
...14. Yang Kupercaya Sekaligus yang Kusakiti...
Gemala
Ia harus melanjutkan penerbangan ke Surabaya. Berpisah dengan Garu di koridor transit.
“Apa perlu aku temani?” tawaran sekaligus sindiran Ru sambil menipiskan bibirnya ketika mereka tiba di persimpangan.
Ia menggeleng. Lalu langkahnya terhenti. Menatap laki-laki itu sesaat, “Thanks,”
“Thanks for what? Aku tidak pernah merasa membantumu,”
Ia berdecak, “Kamu tetap nyebelin. Padahal kita tidak tahu kapan lagi akan bertemu. Setidaknya berikan kesan manis di penghujung perjumpaan kita.”
Ru melihat arloji di pergelangan tangannya.
“Dan kamu tetap ngeselin. Selalu mengukur semua dengan waktu dan bisnis.” Ia hela napas, “anyway ... boleh aku meminta satu permintaan?” ia menatap lagi laki-laki di hadapannya. Lima detik manik mata mereka saling bertumbuk.
“Apa?”
Ia meraih tangan Garu, membuka genggamannya dan mengambil gelang dari Bekasuh. Yang sejak awal ia memberikannya hanya digenggam Garu. Lalu memasukkan ke pergelangan tangan laki-laki itu.
“Sudah,” ucapnya. Ia tersenyum, “tara ...,” ia mengangkat pergelangan tangannya. “Kita pakai gelang yang sama.”
Garu mengembuskan napas, “Aku kira apa!”
“Ih, kamu harus belajar menghargai pemberian orang lain.” Lengang jeda sejenak. Hanya terdengar suara kepak alas kaki, roda koper yang ditarik beradu dengan lantai. Serta percakapan beberapa orang yang berlalu lalang.
“Okay ... saatnya kita harus berpisah,” ia melambaikan tangannya lalu balik kanan. Dua langkah kemudian ia berbalik lagi, “sampai jumpa, Garu!” serunya. Melambaikan tangan dan tersenyum. Lalu memutar tumitnya dan melangkah pergi.
...***...
Garuda
Sementara dirinya masih menatap gadis itu yang semakin menjauh. Ia mengembuskan napas. Berharap gadis itu kembali menoleh kepadanya. Sekali lagi. Mulai menghitung dalam hati. 1, 2 ... 3, 4 ... 5, ia mengusap gelang yang telah melingkar di pergelangan tangannya. Come on, aku ingin melihatnya sekali lagi. 6, 7 ... yes! Gadis itu kembali menoleh padanya. Keduanya saling melempar senyum dan Mala kembali melambaikan tangan sebelum hilang di balik dinding.
Kemudian ia berlalu dari sana.
Sayangnya, ia tidak tahu, dari balik dinding gadis itu kembali muncul. Menatap punggung yang kian lama kian menjauh dan tidak terlihat lagi.
“Ton, di mana?” tanyanya lewat sambungan telepon.
“Bos besar sudah menunggu di kantor, Pak.” Ucap Toni saat mobil mereka telah melaju di jalan tol.
“Papi benar-benar menyuruh aku meng-handle GL. Menurutmu bagaimana, Ton?”
“Terbukti TRP selalu profit selama Bapak pegang. Artinya, tidak usah diragukan lagi.”
“Tapi ini dunia baru bagiku, Ton. Mengelola sebuah perusahaan pengembang dan real estate. Dan aku harus bertemu dengan orang-orang baru juga.”
“Anda sudah mempelajari GL 2 minggu ini. Saya rasa cukup. Apa lagi GL berhubungan dengan Bos Jebe. Satu frekuensi.”
“Kamu kira, kita channel radio?”
Toni terkekeh ringan, “Bos Jebe menyediakan bahan baku. Itu lebih mudah bagi GL.”
“Tidak semudah itu. Aku sudah mempelajari semua kerja sama GL dengan perusahaan lain. Baik penyuplai dan rekanan. Tidak ada kontrak kerja sama dengan perusahaan Jebe.”
Toni mengernyit, “Mungkin belum, Pak. Jadi dengan Anda memimpin GL bisa menjalin kerja sama dengan Pak Jebe. Langkah yang bagus, bukan, Pak. Selain bersahabat juga bekerja sama dalam berbisnis, pasti lebih menguntungkan.”
