If Only You

If Only You
9. Nasty Bossy Sassy



...9. Nasty Bossy Sassy...


Gemala


“Gila, lo ya. Kenapa sih kita turun di sini?” Decaknya berkali-kali. Ia pikir sore itu akan turun di Ayik Itam. Keesokan paginya langsung menemui beberapa temenggung di TNBD. Sesuai rencana yang lagi dan lagi telah disusunnya rapi. Namun ternyata lagi, lagi rencana itu menguap dan ter obrak-abrik oleh seorang Garuda.


Ia mengembuskan napas kasar. Lalu menggembungkan pipinya—kesal--seperti ikan buntal yang sedang mempertahankan diri dari musuhnya.


“Kamu tahu. Berapa biaya maintenance sebuah heli?”


“Apa hubungannya?” Sanggahnya.


“Apa hubungannya? Erat malah.”


“Aku harus meeting pagi besok dengan petinggi regional. Sementara penerbangan malam dengan heli tidak dianjurkan. Terkecuali darurat,”


“Jadi besok pagi kamu diantar sopir ke Ayik Itam.”


Ia pasrah. Toh, tak ada gunanya juga ia menggugat.


Namun keesokan paginya, ia mondar-mandir menunggu mobil dan sopir yang akan mengantarkannya pulang di teras rumah. Nihil. Sudah lebih 45 menit, tidak ada tanda-tanda kemunculannya.


Bi Yati menghampirinya, “Belum datang juga, Mbak?” sambil menyimpan kue dan secangkir teh di atas meja.


Ia menggeleng. Lalu mengenyakkan tubuhnya di kursi teras. “Makasih, Bi.” Imbuhnya.


“Oh ya, Bi. Sudah lama kerja sama Pak Garu?” tanyanya.


Bi Yati mengangguk, “Sejak ....” Wanita itu tampak mengingat-ingat, “..., Pak Garu Sekolah Dasar.”


“Hah! Selama itu?” Ia sedikit terkejut. Pasalnya ternyata ada juga yang betah bekerja bersama laki-laki bossy seperti dirinya.


“Saya dulu kerja di rumah Pak Torrid. Semenjak Pak Garu pulang dari Australi pindah ke apartemen, saya disuruh ikut. Begitu juga sejak lebih banyak tinggal di perkebunan,”


Ia menyimak penuturan wanita setengah baya itu.


“Bibi tidak punya keluarga?”


“Ada di kampung. Tapi suami saya sudah meninggal. Delapan tahun yang lalu, karena kecelakaan.”


“Apa saya boleh tanya, Bi?” ucapnya hati-hati.


Bi Yati mengangguk. Lalu duduk di kursi satunya.


“Maminya Pak Garu di mana, ya, Bi?”


“Ibu Meylani sudah meninggal, Mbak.”


“Innalillahi, maaf Bi. Aku—”


“Tidak apa-apa, Mbak. Sudah lama.”


Ia memang tahu Torrid Group adalah bisnis keluarga yang didirikan oleh Hartawan Torrid, yang tak lain dan tak bukan kakek Garu. Sebagai pendiri (founder). Torrid Group juga sebagai salah satu perusahaan besar di Indonesia. Selain 3 pilar usahanya di bidang pengembang dan real estate, agribisnis serta tambang. Belakangan TG mampu mengaglomerasi perusahaan jasa keuangan. Semua tercatat di pasar modal domestik.


Siapa yang tak kenal TG?


Tapi dibalik hingar bingar pemberitaan perusahaan itu. Keluarga taipan itu tidak pernah disorot media. Atau lebih tepatnya tertutup dengan media soal kehidupan pribadinya.


“Tapi ibu kandungnya masih hidup, Mbak. Maaf, saya jadi keceplosan cerita. Saya undur diri.” Bi Yati tetiba beranjak dan lekas pergi. Bertepatan dengan deru mobil memasuki halaman membuatnya mengalihkan pandangan. Garu dan Toni terlihat keluar dan berjalan ke arahnya.


“Kamu sudah siap?” tanya Garu.


“Sudah dari tadi.”


“Oke. Ton siapkan mobilnya.” Toni mengangguk dan berlalu.


“Kenapa gak pakai heli?”


“Kamu pikir pengeluaran heli setara dengan mobil?”


Ia terdiam.


