
...20. Tambuah Ciek...
Gemala masih terdiam menatap orang yang berbicara di belakangnya. Orang tersebut menghampirinya. Lalu ikut duduk di sebelahnya.
Ia menangkap setiap pergerakan laki-laki itu, “Kok kamu ada di sini?” tanyanya heran.
Namun detik berikutnya ia menyambar, “Oh ... ya, aku tahu. Seorang Garuda bebas ke mana saja. Ke ujung dunia pun mungkin bisa dijangkaunya," satirenya.
Laki-laki itu menipiskan bibirnya, “Itu kamu bisa jawab sendiri!”
“Kamu lapar?” tanya Garuda, menengadah. “Sepertinya sebentar lagi hujan.”
Ia ikut mendongak, “Sepertinya,” sebagian langit mengabu dengan gumpalan awan kelam.
“Come on, kita pergi dari sini.” Garuda beranjak lebih dulu, lalu menawarkan tangan untuknya.
Canggung sejenak. Tapi dua detik kemudian ia menerima uluran tangan tersebut disertai senyum, “Thanks,”
“Aku tidak merasa membantumu,” mereka beriringan meninggalkan taman.
Ia mencebik, “Selalu deh. Kenapa tidak memberikan kesan baik di awal pertemuan kita?”
Garu hanya mengangkat bahu. Tapi tanpa mereka sadari tangan keduanya masih saling bertaut. Hingga memasuki kabin mobil.
“Kita makan apa?” tanyanya setelah beberapa menit mobil itu mengaspal di jalanan mulus.
Lagi, lagi Garuda yang mengemudi mengangkat bahu.
Ia berdecak, “Gak kreatif ngajak makan, tapi gak punya ide,” celetuknya sebal. Mengalihkan pandangan ke kaca samping.
“Dibilang makan pagi, sudah lewat. Makan siang masih 1 jam lagi. Brunch.” Ia bergumam. Setelahnya terdengar suara perutnya berdemo. Ia mengusap perut sambil meringis.
Sementara laki-laki di sebelahnya hanya mengulum senyum—menahan tawa.
Mobil berhenti di area parkir. Di sini mobil tidak boleh berhenti sembarangan. Ada tempat-tempat khusus sesuai petunjuk. Ada juga free parkir di pinggir jalan. Tapi terbatas, dengan waktu juga terbatas. Melebihi waktu pemberlakuan siap-siap mobil raib dibawa petugas. Tentu dikenai denda dan peringatan tegas.
“Kita makan apa?” tanyanya sekali lagi. Laki-laki itu tetap tak menjawab. Mereka berada di pusat kota Melbourne. Berjalan melewati gedung perkantoran kawasan Melbourne CBD. Menyusuri Rainbow alley lalu berhenti di sebuah rumah makan. Ia mendongak, membaca plang berwarna merah ‘Salero Kito’ di bawahnya ada keterangan ‘Padang Restaurant-West Sumateran Cuisine’. Hem ... pilihan yang tepat. Ia sedang kangen dengan masakan Indonesia. Kangen masakan Sumatera, tepatnya Jambi.
Ah, mengingat Jambi membawa rasa buncah tersendiri. Apa kabarnya Nyalin, Nyumba, Zizah, Waylik, Bekasuh dan anak-anak rimba lainnya?
Garu mengajaknya duduk di area dalam. Begitu masuk musik minang terdengar meliuk-liuk merasuk ke dalam gendang telinganya. Mengingatkannya saat pertama kali datang ke rumah Waylik. Percis. Eh, bukan percis lagi. Tapi ini musik yang sama.
...Babiduak mangko badayuang...
...Nak jaleh jo tapian...
...Den duduak baok bamanuang...
...Nak jaleh jo parasian...
Mereka disambut dengan ramah disertai senyuman, “Silakan.” Ia tersenyum membalasnya.
Lalu memesan makanan. Sayangnya, kalau makan di restoran padang di sini tidak sebebas di tanah air. Berbagai makanan dihidang di atas meja bahkan sampai piringnya bertumpuk saking banyaknya menu yang ditawarkan. Bebas memilih. Bahkan hanya memilih kuahnya saja boleh ‘gratis’ cuma dihitung nasi. Tapi serasa makan nasi rendang padahal cuma sama kuahnya saja.