Toni ada benarnya. Ia setuju. Bahkan intensitas mereka bertemu mungkin akan sangat sering. Bibirnya mengulas senyum, “Gagasanmu kadang brilliant, Ton.”
“Seorang Toni Alexander, tidak perlu diragukan lagi, Pak,” aku Toni—sombong.
“Mengatur penerbangan Anda dengan Mbak Mala, semudah menjentikkan jari. Apa lagi hanya sebuah ide,” lagi, kejemawaan seorang Toni ditampilkan.
Ia berdecak. Tapi detik berikutnya manggut-manggut. Memang benar, Toni dapat diandalkan.
“Lantas, bagaimana hubungan Anda dengan Mbak Mala?”
Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Lalu mengusap gelang tanpa sadar. Keheningan menjeda. Toni yang duduk di depan, samping kemudi menoleh ke belakang. “Gelang sebelik sumpah,”
“Dari Bekasuh.”
“Itu gelang tidak sembarangan, Pak. Apa lagi yang memberikannya langsung dari anak rimba. Yang diyakini diberikan mantra dan punya kekuatan magis," tukas Toni.
Refleks ia menegakkan punggung. “Maksudmu?” Ia belum pernah mendengar ini. Dan namanya saja seperti asing di indra pendengarannya.
“Gelang sebelik sumpah. Gelang penolak bala. Dipercaya dapat menolak segala sumpah serapah orang lain terhadap pemakainya. Dan sumpah serapah itu akan berbalik atau menjadi kebalikannya. Itu yang pernah saya dengar langsung dari Waylik,”
“Saya dulu pernah diberi juga sama Pak Way. Tapi jenis kalung.”
“Tapi, aku tidak pernah lihat kamu memakainya, Ton.”
Toni menyengir, “Kadang-kadang saya pakai, Pak.”
Ia kembali menyandarkan punggungnya.
“Sejak kapan Bapak memakai gelang itu? Sepertinya cocok di lengan Anda.”
Ia berdecak lagi, “Aku terpaksa memakainya. Karena gadis itu yang memakaikannya.”
Toni tergelak, “Saya sudah punya feeling itu. Anda jarang menerima pemberian orang lain dan langsung memakainya. Tapi ini,”
Ia memotong, “Dia juga pakai, Ton.”
Gelak Toni tak dapat dihindarkan lagi, “Artinya memang Anda berdua dijodohkan. Dan dilindungi oleh mereka.”
Pikirannya menerawang. Lalu melihat arloji di pergelangan tangan. Gadis itu pasti belum sampai di Surabaya.
Kenapa ia jadi memikirkan gadis itu? Ia menggeleng untuk mengusir nama Gemala di benaknya. Tapi detik berikutnya sudut bibirnya melengkung ke atas. Dengan menatap lekat gelang berwarna cokelat-gelap. Mengusapnya perlahan. Ia tidak menyadari secara pelan dan pasti gadis itu telah mencuri perhatiannya. Bahkan mungkin hatinya.
Mobil BMW seri GT warna silver itu telah berhenti tepat di depan lobi gedung TG. Ia memakai jas lalu mengancingkannya. Tak lupa mengenakan kaca mata hitamnya. Langkahnya tegap. Pandangannya lurus. Para karyawan yang berpapasan dengannya menyapa ramah dan menunduk sejenak.
Toni menekan tombol lift khusus petinggi perusahaan. Mereka hanya berdua dalam kotak besi yang bergerak vertikal itu.
“Kapan RUPS, Ton?” tanyanya.
“Tiga hari lagi, Pak.”
Ia melirik arlojinya. Sepertinya pesawat jurusan ke Surabaya telah mendarat. Apakah gadis itu telah sampai di sana?
“Apa perlu saya mencari tahu keberadaan Mbak Mala, Pak?” Toni berinisiatif—sepertinya tahu keresahan yang dialaminya.
Ia pura-pura berdecak. “Kamu tidak perlu bertanya padaku lagi, Ton.”
Toni terkekeh. Bersamaan pintu lift yang terbuka.
“Kamu pastikan semua berkas sudah selesai, Ton. Sebelum serah terima.”
“Sudah Pak. Dua minggu lalu saya sudah perintahkan pada sekretaris 1, 2 dan 3. To date sampai dengan 2 hari sebelum serah terima.”
