If Only You

If Only You
10. Mengajar di Rimba



...10. Mengajar di Rimba...


“A ... B ... C ... D ... E ... F ... G ....” Sipongang anak-anak SAD saling sahut menyahut. Penuh antusias. Semangat dan meriah.


Gemala mengajari mereka belajar membaca. Menulis dan mengeja.


“Ingat ya, A apa?”


“Anggrek,”


“B,”


“Benal,”


“C,”


“Cempahung,”


Para pengajar sengaja menggunakan nama-nama sekitar agar mudah diingat. Juga memperkenalkan kekayaan sumber daya alam di sekitar mereka. Sebab, mereka akan mudah mengingat sekaligus belajar tentang lingkungannya.


“Oke. Sekarang kita mengeja.” Ujarnya dengan menunjuk papan putih di sampingnya. Mereka tengah berada di basecamp LSM kawasan TNBD.


“M-a-m-a dibaca mama,”


“P-a-p-a dibaca papa,”


“S-u-k-u dibaca suku,”


Anak-anak mengikuti semua arahannya. Ada yang cepat tanggap. Ada yang masih tertatih. Tapi ia salut, mereka tak kenal lelah untuk belajar dan memperbaiki.


Ia mengacungkan 2 jempolnya ketika mereka usai mengeja.


“Bebet,” panggil salah satu dari mereka. Bebet sebutan untuk panggilan laki-laki ke perempuan atau sebaliknya.


“Ya,” sahutnya.


“Cemano, kalau nak tulis Selengking?” tanya Selengking salah satu murid yang hadir pagi itu.


“Tulis huruf S dulu, setelahnya e, l, e, n, k, i, n, g.” Ia membantu menulis nama Selengking pada papan tulis. Lalu mengajari mengeja perlahan.


“Kalo Ngijap, cemano?


“Sayo, Nyalin.”


“Sayo, Ngadun.”


Anak-anak berebut, belajar menulis nama-nama mereka sendiri.


Ia mengulas senyum. Sesederhana nama mereka. Sesederhana pula kebahagiaannya melihat mereka antusias belajar.


Nama-nama mereka unik. Diambil dari kearifan lokal sekitar. Bahkan pemberian nama buat mereka itu sakral. Sebab harus meminta kepada dewo-dewo sebagai kepercayaan mereka.


Tak terasa matahari tepat di atas kepala. Ia perlahan berdiri setelah merapikan buku-buku, lalu berjalan ke ujung pendopo di lantai 2. Rumah ini berbentuk panggung. Dengan bangunan semi permanen. Dan lantai 2 masih menggunakan papan kayu.


Tanpa sengaja ia melihat salah satu muridnya yang masih belum pulang. Duduk di bawah pohon sambil mendekap buku.


Ia pun lekas turun dan mendekatinya.


“Nyalin,” sapanya.


Nyalin menoleh, lalu tersenyum kecil menyambutnya.


Ia ikut duduk lesehan di sebelah gadis remaja itu.


“Lagi apa? Kenapa belum pulang?”


Nyalin menggeleng.


“Kamu tadi banyak kemajuan lho. Sudah bisa menulis huruf A sampai Z, mengeja. Pasti sebentar lagi lancar membaca.”


Nyalin masih terdiam dengan tangan memainkan patahan ranting pada tanah. Mencoret pada lantai cokelat itu dengan huruf A, ditimpa B, lalu ditimpa C, D dan seterusnya.


“Aku punya buku cerita. Kamu mau?” Pancingnya. Berharap Nyalin bicara. Beruntung beberapa hari setelah ia tiba di Jambi, buku-buku pelajaran, dongeng, dan buku bergambar pesanannya sampai.


Tangan Nyalin berhenti mencoret. Lalu mengangguk, “Bilo? (Kapan)” berhasil. Nyalin mau bicara.


“Kalau mau besok aku bawain ke sini,”


mata Nyalin berbinar, tapi sedetik kemudian redup kembali.


“Kamu murid cerdas. Pasti kamu cepat belajar,” sanjungnya. Nyalin termasuk murid yang baru bergabung dengan sokola rimba. Baru 1 bulan. Sebelumnya keluarganya melarangnya. Tapi berkat pendekatan dan penyuluhan dari tim sokola rimba. Lambat laun orang tua Nyalin memperbolehkan anak-anaknya ikut sekolah.


Ia jadi teringat bagaimana perjuangan pendiri dan penggagas sokola rimba pertama kali. Pasti banyak kesulitan yang dihadapi. Lebih berat dari hari ini.