Ia jadi teringat sewaktu mereka makan di rumah makan sederhana Muara Bungo. Ceritanya waktu itu Garu hendak mengantarkannya pulang ke Ayik Itam. Makan di sana. Satu meja penuh dengan hidangan. Ia sampai bingung mau makan yang mana. Dari baunya pun menggugah selera. Akhirnya Garu memilihkan gulai kepala ikan kakap. Sama rendang. Ditambah rebusan daun pucuk ubi. Dengan metode penyajian ala laki-laki itu.
“Nasi,” kata Garu mempraktikkan ala chef yang tengah plating, “daun pucuk ubi di atasnya, disiram kuah gulai, dan tambah sedikit kuah rendang. Silakan makan.”
Ia hanya menurut. Dan ternyata rasanya tak kalah nikmat. Satu porsi nasi yang dicetak pakai entong tandas tak bersisa. Garuda tertawa senang. Sebab ia hanya membayar 1 porsi nasi saja. Tak menguras kantongnya, bukan? Dasar nasty!!
Dari semenjak itulah ia mengerti. Makan di restoran padang. Hanya dihitung nasi lauk saja. Sayur dan kuah gratis. Bisa dicoba kala kantong sedang tipis. Hari ini makan nasi gulai. Besok nasi rendang. Lusa nasi asam pedeh, hari berikutnya nasi kalio. Dengan catatan hanya kuahnya dan tahankan malu. Hahaha ... ia tertawa dalam hati.
“Tambuah ciek,” teriak pelayan restoran.
Membawanya kembali menyadari bahwa ia masih berdiri di depan etalase. Sementara Garu telah duduk di bagian ujung.
Dari pusat kota mereka kembali ke Clayton. Garu mengantarkannya hingga di depan rumah. Ia melepas sabuk pengaman, “Thanks, ya. Hari ini perut aku kenyang. Homesick aku juga terobati. Sekali lagi terima kasih,”
Garu mengangguk, “Ada lagi?”
Ia menggeleng. “Oh, ya kamu sampai kapan di sini?” tanyanya menatap laki-laki itu sesaat.
“Lusa.”
Ia mengangguk. Kemudian turun. Sementara mobil Garu perlahan menjauh.
“Assalamu’alaikum ... aku pulang.”
“Kak,” tidak ada sahutan dari Gayatri. Ia membuka pintu kamar kakaknya itu dengan celah sedikit, “oh ... tidur ternyata.” Ia menutup perlahan pintu. Masuk dalam kamarnya dan ... merebahkan tubuh. Ditambah perut yang terisi kenyang. Tak perlu pakai waktu lama, matanya terpejam sempurna.
“Mal,”
“Mala ....”
Kakinya berasa digoyang-goyang, “Mal, duh ini tidur apa pingsan sih!” keluh Gayatri.
“Mala!” kini bagian tangan adiknya ditepuk-tepuk. “Mala, ada si nasty tuh!”
“Hem,”
“Issh ... waktu kita sudah mepet nih. Mala."
"MALLL!”
Sepanjang perjalanan Gemala cemberut. Mengatupkan mulut. Tahu kenapa? Ia dibangunkan dengan musik metal. Yang suaranya mengalahkan guntur yang menggelegar. Bahkan suara itu mencapai 7 oktaf. Lengkingan Candil saja ... masih kalah jauh. Hingga sekarang ia masih mengusap-usap telinganya. Efek pekak itu masih terasa.
“Mal, gimana tadi pertemuan lo sama Ethan?”
Ia membisu.
“Benar, ‘kan dugaan gue?”
Ia cuek.
“Udahlah, lupain Ethan. Temen-temen lo, kan banyak. Tinggal pilih. Mau yang kayak mana?”
Bodo amat! Ia bergeming.
“Atau sama orang kita saja. Kayaknya kalau sama-sama makan nasi, suka ketoprak dan nyemilin kwaci berasa nyambung. Pastinya juga gak aneh-aneh.”
Siapa bilang? Itu si nasty.
“Mal, kok lo diam sih?!”
Lagi ngambek.
“Yaudah ... maaf deh. Gue sudah bangunin lo, tapi lo kayak orang pingsan. Pakai cara apa pun, kayaknya yang mempan ya tadi. Sorry ....” Gayatri terkekeh, tanpa merasa berdosa.
