
...45. A Moment in Time...
Gemala
Hari ini kepulangannya ke Melbourne. Satu koper berukuran medium dan tas selempang sudah siap di dekat pintu. Ia melihat lalu lintas kota dari jendela kamarnya. Mulai padat di hari kerja perdana, awal tahun penuh pengharapan. Meski langit mendung. Mungkin efek euforia tahun baru masih terasa. Sehingga semangat membara menjadi dalihnya.
“Semangat. Dan harapan,” gumamnya. Mengeratkan kedua tangan yang menyilang di dada.
Tak terkecuali dirinya.
Punya harapan dan impian.
“Kenapa melamun?” Garu datang dan berdiri di sampingnya. Ikut menatap lalu lintas di bawah sana.
“Rasanya malas untuk pulang,” jawabnya jujur. Berat meninggalkan Jakarta. Meninggalkan laki-laki itu. Ia masih ingin bersama.
“Kalau begitu nanti saja pulangnya.” Ru menukas santai.
Ia berdecak kesal.
“Katanya malas pulang?” sindir Ru sesuai kenyataan.
“Malas pulang artinya malas cepat lulus,” tandasnya.
“Good. Kamu tahu alasannya. Kenapa masih malas,” sanggah Ru.
“Aku,” kata-katanya terhenti. Tidak mungkin, 'kan. Ia mengatakan berat meninggalkan laki-laki ini. Bisa-bisa ....
Ru menarik bahunya. Mereka saling berhadapan. Ia mendongak hingga berserobok pandang sejenak. Sementara laki-laki itu ... menatapnya penuh.
“Katakan,” desak Ru.
“Tidak ada,” elaknya.
Ru merengkuhnya. Mendekapnya erat. “A moment in time, kita harus menjalani seperti ini,” ujarnya lirih.
“Aku akan menunggu,” sahutnya.
Laki-laki itu menangkup wajahnya. Kontak mata kembali menguasai. Tanpa keduanya sadari jarak mereka kian ke tepi, “I am fond of you,” embusan napas Ru menerpa wajahnya. Bahkan ujung hidung laki-laki itu hampir melekat di hidungnya.
Ia tersenyum. Mengangguk. Kemudian mengucap lirih, “I know.”
Perlahan Garu mendaratkan ciuman di bibirnya. Menyapukan pelan dengan kelembutan. Spontan ia menutup matanya. Sudut hatinya berkedut. Mengharap setelah ini tidak ada lagi perpisahan. Sebab ia sudah menjatuhkan hatinya dan pilihannya untuk laki-laki ini.
Sementara waktu ia ikut menyambut, mengikuti naluri yang menuntunnya larut. Ia terhanyut akan perlakuan Ru terhadapnya. Yang terasa tulus dan istimewa.
Tangan Ru membelai pipinya lembut. Sementara kedua telapak tangannya di dada laki-laki itu.
Jeda sejenak.
Ia membuka mata perlahan. Menatap Garu yang juga tengah menatapnya. Bibirnya melengkung ke atas.
Garu kembali mendaratkan ciuman di bibir dan keningnya sekilas. Lalu merengkuhnya kembali.
Pelukan yang terasa berat ketika mereka harus melepas untuk segera berangkat ke bandara. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara. Hanya tautan jemari mereka yang erat enggan untuk melepas.
Dadanya kembali berkedut nyeri. Apalagi saat mobil telah memasuki area bandara keberangkatan internasional.
Langkahnya lunglai. Tapak demi tapak seolah berat dan membatu di tempat. Ia benar-benar kesulitan untuk mengayun langkah cepat.
Mata mendadak terasa memanas. Dadanya pengap oleh kungkungan emosi. Sebulir kristal cair bergulir dengan sendirinya. Lolos jatuh ke bumi.
Ia terus digandeng Ru masuk ke dalam area untuk melakukan proses check in. Mulutnya masih mengatup. Mengangguk. Kemudian menggeleng ketika laki-laki itu menawarkan makanan.
