If Only You

If Only You
31. Fight OR Flight (3)



...31. Fight OR Flight (3)...


Garuda


Pagi itu suasana gedung Torrid Group ramai. Bukan karena kedatangan tamu penting. Bukan pula karena acara gathering yang setiap tahun diadakan. Juga bukan karena kabar gembira mengenai bonus tahunan yang diterima oleh karyawan sebagaimana diatur dalam peraturan perusahaan.


Melainkan sekelompok pencari warta yang berupaya masuk guna mendapatkan berita.


Selain itu rapat umum pemegang saham luar biasa dilaksanakan mendadak. Untuk memutuskan kebijakan perusahaan dan tindakan apa yang akan dilakukan untuk keberlanjutan perusahaan. Terutama PT. Star Gold and Copper (SGC) yang mengalami bearish (kecenderungan harga saham mengalami penurunan) dalam kuartal ke depan.


Ia, Maleo dan Atat duduk bersisian.


Wajah-wajah serius. Tegang. Dan menanti keputusan dari hasil RUPS luar biasa.


Selama 3 jam ke depan suasana dalam ruangan RUPS itu masih tegang. Hingga akhirnya diambil keputusan bahwa SGC perlu melakukan merger dengan perusahaan lain. Walau, dirasa sangat sulit dengan kabar berita co-founder nya terlibat kasus. Tapi ini keputusan final.


Meski selama 3 bulan terakhir dampak turunnya saham tidak begitu berpengaruh terhadap jalannya perusahaan. Namun jika akan terus mengalami bearish kemungkinan besar investor akan lari. Dan perusahaan akan kehilangan modal. Apalagi kasus papi belum tahu sampai kapan akan terus bergulir.


Ia mengusap wajahnya. Lalu memijit pangkal hidung. Atat menyandar di dinding. Sementara Maleo duduk tumpang kaki dengan gerakan mengayun. Kondisi itu terjadi hampir 5 menit lamanya. Semua terhanyut dalam pikiran masing-masing.


“Kenapa papi belum juga mau angkat bicara?” ucap Atat memecah kebisuan, “sampai kapan kasus ini akan berakhir?” tanyanya entah ditunjukkan siapa.


Tak ada yang menjawab.


Dering interkom membuat tangannya terulur untuk mengangkatnya.


“Pak, ada Pak Pras ingin bertemu,” kata Toni.


“Suruh masuk, Ton."


“Baik, Pak.”


Tak berapa lama, suara ketukan pintu disusul Toni dan Prasetyo muncul dari sana. Seketika ia berdiri disusul Atat dan Maleo menyambut Pras.


“Om,” sapanya dan kedua kakaknya. Mereka berjabat tangan secara bergantian dengan Pras.


Pras duduk di sofa. Diikuti 3 bersaudara.


“Ada perkembangan terbaru?” tanya Pras menatap satu persatu anak-anak Torrid.


Mereka menggeleng hampir bersamaan.


Helaan napas Pras terasa berat. “Aku rasa Torrid memang tidak ingin melibatkan kalian,”


“Dia laki-laki yang bertanggungjawab dengan tindakannya. Jika memang ini keputusannya, kita ikuti. Apa pun nanti putusan terakhir, kita harus terima. Aku yakin, Torrid membangun perusahaan ini tidak hanya untuk 10-50 tahun. Tapi selamanya. Sampai generasi tak terhitung lagi. Jadi bertahanlah ... jangan menyerah. Hadapi ini dengan tabah.” Tutur Pras. Yang juga punya andil saham di Torrid Group. Meski punya saham, tapi Pras memilih tidak menduduki jabatan apa pun. Cukup ia mengabdi selama 20 tahun. Setelah itu Pras kembali ke kampung dan hidup bersama istrinya. Hanya anak-anaknya yang bekerja di TG. Termasuk Tyo, anak bungsunya yang menjadi asisten pribadi Torrid.


“Om,” ia menyela.


“Aku mau menemui papimu.” Pras bangkit dari sofa.


“Aku temani,” sergahnya ikut berdiri.


“Ibumu hanya titip salam untuk papimu,” ucap Pras ketika mereka dalam perjalanan menjenguk Torrid.


Ia bergeming.