Tiba di ballroom hotel terkenal di pusat kota Melbourne, Gayatri benar-benar melupakannya. Betulkan feeling-nya tidak salah lagi ia ditinggal. Ia akhirnya memilih duduk di sebelah Indy.
Acara sudah 15 menit berlangsung. Suasana ballroom meriah. Bahkan di pintu masuk tadi berbagai pernak pernik di tawarkan. Pastinya yang berhubungan dengan Indonesia-Melbourne. Tak butuh lama, barang-barang itu ludes tak bersisa.
Acara lelang untuk amal masih berlanjut. Matanya mengedar melihat para alumni dari berbagai angkatan. Sebagian terlihat mengobrol asyik dengan yang lain. Sebagian memperhatikan MC di depan yang memandu acara.
“Mal, aku tinggal bentar ya. Mau nyamperin ke sana,” Indy menunjuk sudut meja tak jauh dari mereka, “dulu kakak tingkat. Atau kamu mau ikut?” tawar Indy.
Ia menggeleng, “Aku tunggu sini saja,”
Tidak ada kawan di mejanya. Ia mulai merasa jenuh. Beberapa kali menyentuh layar ponsel. Pun ia tidak tertarik.
“Baiklah, memasuki acara selanjutnya. Bincang santai bersama para alumni yang sukses. Punya pengaruh dan power. Punya soft skill dan hard skill yang tidak perlu kita pertanyakan lagi. Di usia masih muda tapi sudah mampu berjejer dengan para pengusaha dunia. Kita panggilkan yang pertama ... sosok alumnus Monash program Bachelor dan Master Business and Economics Faculty. Tampan ... gagah dan ... single,” MC menjeda dengan tawa. “Di usia muda karier cemerlang, memimpin perusahaan. Inilah dia ... Mas Garuda Torrid. Silakan untuk maju ke panggung.”
Ia mengusap telinganya. Apa ia tidak salah dengar? Lalu menepuk-nepuk pelan cuping telinganya. Bola matanya ia perlebar demi menangkap sosok yang berjalan di panggung dengan kemeja batik. Tak salah lagi.
Garuda.
Laki-laki itu mengukir senyumnya. Melambaikan tangan. Tampan memesona. Sipongang riuh rendah standing applause memenuhi ballroom. Garu menjura sejenak lalu duduk di tengah panggung.
Ia terpaku menatap sosok itu. Padahal mejanya berada paling belakang. Bahkan sesekali terhalang oleh orang yang berlalu-lalang.
Garu mulai memperkenalkan diri. Beda sekali dengan pribadi yang dikenalnya selama ini. Laki-laki itu terlihat ramah, banyak senyum dan menarik perhatian kaum hawa. Buktinya banyak alumni wanita yang beberapa kali mengambil foto Garu, disertai melambaikan tangan lalu mencoba mengambil foto dari dekat. Garu masih menebar senyumnya. Oh sialan, kenapa dia begitu murah senyum? Padahal kalau bersama dirinya?
Acara bincang itu berjalan sekitar 15 menit. Lalu 15 menit berikutnya untuk alumni yang lainnya. Ada sekitar 3 orang alumni yang dipanggil ke depan.
Bincang santai telah usai. Ia baru saja kembali dari toilet. Lagi, lagi ia dibuat terkejut ketika melihat Garu, Jebe dan 2 orang yang tidak dikenalnya berdiri di panggung band. Mereka mencoba alat musik.
Ia duduk di tempat semula. Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman. Sempurna.
“My favorite song for someone,” Garu berdiri di depan microphone sambil memegang gitar yang menggantung di bahunya.
“Prikitiw ... cuiit ... cuiit,” teriakan para peserta reuni saling berseru dan menyahut.
“Garuda ... Garuda ... Garuda,”
Ada yang mlesetin menjadi lagu tim nas kesebelasan Indonesia. Ada yang justru menyanyi Garuda Pancasila. Semua heboh. Hanya dirinya yang masih duduk menatap panggung.
Teriakan riuh, “HUUUUU ...,” saat petikan gitar Garu mulai terdengar. Lalu semua seolah terhipnotis dengan gaya keren yang ditampilkan laki-laki itu dalam memetik gitarnya. Bukan lagi seperti pemain pemula, tapi seakan sudah lihai memainkannya.