“Aku tinggal sebentar,” Ru pergi ke toilet.
Ia duduk bersandar pada kursi. Kenyamanan yang diberikan pihak maskapai paling tidak menyembunyikan wajahnya yang murung sepagi ini.
Percis suasana hari ini yang mengantarkan keberangkatannya. Awan kelabu. Cuaca dingin. Seolah merepresentasikan suasana hatinya saat ini. Apa mereka juga ikut berkabung melihatnya?
Panggilan pesawat tujuan Melbourne menggema. Ia bangkit dari kursi. Melihat Garuda yang pergi entah ke mana belum kembali.
Meraih tas selempang yang tergeletak di sebelahnya. Mencangklongkan pada pundaknya. Ia kembali melihat arah Ru menghilang. Sepi. Tak ada laki-laki itu di sana.
Kakinya perlahan ia seret untuk masuk.
“Mala,” panggil Ru.
Ia memutar tumit. Menghadap laki-laki itu.
Garu menatapnya, “Sorry, ada masalah sedikit. It’s okay. Have a save flight ...,” ucapnya tergesa.
Tatapannya jatuh pada dada bidang Garu. Ia tak berani menatap manik mata laki-laki tersebut.
Ru menarik tangannya, hingga ia jatuh ke dalam dekapannya. “Aku akan menjemputmu,”
Ia mengangguk. Tepat genangan air di pelupuk matanya jatuh kembali.
“Hei, jangan bersedih ....” Laki-laki itu berusaha membujuknya.
Tapi ia merasakan ini pertemuan yang ... ia menggeleng.
“Perpisahan ini sementara. Jangan bersedih lagi.”
Entah mengapa justru air mata itu kian deras bergulir.
Ru menyusutnya dengan kedua ibu jari. Mencium puncak kepalanya.
Panggilan kembali menggema. Menyadarkan mereka untuk segera mengakhiri. Mereka mengurai pelukan dengan tangan yang masih saling menggenggam.
“I have to go ...,” ia kini berani menatap Ru. Mengulas senyum tipis, “See you soon,” meski berat tapi ia harus melepas pertautan jemari mereka. Perlahan namun pasti.
Garuda melambaikan tangan, “Take care, Honey. We will meet there soon ....”
...***...
Garuda
Setelah keluar dari toilet. Ponselnya bergetar dalam saku celananya. Nama Mulya muncul di sana.
“Ya, Om.”
“Besok papimu akan dijemput pihak kejaksaan,”
“Bukankah masih semingguan lagi?”
“Ya, itu menurut tim dokter yang menangani. Tapi ... melihat kemajuan pengobatan signifikan, majelis hakim mendesak untuk menjemput papimu.”
Ia menyugar rambutnya. Kemudian terdengar helaan napas berat, “Apa langsung akan dibawa ke—”
“Kemungkinan besar. Tapi kita akan selalu dampingi. Para tersangka lain sudah mendapatkan vonis PN. Hanya tinggal Pak Torrid.”
Mulya menjelaskan lebih detail strategi untuk menghadapi persidangan. Hingga ia mendengar suara panggilan yang menyebut untuk para penumpang tujuan Melbourne.
“Om, maaf. Lebih baik kita bicarakan ini secara langsung. Saya akan segera menemui Om.” Ia menyergah. Mematikan sambungan telepon dan kembali bergegas menemui Gemala.
Entah mengapa ia begitu berat melepas gadis itu. Takut kehilangan. Takut perpisahan. Juga takut akan masa depan mereka.
Ia menggeleng cepat. Berusaha mengusir kekhawatiran yang berkecamuk. Kendati kecemasan-kecemasan menyelimuti dan enggan pergi. Sebab ia tak pernah merasakan ketakutan seperti ini.
Hanya satu yang diyakini. Ia sangat mencintai Mala.
Setelah mengantarkan gadis itu. Ia memerintahkan sopirnya menuju rumah Mulya. Rumah bergaya American classic di kawasan tak jauh dari kediaman papinya.
