
...65. Enjoy Your Day...
Gemala
Pandangan matanya tertuju pada seseorang yang memanggilnya. Seraya mengerutkan dahi. Padahal dirinya sudah menggunakan masker. Nyatanya masih ada saja yang mengenalinya.
“Davin,” lirihnya. Teman SMA sewaktu di Surabaya.
“Beruntung ... aku tidak salah panggil. Ternyata betul kamu,” ujar Davin setelah berhasil mengenali. Dan menghampirinya.
“Tadinya aku iseng. Yakin gak yakin. Gambling aja. Kalau kamu noleh aku panggil Gemala berarti benar itu kamu. Tapi kalau diam saja, berarti aku salah.”
“Apa kabar?” Davin mengulurkan tangannya.
Ia mengulas senyum dibalik maskernya, “Aku baik. Kamu apa kabarnya?”
“Aku sehat. Lihat,” Davin merentangkan tangan. “Kesini ngantar papa checkup,” sambungnya.
“Kamu sendiri ngapain di sini? Siapa yang sakit?” Tanya Davin.
“Aku—”
“Mal, yuuk!” Sandra keluar dari balik dinding.
Ia menoleh sejenak. Lalu kembali menatap Davin. “Sorry, Dav. Aku harus segera ke atas.” Sejujurnya ia merasa kurang nyaman dengan kondisi ini.
“Oh ... oke, gak apa. Kapan-kapan lagi kita bisa atur ketemuan. Sorry waktu Mely ngasih tahu dan ngajak ketemuan waktu itu aku lagi gak bisa. Anyway ... itu bokap juga nunggu,” Davin menunjuk seseorang yang tengah duduk di kursi roda. Tak jauh dari mereka.
Ia membungkuk sejenak. “Salam buat bokap.” Ia dan Sandra mampir ke coffee shop sebentar membeli pesanan Garuda.
...***...
Garuda
Sandra menghubunginya. Ia memilih keluar ruangan dan berdiri di samping pintu masuk.
“Ru, aku udah ketok pintu berkali-kali. Tapi Mala gak bangun juga. Aku khawatir dia,”
Ia terkekeh. “Memang begitu Kak, dia kalau tidur susah dibangunin. Nanti aku coba telepon.”
Kebiasaan Mala susah bangun memang justru kadang membuat orang lain khawatir. Ia menelepon istrinya setelah sambungan telepon dengan Sandra terputus. Hingga pada panggilan ke-4 tak ada jawaban dari Mala. Kebiasaan aneh.
Akhirnya ia hanya mengirimkan pesan. Lalu kembali masuk.
Maleo masih berbicara dengan papi. Menceritakan rencana menyekolahkan Sean di Singapura.
Meski papi tak ikut aktif menanggapi obrolan mereka. Tapi ia yakin papi mendengar, bahkan ikut merasakan kehadiran mereka untuk papi.
Perawatan paliatif menjadi pilihan penting selain pengobatan oral terapi sistemik. Kalimat Tan terngiang.
Perawatan paliatif sendiri merupakan perawatan yang diberikan oleh tim medis bekerja sama dengan keluarga. Jika tim medis berupaya untuk mengurangi rasa sakit, nyeri dan gejala lain. Serta memberikan pendampingan psikologis, sosial dan spiritualnya.
Sementara keluarga berperan penting dalam pendampingan psikologisnya. Pasien akan merasa lebih tenang, nyaman dan bersemangat untuk meningkatkan harapan hidup, berjuang di tengah-tengah keluarga yang dicintainya.
Karena penyakit papi kamu sudah dalam tahap stadium lanjut.
“Pi,”
Netra papi yang sayu menatapnya.
“Mala bentar lagi ke sini,”
Mata papi berkedip lalu bibirnya tertarik ke atas meski samar.
“Papi masih mau nambah cucu lagi, kan?” ocehnya dengan senyum membayangkan istrinya itu hamil, melahirkan dan ia dipanggil ‘Daddy’.
Maleo menyanggah, “Emang istri lo udah hamil?”