“Good. Jangan sampai ada yang terlupa. Tolong kamu cari tahu orang-orang GL yang loyal dan berkompeten. Pertahankan mereka. Dan rombak orang-orang yang bisa memperlambat kinerja GL. Kita ingin tim yang solid. Yang menguntungkan.”
Toni mengangguk. Lalu membukakan pintu ruangan owner sekaligus co-founder Torrid Group.
Ia masuk ke dalam ruangan tersebut. Sementara Toni undur diri dan kembali menutup pintu.
“Pi,” sapanya. Papi tengah berdiri di depan jendela. Membelakanginya.
“Kamu sudah datang?” pertanyaan retoris dari papi. Tidak perlu dijawabnya. Papi masih menatap lalu lintas jalanan di bawah sana dari lantai 30.
“Papi sudah yakin?” justru ia balik bertanya.
Tidak ada yang berbicara. Jeda sejenak.
“Setelah RUPS, kemungkinan Papi akan stay di Singapura. Ada hal yang harus Papi kerjakan di sana." Papi berbalik badan. Mereka saling berhadapan kini. “Papi percayakan GL ke kamu. Papi yakin GL akan maju dan berkembang lagi di bawah kepemimpinanmu.”
“Aku ... Papi jangan terlalu berharap banyak. Paling tidak aku butuh waktu 1 tahun. Atau minimal 1 semester.”
Papi tersenyum. Melangkah menuju sofa yang tidak jauh dari kaca jendela. Mengenyakkan tubuh di sana. Bertumpang kaki.
Ia pun mengurai kancing jasnya. Lalu ikut duduk di sofa.
“Kamu sama Maleo bisa bekerja sama. Papi yakin kamu bisa lebih baik dari Maleo. Bagaimana dengan gadis itu?” Papi menatapnya, lalu tersenyum mengejek.
Ia berdecak, “Please ... kita bahas pekerjaan.”
“Sepertinya gadis itu juga menaruh perhatian padamu.”
“Pi ....”
Papi terkekeh, “Kamu percis Papi.” Pria berumur 60-an itu berkata, “kejarlah dia. Sebelum dia pergi memilih yang lain. Atau kamu akan kehilangan kesempatan itu.
Jangan seperti Papi. Menjadi pria pengecut dan--”
“Pi,” ia menyergah dan menggeleng.
“--kehilangan ibumu," imbuh papi.
Ia menggeleng lagi. “Aku tidak ingin membahasnya,”
“Kamu perlu tahu, Ru.”
“Aku sudah tahu.”
“Papi ingin mempertemukan kalian,”
“Tidak perlu.”
Ia bangkit. “Kalau sudah selesai membahas pekerjaan. Aku pergi, Pi.”
Papi ikut berdiri. Air mukanya seketika berubah—kecewa dan sulit dijelaskan.
“Kita tidak perlu membahasnya. Aku pergi, Pi.” Ia bergegas meninggalkan ruangan yang begitu luas dan mewah itu. Sementara Torrid menatap punggung anaknya hingga hilang di balik pintu.
...***...
Gemala
Toni : Mbak Mala sudah sampai Surabaya?
Pesan chat itu masuk bersamaan dengan dirinya keluar dari pintu kedatangan. Ia melambaikan tangan ke arah mama dan papa yang menjemputnya. Ia tak sempat membalas pesan tersebut.
“Ya ampuuun, Mala.” Mama menggeleng—heran menatapnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Sementara ia menghambur ke papa, bergelayut manja di dada pria yang sudah punya 2 cucu tersebut.
“Papa sehat?” tanyanya. Sementara mama masih berdecak-decak. Melihat penampakannya.
“Kalau tidak sehat, pasti Papa tidak berada di sini.”
Ia tersenyum, “Papa harus sehat terus. Sebentar lagi Mala wisuda. Harus datang pokoknya,” lalu ia menghambur ke mama yang masih heran melihatnya.
“Ma, tenang aja. Sekali kita ke salon. Mala kembali lagi,” rayunya. Mama pasti sedih melihatnya. “Lagian yang penting Mala sehat, Ma. Gak kurang sedikit pun. Malah Mala jadi kuat,” ia memeragakan angkat beban, “tuh, otot biseps sama trisepsnya kebentuk, kan?” gelaknya.
