
...38. Bintang di Hatiku...
“Sorry,”
“Sorry ... ma-maaf,”
“Maaf,”
“Permisi ... maaf,”
Garu berlarian di lorong rumah sakit. Berkali-kali menabrak orang. Dua jam lalu mendapat kabar papi dilarikan ke rumah sakit.
Napasnya terengah-engah.
Peluh juga mulai membasahi tubuhnya. Ia harus berlari dari parkiran dan tiba di sebuah ruangan yang di depannya dijaga 2 anggota kepolisian.
Mulya tampak sudah berada di sana. Dengan pintu terbuka, ia juga bisa melihat Max.
“Di mana Papi?” Tanyanya ketika sudah berdiri di ambang pintu. Ia melihat ranjang kamar rawat kosong.
Max menepuk pundaknya. “Papimu lagi ditangani di ICU.”
“Max,” ia kepayahan menelan ludahnya.
“Kita ke ICU,” ajak Max. Mulya mengangguk dan ikut di belakangnya.
Cukup lama mereka menunggu di depan ICU. Ia bahkan sudah tak terhitung lagi bolak balik seperti setrikaan. Max sampai jengah melihatnya.
“Duduklah, Bro. Papimu sudah ditangani dokter. Papaku juga ada di dalam sana. Kita percayakan sama mereka.” Urai Max. Mengangsurkan botol mineral padanya.
Ia meraih botol tersebut. Membuka seal, tutup dan menegaknya cepat-cepat hingga,
“Uhuuk ... huukk!”
Max menepuk punggungnya, “Tenanglah,” ikut duduk di sebelahnya.
“Bagaimana kondisi terakhir Papi, Max?” tanya Ru dengan padangan mata kosong. Ia benar-benar tidak bisa berpikir sekarang.
Max menghela napas panjang. “Papimu ditemukan pingsan di kasurnya. Teman satu sel yang melaporkan ke penjaga. Dan langsung dilarikan kesini,”
Ia yakin. Sangat yakin. Ini berhubungan dengan penyakit papi.
“Menurut teman satu selnya, Pak Torrid sehari sebelumnya mengeluh mual dan sakit bagian perut. Sudah diperiksa oleh dokter di sana. Diberi obat nyeri. Tapi malam harinya ....”
Kondisi bui yang ditempati Torrid semenjak menjadi tahanan kejaksaan berbeda. Menurut informasi, Torrid ditempatkan 1 sel dengan 10 penghuni. Ia bisa membayangkan bagaimana kondisi di sana. Jauh dari kata ‘nyaman’.
Ia menyapu wajah. Mengembuskan napasnya.
Terdengar pintu ruangan ICU dibuka. Dengan sigap ia, Max serta Mulya berdiri menghampiri.
Dokter Tan terlihat keluar bersamaan dengan dokter lainnya. Lalu disusul perawat.
“Dok,” ia menghampiri Tan. “Papi,”
Tan mengangguk, “Sudah tertangani. Sebentar lagi dipindahkan ke ruangan perawatan.”
Dokter Tan menepuk pundaknya, “Kita harus bicara.”
Ia mengekori dokter Tan ke suatu ruangan. Entah ruangan siapa. Tan mempersilakan dirinya duduk.
“Kondisi papimu semakin menurun. Besok akan dilakukan CLIP untuk mengetahui sejauh mana penyebaran sel kanker. Memang sewaktu di Singapura, papi kamu sudah dinyatakan sembuh. Tapi ... kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Dengan kondisi papi kamu yang lemah. Lingkungan yang ... tidak mendukung. Makanan juga ikut berperan. Semua bisa memicu kembalinya sel kanker itu.”
“Dalam dunia medis, penanganan kanker tidak ada istilah sembuh. Atau sembuh total. Melainkan remisi atau survival rate,”
Ia terdiam menelinga penjelasan dokter Tan.
“Setelah papi kamu melakukan berbagai upaya penyembuhan dan dinyatakan sembuh. Tidak ada sel kanker dalam tubuh. Itu namanya remisi. Seharusnya papi kamu selalu melakukan check up 3 bulan atau 6 bulan sekali. Tapi, papi kamu ....”
Beberapa kali papi memang melewatkan hal itu.
“Dan survival rate kanker hati yang diderita papi kamu diprediksi 5 tahun.” Tandas Tan.
Ia memejamkan mata. Menghempaskan punggung ke sandaran belakang.
“Maaf. Perkiraan ini tergantung hasil besok. Semua sesuai penyebaran sel kanker. Semakin menyebar ke organ lain dan mencapai stadium lanjut, maka ....” Tan menjeda sejenak, “persentasenya semakin kecil.”
Langkahnya terseret. Tubuhnya lunglai. Seakan tak bertenaga. Bukan tujuan kamar perawatan papi langkah kakinya saat ini, melainkan sudut taman di belakang rumah sakit.
Ia tidak tahu harus berbuat apa? Langkah apa yang harus diambil.
Helaan dan embusan napas berat terdengar berulang kali. Isyarat akan muatan beban.
