
...85. Siblings Rivalry...
Laki-laki tegap dengan tinggi badan 187 centimeter itu berdiri menunduk, menatap rumput hijau yang menyelimuti tanah yang lebih menyembul dari permukaan sekitarnya. Desau angin sesekali menyapa menerpa wajahnya.
Memanjatkan doa untuk sang ayah.
Toni berdiri di belakangnya memegangi payung untuknya. Sementara tangan yang lain memegang jas atasannya.
Ia membungkuk meletakkan buket bunga di samping nisan bermarmer hitam. Menatap lekat tulisan demi tulisan di permukaan marmer tersebut.
Desiran nyeri merasuki sanubari. Merasakan apa yang pasti dirasakan papi di sana. Sedih melihat anak-anaknya berselisih. Betul apa yang dibilang Mala. Ia harus mengakhiri ini semua.
Meskipun ... ia menarik napas berat.
“Eh, lo belajar dulu di Torrid palm.” Waktu itu Atat menolak kehadirannya di SGC. Padahal sesuai arahan papi, seharusnya ia belajar dahulu di lini perusahaan tambang mineral tersebut. Setelah lulus dari study pasca-sarjana yang ditempuhnya dalam 1,5 tahun.
“Buktikan lo bisa pegang perusahaan TRP baru ke SGC,” sambung Atat yang menantangnya waktu itu.
Diperlakukan sedikit beda tidak membuatnya serta merta rendah diri dan menaruh dendam. Meski ia tahu Maleo dan Atat mempelajari semua lini. Dari Torrid Palm, Garuda Land dan Star Gold and Copper.
Sedangkan dirinya hanya berkutat di Torrid Palm. Ia awali dari level manajemen menengah. Naik ke manajemen atas. Lalu bisa duduk di kursi pimpinan Torrid Palm.
Ia buktikan bahwa ia bisa. Meski capaian laba bersih kuartal demi kuartal masih jauh dari SGC maupun GL. Tapi ia mampu membawa perusahaan agroindustri tersebut bertahan bahkan menunjukkan kenaikan eksistensinya dari tahun ke tahun.
Mereka memang jarang bertemu setelah Maleo dan Atat mengambil pendidikan di London. Ia waktu itu masih duduk di akhir Sekolah Dasar. Kedua kakaknya itu kembali ke Indonesia dan memegang perusahaan, saat ia akan menempuh pendidikan di Melbourne.
Intensitas pertemuan yang sebentar dan terbatas. Tak pelak membuat hubungan persaudaraan mereka tidak bisa dikatakan dekat. Pun, juga tidak bisa dibilang jauh. Namun papi selalu menanamkan nilai-nilai kebaikan untuk mereka. Bahwa mereka harus kompak. Saling menyayangi meski berbeda ibu.
Tidak menutup mata siblings rivalry (persaingan saudara) muncul saat ia datang di keluarga papi. Apalagi ia yang terbiasa sendiri, tanpa saudara sebelumnya. Sering bertengkar soal mainan, perhatian papi dan hal remeh lainnya. Namun, semua akan berakhir damai setelahnya. Papi selalu menengahi menjadi pengayom di antara anak-anaknya bertiga.
Dan tidak dipungkiri ia memang lebih sering bertengkar dengan Atat. Tapi itu dulu ... dulu sewaktu masa kecil dan remaja mereka.
Semakin dewasa dan diberikan tanggung jawab, mereka kian sadar bahwa mereka bersaudara harus saling membantu dan membahu meneruskan perusahaan yang didirikan kakek.
“Lo, cocok di Torrid Palm,” Atat menepuk pundaknya. Saat RUPS pertama kali ia menjadi pimpinan di Torrid Palm.
“Dan lo, akan terus pegang TRP,” imbuh Atat.
Padahal awalnya ialah yang akan memimpin Garuda Land. Perusahaan yang sengaja mengambil namanya sebagai merek dagang perusahaan. Bahkan menurut cerita papi, GL berdiri karena terinspirasi olehnya.
Ia yang suka main di pantai. Membuat berbagai macam bangunan dari pasir. Betah bermain lama-lama di sana dan pernah merajuk akibat ibu melarang karena sempat trauma saat ia tersapu gelombang.
Dan puncaknya saat peralihan ia ke Garuda Land, Atat seperti kecewa.