“Hanya mengakomodasi seorang wanita. Tidak perlu repot memakai heli. Biaya pengeluarannya heli tidak sepadan,”


“Ya ... ya ... ya,” sahutnya sekenanya. Padahal dalam hati dongkolnya bukan main. Jika tidak sepadan kenapa waktu keberangkatan mereka menggunakan heli? Aneh!


Waktu tempuh yang lama membuatnya tertidur. Dan herannya kenapa laki-laki itu juga ikut dalam rombongan mengantarkannya.


Jawabnya katanya, “Harus seefisien dan efektif mungkin menekan cost. Lagian aku juga mau mengunjungi beberapa pabrik di sana.”


Huh. Kalau sudah begini ia percaya pada ajaran Confucius—pengajar sekaligus seorang filsuf negeri tirai bambu— bahwa: Dia yang tidak bersikap ekonomis, pada akhirnya pasti akan menderita. Mereka benar-benar mengutamakan pengeluaran dan pemasukan. Apa itu tidak sama dengan perhitungan? Atau pelit?


Ia terkikik dalam hati. Pelit untuk sukses. Buktinya banyak taipan Indonesia masih keturunan Chinese.


“Kenapa? Kamu pikir kami pelit?” tebak Garu dan kenapa tepat seperti dalam benaknya?


“Kamu pernah belajar prinsip ekonomi, ‘kan?” tanya laki-laki itu menyindir.


“Berusaha dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil tertentu. Atau dengan pengorbanan tertentu untuk memperoleh hasil maksimal,”


“Jadi harus bersikap hemat, tentukan prioritas, rasional dan untung ruginya.” Pungkas Ru.


“Ya, memang itu juga benar. Tapi hidup hanya sekali. Apa harta akan di bawa mati?”


“Bukan dibawa mati, tapi untuk turunan kita kelak.”


“Kalau begitu memanjakan mereka juga donk!” serangnya, “diberi fasilitas sedari kecil, dilimpahi kekayaan. Apa itu tidak berlebihan,”


“Pikiran kamu dangkal!” tandas Ru.


“Maksudmu?” ia mengerutkan kening.


“Mereka boleh menikmati hasil jika mau bekerja keras dulu. Mereka boleh senang-senang tapi dengan hasil keringatnya. Mereka boleh bangga tapi berkat dirinya sendiri. That’s it. Tanamkan dari kecil.”


Ia manggut-manggut, “Okay, I agreed. Tapi hidup juga tak melulu soal itu. Terus kapan me time-nya?”


Laki-laki itu menyentil keningnya. Ia mendesis, “Hargai dirimu setelah kamu melakukan suatu pencapaian. Dan berhentilah sebelum kamu terlena.”


“Okay,” sahutnya. Lalu ia berujar lagi, “boleh gue tanya sesuatu?” mereka seakan lupa ada dua manusia yang duduk di depan menelinga.


“Kenapa lo, kemarin bawa gue ke tengah-tengah keluarga lo. Padahal kita gak ada hubungan apa-apa. Lagian, apa fungsinya gue di sana?” pertanyaan itu sebenarnya mengganjal dari kemarin.


Garu menipiskan bibirnya, “Lo, pengen tahu?”


Ia mengangguk.


“Karena ....” Garu sengaja memperlama.


“Ya, karena?” ia ikut mengulangi.


“Kursi di sana sisa satu. Jadi sayang bukan dibiarkan kosong.”


“Hah!” ia tak percaya, “itu bukan alasan,” sambil mengerucutkan bibirnya. Sementara dua lelaki yang duduk di bangku depan melipat bibir—menahan tawa.


...***...


Garuda


Mereka tiba di pabrik pertama. “Apa fungsinya gue di sini coba?” keluh Gemala sambil memakai safety helmet saat ia mengajaknya. Awalnya gadis itu memilih menunggu di ruangan penerimaan tamu.


“Lo, bakal dapat ilmu gratis.” Bisiknya hampir menyentuh cuping telinga Gemala. “Tidak sembarangan orang luar bisa keluar masuk area pabrik. Kalau bukan karena gue.”


Gadis itu meliriknya.


Ia tersenyum samar.


“Oke! Gue akan curi ilmu pabrik, lo. Habis itu gue buat pabrik tandingan. Biar pabrik lo gak mampu beroperasi lagi.” Tukas gadis itu kesal.


