If Only You

If Only You
11. Chance to Love You



...11. Chance to Love You...


Yogyakarta


Di sebuah ruang tunggu kedatangan bandara internasional. Wanita paruh baya itu berkali-kali celingak-celinguk. Melongok lalu menelengkan kepala ke kanan dan kiri. Mengharap keberadaan seseorang segera mengobati kekhawatirannya.


Berkali-kali juga ia melihat arloji di pergelangan tangannya. “Jam 8 malam, belum datang juga,” desahnya. Katanya penerbangan dari Jakarta pukul 18.10 WIB. Sementara ini sudah lewat berapa menit. Harusnya penerbangan Jakarta-Yogya sekitar 1 jam 10 menit.


Ia kembali duduk di bangku tunggu. Matanya tetap mengedar ke sekitar. Lalu air mukanya semringah, kala netranya menangkap sosok rupawan sekaligus menawan. Keluar dari pintu kedatangan.


Sungguh berapa bulan ia tak melihat anaknya itu. Mengapa semakin dewasa dan memesona. Rasa bangga diam-diam menyelusup dalam hatinya.


Rahayu merentangkan kedua tangannya. Senyumnya terkembang sempurna. Dadanya membuncah bahagia. Bagaimana tidak? Anaknya yang telah lama pergi kini bisa pulang mengunjungi.


Ia langsung menubruk anak laki-lakinya penuh semangat dan kerinduan mendalam.


"Maaf, Bu. Ada keterlambatan pesawat di Jakarta. Jadinya,"


"Yang penting kamu sudah sampai."


“Le,” imbuhnya, menggelayut manja pada anaknya itu. Menciumi pipinya.


“Bu, malu,” cicit tole, panggilan sayang Rahayu.


“Idiiih ... malu sama siapa? Ibu ini, kan ibumu. Berarti gak sayang sama Ibu?” Ia pura-pura merajuk. Tapi dalam hati puas mengerjai anaknya. Baginya tole seperti anak kecilnya. Tidak ada yang berubah. Bahkan semakin besar semakin dewasa bukan berstatus lagi menjadi anak. Melainkan teman, sahabat dan tempat bertukar segala rasa.


“Udah yuk, pulang!” Tole menggeret lengannya. Ia memeluk pinggang anaknya. Rasanya pinggang itu semakin melebar. Apa dirinya yang semakin mengerut termakan usia? Huh, tingginya saja menjulang. Ia hanya sedada anaknya.


“Jadi kamu sudah yakin nih?” tanyanya. Kalau benar kabar anaknya akan selamanya menetap di Indonesia, itu artinya kesempatan mereka sering bertemu akan lebih besar. Yes! Senangnya bukan main.


“Aku belum bisa kasih kepastian, Bu. Tapi sementara ini aku memang ditunjuk di kantor Jakarta sebagai AVP.”


“Apa AVP?” dahinya berlipat.


Obrolan terhenti sejenak. Mereka tiba di parkiran. Ia duduk di balik kemudi. Lalu perlahan melajukan kendaraannya meninggalkan area bandara.


“Yuuk, duluan ...,” sapanya pada salah satu petugas bandara saat mereka berhenti di pintu palang parkir otomatis.


“Wah karo sopo, Yu?” tanya petugas tersebut. Melongok pada jendela sampingnya yang terbuka lebar.


“Ro anaku,” sahutnya sambil melambaikan tangan. Lalu menekan power window. Otomatis kaca bergerak naik sendiri.


“Siapa, Bu?” tanya tole.


“Teman Ibu dulu SD,” lalu ia menekan tombol power pada perangkat audio. Memilih lagu.


“Eh, apa tadi AVP?” tanyanya ketika ingat ada yang terlupa.


“Masa Ibu, tidak tahu?”


“Ibu gak tahu gitu-gituan. Tahunya masalah rumah sakit.”


“Makanya sekali-kali ikut gabung sama ibu-ibu sosialita, biar gak ketinggalan berita. AVP itu, Assistant Vice President,” memang benar yang dibilang tole, kedudukannya sekarang sebagai Wakil Direktur SDM dan Pendidikan rumah sakit kian membuatnya sibuk. Hanya me time  saja di salon rasanya tidak ada waktu. Ia refleks mengusap wajahnya. Entah sudah berapa kerutan di sana.


Keheningan menjeda dalam mobil sejuta umat itu.


“Tuh, kan malah melamun?” Tole menyadarkannya dari pikirannya yang mengembara.


Ia berdehem demi menutupi sikapnya barusan.


“Wow ... kamu jadi AVP? Hebat anak Ibu,” ia mengacungkan jempol ke arah tole.