“Dia juga terguncang dengan pemberitaan ini,” Pras menepuk pundaknya. “Papimu adalah orang kuat. Aku yakin dia bisa melewati cobaan ini.”


Tiba di rutan mereka mengisi registrasi. Diperiksa secara ketat. Melewati 2 pintu besi yang masing-masing dijaga oleh 2 petugas. Sebelum pada akhirnya duduk di ruang jenguk dengan kamera CCTV yang menyorot mereka.


Rutan Trunojoyo hanya dihuni beberapa tahanan. Itu pun tahanan yang menyita publik dan  tergolong kasus besar. Termasuk kasus papi. Selain itu ada kasus lain seperti kasus internasional, illegal logging, korupsi aliran dana BI dan titipan orang asing.


Ia dan Pras menunggu kedatangan papi yang dijemput petugas. Tak lama, papi muncul dengan seragam oranye. Masih dengan senyuman khasnya.


“Kamu datang, Pras.” Tukas papi sedikit terkejut. Tidak menyangka Pras akan datang menjenguknya.


Pras dan papi berpelukan sebentar. Lalu duduk berseberangan.


“Terima kasih kamu mau datang, Pras.” Lagi, Torrid tersenyum.


Pras berdecak, “Apa kamu lupa. Kita sahabat?” Ayah Tyo itu menggeleng, “seorang sahabat bisa melihat rasa sakit di matamu. Sementara yang lain percaya senyum di wajahmu.”


“Aku tidak akan memaksa kamu bercerita. Mengemis kamu untuk mengaku dan mencibir tindakan yang kamu lakukan,” Pras menghela. “Aku akan hanya berdiri di sampingmu. Meski semua orang menuduhmu melakukan itu.”


Torrid menyahut dengan mengulas senyum. Kemudian menatapnya. “Om Pras ini saksi hidup Papi menjalani hari-hari setelah berpisah dengan ibumu. Bahkan Om Pras juga saksi ibumu menjalani hari-harinya.”


...***...


Torrid


Aku tinggal di rumah sendiri bersama 3 putraku. Sementara Meylan juga tinggal di rumah yang lain. Anak-anak bebas mau bertemu dengan maminya. Aku tidak memberikan batasan. Hanya saja Meylan tetap tidak boleh tinggal satu atap denganku. Kita sepakat akan peraturan itu.


Meylani tetap mendampingi 3 putraku. Dekat dengan mereka. Bahkan sesekali berlibur bersama.


Mereka pernah bertanya. Mengapa papi dan mami tinggal terpisah? Mengapa papi dan mami tidak seperti mami dan papi teman-teman mereka.


Aku tersenyum getir.


“Kami memang Papi-Mami kalian, tapi kami tidak bisa bersama. Kami akan memberikan apa yang kalian butuh kan, tapi maaf ... Papi dan Mami tidak bisa tinggal bersama. Kelak jika kalian dewasa akan mengerti,”


Lambat laun, waktu juga lah yang membuat mereka paham. Jika papi dan maminya telah berpisah. Toh, mereka juga tidak kekurangan kasih sayang. Meylan juga menyayangi Maleo, Atat dan Ru.


Tapi di luaran sana, hanya tahunya kami keluarga harmonis. Kami keluarga yang patut diteladani. Menjadi role model bagi sebagian pasangan lain.


Huh ... mereka cuma melihat kulitnya saja.


Apalagi Meylan beberapa kali tampil dengan anak-anak dan aku. Sebuah kamuflase kehidupan yang ‘manis’ dilihat kasat mata.


Aku tidak tahu apa yang dilakukan Meylan di belakangku. Hingga akhirnya setelah meninggalnya mama karena sakit aku berani menceraikan Meylan secara resmi. Publik kaget. Pasangan yang dielu-elukan, disanjung-sanjung. Tampak sempurna tanpa noda ternyata menyimpan bara.


Menghanguskan harapan sebagian orang. Yang tadinya lovers menjadi haters. Tentu semua memojokkan aku. Akulah di sini yang pantas disalahkan. Sedangkan Meylan tersenyum penuh kemenangan. Sosoknya dibela mati-matian oleh para lovers-nya.


Teman sosialita. Teman yayasan. Teman dari para istri petinggi perusahaan. Bahkan beberapa istri pejabat membela Meylan.


Tapi semua tidak ada pengaruh buatku.