Mulya menyambut kedatangannya. Menggiringnya untuk masuk ke ruangan kerja pria yang berprofesi advokat tersebut. Mereka duduk di sofa. Berbincang santai sejenak.
Seorang asisten rumah tangga datang meletakkan minuman dan camilan di atas meja. Lalu berlalu dan menutup pintu.
“3 tahapan lagi sebelum putusan hakim. Seandainya putusan tidak memuaskan kita ajukan banding. Di tingkat Pengadilan Tinggi,” kata Mulya menjelaskan.
“Tahap pledoi. Replik, duplik baru putusan.” Tangkas Mulya menambahkan.
Mobil yang membawanya melaju di aspal legam dan basah. Derai hujan menghantam kaca mobil bagai busur panah.
Kini ia memerintahkan sopirnya kembali menuju bandara. Maleo sudah menunggunya di sana. Ia akan pergi ke Singapura.
Tuntutan JPU 12 tahun penjara. Apa papi sanggup menerima dan menjalaninya? Dengan kondisinya yang sekarang.
Duduknya tak nyaman. Berulang kali ia berganti kursi. Pesawat super mid-size jet telah mengudara 15 menit yang lalu.
Pun dengan Maleo. Helaan napas yang berat jelas menggambarkan kegulanaan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Maleo. Kala ia kembali duduk di hadapan kakaknya itu.
Ia mengangkat bahu.
“Berapa lama lagi persidangan ini berakhir?” sambung Maleo.
“3 tahapan lagi. Tapi, jika putusan tidak memuaskan kita bisa ajukan banding.” Jawabnya dengan tatapan nanar ke luar jendela. Awan kelam yang melingkupi langit Jakarta perlahan sirna. Terganti dengan awan cerah.
Tiba di Singapura mereka langsung menuju rumah sakit. Dokter Tan sudah menunggunya.
Tan menjelaskan kondisi papi yang membaik. Jika memang besok tim penjemputan datang. Ia akan mempersiapkan semuanya.
Ternyata papi sudah mendengar informasi tersebut. Entah dari mana. Tiba di kamar perawatan ia masih melihat papi menyusun lembaran kertas.
“Papi sudah siap,” ujar Torrid. “Apa yang dulu Papi lakukan sebuah kesalahan. Papi akan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Benar saja keesokan paginya tim penjemputan dari pihak Pengadilan Negeri datang. Torrid menolak memakai fasilitas private jet. Ia kembali ke Jakarta menggunakan pesawat komersial bersama 5 orang yang menjemputnya.
Dua hari kemudian sidang pledoi dilaksanakan. Torrid menolak keras kehadirannya, Maleo juga Atat. Mereka berusaha mengikuti jalannya persidangan dari kejauhan.
Torrid bahkan membacakan sendiri nota pembelaan secara langsung.
