
...18. Wanita Kedua Cinta Pertama...
Garuda
Dengan menggunakan jet pribadi ia tiba di negara yang dikenal dengan patung Merlion itu tepat tengah malam.
Tak membuang waktu ia segera menuju rumah sakit yang disebut Max. Bahkan di saat sang papi terlelap dalam pembaringannya. Menurut informasi yang diterima, tadi pagi papi baru saja menjalani kemoembolisasi (kemoterapi langsung ke hati).
Entah sudah yang ke berapa? Saat dokter Tan—papa Max, yang juga dokter keluarga menjelaskan beberapa saat lalu sebelum memasuki kamar papi. Ia tidak begitu menyimak.
Dokter Tan menepuk pundaknya, “Lebih baik kamu istirahat.” Kemudian berlalu meninggalkannya.
Ia masih berdiri terpaku tidak jauh dari ranjang papi. Menatap lekat pria yang sudah berumur 67 tahun itu. Ia masih tak percaya, sosok papi yang terlihat tegap, berwibawa, tegas, disiplin terbaring lemah. Untuk kali pertama, ia melihatnya.
“Setelah menjalani semua uji klinis, beberapa minggu ini sudah dipastikan kanker hati papi kamu pada tahap stadium II,”
“Masih ada harapan, asal papi kamu mau mengikuti semua metode pengobatan yang dokter berikan dan sarankan,”
“Cuma terkadang dia menyerah. Katanya ‘buat apa dia tetap bertahan, mungkin ini hukuman’, dia butuh support orang-orang yang dicintainya,”
“Kalau tidak ada semangat, pengobatan apa pun tidak akan berpengaruh. Percuma saja. Maka dari itu aku terpaksa memberitahu Max agar dia bisa menyampaikan kepadamu. Hanya kalian penyemangatnya. Hanya kalian yang dia punya.” Beberapa keterangan dokter Tan, kembali terngiang di ingatannya. "Walaupun aku harus dipecat papi kamu. Bahkan bisa dimusuhi."
Perlahan ia duduk di sofa. Tepat di samping ranjang papi. Meregangkan ototnya, kemudian mencoba memejamkan mata.
Namun ia terkejut, ketika terbangun papi tidak ada di atas ranjangnya. Semua ruangan telah diperiksa. Nihil. Ia menghubungi dokter Tan, “Papimu di taman. Tiap pagi dia selalu ke sana.”
Bergegas ia menuju taman sesuai petunjuk suster. Papi terlihat duduk di kursi taman menghadap air mancur. Sementara Tyo—asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan papi berdiri tidak jauh.
Perlahan ia mendekat, “Sejak kapan kamu datang?” suara papi membuat langkahnya terhenti.
“Papi sudah sehat, pulanglah. GL lebih membutuhkanmu.” Papi mengibaskan tangannya, Tyo menunduk sekilas lalu pergi menjauh.
Ia maju lagi, berdiri tepat di belakang kursi papi.
“Kenapa Papi merahasiakan hal penting seperti ini dari kami? Apa kami tidak termasuk anak-anak Papi?” protesnya.
Suara gemercik air menjadi pemecah dan mengiringi keheningan yang menjeda.
“Papi tidak perlu khawatir. Kami akan bergantian menjaga Papi. Papi pasti sembuh. Dokter Tan bilang Papi bisa sembuh asal Papi semangat,” bujuknya. Ia tahu papi orang yang keras. Susah dibujuk apalagi jika punya keinginan yang kuat.
“Tidak perlu. Ada Tyo yang 24 jam menemani Papi.”
“Pi,”
“Papi bisa menghadapi ini. Kalian tidak perlu risau.”
Ia berpindah posisi. Kini duduk di sebelah papi.
“Papi ingin menceritakan satu hal padamu. Kali ini dengarkan. Papi tidak tahu kapan lagi punya kesempatan untuk mengatakannya,”
Ia menghela napas, “Pi,”
Papi tersenyum, “Ibumu memang wanita kedua, tapi ibumu cinta pertama buat Papi.”
...***...
Torrid
Yogyakarta, 34 tahun silam ....
Saat itu aku diberikan tugas papa untuk bertemu dengan 2 investor di kota itu. Sekaligus memenuhi undangan grand opening hotel Natour Garuda (sekarang Grand Inna Malioboro) mewakili papa.
Dan di situlah pertama kalinya aku melihat ibumu.
Aku tersenyum mengingat kejadian itu. Karena rasa penasaran tinggi aku mengikuti ibumu hingga naik delman. Sampai tak terlihat lagi.
Menginap satu malam di hotel itu, sebelum keesokan harinya bertemu dengan investor. Tapi malam itu bayangan ibumu selalu melintas. Entah mengapa?
Hampir 2 jam bertemu investor di restoran. Aku kembali ke kamar. Baru 1 jam berada di sana, aku merasakan mual, muntah dan kepala pusing. Aku berusaha untuk memanggil pelayan kamar. Terseok-seok sambil memegangi perut.