“Nyalin nak dikawinkan samo Bepak,” ucap Nyalin lirih.


Ia menelengkan kepala. Melihat Nyalin yang menunduk. Pandangan matanya kosong.


Sudah hal biasa, gadis remaja yang telah dianggap dewasa akan dinikahkan. Pernikahan dini bagi SAD hal yang lumrah. Di samping belum bisa memahami segala risiko akibat pernikahan dini baik secara medis maupun kesiapan metal. Mereka beralasan untuk melestarikan keturunan.


“Kapan?” Tanyanya.


Nyalin menggeleng.


“Tenang, kalaupun Nyalin sudah menikah nanti masih bisa sokola. Masih bisa belajar. Di mana saja. Jangan khawatir.”


“Tapi, Bepak tidak mengizinkan. Sayo, harus melayani laki (suami).”


Ia menghela napas, lalu membuangnya perlahan. “Aku, akan coba bicara sama bepak. Sekarang kamu pulang, ya. Nanti induk nyariin kamu,” bujuknya. Ia tahu ke depan tidak mudah merayu orang tua Nyalin untuk mengizinkan gadis remaja itu tetap sekolah. Tapi demi kebaikan Nyalin, ia akan berusaha.


Nyalin mengangguk. “Terima kasih, Bebet,” lalu beranjak pergi meninggalkannya.


Sore harinya ia membantu mengajar anak-anak di luar kawasan TNBD. Di bawah pohon sawit. Beralaskan pelepah.


...Garuda pancasila...


...Akulah pendukungmu...


...Patriot proklamasi...


...Sedia berkorban untukmu...


...Pancasila dasar negara...


...Rakyat adil makmur sentosa...


...Pribadi bangsaku...


...Ayo maju maju...


...Ayo maju maju...


...Ayo maju maju...


...(Cipt. Sudharnoto)...


Riuh rendah suara anak-anak berlomba-lomba menyanyikan salah satu lagu nasional.


Ia bertepuk tangan. Mengulas senyum menatap satu persatu wajah-wajah mereka. Setelah lagu tersebut selesai.


“Garuda pancasila itu apo?” celetuk salah satu dari mereka.


Ia tertawa kecil. Mereka hafal lirik lagunya. Tetapi tidak paham maknanya.


“Ada yang tahu?” tanyanya melempar pertanyaan itu kembali ke mereka.


“Kalau ada yang tahu, aku kasih buku.” Ia mengacungkan buku cerita berjudul  ‘Dongeng Anatomi’. Bersampul warna merah dan bergambar anak serta gigi.


Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu.


“Siapa yang mengajari lagu tadi?”


“Maktub,” jawab salah satu dari mereka. Maktub adalah salah satu relawan pengajar sokola rimba.


Perlahan ia menjelaskan. Lalu menunjukkan gambar lambang negara Indonesia tersebut. Beruntungnya ia pernah menyimpan di galeri ponselnya. Saat ... pelantikan papa di istana negara.


Pun, lambang itu ia jadikan foto profile pada kontak Garu. Bibirnya terangkat ke atas mengingat hal itu.


Garuda 5ila.


Lucu pikirnya.


“Itu Garuda!” tunjuk salah satu dari mereka di arah belakangnya.


“Hah!” ia terkesiap, lalu ikut menoleh ke belakang.


Laki-laki yang melintasi pikirannya baru saja, berjalan ke arah mereka. Menebar senyum sambil melambaikan tangan. Seperti ada efek slow motion. Tetiba hatinya bergemuruh. Senang dan ... tak menyangka, setelah 1 minggu pasca-kejadian di pabrik mereka bertemu kembali.


“Gimana kabar kamu?” tanya Ru saat jarak keduanya sudah dekat.


Ia tersenyum tipis, tapi mampu membuat hidungnya kembang kempis. Sesenang inikah disapa seorang Garuda?


“I am good. And you?”


Laki-laki itu tak menjawab hanya menggantungkan tangannya terbuka di udara—menunjukkan bahwa ‘inilah keadaanku’ bisa dilihat.


Senyumnya semakin terkembang. Manakala aroma parfum yang selintas menguar memenuhi hidungnya. Tepat saat Garu melewatinya. Lalu duduk bergabung dengan anak-anak.


Ia terbius sesaat. Tapi lekas mampu mengendalikan diri dengan cepat.


Sore itu angin sepoi-sepoi menemani belajar mereka. Di bawah pohon dengan alas sederhana, tapi tak menyurutkan sedikit pun semangat semuanya.