Ia terkekeh ringan, “Lagi on the way,” imbuhnya dengan rasa percaya diri yang tinggi.
“Lagian belum juga sebulan. Gempur aja terus. Pasti jadi,” celetuk Maleo absurd.
“Bukannya harus pakai jeda? Biar kualitas kita optimal. Kalau keseringan katanya tidak bagus juga,” dalihnya. Menurut artikel yang dibacanya sih begitu. Tapi Mendengarkan saran Maleo yang lebih berpengalaman tidak ada salahnya juga, bukan?
“Ck, yang penting lo kuat. Dia sedang fertility period. Hajar aja! Jangan lupa ...,” bisik Maleo, “konsumsi suplemen.” Maleo tertawa setelahnya, “hahaha ....” Kemudian, “ups!” membungkam mulutnya sendiri. Sebab sadar tengah berada di ruangan steril.
“Lo, sendiri kenapa gak nambah?” desaknya penasaran. Anak pertama kakaknya itu sudah besar. Bahkan menginjak remaja.
Maleo menarik napas panjang. “Waktu itu Sandra memilih untuk memiliki 1 anak untuk sementara. Mungkin karena kesibukannya. Dan aku juga mengerti kondisinya waktu itu. Tapi ... dengan menunda lama tidak tahu kenapa jadi keterusan sampai sekarang. Padahal sudah 2 tahun dia lepas kontrasepsi,” keluh Maleo. “Mungkin memang belum dikasih. Tapi who knows? Bisa jadi bulan besok, besok atau besoknya lagi. Meski terkadang lelah juga menanti.”
“Kamu tahu Atat, kenapa sampai sekarang juga belum punya anak?” tanya Maleo.
Ia mengangkat bahunya—tidak tahu alasannya.
“Awal mereka menikah mereka memutuskan untuk menunda. Hingga memasuki tahun ke-3. Setelah mereka siap untuk punya anak. Ternyata sampai sekarang belum dikasih juga. So, jangan menunda-nunda.” Pungkas Maleo.
Ia melihat pesan chat di ponselnya. Memastikan Gemala telah sampai di rumah sakit. Dan benar, Mala mengabarkan bahwa sudah sampai dan sebentar lagi naik ke atas.
Gemalanya Ru : Typing ...
Dahinya mengerut menatap status Mala yang typing ... lama.
...***...
Gemala
“Tadi itu teman, lo?” tanya Sandra saat mereka berjalan menyusuri koridor lantai tempat Torrid dirawat.
Ia mengangguk, “Teman SMA."
Sandra menepuk pundaknya dengan tangan kanan, sementara tangan kiri membawa paper bag. “Sabar, media paling pintar memainkan berita,” ucap Sandra. “Tapi pasti dengan sendirinya akan reda. Apalagi jika ada berita baru dan lebih menghebohkan.”
Jelas. Sandra paham dunia penyiaran tersebut. Bahkan mungkin tahu kabar yang menimpanya bersama Ru. Sebab Sandra berkecimpung lama di sana. Tak pelak membuat istri Maleo itu tahu luar dalam dan seluk beluknya.
Ia mengangguk menanggapi dengan senyuman.
Tiba di ruangan Torrid. Ia dan Sandra yang menjaga papi. Sementara Maleo dan Garu bergantian menjaga di luar.
Kondisi papi selama 1 minggu di Singapura sedikit mengalami kemajuan. Meski tak banyak. Paling tidak papi sudah dipindahkan di ruang perawatan biasa. Dan tetap dalam pengawasan tim dokter.
Ia juga telah mendapat jawaban dari WRI, dua hari yang lalu mengenai lamaran pekerjaannya. Dan menurut surel yang masuk ke alamatnya bahwa dirinya diterima menjadi bagian dari World Resources Institute (WRI) yang berafiliasi dengan Indonesia menjadi lembaga Wahana Riset Indonesia. Sebagai peneliti muda.