Ia terkekeh, “Asal lo mampu, silakan.” Tantangnya jemawa.


Tujuan pertama mereka ke bagian stasiun penerimaan buah atau yang dikenal dengan loading ramp. Ia mendapat laporan bahwa banyak buah mentah yang dikirim ke pabrik. Baik dari kebun inti maupun plasma.


“Saya tidak mau tahu. Ikuti standar operasional penerimaan buah tandan segar sesuai kriteria. Jika tidak sesuai, kenakan denda.” Instruksinya pada bawahannya.


“Saya juga tidak mau mendapat laporan kualitas CPO (Crude Palm Oil) kita turun. Apa pun alasannya. Silakan bekerja semaksimal mungkin. Kalau sudah tidak sanggup, silakan mengundurkan diri. Banyak kursi kalian yang sedang diantre mereka yang mungkin lebih berkompeten.” Peringatnya. Ia serius memberikan ultimatum kepada bawahannya yang tidak mampu lagi bekerja.


“Baik, Pak.” Sahut mereka hampir bersamaan. Lalu menunduk.


Kemudian mereka menuju stasiun thresing. Yaitu tempat memisahkan butir-butir buah dengan tandannya. Suara bising dan mesin uap berkoar-koar saling sahut menyahut. Hanya beberapa menit di sana. Lalu ia meminta ke stasiun selanjutnya.


Tempat proses pemurnian minyak sawit. Atau bisa juga disebut stasiun penjernihan. Di sinilah minyak mentah dari sawit dihasilkan memenuhi standar.


“Awas!” Serunya ketika mereka melewati ceceran minyak yang tumpah. Refleks memegang lengan Gemala. Gadis itu terkesiap.


“Kalau jalan pakai mata.” Imbuhnya dengan senyum mengejek.


Gadis itu menyentak tangannya sehingga ia mengurainya.


Mereka keluar area pabrik. Menuju stasiun terakhir atau stasiun penimbunan minyak. Yang berupa tangki-tangki besar (storage tank) berkapasitas masing-masing 3000 ton.


“Lapor, Pak. Ini hasil sampling hari ini.” Manajer pabrik memberikan hasil data dari laboratorium.


Ia membuka kaca mata hitamnya. Alisnya berkerut, bahkan hampir bertaut.


“Kadar ALB (asam lemak bebas) mencapai 4,9% pada storange tank 1. Storange tank 2 5,5%. Dan ALB pada storange tank 3, 5,1% ....” Ia membolak balik 3 lembar kertas yang diklip menjadi satu.


Lalu menggeleng.


“Kalian kerja benar gak sih! Batas maksimal kadar ALB kurang dari 5%! Kalian mengerti! Tidak perlu saya jelaskan lagi bagaimana caranya. Silakan kalian lakukan. Saya kasih waktu sampai besok. Perbaiki. Ingat saya tidak ingin data manipulatif.” Tandasnya kesal beranjak dari sana. Menghampiri Gemala yang tengah duduk di undakan tangga tangki.


Gadis itu terlihat menangis. Lalu mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Ru, please help me.” Pinta Gemala saat ia sudah dekat.


“Kamu kenapa?” ia menatap gadis itu.


“Sakit mataku ....”


“Stop! Jangan dikucek. Bisa tambah parah.”


“Sini,” ia meraih pergelangan tangan Gemala. Lalu membantunya berdiri.


“Adu ... du ... duh, sakit.” Adu gadis itu sambil terus mengeluarkan air mata.


“Kamu ceroboh. Kenapa melepas kaca mata?”


“Abu boiler masuk ke mata kamu. Buka mata kamu.” Jarak wajah keduanya begitu dekat. Ia sengaja membungkuk untuk menyamakan.


“Huuh!” ia meniup mata gadis itu.


Gemala meringis, matanya berkedip-kedip. Masih merasakan ada ganjalan di matanya.


“Gimana?”


Gadis itu matanya memerah. Tanpa aba ia menarik tangan Gemala. “Harus secepatnya diobati. Takutnya infeksi.” Membawanya ke klinik kesehatan yang tidak jauh dari area pabrik.


Tak berapa lama, terdengar suara gorden pembatas dibuka.