Kali ini ia dan Ru mengajari mereka berhitung. Pertambahan dan pengurangan. Sebagai alat bantu, anak-anak mengumpulkan biji sawit yang kering.


Rasanya kesederhanaan mereka mengajarkan banyak hal. Mereka tidak pernah mengeluh. Bahagia dengan caranya.


“Suatu saat, pasti hal-hal seperti ini akan aku rindukan. Mengajari anak-anak. Berteman dengan alam. Semua dilakukan dengan sederhana dan bahagia.” Tukasnya. Keduanya duduk lesehan memeluk kaki masing-masing. Bersisian dengan jarak 1 meter.


“Mereka salah satu contoh anak-anak Indonesia yang bahagia tanpa tv, gawai dan semacamnya. Teman, buku bahkan guru mereka adalah alam. Dengan alam mereka belajar hidup, belajar bertahan untuk mencukupi kebutuhan mereka. Itu sudah menjadi nilai kebahagiaan mereka yang tak terkira.” Garu menukas.


Ia mengangguk.


“Terkadang masih ada orang yang mengeluh dengan keadaannya. Padahal masih banyak orang yang kondisinya di bawah mereka yang mengeluh,”


“Itu karena mereka kurang bersyukur. Atau lupa bersyukur.” Ru bangkit, “kamu mau ikut?”


Ia menengadah, “mau ke mana?”


Ru tak membalasnya. Melangkah begitu saja meninggalkannya. Ia lekas beranjak, lalu berteriak, “Hei ... kita mau ke mana?” berupaya menyamakan langkah kaki laki-laki itu.


“Hei, dengar gak sih?” gerutunya


“Gue punya nama. Bukan hei, hei,” ejek Garu seraya mempercepat langkah.


Ia terhenti sejenak. Mulutnya monyong ke depan. Tapi dengan setengah berlari cepat menyusul Garu.


“Kamu pasti akan suka,” tangkas Ru dengan senyum tipis.


“Kamu berani jamin?”


“100%.”


Melewati jalan setapak. Kanan kiri pohon hutan. Semakin ke dalam semakin gelap. Udaranya pun semakin menusuk pori-pori kulit.


“Ru,” sergahnya ketika suara burung liar mendendangkan keahliannya. Ditambah suara tonggeret. Lalu menyusul,


“Uuu aak uuu aak,” gerombolan kera lewat. Bergelantungan dari batang pohon satu ke batang pohon lainnya. Mereka seolah terusik dengan keberadaannya dan Garu.


“Wrebek ... wrebek ... wrebek ....” Suara katak saling mengeluarkan simfoni.


“Kamu dengar, kan suara katak itu? Tandanya sebentar lagi kita sampai.”


Sayup-sayup terdengar suara gemercik air. Ia begitu takjub ketika sampai di tempat tujuan. Mata air yang mengalir ke sebuah kubangan berbatuan di bawahnya. Dengan bantuan sebilah bambu besar mata air itu laksana air terjun mini. Jernih. Dan alami. Ada 3 mata air berundak di sana.


Mereka berdiri tepat di depan mata air.


“Minumlah, ini segar,” Ru terlebih dulu meminum air tersebut. Lalu mencuci mukanya.


Ia mengikuti laki-laki itu. Benar. Selain jernih, airnya juga segar dan tanpa rasa. Bahkan rasanya mirip air mineral dalam kemasan yang selama ini dikonsumsinya.


“Mereka menjaga mata air ini dengan sungguh-sungguh,” ujar laki-laki itu. “Bahkan mereka punya aturan tentang pemakaian air. Tidak boleh sembarangan buang air kecil maupun besar di sungai.”


Ia setuju. Masyarakat SAD memang benar-benar menjaga alamnya.


Ia melepas sepatunya lalu mencuci kakinya di atas bebatuan. Tapi karena kurang hati-hati ia menginjak batu licin. Tubuhnya tidak seimbang. Jatuh ke belakang.


Tapi, dengan cekatan badan Garu menopang tubuhnya. Sesaat pemandangan itu tampak romantis. Layaknya sesi foto prewedding.


Namun hanya beberapa detik. Garu membantunya berdiri tegak kembali. Keduanya salah tingkah. Canggung dan terdiam dalam menenangkan gelora dalam dada masing-masing.


Laki-laki itu berdehem. Mencoba menetralisir kejadian yang baru saja mereka alami.


Beruntung suara katak masih menjadi suara paling dominan. Di samping percikan air mancur yang mirip musik perkusi instrumental.


“Kita pulang,” ajak Ru.


-


-


Catatan :


Pendiri sokola rimba di TNBD adalah Butet Manurung (2003).


 


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