“Selamat, Hon. Kamu berhak mendapatkannya. Dan kamu pantas.” Ucapan Ru beberapa saat lalu. Ketika ia mengabarkan melalui telepon.
Dan setelah ia menghubungi Garuda. Sebuah nomor asing masuk ke ponselnya. Menyatakan bahwa mereka dari pihak WRI mengundang dirinya untuk datang ke kantor besok.
Yes.
Rasanya tidak ada kata-kata. Yang pantas diucapkan. Melainkan hanya bersyukur dan menerima kesempatan yang tidak datang dua kali padanya.
Namun kabar mengenai ia diterima menjadi bagian dari WRI tidak serta merta diikuti kabar bahagia buat Garuda. Sebab ia mendapat menstruasi malam harinya setelah pihak WRI menghubunginya.
Awalnya ia merasa sedikit cemas jika kabar tersebut akan membuat laki-laki itu kecewa. Karena ia tahu betul, Garu sangat ingin menginginkan anak darinya. Tetapi jawaban Ru ternyata di luar dugaannya.
“Artinya belum dikasih. Kita harus mencobanya lagi,”
Dan keesokan paginya ia kelimpungan manakala harus menyiapkan semua keperluan suaminya dan untuknya sendiri.
“Mala, dasiku mana?”
Oh my god. Menepuk keningnya sendiri. Ia lupa. Setelah membantu mengancingkan terakhir kemeja Ru. Ia kembali ke wardrobe. Memilih bajunya sendiri.
Ia menukas, “Sebentar,” dengan langkah cepat ia menghampiri Ru dengan membawa dasi abu-abu mencocokkan sejenak. Lalu menggeleng. “Kurang match,” gumamnya. Melirik pada jas yang tersampir di atas kasur.
Ia kembali lagi ke wardrobe room. Menarik rak khusus dasi tersimpan. Matanya menyapu cepat beberapa dasi yang tersusun rapi. Harus cepat dan sigap menentukan pasangan kemeja dan jas yang cocok. “Dapat,” ujarnya senang.
“Mas nunduk dikit,” titahnya pada Garuda. Tangannya bergerak cepat memasangkan dasi.
Garuda mengecup keningnya tanpa aba. Lalu merengkuh pinggangnya.
“Mas,”
Laki-laki itu terkekeh.
Saatnya ...
Ru melekatkan pinggangnya. Lalu mengunci tatapannya. Menyergap bibirnya. Menyapunya lembut. Sejenak ia ikut terhanyut. Mengaitkan tangan ke pundak lebar Garu. Merespons perlakuannya. Merasai sentuhan yang ... menggoda.
Keduanya terengah-engah ketika sama-sama merasa bukan lagi hanya sekedar penyatuan bibir. Tapi sudah dibarengi dengan keinginan kuat lainnya. Ru mencium hidungnya, melekatkan kening keduanya.
“Kalau kamu lagi gak—”
Ia menggeleng. “Tidak boleh.”
Ru terkekeh, “Aku tahu. Aku hanya butuh ini buat moodbooster aku seharian kerja. Thanks, Hon.” Mendaratkan kecupan di kening dan pipinya.
“Astaga!” ia menepuk kembali keningnya.
“Kenapa?” Ru melihatnya heran.
“Aku belum ganti baju,” ia mengurai pelukan mereka. Berlari dan menghilang di balik dinding.
Ru kembali terkekeh melihat tingkahnya. Tapi dimatanya tetap cantik dan menggemaskan.
Bahkan ia sedikit berlari saat menuruni tangga ketika melihat Garu sudah berada di meja makan.
“Mal, are you okay? Take your time (jangan buru-buru).” Protes laki-laki itu ketika melihatnya dengan napas memburu saat duduk di kursi meja makan.
Ia meringis sambil menggigit pancake yang setengah masuk ke mulutnya. Take your time? Katanya. Mana bisa waktunya sudah mepet. Sementara ia masih di sini. Di lantai 31 belum bergerak sama sekali. Batinnya meronta-ronta ingin segera tiba di tempat tujuan.