Ia tidak mau dan tidak suka terlalu mencampuri urusan orang. Apalagi menyangkut hal pribadi.
Namun begitu ketika ia melepas project reklamasi GL di Semarang. Atat menjadi salah satu orang yang paling vokal menyudutkannya. Tidak setuju atas keputusannya. Dikarenakan GL mengalami kerugian.
“Papi tahu, itu keputusan kamu sebagai pimpinan. Asal kamu punya alasan yang tepat dan kamu bisa mempertanggungjawabkannya.” Papi memberikan dukungan atas keputusannya tersebut. Toh, ia juga telah berdiskusi dengan manajemen GL. Sekaligus dewan komisaris.
Sementara Maleo tidak mau berkomentar apa pun.
Ia menengadah. Memejamkan mata sesaat seraya menghela. Kemudian kembali menatap nisan papi sambil mendorong kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
“Maaf kalau membuat papi kecewa. Tapi aku tidak bisa membiarkan ini,” ucapnya lirih.
Toni menyerahkan jasnya. Ia memakaikan di tubuhnya. Memutar tumit dan berlalu pergi dari sana.
“Bapak benar dan yakin, ini keputusan yang tepat?” tukas Toni berusaha mengimbangi langkah atasannya.
“Hubungi Tyo suruh buatkan surat sesuai pembicaraan kita.” Tyo kini menjabat sebagai corporate secretary. Yang sebelumnya sebagai asisten pribadi papi.
“Baik, Pak.” Toni menyahut bersamaan atasannya yang masuk ke dalam mobil. Ia menutup pintu, berlari kecil memutari mobil dan duduk di sebelah sopir. “Jalan, San.” Titahnya pada sang sopir yang terlebih dulu duduk setelah membukakan pintu atasannya tadi.
San mengangguk.
...***...
... ...
“Hon, malam ini aku ketemuan sama Jebe tempat biasa,” ucapnya tatkala ia menelepon Mala. Mengapit ponsel di antara telinga dan bahunya.
“Berdua saja?”
“Ya, Ganjar lagi di Surabaya.”
“Okay, take care ... jangan terlalu larut pulangnya.”
“Siap Nyonya Garuda! Miss you.” Sambungan telepon itu terputus bersamaan ia yang telah selesai mengancing kemejanya. Mematut sekali lagi dirinya di depan cermin. Indra penglihatannya menyipit, mencondongkan wajah tepat di depan cermin. Bahkan hidungnya sampai menyentuh kaca. Meninggalkan bercak embun di sana. Bola matanya melebar sempurna.
Kenapa skelaranya tampak berbeda?
Ia menarik wajahnya dari cermin. “Kelelahan ... maybe,” lirihnya berbicara pada diri sendiri.
Beranjak dari wardrobe dan menyambar jaket di stand hanger. Menuruni tangga satu persatu sambil bersiul. Melajukan kendaraannya menuju lokasi di mana Jebe telah menunggunya.
“What’s up, Bro!” ia dan Jebe beradu jotos.
“Gue lagi butuh teman,” sahut Jebe. Menegak minuman dalam gelas di depannya.
“Ck, something wrong?” tanyanya sambil memanggil pelayan. “Blue ocean mocktail 1,” pesannya pada pelayan tersebut. Pelayan itu mengangguk dan berlalu pergi.
Jebe tergelak, “Gila! Blue ocean mocktail?!” ejeknya, “sejak kapan lo berganti minuman?”
Ia menipiskan bibir, “Sejak gue nikah.”
“Cih, Gemala memang bikin lo berubah total. Gaya hidup lo sekarang berbeda. Mau ketemu sama gue saja harus izin dia. Minuman lo juga seleranya berubah.”
Ia terkekeh, “Gue baru nyadar ... ternyata dia membawa perubahan baik di kehidupan gue. Jadi tidak ada salahnya,”
“Asal jangan gabung dengan ikatan suami-suami takut istri. Pamor lo bisa turun drastis, Man.” Jebe mencibir. Kembali menegak minuman di gelasnya.
“Thanks,” ucapnya saat pelayan menyodorkan minuman di meja. Dibalas senyuman dan berlalu meninggalkan mereka.