“Bagaimana, Bu? Apa perlu di bawa ke dokter mata. Atau pengobatan lainnya?” sergahnya sambil mendekati perawat yang membantu Gemala.


“Tidak perlu, Pak. Sementara saya beri obat tetes. Mudah-mudahan bisa secepatnya sembuh. Tapi kalau dalam 2 hari masih merah dan sakit, sebaiknya memang ditangani dokter.” Jawab perawat tersebut.


Ia membantu Gemala duduk, “Bagaimana? Masih sakit?”


Gemala menggeleng, “Lumayan, sudah gak ganjal lagi. Tapi masih perih.”


“Oke. Sekarang kita pulang. Kamu istirahat. Jangan dulu ke Ayik Itam. Kamu harus mengistirahatkan matamu.”


“Ru, aku gak apa-apa. Kamu, kan mau kunjungan ke pabrik lainnya. Aku bis—”


Ia menggeleng, “Kesehatan kamu lebih penting. Kita pulang.”


Ia menyuruh Toni menyiapkan heli untuk menjemput mereka. Bukan lagi soal teori ekonomi yang didengungkan. Tapi kesehatan nomor satu yang terdengar berkumandang.


“Sementara mata kamu benar-benar harus diistirahatkan. Jangan main gadget.”


“Bi, tolong buatkan makanan kesukaannya.” Ketika mereka telah tiba di rumah.


“Ru, yang sakit cuma mata aku.” Elak Gemala.


“Mata juga bagian organ tubuh. Bahkan penting. Kamu gak mau, kan tiba-tiba dunia kamu gelap?” dengusnya. Gadis ini keras kepala pikirnya.


“Kamu, kok doain aku kayak gitu sih?!”


“Karena kamu ... kamu susah dibilangin. Coba nurut, demi kamu juga. Aku gak mau nanti orang-orang nyalahin aku atas kondisi kamu.”


Gemala mengernyit, “Siapa yang nyalahin kamu?”


“Ya, papa-mama kamu. Kakak kamu, pac ... pacar kamu.”


Gemala tergelak, “Memangnya, mereka kenal sama kamu? Yang ada aku yang kena marah. Katanya kurang hati-hati. Ngapain di pabrik? Sama siapa? Terus besoknya siap-siap diputusin sama si Ethan.” Keluhnya.


“Oo ... jadi pacar kamu namanya Ethan?”


“Hem,” tukas Gemala.


Ia jadi terdiam. Lalu tanpa kata keluar dari kamar gadis itu.


...***...


Gemala


“Mal,” sahut Gayatri dari seberang.


“Hem,”


“Gimana udah enakan perasaan, lo?”


“Lumayan. Gue kemarin ke Jakarta. Bisa makan sepuasnya,”


“Lo, ke Jakarta ngapain? Sama siapa?”


“Gue diajak, Kak. Tadinya mau pulang ke Surabaya. Tapi cuma 1 malam aja di sana.”


“Ck, gue tebak. Sama cowok nasty itu pasti?”


“Hem,”


“Hati-hati, lo. Udah ada si Ethan di sini,”


“Ethan tetap nomor 1 di hati gue. Tapi ... kok aneh ya, Kak. Pacaran sama dia tuh kayak gak pacaran. Ya, kita sama-sama percaya sih. Tapi, nge-chat jarang, telepon jarang, ya ... meski masih ada perhatian di setiap telepon. Tapi gue ngerasa,”


“Aneh?”


Ia menggeleng, “Entah ....”


“Isshh ... atau jangan-jangan hati lo udah kecantol sama cowok nasty itu?”


“Mala, waktunya istirahat!” Teriak Ru dari balik pintu.


Terdengar tawa nyaring dari ujung telepon, “Mala, waktunya istirahat!” Gayatri meniru suara yang terperangkap di telinganya, “widiih ... nasty banget sumpah. Tapi, gue yakin cowok nasty itu bener-bener suka sama, lo.” Kakaknya itu tertawa puas mengejeknya.


“Mala!” Suara Ru kembali bergema.


“Iya ... iya habis ini.” Sahutnya tak kalah kesal, “emangnya gue anak kecil. Tidak tahu jam istirahat kapan. Dasar cowok nasty, bossy ... sassy!” Gerutunya.


Sementara Gayatri masih tertawa-tawa di ujung sana.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungannya ... 🙏