
...61. All The Way...
Gemala
Matanya perlahan terbuka ketika ada sesuatu yang menimpa perutnya. Lengan laki-laki itu merengkuhnya terlalu erat. Sehingga ia kesulitan untuk bergerak.
Setelah beberapa saat lalu mereka ... ah, rasanya pipinya bersemu merah lagi apabila mengingatnya. Mungkin bukan bersemu lagi, tapi sudah semerah tomat masak.
Meski mereka pasangan yang sudah sah. Tapi, ia masih malu-malu untuk mengingat kejadian yang baru saja dilakukan keduanya.
Padahal tujuan awalnya ingin membangunkan Garuda. Tapi malah berujung ikut tertidur kembali setelah bertualang yang ternyata melelahkan. Entah berapa lama mereka bergelut dalam lenguh. Bergumul dalam peluh. Yang pasti ia memang tidak ingat. Tetapi ... matanya mengedar mencari jam dinding yang seingatnya ada di kamar ini. Dan ternyata jam tersebut tepat berhadapan dengan ranjang.
Oh my god.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ia mengangkat perlahan tangan Ru yang melingkari perutnya. Pelan ... pelan ... yes! Ia terbebas. Meski selepas kegiatan tadi Ru membantu membersihkannya di kamar mandi. Tapi rasanya tubuhnya masih lengket. Bahkan beraroma khas.
Ia beringsut. Setelah berhasil mengangkat tangan laki-laki itu. Mengencangkan tali kimono. Dan hendak bangkit, namun ...
“Hon, don’t move.”
Ia menoleh pada Ru yang masih terpejam bertelanjang dada. Laki-laki itu kembali melingkarkan tangan di perutnya.
“Ru, aku mau mandi,” pintanya. Meski setelah bangun tidur tadi pagi ia sudah mandi. Walhasil, dengan kegiatan baru saja membuatnya harus mandi kembali.
Namun alih-alih membiarkan untuk beranjak, justru laki-laki itu semakin memperketat rengkuhannya. Ru menggesekkan hidung di pelipisnya. Kemudian menghidunya dalam.
"Sepertinya mandi bersama it’s a good idea. Kita bisa mengulangi lagi yang baru saja,” sambil terkekeh ringan. Mencandainya.
Ia berdecak kesal. Bagaimana mau mengulangi sekali lagi. Tubuhnya rasanya remuk redam. Pangkal paha saja masih berdenyut nyeri.
“No, Ru!” tolaknya keras.
Laki-laki itu tersenyum miring, “Don’t worry. Hanya membantumu mandi. Tidak lebih,” siap membopong kembali dirinya seperti tadi.
“No ... aku bisa jalan. Tidak perlu digendong seperti ini,” protesnya.
“Sstt ....” Pun tanpa persetujuannya Ru nekat membopongnya seperti bayi. Ia refleks berpegangan pada leher laki-laki itu.
Ru melarangnya untuk turun ke bawah. Bahkan menyuruhnya untuk kembali rebahan di atas tempat tidur. Setelah acara mandi usai.
“Memangnya aku sakit parah,” gerutunya kesal. Perutnya sedari tadi keroncongan. Ini sudah siang. Makan pagi terlewat begitu saja.
“Mala,” Garu datang membawa nampan berisi makan siang. Di belakangnya Yati juga membawa kudapan salad beserta yoghurt.
Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka.
“Makan pagi ready,” ujar Ru menaruh nampan di atas meja.
Ia menyahut sambil berjalan ke sofa, “Ralat. Bukan makan pagi. Tapi makan pagi plus siang,” koreksinya.
Laki-laki itu tergelak. Yati hanya mengulum senyum. Melihat kelakuan majikannya saling mencibir. Tapi terdengar romantis di telinganya.
“Bi Yati, makasih.”
Yati mengangguk kemudian undur diri.
“Mau aku suapin?” Garu bergeser sedikit agar lebih dekat dengannya, “aak,”
Ia menggeleng. “Aku bisa sendiri,” tolaknya.
“Harus nurut,” paksa Ru dengan menyodorkan sendok di depan mulutnya
Mau tak mau ia kembali menggerutu, “Pemaksaan,” akan tetapi mulutnya tetap menganga. Bahkan menunjuk lauk yang diinginkannya.
Garuda pamit pergi ke rumah sakit setelah makan siang. Ia awalnya ingin ikut. Namun Ru melarangnya, “Masih bisa besok. Sekarang kamu harus istirahat. Pulihkan tenaga. Aku tidak ingin kamu tambah sakit.”
Meskipun sedikit kecewa. Pada akhirnya ia menerima keputusan Garuda. Akan tetapi untuk beristirahat? Rasanya sulit dituruti.