Bukan ini yang diinginkan. Bukan ini. Sungguh ini kenyataan berat. Ia tidak peduli dikatakan anak seorang pembunuh. Ia tidak peduli dikatakan anak seorang penyuap. Anak penjahat. Anak apalah .... Sama sekali ia tidak peduli.
Kepalanya tengadah. Menatap gugusan bintang yang seolah tampak berkedip mengejek kondisinya malam ini.
Apakah ini hukuman?
Tuhan. Kalau bisa ditukar, biarkan ia yang menanggung semuanya.
Sebulir cairan kristal melintasi pipinya dengan cepat.
Torrid baginya ayah yang sempurna. Ayah yang mencurahkan kasih sayang penuh untuk anak-anaknya. Meski ia tahu Torrid sosok yang banyak kurangnya di mata orang lain. Bahkan mungkin juga salah di mata hukum. Dan sanksi sosial sudah diterimanya. Hanya menunggu vonis.
Pundaknya ditepuk-tepuk dari belakang.
“Kita harus kuat. Bukankah ujian itu tanda sayang pemilik alam ini untuk makhluk ciptaan-Nya,” wanita ayu itu duduk di sebelahnya. Merangkum tubuhnya yang merosot.
Rahayu ikut menyusut sudut matanya. Ia mengerti anaknya sedang berada di titik terendah dalam fase kehidupannya. Terkoyak oleh cobaan yang beberapa bulan menyita perhatian.
Rahayu mengusap lembut punggungnya.
“Apa perlu Ibu panggil Mala kesini?” kelakar Rahayu.
Ia menggeleng.
“Ingat Ru, masih ada Ibu di sini.” Mereka mengurai pelukan. “Coba kamu lihat bintang-bintang itu,” tunjuk Rahayu di atas sana. “Ada beberapa bintang yang terlihat jelas sinarnya, ada juga yang redup. Atau bahkan ada juga yang tidak terlihat. Ibarat ada dan tiada.”
Ia mengedarkan pandangan. Memang ada yang tampak bersinar sekali. Lebih menonjol dari yang lainnya. Ada yang redup. Bahkan entah ada atau tidak. Tidak terlihat keberadaannya.
“Papi bagi anak-anaknya adalah bintang yang bersinar terang. Indah tampak dari sini. Tapi jangan lupa, di belahan lain bintang yang kita lihat bersinar terang tidak sama di pandangan orang lain. Bisa jadi redup, atau bahkan tiada sinar. Tidak diakui keberadaannya.”
“Bisa jadi cahayanya juga terampas oleh bias sang rembulan,”
“Tapi bintang selalu berupaya ada, berusaha menjadi penghibur dengan segala keindahannya. Bintang itu akan selalu ada di sini,” Rahayu menunjuk dadanya.
“Apa pun kondisi bintang itu. Sekarang. Esok. Atau kapan pun. Dia akan selalu menyinari, meski tak seterang matahari maupun rembulan.”
Ia menatap ibunya. Meraih tangan ibunya lalu meletakkan di dadanya. “Ibu juga selalu menjadi bintang di hatiku. Terima kasih,”
...***...
Sidang pledoi Torrid ditunda karena kesehatan yang tidak memungkinkan untuk mengikuti serangkaian persidangan tersebut. Sementara tersangka lain sudah ada yang dijatuhi vonis hukuman.
Ada juga yang mengajukan banding.
“Pak,” Toni masuk setelah mengetuk pintu ruangannya. Menyodorkan lembaran kertas padanya, “laporan pihak GK Investama. Bahwa tadi malam proyek kita didatangi sekelompok orang tidak dikenal. Membakar gudang, merusak barang-barang proyek. Dan membawa kabur sebagian yang berharga,”
“Kenapa baru melaporkan pagi ini?” tandasnya bersungut-sungut.
“Tadi malam dari pihak GK sudah menghubungi saya, tapi—”
Ia membuang muka. Tadi malam dirinya di rumah sakit. Entah sampai jam berapa. Menemani papi hingga sadarkan diri.
“Maaf,” imbuh Toni.
“Berapa kerugian yang ditaksir?” tanyanya seraya membaca laporan dari GK Investama.
“Sementara menurut laporan sekitar 3,5 milyar. Karena di dalam gudang banyak bahan material yang ikut terbakar.”
Ia berdecak.
“Para pelaku sampai saat ini masih dalam pengejaran pihak berwajib. Tapi kecurigaan pihak GK dari keterangan saksi pengamanan di lokasi. Mereka sekelompok preman yang menguasai sekitar wilayah proyek.” Terang Toni, “orang sana menjuluki kelompok Robin. Penguasa ibukota, dari terminal, stasiun dan pasar.”
Ia meletakkan kertas dari Toni, “Ada korban Ton?”
“Tim keamanan dari GK mengalami luka sedang dan ringan."
“Kamu kirimkan orang ke sana. Pantau kondisi dan situasinya. Koordinasikan lagi dengan pihak GK. Aku yakin, kalau perusuh seperti mereka hanya menginginkan cuan. Atau ada orang yang mengendalikan mereka. Laporkan setiap temuan padaku,” pungkasnya.