“Gaklah ... Mala bukan seperti itu. Justru dia menaruh kepercayaan besar sama gue. So, gue gak mau menyia-nyiakan itu.”
“Cih, status suami bikin omongan lo beda. Berbobot, Man. Jadi gatel gue dengarnya,” Jebe mengusap-usap daun telinganya.
Ia tergelak, “Atmosfer after and before marriage itu beda banget. Lo, bakal bisa merasain kalau lo nikah. Kalau gue cuap-cuap sekarang, lo bakal banyak nyangkal. Yang ada mubazir gue.”
Lagi dan lagi Jebe berdecih mencibir.
“Lo, ngajak ketemuan ada masalah?”
Jebe menunduk. Meraba pinggiran gelas dengan telunjuknya mengikuti permukaannya yang melingkar. Keduanya hening. Hanya terdengar alunan musik yang mengalun menjadi pelengkap suasana restaurant and bar tersebut.
Ia ikut berdecih, “Sejak kapan lo jadi melankolis begini?”
Jebe menegak minumannya hingga tandas. Sedikit kasar menaruh gelas kaca di meja hingga berdenting. “Dia datang. Ngajak balikan.”
“Whaaaaattt!!” pekiknya terkejut. Apa ia tak salah dengar.
Jebe mengangguk.
“Gila. Sumpah! Dia ngajak balikan setelah ninggalin lo gitu aja?” ia geleng-geleng kepala, tak habis pikir. Ada, ya ... cewek seperti itu. Eh, maksudnya cewek seperti mantannya Jebe. Habis manis sepah dibuang. Sudah dibuang sekarang mau dipungut lagi. “Lo, terima?” tanyanya antusias.
Jebe mengangkat bahu.
“Gue tahu ... elo cinta mati sama dia. Gak bisa dibayangin cinta lo dari kelas 2 SMA sampai kalian LDR 3 tahun. Jadi hubungan kalian total 5 tahun. Tapi tragis ditahun keenam dia mutusin secara sepihak. Dia ternyata memiliki kekasih lain selama kalian LDR?! Come on ... dari situ dia sudah tidak setia. Terus sekarang minta balikan!” ia mendesakkan napas kesal, “lo yang bodoh! Atau gue yang pintar?” tukasnya menghardik sahabatnya. “Lo, akan jadi manusia bodoh setelah ini kalau lo terima dia lagi,” dengusnya.
Entah mengapa sahabatnya tersebut banyak diam. Hanya menghabiskan minuman tanpa mau menyela ucapannya yang lebih banyak mencibirnya. Bukan menyudutkan sebenarnya, tapi lebih menyayangkan jika ia menyerah begitu saja. Menerima si mantan dengan mudah. Sebab ia tahu bagaimana Jebe terpuruk kehilangan cinta pertamanya. Rasanya tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan Jebe selama ini.
Oh ... my goodness!
Ia harus mengantarkan Jebe ke kamar hotelnya ketika sahabatnya itu mabuk parah. Membantu memapahnya. Dan mendengarkan celotehan demi celotehan yang merusak gendang telinganya.
“Pris, gue sayang lo.” Bergumam-gumam tak jelas. “Gue masih sayang lo. Kenapa lo khianati cinta gue. Kenapa lo selingkuhi gue. Gue salah apa Pris? Gue sakit. Gue benci lo ... tapi gue,”
“Anjreeeet, nih anak masih cinta mati sampai saat ini,” decaknya kesal. Bodoh pekiknya dalam hati. Seperti tidak ada gadis lain saja pikirnya.
Ia membantu Jebe merebahkan tubuhnya. Melepas sepatu. Dan menatap sejenak wajah sahabatnya.
"Sorry gue tinggal,” ucapnya sembari berlalu pergi. Namun belum juga sampai di ambang pintu yang masih terbuka ia mendengar suara yang sepertinya tidak asing. Dengan cepat ia bersembunyi di balik pintu. Hingga orang tersebut melintas. Dan berhenti tepat di sebelah kamar Jebe. Suara tersebut perlahan memelan dan tenggelam bersamaan pintu yang menutup.
...***...
... ...
“Good morning, Honey.” Sapanya di layar persegi panjang. Mala menghubunginya melalui video call.
“Bagaimana tadi malam. Pulang jam berapa?”