Akan tetapi Ru seolah tak mengerti. Berusaha menenangkannya. Alih-alih tenang. Duduknya kian gelisah saat di mobil. Ru sibuk dengan memandangi layar ipad yang dipegang.
Sedangkan dirinya bolak balik melihat situasi di luar lewat kaca tembus pandang dari dalam. Ramai tersendat. Huh!
“Pak San, bisa dipercepat?” pintanya sesaat setelah melihat arloji di lengannya.
“Mal,” Ru yang mendengar menyanggah. “Memangnya hari pertama kalau telat langsung dipecat?”
Ia mengembuskan napas kasar. Ya, pastilah ... tak salah lagi! Di mana-mana pasti begitu. Padahal laki-laki itu punya perusahaan. Seorang pemimpin pasti menginginkan karyawan punya etos kerja tinggi. Termasuk hal kedisiplinan. Masa begitu saja tidak tahu! Protesnya. Sayangnya hanya dalam hati saja.
“Kalau kamu dipecat. Tinggal gampang. Masuk ke GL.”
Hah? Apa dia bilang?
“Torrid Group dan WRI pernah bekerja sama sewaktu pembukaan lahan di Riau dan Jambi. Aku kenal sama Direkturnya,” tutur Ru sesekali menoleh padanya. Tapi berakhir kembali fokus pada layar yang digenggam.
Hah! Ia menoleh menatap Garuda.
“Tanya aja nanti kalau ketemu Direkturnya. Pasti kenal sama aku,”
Ia geleng-geleng. Mulai deh.
“Sudah sampai, Mbak,” sela San ketika mobil mereka tiba di depan lobi gedung WRI.
Mereka yang tengah mengobrol meski ia lebih banyak diam membatin daripada Ru yang mendominasi percakapan ikut melempar dan memindai pandangan ke luar.
Ah, benar mereka sudah sampai. Sisa waktu 5 menit lagi pikirnya.
Ia meraih tangan laki-laki itu. Mencium punggung tangannya.
“Hon,”
Tangannya yang sudah meraih handle pintu urung. Menoleh kembali pada laki-laki itu.
Ru menunjuk pipinya.
Ia menahan senyum. Bergegas memberikan ciuman di sana sekilas. Ru membalasnya di dahi dan kepalanya, “Enjoy your day. Good luck at your a new job (nikmati harimu. Sukses dengan kerjaan barumu).”
Ia masih berdiri sampai mobil yang membawa Garu perlahan pergi. Memutar tumitnya untuk memasuki lobi gedung. Mengangguk dan memberikan senyum ramah ke 2 orang resepsionis yang menyambutnya tak kalah ramah.
“Gemala!”
Merasa namanya disebut. Ia pun menelengkan kepalanya.
“Kita ketemu lagi,” imbuh orang tersebut.
“Davin?” ia menatap temannya sedikit heran.
Pria itu mengangguk, “Kita satu kantor,”
Bola matanya membesar. Tak percaya.
Davin tergelak. “Gak percaya? Cuma kita beda divisi,” terangnya.
Ternyata Davin divisi tata kelola pembangunan dan transportasi. “Aku dulu ambil jurusan teknik sipil. Nyemplung di sini.” Pria itu menceritakan awal mulanya bergabung di WRI.
“Dan aku melihat nama kamu terdaftar di staf baru,” sambung Davin.
“Oya,”
Davin mengangguk.
“Jodoh gak ke mana ya. Aku pikir gak bisa ketemu lagi. Setelah di Singapore kemarin. Aku juga minta nomor kamu sama Mely padahal. Tapi lihat kamu masuk daftar peneliti muda, aku batalin deh menghubungi kamu. Mending langsung ketemuan sama orangnya ... ya, kan?!”
Mereka tiba di lantai 6.
“Mal, ruanganku di sini.” Mereka berhenti. Davin menunjuk ruangan dengan beberapa maket miniatur gedung perkotaan dan transportasi di tengah-tengah ruang penerimaan tamu.
“Kita lunch bareng nanti, ya?” pesan Davin sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