Toni membungkuk, “Baik, Pak.” Langkah Toni terhenti saat akan menarik tuas pintu. Sekretarisnya itu memutar tumit, “Maaf, Pak. Ada pesan dari Suri untuk Bapak. Suri meminta bertemu.”
Ia terdiam.
“Saya katakan bahwa Bapak sedang sibuk. Jadi tidak bisa diganggu.” Jeda sejenak. “Saya, permisi.”
Ia menggaruk kepala belakangnya. Rasanya matanya berpendar-pendar dan kepalanya pening. Tadi malam ia kurang tidur. Mungkin hanya 2-3 jam.
Ponselnya bergetar di atas meja. Nama ‘Ibu’ memanggil.
“Ya,”
“Kamu sedang sibuk, Ru?”
“Kenapa, Bu? Ada Maleo dan Atat di sana?” tanyanya. Tadi pagi sekali ia bergantian dengan 2 kakaknya itu menjaga papi. Meski, ya tidak sebebas jika papi dirawat pribadi. Mau tidak mau mereka dibatasi dan ikut aturan.
“Atat satu jam lalu izin ke kantor sebentar. Maleo juga barusan izin pulang.” Menjaga Torrid dalam artian bukan satu ruangan. Melainkan menunggu di luar. Dan hanya diperbolehkan dalam 1 ruangan dengan waktu tertentu.
Ia menghela, “Baiklah. Aku sebentar lagi ke sana.”
Tiba di rumah sakit ia langsung digiring ibu ke dalam ruangan. Yang sama percis seperti ruangan tadi malam. Di dalam sudah ada Mulya, dokter Tan dan Om Pras.
Ia duduk di sebelah ibunya.
“Saya akan memberitahukan hasil pemeriksaan,” Tan menatapnya sesaat. “Kanker hati Pak Torrid sudah mencapai stadium C. Artinya sel kanker sudah menyebar ke beberapa bagian tubuh. Namun organ hati masih bisa berfungsi, meski tidak sebaik saat sehat.”
“Kita harus melakukan tindakan secepatnya. Ini perlu dukungan keluarga, tim dokter dan tim pengacaranya,” sambung Tan.
“Dokter, berikan yang terbaik untuk Papi.”
BRAKK.
Pintu terbuka kasar. Maleo dan Atat berdiri di ambang pintu, “Maaf terlambat.” Tukas Maleo. Lalu mendudukkan dirinya di kursi yang kosong. Di sebelahnya Atat ikut duduk di sana.
“Kami tim pengacara akan mengajukan izin berobat ke luar negeri. Kami siap menjadi pejamin.” Ujar Mulya.
“Saya siap menjamin, Om.” Ia menyergah.
“Saya juga,” sambung Maleo.
“Saya ikut menjamin,” Atat tak mau kalah.
“Baiklah. Hari ini saya akan buatkan surat pengajuannya. Saya yakin hakim pengadilan akan mengabulkannya atas pertimbangan kemanusiaan dan kesehatan. Sebagai pihak penjamin tim kuasa hukum dan keluarga. Akan kami lampirkan juga riwayat kesehatan Pak Torrid.” Putus Mulya. Meminta izin keluar sebentar. Menghubungi timnya agar segera melayangkan surat pengajuan berobat.
Sementara Tan menjelaskan langkah-langkah apa yang harus ditempuh. Sesegera mungkin. Pengobatan ini berpacu dengan waktu. Tidak bisa lagi ditunda-tunda.
“Dokter Rahayu, menurutmu bagaimana?” tanya Tan.
“Saya, tidak bisa memutuskan yang terbaik untuk pengobatan ini. Lebih baik dibicarakan dulu dengan tim dokter yang dulu merawat Torrid. Sehingga tahu tindakan apa yang harus diambil.” Jawab Rahayu diplomatis. Terus terang ia berada di sini karena ingin menguatkan Ru. Dan tentu saja karena rasa kepedulian terhadap sakit yang menimpa ayah dari anaknya.
“Anda, spesialis penyakit dalam. Ahli di bidang gastroentorologi dan hepatologi. Kemampuan Anda tidak diragukan. Dokter teladan se-Indonesia di bidang gastroentorologi. Peneliti aktif bahkan beberapa karya-karya ilmiah Anda telah dipublikasikan di kongres nasional maupun internasional. Indonesia dan dunia mengakui Anda, dokter Rahayu,” sergah Tan.
“Dokter, saya—” sela Rahayu.
Pras menepuk lengannya, “Anggap Torrid pasienmu. Pasien yang wajib kamu tolong. Kamu sembuhkan. Bukankah seorang dokter wajib membantu pasiennya?” timpal Pras.
Rahayu menoleh pada Pras. Menatap sahabat Torrid itu dengan tatapan bingung.
Pras mengangguk. Manik matanya penuh permohonan.
“Ibu, kumohon.” Ia menambahi.
Rahayu bergantian menatapnya. Ada sorot permohonan juga pada mata anaknya. Bahkan bola mata itu tampak berkaca.
Keheningan sejenak melingkupi ruangan itu.
Perlahan Rahayu mengangguk.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