Ia menyugar rambutnya, “Jam 11 kayaknya. Aku harus antar Jebe dulu ke kamar. Karena dia mabuk parah.”
Gemala menatapnya curiga.
“Tenang ... aku hanya memesan mocktail,” sudut bibirnya tertarik ke atas. Menampilkan lekukkan di pipi kirinya.
“Kapan rencana pulang?”
“Lusa mungkin. Semoga lebih cepat. Hari ini harus pindah lokasi.”
“Oke lusa aku akan menjemputmu,”
“Are you okay?” tanya Mala. Menatapnya penuh di layar.
Ia mengangguk. “Hanya kelelahan sisa kemarin. Today it’s much better.”
Gemala tersenyum, “Jangan lupa ... makan pagi. Sorry ... aku belum bisa menemani,”
“It’s okay. Aku masih sabar menunggu kamu. Jangan lupa selalu jaga diri di mana pun.”
Layar ponselnya kembali ke menu utama. Namun tak berapa lama sebuah pesan masuk.
Gemalanya Ru : I l o v e you 😘
Ia terkekeh ringan.
...***...
Kedatangannya ke kantor di sambut Toni.
“Surat telah selesai dibuat oleh Tyo, Pak. Tinggal,”
Ru menyergah, “Keep dulu.”
“Baik, Pak.”
Pintu kotak besi itu terbuka di lantai 30. Kepakkan sepatu beradu dengan lantai menggema. Langkahnya mantap dan konstan menuju ruangan Atat.
Sekretaris Atat menyambutnya dengan menundukkan kepala, “Pagi Pak,”
Toni mengetuk pintu dan membukakan untuknya. Lalu menutup kembali. Ia melihat Atat tengah serius menatap layar laptopnya.
“Sorry kalau gue ganggu pagi-pagi.” Padahal sekarang waktu sudah menunjukkan jam 9.
Atat menatapnya sekilas. Kembali tak acuh padanya.
Ia berinisiatif duduk di depan Atat. Tanpa menunggu dipersilakan.
“Soal gugatan, apa tidak ada jalan lain? Kita perlu bicara. Bukankah kita saudara. Seandainya menurut lo itu bermasalah dan tidak adil, lo bisa bicarakan ini dengan gue. Bukan membawa ke pengadilan, lalu melibatkan banyak pihak. Dan pada akhirnya atensi publik menyorot TG kembali.”
Ia menatap Atat yang masih bergeming.
“Okay ... jika itu pilihan lo,”
“Lo, memilih TG kembali harus jadi sorotan setelah kasus papi. Lo, memilih mengorbankan TG untuk perlahan-lahan dihancurkan. Jika itu pilihannya ...,” ia berdiri. “Siblings rivalry dimulai,” sambungnya mengulurkan tangan.
Namun amat disayangkan Atat tetap tak acuh. Bergeming di kursinya.
Ia menghela. Menarik kembali tangannya. “Okay ...semoga jalan yang kamu tempuh adalah jalan yang benar dan tentunya direstui oleh Tuhan ...,” jedanya sejenak. “... serta Vivi,” imbuhnya.
Atat mendongak menatapnya.
“Calm down, gue gak akan bawa nama Vivi. Dan gue juga gak akan ikut campur soal itu. Urusan kita hanya sebatas perusahaan ini. Dan sampai kapan pun ... gue akan melaksanakan amanah papi.” Ia berbalik dan siap meninggalkan ruangan Atat.
“Oh, satu lagi.” Ia memutar tubuhnya kembali. “Gue gak akan bilang ke Vivi.” Senyum terukir di bibir. Meninggalkan ruangan Atat dengan penuh keyakinan. Bahwa ia tidak akan gentar menghadapi gugatan kakak keduanya itu.
Satu yang menjadi alasannya. Bahwa ia tidak rela perusahaan yang didirikan oleh sang kakek dan papi hancur ditangan orang yang tidak tepat. Apalagi hanya karena ambisi keserakahan. Never ever.
Sementara Atat mengerang kesal. Menyibak semua berkas dan benda-benda yang berserak di atas meja. Menimbulkan kericuhan sesaat. Geliginya saling gemeletuk mengetat menahan amarah yang memuncak. Tangannya mengepal kuat memukul meja kayu berwarna cokelat mengilat.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