Hingga aku mendapat kabar dari Pras bahwa Rahayu akan menikah. Dengan seseorang yang tidak aku kenal. Kaget dan tak percaya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dengan mengikhlaskannya bahagia dengan orang lain. Adalah salah satu cara menebus rasa bersalahku.


Sayangnya, aku kira pernikahan Rahayu langgeng dan bahagia. Ternyata Rahayu kembali menelan pil pahit untuk kedua kalinya. Pernikahan keduanya hanya bertahan sebentar. Dan Rahayu memilih hidup hanya dengan putra keduanya.


Rasa bersalahku kembali mencuat.


Berulang kali aku meminta Rahayu kembali padaku. Sampai mulut ini tidak pernah kelu memintanya. Lutut ini tidak pernah lelah bersimpuh. Dan raga ini masih kuat menahan beban, aku akan terus memintanya.


“Rahayu Notonegoro, maukah kamu menerimaku kembali?”


Namun berulang kali juga Rahayu menolak, “Maaf ... maaf, aku belum bisa.”


Aku tahu, begitu dalam luka yang kutorehkan. Kenangan pahit yang kujahit melilit. Hingga tidak mungkin aku mendapatkan kesempatan itu lagi.


Aku sabar akan menunggu waktu itu. Entah kapan.


Dan ... puncaknya setelah sekian tahun aku mengetahui perlakuan Meylan terhadap Rahayu. Aku marah besar. Menghentikan semua aliran dana ke rekeningnya. Mencabut semua fasilitas yang aku berikan. Dan berencana memulangkan ke negara asalnya.


Kedua orang tua Meylan telah lama meninggal. Saudara-saudaranya kembali ke negara asalnya dengan membawa sisa hasil penjualan aset perusahaan yang telah bangkrut. Hanya tinggal dia sendiri di Jakarta.


Meylan tidak terima. Malam itu, dia meninggalkan rumahnya setelah kami bertengkar hebat. Dengan membawa suami Bi Yati untuk mengemudikan mobilnya.


Tapi selang beberapa jam, aku mendapat kabar jika Meylan mengalami kecelakaan bersama suami Yati. Dengan kondisi mobil yang hancur.  Meylan dinyatakan meninggal di tempat. Menurut penuturan pihak kepolisian Meylan saat itu tidak mengenakan sabuk pengaman dan dalam pengaruh alkohol. Sementara suami Yati masih sempat dilarikan ke rumah sakit. Meski akhirnya meninggal setelah dirawat beberapa hari.


...***...


Garuda


Ia tahu mami meninggal karena kecelakaan. Tapi di balik cerita sebelumnya, ia tak pernah menduga.


“Itulah kisah Papi dan ibumu. Sekarang Papi sudah lega,” Papi tersenyum menatapnya.


“Satu hal yang perlu kamu tahu. Mamimu tidak pernah menyayangimu dengan tulus. Mamimu hanya berusaha mengalihkan perhatianmu. Membalas sakit hatinya pada Rahayu lewat kamu, dan aku baru menyadari jika Meylan telah berhasil mempengaruhimu,”


Helaan napas papi berat, “Maaf ... Papi terlambat.” Papi kembali menunduk. Ada buliran kristal cair luruh bersamaan rasa penyesalan.


Pras menepuk bahunya, “Kalian hanya salah paham. Ibumu tidak pernah sekalipun meninggalkanmu, Ru. Tidak pernah sekalipun berhenti menyayangimu. Bahkan selalu bermunajat dalam doa-doanya. Untuk kamu ... anak yang selalu disayanginya sampai kapan pun.”


Dadanya sakit, nyeri dan berdesir ngilu. Giginya mengetat.


“Hanya kamu yang mampu mengembalikan ibumu pada papimu,”


“Hanya kamu yang mampu menyatukan keluarga kalian menjadi utuh lagi,”


“Hanya kamu yang bisa membuat harapan 2 orang terlukai menjadi kenyataan ....”


“Pergilah ....” Pras menepuk lengannya, tersenyum bertepatan dengan jam besuk habis.


Tiga jam telah berlalu. Ia berdiri tegak di depan pagar besi bercat putih. Suasana rumah sepi. Rumah yang dilihatnya tampak asri, sejuk dan nyaman. Penuh bunga-bunga yang ditanam rapi dan sedang bermekaran.