“Yang Mulia Majelis Hakim yang saya hormati, Bapak/Ibu Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati, Tim Penasehat Hukum yang saya hormati dan hadirin sidang yang saya muliakan. Perkenankan saya sebagai Terdakwa dalam perkara ini, menyampaikan beberapa hal untuk melengkapi fakta-fakta yang sudah atau belum terungkap selama proses pemeriksaan di dalam persidangan yang terhormat ini,”
“Bahwa saya benar mengakui suara 1 dalam rekaman percakapan itu adalah suara saya,”
“Bahwa benar saya memerintahkan kepada BWS alias Bowo Sujatmiko yang berperan sebagai suara 5 dalam rekaman untuk menyingkirkan penghalang, dalam hal ini korban. Tapi bukan untuk membunuhnya. Saya punya keluarga. Punya ayah, ibu serta anak-anak. Saya punya nurani. Tidak mungkin saya menyuruh orang membunuh seorang ayah sekaligus seorang suami. Saya juga seorang ayah. Di mana letak nurani saya, jikalau saya menyuruh hal biadab tersebut. Bahkan saya bisa merasakan kehilangan mendalam setelah mendapat kabar kematian korban,”
“Saya berusaha membantu perekonomian keluarga korban. Secara diam-diam memberikan beasiswa terhadap anak-anak korban hingga lulus kuliah. Diam-diam membantu usaha istri korban dengan menjadi supplier tetap tanpa anggunan. Meringankan sewa toko hingga korban dapat memilikinya secara mencicil ringan. Bahkan ikut memasarkan produk yang dijualnya. Semua saya lakukan demi menebus rasa bersalah dan lagi, lagi nurani saya yang mendorongnya,”
“Bahwa saya melakukan pertemuan dengan BWS alias Bowo Sujatmiko, TF alias Tarman Fauzi, BS alias Bangun Sudiro dan GTW alias Gustiawan hanya 2 kali. Saya tidak pernah menginstruksikan bahkan menyuruh untuk menghilangkan nyawa korban. Apalagi menjadi mastermind dari rencana pembunuhan ini,”
“Bahwa saya mengakui menyuruh mereka. Yaitu BWS, TF, BS, GTW untuk memuluskan RUPS Star Gold and Copper. Membagi-bagikan upeti demi memuluskan RUPS tersebut. Tapi demi Allah, saya tidak pernah menyuruh untuk membunuh korban,”
“Sebagai bahan pertimbangan saya mendirikan TRD Foundation. Yang mana memberikan beasiswa kepada seluruh anak negeri yang tidak mampu. Dari mulai SD hingga perguruan tinggi. Torrid Group di bawah kepemimpinan saya selalu membantu pemerintah dalam pengembangan usaha mengentaskan kemiskinan,”
Dan pledoi tersebut dibaca hingga tuntas. Total halaman mencapai 10 lembar.
“Sebelum saya menutup Nota Pembelaan saya ini, perkenankan saya mengutip pidato pembelaan dari salah satu tokoh Proklamator idola saya, yaitu Bung Hatta, ketika berpidato di depan Arrondissements Rechtsbank, yang mengutip syair Rene de Clerq, yaitu :
'DAAR IS MAAR EEN LAND KAN ZIJN, HET GROIT WAAR DE DAAD, EN DIE DAAD IS MIJN', yang artinya hanya ada satu negara yang menjadi negaraku. Ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku,”
“Saya akan bertanggung jawab penuh atas perbuatan yang saya lakukan. Kutipan di atas sangat membekas di hati saya. Selama nyawa masih berada dalam raga. Jantung masih berdetak. Saya akan berbuat yang terbaik untuk negeri ini.”
“Semoga Allah menolong saya. Beserta niat baik saya. Dan Majelis Hakim yang mulia dapat kiranya mempertimbangkan nota pembelaan ini. Sebagai penutup, dengan segala kerendahan hati, saya memohon dan berharap kepada Yang Mulia Majelis Hakim Yang Terhormat, agar dapat membebaskan saya dari segala tuntutan hukum atau memberikan saya putusan yang seadil-adilnya.
Semoga Allah SWT melindungi saya dan kita semua.”
Bahunya merosot seketika. Pun Maleo juga Atat. Matanya berkaca. Ia melipat bibirnya menahan gejolak dalam dadanya yang bergemuruh riuh.
Bahkan Atat meneteskan air mata.
Tidak ada yang mampu berbicara di antara bertiga. Semua sudah jelas. Mereka percaya papi. Percaya apa yang telah diungkapkan pada sidang pledoi hari ini.
Meski papi bersalah. Pun jika pada akhirnya hakim memutuskan bersalah dan mengetuk palu nantinya. Papi tetap menjadi bintang di hatinya. Tetap menjadi ayah yang sempurna di matanya.
Layar ponselnya berpendar. Gemalanya Ru tertera di sana.
A moment in time ....
-
-
Catatan :
Rene de Clerq adalah pujangga dari Belgia. Syair-syairnya disukai oleh para pemimpin dunia. Termasuk Bung Hatta dalam pidato-pidatonya. (Dikutip dari Bung Hatta dan sastra. Jurnaba.co)
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