Mama masih cemberut. Sedangkan papa ikutan tertawa.
“Anak kita jadi Indiana Jones, Ma. The next ....” Papa semakin menambah mama memonyongkan organ kenyal berbalut warna merah mencolok itu.
Ia merangkul bahu mama. Papa mengekori di belakang.
“Mulai besok kita ke salon Tante Daisi. Perawatan selama seminggu. Gak ada lagi alasan. Masa, rambut kering kayak gini. Kulit kamu, Mal, lihat,” Mama menarik lengannya. “Kusam, kering, kayak kulit ular. Belum lagi muka kamu. Hitam, kusam, ini apa lagi?” Mama menatap lekat wajahnya, “komedo, jerawat, ya ... ampun, Mal.”
Ia menerbitkan senyum. “Gampang Ma, atur saja. Tapi, Mala gak selama itu di sini. Paling cuma 3 hari.”
“Hah!” Mama menghentikan langkah. Papa yang percis di belakang mama ikut menghentikan langkah. Sebab menabrak istrinya.
“Ma, kalau jalan hati-hati.” Papa pindah ke depan.
“Aiiiss, Mama gak salah dengar, sayang. Kenapa cuma tiga hari?” Mama tampak kecewa.
“Ya, biar cepat, Ma. Lagian masih ada tahapan yang harus Mala lalui. Mama pengen Mala cepat wisuda, kan?”
Mama mengangguk.
“Nah, gitu. Mala harus mengejar waktu. Biar cepat wisuda tahun ini.”
Mereka melanjutkan lagi berjalan menyusuri pelataran bandara menunggu mobil datang.
“Mama masih kangen tahu, Mal.” Ucap mama ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Mama bisa ikut Mala ke Melbourne,” usulnya.
“Ya, Papa biar nyari Mama baru.” Seloroh Papa yang duduk di depan samping sopir.
Mama mendesis, “Lagu lama, iissh ....”
Papa tergelak, begitu juga Cak Joyo yang tengah menyetir.
Ia mengembuskan napasnya. Melihat pemandangan dari kaca jendela. Sudah 6 bulan tak pulang ke kampung halaman. Rasanya hatinya senang. Kerinduan dengan masakan mama, kuliner-an, ketemu teman-teman SMA, entah mereka sekarang ada di mana. Terakhir kali kontak dengan Mely—sahabat SMA—posisi Mely di Jakarta, kuliah di sana. Lalu Prita ada di Yogya. Begitu juga Davin tinggal di Jakarta. Tapi beda kampus dengan Mely.
Ponselnya berpendar. Nama ‘Ethan’ muncul di sana.
“Ya,” sahutnya.
“Thank God. Finally, I was able to reach you,” Terdengar helaan lega dari sana.
“How are you, Babe?”
“Good. Sorry, I’m on my way home. I’ll call you later.”
“Bye ....”
Ia memutuskan sambungan telepon dari Ethan. Entah mengapa, ia merasa ... Ethan tidak serius dengan hubungan mereka. Apa benar yang dikatakan kakaknya?
Tak berapa lama ponselnya berpendar kembali. Kini nama ‘Garuda 5ila’.
Ia menatap layar itu beberapa saat. Garuda 5ila calling ....
Hendak menggeser ikon terima panggilan namun sambungan itu terhenti.
“Siapa Mala?” tanya mama.
“Teman, Ma.”
Nama Garuda 5ila kembali berpendar di layar.
“Hem,” sahutnya.
“Aku kira kamu pingsan. Atau pesawat kamu mengalami masalah.”
“Aku sudah sampai di Surabaya,” jawabnya. Ia tahu Garu hanya akan menanyakan keberadaannya.
“Terima kasih untuk perhatiannya,”
“Si—”
“Jangan lupa permintaanku,”
“Ka—“
“Kalau tidak mendesak sekali. Jangan dilepaskan. Kita harus menghargai pemberian orang lain.”
“Hei, ak—”
“Bye ... Garu.” Ia menutup sambungan telepon sebelah pihak. Tanpa memberikan kesempatan pada laki-laki itu menyahut dan membalasnya. Ia sedang tidak ingin berdebat. Sedang ingin mengingat pertemuan mereka terakhir kali. Manis. Bibirnya tersenyum samar. Hatinya terasa damai. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu mama.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