tersimpuh dengan menunduk. Refleks ia hendak turun kembali. Ingin berlari dan menolongnya. Merengkuhnya.
Tapi ...
Tidak.
Ini sudah keputusannya.
Meski sudut nalurinya berkedut sakit. Manik matanya terus menatap Mala yang masih tertunduk hingga lambat laun menjauh dan tak terlihat lagi.
-
-
📷 : weekendnotes.com
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏
... ...