Beruntungnya pelayanan terhadap tamu sigap. Tidak lama aku di bawa ke dokter dengan mobil hotel. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Hingga aku tiba di sebuah rumah sakit.
Perawat rumah sakit pun sigap memberikan pertolongan pertama. Kurang lebih 2 jam ditangani, aku dipindahkan ke ruang perawatan.
“Aku sakit apa, Sus?” tanyaku ketika ranjang yang aku tiduri didorong melewati lorong-lorong dan berhenti pada sebuah ruangan. Suster itu membuka pintu lebar, lalu mendorong kembali ranjangku.
“Hasil pemeriksaannya belum keluar, Pak. Kemungkinan besok pagi. Tapi untuk mengantisipasi penyakit Bapak kambuh. Dokter menyarankan untuk dirawat sambil menunggu hasil observasi,” jawab suster tersebut. Lalu berlalu meninggalkannya setelah memastikan cairan infus yang menggantung di samping ranjang berjalan baik.
Rasanya aku tak percaya. Untuk pertama kalinya merasakan sakit yang luar biasa. Hingga harus menginap di rumah sakit yang juga untuk kali pertama.
Merasa lebih baik, aku duduk setengah baring. Di ruangan itu hanya ada 2 orang. Aku dan pasien sebelahku. Hanya berbatas korden. Yang bisa disibak sewaktu-sewaktu.
“Kamu sendirian?” tanya pasien sebelah.
“Ya. Kamu sendiri?”
“Aku juga sendirian. Keluargaku jauh. Jadi tidak mungkin datang kemari,”
“Kalau kamu, kenapa kamu sendirian?” tanya pasien sebelah lagi.
“Kita sama. Aku juga jauh dari keluargaku. Mereka tinggal di Surabaya. Tidak mungkin aku menyuruh mereka kemari. Lagian, aku sudah merasa baikan. Mungkin sebentar lagi bisa pulang.”
Pasien sebelah terkekeh ringan, “Kita senasib,” dan aku juga ikut tertawa. Tepatnya menertawai kondisiku sendiri yang tengah sakit tanpa saudara atau orang yang menemani. Miris.
Tiba waktu kunjungan dokter pada siang hari setelah makan siang. Rombongan itu terdiri dari 4 orang. Seorang laki-laki berumur yang diyakini dokter. Dua perawat wanita dengan pakaian khasnya. Dan satu lagi ... yang membuatku terkesiap. Ketika pandanganku jatuh pada seorang wanita yang membuat rasa penasaran. Bahkan wajahnya selalu melintas saat malam menginap di hotel. Sosok itu berdiri di samping dokter yang memeriksaku. Mengenakan jas putih, dengan rambut panjang di ikat. Parasnya ayu dan manis.
“Apa yang di rasakan sekarang?” tanya dokter.
Aku tersenyum kikuk, “Sudah mendingan dok, tapi masih sakit perutnya. Kadang mual juga. Kadang-kadang juga masih ingin muntah.”
“Baik,” dokter itu memeriksa perutku dengan mengetuk-ngetuknya. Lalu mengarahkan stetoskop ke dada dan perut.
“Rahayu, nanti kamu pantau pasien ini, ya. Kamu jaga malam ini, kan?”
Orang yang disebut Rahayu mengangguk lalu berucap, “Baik, dok.”
Rombongan itu pun memeriksa pasien sebelahku. Tidak lama. Lalu meninggalkan ruangan perawatan.
Pasien sebelahku tertawa, “Tadi katanya sudah baikan, giliran ada dokter muda kambuh lagi. Naga-naganya ada modus yang terselubung.”
Aku berdecak, “Memang aku merasakan sakit lagi, setelah perutku diisi.” Dalihku tak mau ketahuan.
“Kamu pasien kesekian yang menaruh hati dengan dokter muda itu. Mungkin ke-2 ... 3 atau empat malah. Itu cuma di kamar ini. Tidak tahu kalau di kamar lain,” pasien sebelah masih nyerocos.
“Tebakanmu salah!” aku berseru. Tidak terima.
Pasien sebelah berdecak, “Jangan munafik. Seandainya aku belum punya keluarga, mungkin aku mendaftar menjadi pasien pertama yang mengaguminya. Lagi pula, aku di sini sudah 3 hari. Jadi tahu berapa pasien yang keluar masuk selama itu. Dan tahu mana-mana saja yang diam-diam naksir dokter muda itu.”
Aku bertanya, “Benarkah?” tapi sayangnya cuma dalam hati.
“Oya, kita belum kenalan. Namaku Prasetyo.”
“Aku Torrid. Kamu sakit apa?”
“Penyakit orang miskin. Tipus.” Pras tergelak.
“Aku tinggal di lereng gunung. Ke sini karena mengantarkan pesanan bunga untuk keraton,” jelas Pras.