Ia memilih turun ke lantai bawah. Melihat sejenak suasana di luar dari kaca jendela. Suasana terik. Awan cerah. Asap polusi terlihat tipis bergelayut di langit ibukota. Lalu ia menuju ruang kerja laki-laki itu.
Masuk ke dalam ruangan kerja Garuda ia begitu takjub saat pertama kali matanya menangkap sebuah lukisan burung elang ketika membuka pintu. Lukisan sederhana namun sarat makna dan nilai seni.
Ia berdiri menatap lukisan tersebut. Burung elang yang bertengger di atas karang. Dengan latar belakang ombak dan matahari terbenam. Penyatuan unsur-unsur yang memiliki historis.
The eagle. Begitu judul lukisan. Dengan tulisan mandarin di pojok kanan atas.
Bukan pertama ia melihat sebuah lukisan. Bahkan ia bisa membedakan mana lukisan yang punya nilai seni. Ethan pernah mengajarinya. Beberapa kali melihat pameran karya seni bersama Ethan membuatnya sedikit mengerti.
Cukup lama ia menatap lukisan tersebut. Bisa jadi, Garu membelinya karena mirip dengan namanya. Atau ... bisa jadi lukisan tersebut merupakan penggambaran akan diri laki-laki itu. Ia terkekeh dalam hati.
Ternyata laki-laki itu juga punya koleksi buku lain setelah rak buku di ruangan tengah. Terletak di sebelah kanan. Lemari buku itu tertanam di dinding. Hampir memenuhi lebar dinding dengan tinggi menyisakan beberapa jengkal dari plafon.
Bahkan ada tangga juga untuk mengambil buku di rak atas. Langkah kakinya mendekati lemari tersebut.
“Lebih banyak bisnis,” gumamnya. Membaca satu persatu judul buku yang tertangkap netranya.
Tangannya terus meraba seiring kakinya yang melangkah maju. Terdapat 1 lemari pintu kaca paling ujung yang isinya bermacam minuman alkohol dari berbagai belahan dunia. Ia menggeleng.
Lalu ada celah antara lemari dan dinding. Terlihat tumpukan koran setinggi lututnya. Ia berjongkok. Mengusik rasa penasarannya. Seorang Garuda mengumpulkan koran. Untuk apa?
Mengambil koran lokal lalu membacanya. Ia terperangah ketika headline pada halaman depan bertajuk kasus Torrid. Kemudian melihat lembaran pada koran lainnya. Dan semua sama berisi berita tentang kasus papi mertuanya tersebut.
Apa ini alasan Ru mengumpulkan koran-koran ini?
Ia mengembalikan koran tersebut pada tempatnya. Duduk di meja kerja Garuda. Menyalakan laptop. Bibirnya terkembang kala melihat layar depan terpampang foto dirinya tengah mengajar anak-anak rimba.
...***...
Garuda
Tiba di rumah sakit ia langsung menuju ruangan ICU tempat papi dirawat. Ada 2 petugas yang menjaga. Menurut dokter Tan kondisi papi masih belum stabil.
“Maleo dan istrinya masih di dalam,” terang Tan. “Mulya juga belum mendapat balasan permohonan pengobatan ke Singapura,” lanjutnya.
Lalu Tan menceritakan langkah dan pengobatan yang bisa diambil dengan kondisi Torrid yang masih kritis.
Ia di rumah sakit sampai sore. Kemudian menuju kantor sebentar. Ada beberapa berkas yang memerlukan tanda tangannya segera.
“Pak,” sapa Toni yang menyambutnya di lobi.
“Laporan dari pihak GK Investama, Robin hanya terkena tipiring (tindak pidana ringan).” Lapor Toni seiring langkah mereka yang menyusuri lobi lalu masuk ke dalam lift.
“Apa tidak ada bukti lain? Kenapa sepertinya dia licin seperti belut?”
“Saya rasa ada orang di belakang yang melindunginya. Bahkan pernah dalam setahun masuk penjara 2 kali.” Toni ikut terheran.
Pintu lift terbuka. Ia dan Toni menuju ruangannya.
Ia terdiam sesaat, sampai duduk di kursi kerjanya. “Doakan saja, Ton. Papi bisa sembuh.” Meski informasi dari Tan peluang itu kecil. Tapi ia boleh berharap dan berdoa bukan? Keajaiban untuk papi.
Toni menyerahkan berkas-berkas yang harus di tanda tangani.
“Yang lain?” tanyanya ketika usai membubuhkan tanda tangan.
“Harusnya jadwal kunjungan ke Medan besok, Pak.”