“Biasa saja, sih, Bu.” Dengus tole. Pandangannya dialihkan ke kaca samping.


“Kamu nih, itu posisi penting. Posisi luar biasa. Gaji pakai dolar pasti? Terus gaulnya sama bos-bos petinggi perusahaan. Wih, Ibu bangga banget sama kamu, Le.” Ia menaikkan tombol volume audio. Bertepatan pada bagian reffrain.


...Wait, wait...


...I never had a chance to love you...


...Wait, wait...


...If only our love could show you...


...Wait, wait...


...I never want to be without you...


...Wait, wait...


...No, I never had a chance to love you...


...Now I only want to say I love you one more time...


Keduanya bernyanyi bersama seraya mengentakkan kaki. Mengikuti suara musik glam metal asal Amerika tersebut.


“Ibu, yakin gak mau aku datangkan vokalisnya buat menghibur Ibu yang ulang tahun?” tanya tole ketika musik telah berganti.


“Malu, Ibu sudah tua. Apa kata orang-orang? Lagian, ulang tahun sudah lewat. Nanti heboh di rumah sakit. Ibu jadi terkenal, kan jadi gimana ya ... malas ah, Le,” katanya jemawa sambil tertawa.


“Iddiiiih, Ibu ini narsis. Pede. Yang bikin acara ulang tahun ngundang artis atau penyanyi banyak. Gak cuma Ibu doang. Mau mereka usia tua, muda bahkan masih bayi saja sudah ngundang artis. Padahal gak tahu apa-apa.”


“Mereka tuh, tahu siapa Ibu ... jadi mafhum. Selain dokter terbaik di kota ini, Ibu Rahayu Notonegoro juga anaknya Noto Prawirohadikus—”


“Hus, jangan bawa-bawa eyang. Nanti malam datangin kamu. Hiiii ....” Ia menakut-nakuti anaknya—pasalnya ayahnya telah lama meninggal.


Tole terkekeh, “Ibu ... Ibu, harusnya jadi putri keraton yang lemah lembut. Bukan belingsatan dan tomboy kayak begini,” sindirnya.


Ia mengerucutkan bibirnya, “Ibu itu ya, memang seperti ini ... bukan blingsatan. Cuma sedikit nyimpang,” ia ikut terkekeh—menyadari kelakuannya yang memang berbeda dari saudaranya yang lain.


Ia anak perempuan satu-satunya dari 5 bersaudara. Tapi banyak hal yang ia lakukan jauh dari aturan lingkungan tempat tinggalnya. Sampai suatu hari ketemu Torrid dan memutuskan untuk menikah dengan pria beristri. Hal besar dan pokok yang membuatnya diasingkan dari tempat tinggalnya.


Mungkin juga keputusan yang salah ia ambil selama hidupnya. Tapi, ia tak boleh menyesali. Toh, semua sudah terjadi.


Ia hela napas dalam.


“Gimana, sudah dapat cewek Jepang belum?” ia membuka topik lain.


Tole mengangkat bahunya. Lalu dering ponselnya meraung.


“Konbanwa (selamat malam). Hai, Indonesia ni tochaku shimashita. (Saya sudah sampai di Indonesia)”


“Hem ... ya, Oyasuminasai (selamat beristirahat),”


“Siapa?” tanyanya ketika tole telah selesai berbicara di telepon.


“Tuan Hiro,”


Lengang sementara waktu. Hingga mobil berhenti tepat di sebuah warung angkringan kekinian. Ia dan tole memilih lesehan di bagian luar dekat pohon kamboja.


“Gimana tadi, sudah kecantol cewek Jepang belum?” ternyata ibu satu ini masih ingat saja. Menanyakan soal perempuan.


Tole mendesah lagi, “Cewek Jepang cantik-cantik, Bu. Tapi ... gak tahu kenapa gak ada yang nyantol di hati,”


“Gimana, kalau sama anaknya Mas Suryo? Cantik lho, Le. Bentar lagi lulus sarjana. Orangnya baik, ramah, kurang apa lagi. Kayaknya cocok jadi mantu Ibu.”


“Hem, kamu tuh. Dicariin jodoh malah kayak gitu. Ya, barangkali cocok. Dicoba dulu. Jalan berdua, ngobrol dulu saling mendalami karakter masing-masing. Kalau jodoh syukur, kalau tidak ya ... mau bagaimana lagi.” Kilahnya, ia juga tidak mau memaksa anaknya. Cukup dirinya saja yang mengalaminya.


“Sebenarnya, aku—”


“Silakan,” ucap pelayan menghidangkan pesanan di atas tikar. Memotong obrolan mereka.