I know that she's waiting
For me to say forever
I know that I sometimes
Just don't know how to tell her
I want to hold and kiss her
Give her my love
Make her believe
She doesn't know
She doesn't know
You're all I need beside me girl
You're all I need to turn my world
You're all I want inside my heart
You're all I need when we're apart
You’re all that I need
I know that she's always
There when I need her loving
I know that I've never
Told her how much I love her
I see her face before me
I look in her eyes
Wondering why
She doesn't know
She doesn't know
Tangan para peserta reuni terangkat ke atas bergerak ke kanan dan kiri. Mengikuti lagu.
She doesn’t know
You're all I need beside me girl
You're all I need to turn my world
You're all I want inside my heart
You're all I need when we're apart
Say, say that you'll be there
Whenever I reach out
To feel your hand in mine
Stay, stay within my heart
Whenever I'm alone
I'll know that you are there
You're all I need beside me girl
You're all I need to turn my world
You're all I want inside my heart
You're all I need when we're apart
You're all I need
All that I need
Is for you to believe
All that I need
Is "you"
-You’re all I need-White Lion-
Begitu usai, “Lagi ... lagi!”
“Tambuah ciek ...!”
Sementara Garu melepas gitarnya dan Jebe yang duduk di balik drum berdiri. Keduanya melambaikan tangan dan turun dari panggung.
Ia ikut berdiri dan memberikan tepuk tangan.
“Beneran, lo, Mal!” Gayatri sampai melotot. Ketika dalam perjalanan pulang ia menyebut nasty adalah yang menyanyi di atas panggung.
“Parah! Gila! WOW!” kakaknya itu berdecak-decak entah sudah tak terhitung lagi.
Ia tersenyum.
“Sumpah! Keren abis!”
Ia meringis.
“Widih. Pede, lo. Memangnya kalian sudah pacaran?” tanya Gayatri.
Ia menggeleng. Sedetik kemudian meringis lagi hingga tampak gigi-giginya.
“Dia kakak tingkat, tapi beda jauh sih kayaknya, 5 tahun mungkin. Seingatku sih dia anak Fakultas Business and Economics. S1 sama S2 di sana. Tapi,”
Ia menelengkan kepalanya, “Tapi apa?”
“Dulu dia terkenal dekat sama si seksi namanya ....” Gayatri menjeda. “Suri ... ya, Suri. Anak fakultas yang sama. Pernah lihat juga sesekali sama cowok yang tadi nge-drum.” Sepak terjang kakaknya memang beda dengan dirinya. Pergaulan keduanya juga beda jauh. Mungkin karena itulah, Gayatri mengenal banyak orang. Sementara dirinya?
“Jebe,” ia menukas.
“Oh, namanya Jebe. Iya, pernah juga ketemu sama dia.”
Malam ini sepertinya gadis itu tidak yakin bisa tidur nyenyak. Setelah apa yang terjadi dengannya seharian ini.
Garu yang tiba-tiba datang di taman. Di saat ia merasa tertipu dan bodoh dengan dirinya sendiri. Di saat ia mulai skeptis dengan laki-laki. Lalu Garu mengajaknya jalan, makan di restoran padang. Malam harinya mereka bertemu kembali diacara reuni alumni Monash. Kenapa semua seperti kebetulan? Kenapa? Ia memejamkan mata. Mendadak senyumnya terkembang.
“Kenapa kamu gak bilang kalau kamu pernah belajar di Monash?” tanyanya ketika mereka bertemu di luar ballroom seusai dari toilet.
“Gak penting.”
“Ooo ... jadi aku bisa tebak. Ternyata selama ini kamu membantu aku karena kita satu kampus. Karena kamu merasa peduli dengan adik kelas. Atau karena kamu merasa bertanggungjawab dengan almamater kampus, ya, ‘kan?” ia terkekeh ringan.
“Jadi sebuah keberuntungan bagi aku ketemu alumnus Monas seperti kamu.”
“Kamu belum mengerti. Lebih baik kamu selesaikan tugas akhirmu.”
“Maksudmu?” ia mengernyit.
Justru Garu mengacak-acak puncak kepalanya dengan senyum miring. Lalu berlalu begitu saja.
Hah! Wondering why?
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