“Bisa diwakilkan, Pak Direktur saja Ton. Sementara aku belum bisa pergi jauh. Sampai kondisi papi stabil. Tolong kamu rubah jadwal aku kunjungan ke daerah minggu ini.”
“Baik, Pak.” Toni mengangguk.
Ia memeriksa beberapa laporan. Memantau perkembangan proyek GL dan memberikan instruksi pada Toni untuk meneruskan pada jajarannya di bawah. Kemudian beranjak dari kursinya.
“Oya, Pak. Saya hampir lupa. Ada titipan kado dari Bos Jebe,” Toni keluar dari ruangannya. Tak berapa lama kembali dengan membawa dua buah paper bag.
Ia menerima bingkisan tersebut. Seraya mengerutkan dahi.
Toni menukas, paham. “Yang hitam dari Bos Jebe. Yang putih pesanan Anda, Pak.”
Ia tersenyum. Dan berlalu meninggalkan asisten pribadinya tersebut.
Tiba di apartemen sudah malam. Ruangan tengah sepi. Mungkin Mala di atas pikirnya. Ia menaruh kantong plastik di atas meja. Mencuci tangan di wastafel. Lalu menaiki tangga sambil membawa paper bag bersenandung riang.
“Mala,” ucapnya ketika membuka pintu tak menemukan istrinya tersebut. Sprei telah berganti warna. ia menyimpan paper bag di sana. “Hon,” ia mencari di wardrobe room. Di sana juga kosong. Begitu juga di kamar mandi.
“Aku di balkon,” teriak Mala.
Ia lekas menggeser pintu kaca. “Ngapain di sini?” tanyanya.
“Cari suasana luar. Bosan di kamar,” sahut Mala menolehnya sekilas lalu kembali menatap suasana ibu kota dari lantai 31 apartemennya.
“Hon,” ia memeluk Mala dari belakang. Mencium pipinya sekilas. Ada perasaan bersalah. Mengurung dan melarang istrinya melakukan kegiatan. “Maaf,” lirihnya.
Mala menggeleng. Melepas cengkeraman pada railing. Mengusap lengan yang melingkari perutnya. Lalu berbalik menghadapnya. Mengaitkan tangan di lehernya. “Maaf untuk?” tanya Mala.
“Aku membatasi kegiatanmu hari ini. Pasti kamu bosan. Maksud aku, kamu—”
Mala berjinjit menghadiahi ciuman di pipinya.
Ia mengulum senyum, “Aku suka.” Mengeratkan rengkuhannya.
“Aku mau bilang. Kalau aku dapat tawaran kerja Prof Paul dan Indy,” urai Mala sambil menatapnya.
“Yang di Canberra?”
Mala mengangguk. “Canberra dipastikan tidak akan aku ambil. Tapi tawaran Indy,” ia menjedanya.
“Kamu yakin mau kerja?” ia memindai bola mata indah milik Mala. “Kamu bisa kerja di GL. Di bagian HRD (Human resource Development) atau GA (General Affair), atau terserah kamu mau pilih yang mana, semua bisa diatur."
Mala menggeleng. “Itu namanya kolusi,” cebiknya.
Ia tergelak. Mencubit hidung Mala gemas. “Aku yang punya perusahaan. Jadi terserah aku.”
Mala menyurukkan kepala di dadanya. Sementara kedua tangan melingkari pinggangnya.
“Boleh aku coba tawaran Indy,” pintanya. “Di WRI (World Resources Institute). Mereka sedang membutuhkan staf peneliti muda. Lagian, nanti aku juga mengikuti semua proses seleksi. Tidak sembarangan. Jadi belum tentu lolos,” ungkapnya.
Hening menjeda sejenak. Angin malam mendesau mengibarkan surai Gemala.
Ia membaui rambut panjang beraroma floral yang menggugah indra penciumannya. Begitu menenangkan.
“Ru,”
Bibirnya berdesah, “Okay ... kamu boleh melakukan apa pun yang kamu suka. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman dan capek, tinggalkan. Aku masih bisa memberimu,”
Istrinya menggeleng, “Bukan soal materi,” sanggahnya.
“I know. I support you all the way.”
Mala mendongak. Wajahnya merekah menatapnya. “Terima kasih,” kembali mencium pipinya.
Kesempatan itu tak dibuangnya. Ia merangkum wajah Mala. Melekatkan kening dan cuping hidung keduanya. Embusan napas hangat beradu menerpa wajah mereka.
Mencecap kembali manisnya sisa peraduan tadi pagi. Berharap dapat mengulanginya untuk kedua kali. Bersinergi dengan jejak kelam langit berhias gugusan bintang. Dan bulan sabit sebagai penanda awal bulan baru kembali datang.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