Sementara di atas sana, langit mendung. Menampilkan warna kelam. Disertai angin semilir yang menerbangkan dedaunan kering mengikuti arah lajunya.


Lima belas menit ke depan ia masih berdiri tegak. Tidak mengetuk pagar. Pun mengucap salam.


“Lho, Masnya mau cari siapa?” tanya seorang wanita yang baru datang dengan sepeda motor. Menghampirinya.


“Saya,”


“Mau cari dokter Rahayu?” tanya orang tersebut.


Ia terdiam dengan sudut bibir tertarik ke atas samar.


“Sebentar lagi mungkin pulang,” ujar orang itu sambil melihat arloji di lengannya. Memang sekarang pukul 16.15 WIB. Bertepatan bubar jam perkantoran.


“Masnya mau nunggu di teras? Biar saya bukakan pagarnya.”


Ia menggeleng, “Saya di sini saja.”


Orang itu mendongak, “Tapi ini mau hujan. Sore ini kebetulan dokter Rahayu tidak praktik. Hari ini jadwal dokter lain. Jadwal beliau hanya seminggu 4 kali.” Jelas wanita yang berkerudung itu. “Atau mau nunggu di klinik sebelah?” tawarnya.


Ia tetap menggeleng, “Tidak. Terima kasih.”


Wanita itu pamit undur diri. Meninggalkannya sendirian.


Ia masih berdiri tepat di depan pagar. Sementara rinai hujan ringan mulai turun. Langit semakin kelam. Kilat menyambar. Kadang disertai gemuruh dengan gelegar yang menakutkan.


20 menit telah berlalu. Ia masih berdiri di sana. Sececah kalimat Om Pras melintas.


“Kalian hanya salah paham. Ibumu tidak pernah sekalipun meninggalkanmu, Ru. Tidak pernah sekalipun berhenti menyayangimu. Bahkan selalu bermunajat dalam doa-doanya. Untuk kamu ... anak yang selalu disayanginya sampai kapan pun."


Bergantian kalimat papi.


“Satu hal yang perlu kamu tahu. Mamimu tidak pernah menyayangimu dengan tulus. Mamimu hanya berusaha mengalihkan perhatianmu. Membalas sakit hatinya pada Rahayu lewat kamu, dan aku baru menyadari jika Meylan telah berhasil mempengaruhimu,”


30 menit berlalu. Pakaiannya telah basah. Mimpi-mimpi yang selalu muncul berulang kembali membayang.


“Sini anak Ibu. Belajar apa tadi, Sayang?”


“Menggambar Papi, Ibu sama aku,”


“Oh ... ya? Sini Ibu lihat.”


Ia mengeluarkan selembar kertas berisi hasil lukisannya di sekolah dari dalam tas. “Ini Papi,” tunjuknya pada orang yang paling tinggi di antara yang lainnya. “Ini Ibu,” tunjuknya pada gambar yang punya rambut panjang, “dan ini aku,” tunjuknya pada gambar yang berada di tengah di antara papi dan ibu. Ketiganya saling bergandengan tangan.


“Bagus sekali, Ru sayang.”


40 menit berlalu tak menyisakan sedikit pun yang kering dari pakaiannya. Ia mengepalkan tangannya menahan hawa dingin. Tubuhnya basah kuyup. Jutaan air yang turun ke bumi begitu deras. Bahkan terasa menusuk-nusuk raganya. Belum udara dingin yang tercipta membuat lubang pori-pori kulitnya menutup sempurna. Jemarinya mulai keriput dan memutih. Sesekali ia menyeka wajah. Menunduk untuk menghalau terpaan air yang kian lama kian terasa sakit.


Tapi ia tak peduli.


Ia masih berdiri di sana. Menanti seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Hingga ia merasa aneh sebab tetesan tak lagi menghunjam tubuhnya. Sementara di sekelilingnya rinai hujan begitu deras jatuh ke bumi, lalu memercik ke segala arah.


“Kamu bisa sakit,” ucap seseorang yang berdiri di belakangnya. Memayunginya.


DEG.


Suara itu.


Ia masih terpaku. Tak mampu untuk menoleh ke belakang. Bahkan untuk memutar tumitnya sekalipun.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