Ternyata Pras orang yang mengasyikkan diajak bicara. Selama 2 hari kami menjadi akrab. Bercerita apa saja. Tapi satu yang masih aku tutupi. Statusku yang telah berkeluarga.
Selama tiga hari pula, dokter muda bernama Rahayu itu merawatku telaten. Sampai-sampai aku meminta sakit lebih lama. Agar aku bisa lebih lama juga melihat parasnya.
Bahkan Pras bilang, “Sepertinya dokter muda itu juga suka kamu, Rid.”
Cuping hidungku mengembang sempurna. Benarkah?
Sayangnya Pras dinyatakan sembuh terlebih dulu. Dan harus keluar rumah sakit sehari lebih cepat dari aku. Sementara aku, masih menunggu kepastian. Entah kapan? Meski sebenarnya aku senang. Artinya aku masih bisa melihat Rahayu di sini. Tapi, merasa sepi karena tidak ada teman mengobrol seperti Pras.
“Indikasi awal hepatitis-C. Sesuai gejala, dan hasil observasi lanjutan.” Terang dokter yang mengunjungiku pada hari ke-2.
“Apa ini bahaya?” tanyaku pada Rahayu yang tinggal ketika tim dokter itu telah pergi.
“Bisa sembuh. Asal menjaga pola hidup.”
“Seperti?”
Rahayu tersenyum kemudian menjawab, “Minum obat anti virusnya sesuai petunjuk dokter, istirahat yang cukup, jalani pola makan sehat dan—” mata keduanya tanpa sengaja saling bertumbuk 3 detik. Tapi membuat jantungku melonjak tak biasa. Bahkan sampai 1 menit lamanya.
Lagi, lagi Rahayu mengulas senyum terindahnya. “Jangan minum-minuman beralkohol.” Tangkasnya.
Aku salah tingkah.
...***...
Garuda
“Jadi Papi jatuh cinta sama ... dia?”
Papi mengangguk, “Sama ibumu.”
Ia mengembuskan napas.
“Dan Paman Prasetyo ayahnya Tyo?”
Papi mengangguk lagi.
Seorang suster menghampiri mereka, “Mister Torrid harus kembali ke kamarnya,” ucap suster tersebut. “1 jam lagi visit dokter,” imbuhnya.
Ia berdiri bersamaan Tyo yang mendekat. Lalu membantu papi duduk di kursi roda.
“Papi akan melanjutkan cerita tadi, tapi nanti setelah visit dokter.” Tukas papi. Tapi ia diam. Melangkah di samping kursi roda yang didorong Tyo. Beberapa saat hanya sipongang kursi roda yang beradu dengan lantai. Ditambah kepak alas kaki.
“Pi,” Tyo berhenti. Papi mendongak.
“Aku pergi sebentar. Nanti aku ke sini lagi.” Papi mengangguk, “Yo, titip Papi sebentar.” Menepuk bahu pria itu.
Tyo mengangguk sekali, “Baik, Pak.”
Ia memilih sebuah kafe yang tak jauh dari rumah sakit. Menyugar rambutnya sekali. Menegak minuman kopi.
“Bagaimana?” tanyanya melalui sambungan telepon.
Hening sesaat. Tidak ada jawaban dari seberang.
“Kita mundur!” serunya.
“Tapi, Pak?!” protes suara Toni menggantung.
“Terlalu berisiko, Ton. Dari awal perencanaan project itu tidak matang. Ini pilihan terburuk dari yang terburuk.” Ia tahu kondisi pelik ini. Mengharuskan mengambil tindakan terburuk sekalipun. Tapi ia yakin ini keputusan tepat. Rugi milyaran rupiah tak mengapa. Ia masih bisa membangun kembali. Bangkit kembali. Dan tentunya nama GL dipertaruhkan. Dari pada ...
“Baik, Pak.”
“Pa-pak,” Toni menyergah ketika ia akan mematikan sambungan telepon.
“Apalagi, Ton?”
“Saya sudah kirimkan lewat e-mail. Silakan Bapak cek. Baru saja.”
Dengan cepat jemarinya menggulir layar smartphone miliknya. Melihat surel yang masuk berdenting baru saja.
Sudut bibirnya melengkung ke atas. Lalu menghubungi seseorang.
“Berangkat, Bro?” sambar lawan bicaranya dari seberang. Cepat sekali pikirnya.
“Of course! And you?”
“It depends on you, (tergantung kamu)"
“Cih, lagak lo!”
“Yang dipertuan agung dipercaya menjadi speaker. Oh my goodness ... dia bisa klepek-klepek lihat lo.”
Ia berdecak—berpura-pura. Lalu mengulum senyum.
“Okay, see you there. Jangan lupa jet pribadi lo jemput gue.”
-
-
Kemarin off up ya 🤭, lagi di luar sampai malam. Jadi gak sempat. Sebagai gantinya double up ....
Kalau hari libur ikut libur ya 🙇♀️
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