“Wih, obat kangen.” Tole matanya berbinar melihat penampakan sego kucing, sate usus, sate ati ampela, sate telur puyuh, berbagai baceman dari kepala, ceker, tahu, tempe dan masih banyak lagi. Tak lupa segelas STMJ (susu telur madu jahe).


“Jangan banyak-banyak, kolesterol,” tukasnya memperingati.


“Mumpung, Bu,” Tole menyanggah.


“Kamu sudah terbiasa hidup di sana. Bersih, teratur, higienis, disiplin ... sampai sini kembali lagi,” sindirnya sambil terkekeh. “Nanti perutmu kaget,”


“Gaklah, di sana cuma berapa tahun. Masa iya kalah dengan kehidupan sebelumnya. Lagian, aku pulang kangen makanan ini, Bu. Kangen banget sumpah.” Ucap tole dengan mulut penuh makanan.


“Eh ... gimana tadi. Kamu mau cerita soal apa tadi?”


“Soal apa?” Tole pura-pura lupa.


Ia mengembuskan napas. Anaknya ini memang tertutup soal hubungannya dengan seorang perempuan. Bahkan selama kuliahnya dia tak pernah bercerita soal kedekatannya dengan seseorang lawan jenis. Pernah membuatnya khawatir. Tapi melihat gelagatnya biasa saja, akhirnya kekhawatiran itu menguap dengan sendirinya. Sampai berulang kali ia berusaha mengenalkan berbagai tipe perempuan. Dari anaknya rekan sejawat di rumah sakit. Anak kerabat jauh. Sampai koas-koas yang tengah magang.


Namun tak satu pun mampu mencuri hati anak keduanya itu.


Katanya, “Kalau jodoh pasti datang sendiri, Bu. Lagian aku masih konsentrasi dulu soal kerjaan.”


...***...


Jakarta


“Bagaimana?”


“Beliau masuk rumah sakit di Singapura. Terkena serangan jantung. Dan infonya stroke juga,”


“Oke. Terima kasih informasinya. Jangan lupa kirimkan bunga untuknya. Tanda simpati.” Pesan Torrid pada salah satu rekan bisnisnya yang tengah berada di Singapura.


“Oke. Sampai ketemu di Jakarta.”


Ia menyimpan ponselnya. Lalu menekan interkom, “Buatkan surat pelimpahan tugas dan wewenang CEO TRP ke GL. Begitu juga sebaliknya. Lalu undang para pemegang saham. Kita RUPS minggu ke-2 bulan depan.”


Indra penglihatannya menatap foto keluarga yang menempel di dinding. Ia dan Meylani beserta ketiga anaknya. Lalu pandangannya tepekur pada selembar kertas yang dipegangnya.


“Semoga ini keputusan yang tepat,”


...***...


Jambi


Gemala menemui orang tua Nyalin keesokan harinya. Setelah usai mengajar tentunya. Didampingi salah satu relawan LSM yang juga berasal dari SAD bernama Bekasuh.


Sempat terjadi silang kata. Antara bapak Nyalin dan Bekasuh. Bahkan Bapak Nyalin berkacak pinggang. Rahangnya mengeras. Dengan muka ganas seperti hendak menerkam mereka.


Lumayan lama. Alot dan membuatnya cemas. Meski ia lebih banyak diam. Tapi atmosfer sore itu terasa panas.


Satu jam setelahnya. Bekasuh mengisyaratkan dengan mengangguk padanya. Keduanya akhirnya pamit. Undur diri.


“Bagaimana?” tanyanya saat mereka sudah menjauh dari sudung keluarga Nyalin.


“Bapaknya Nyalin setuju. Nyalin tetap sekolah asalkan dengan persyaratan.”


“Persyaratan?” ulangnya untuk meyakinkan.


“Selama 1 minggu Nyalin hanya boleh sekolah 3 hari. Saat nanti dia hamil dan punya anak harus berhenti sekolah.”


Langkahnya seketika terhenti. Itu artinya kesempatan sekolah buat Nyalin dipersempit dan dibatasi. Lalu bagaimana nasib Nyalin ke depan?


“Tenang saja, Kak. Nanti kami akan melakukan pendekatan lagi. Sekarang Bapak Nyalin sedang panas. Biarkan redam dulu,” ucap Bekasuh yang ikut menghentikan langkahnya.


Betul juga. Mudah-mudahan bapak Nyalin berubah pikiran. Dan Nyalin bebas pergi ke sekolah tanpa dibatasi. Semoga.


-


-


Double up untuk readers yang sudah memberikan gifts dan vote-nya 😘


Tapi gak janji ya sering-sering 🤭


Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan .... 🙏