
...28. Pengorbanan Cinta...
Garuda
Tiba di Jakarta ia langsung menuju rumah papi. Rumah yang dihuni hanya beberapa orang. Tapi seperti tidak pernah tidur. Selalu ramai dengan suara burung berkicau.
“Silakan, Pak.” Bi Yati membawakan kopi untuknya. Ia duduk di teras belakang. Si Wu yang tadinya diam jadi bersuara, “Torrid, are you okay?”
Ia menyahut, “Aku bukan Torrid,”
“Selamat datang,” Wu membalas.
“Aku sudah datang dari tadi,”
“Rrrr ... good.”
Ia berdecak, “Kosa katamu salah. Terbatas.” Ejeknya sambil melempar makanan Wu.
“Xièxie,” balas Wu.
“Hah! Kamu bisa bahasa nenek moyang gue?”
“Dāngrán kěyì, (tentu saja bisa)”
Ia menipiskan bibirnya. Lalu melempar lagi makanan Wu.
“Wu bisa 3 bahasa,” Papi datang dengan tas jinjing berwarna hitam. Duduk di seberangnya.
“Bahkan bersiul lagu kesukaan Papi,” Papi menyandarkan punggungnya.
“I know ... I know, I won’t ever let you go ....” Wu melanjutkan lagu dengan bersiul.
Ia menipiskan bibirnya lagi. Boleh juga pikirnya.
...***...
Torrid
Lagu itu ya ... lagu band kesukaan kami. Tahun 1985 band itu mengeluarkan album,
“Fight to survive,” jawab kami bersamaan.
Lalu tahun 1987 band hard rock glam metal itu kembali mengeluarkan album berjudul Pride. Lalu menyusul album Big Game di tahun 1989.
Dan di tahun 1991 kembali menelurkan album Mane Attraction. Tapi sayang harus bubar di tahun 1992.
Ibumu meski lahir dari keturunan darah bangsawan, tapi gayanya beda. Tomboy. Beda dengan gadis-gadis pada umumnya saat itu.
Gusti Bendara Raden Ajeng (GBRA) Rahayu Notonegoro. Anak dari Kanjeng Pangeran Harya (KPH) Noto Prawirohadikusumo.
Rahayu hidup di lingkungan tempat tinggalnya yang penuh aturan dengan pakem-pakem yang ketat. Apalagi menjadi putri satu-satunya dari 5 bersaudara. Sehingga wajar Rahayu menjadi pusat perhatian di keluarganya. Bahkan akhirnya dia mengikuti gaya kakak laki-lakinya. Dan membentuk dirinya secara tidak sadar.
Rahayu punya cita-cita menjadi seorang dokter. Dan dia bisa mewujudkannya. Lulus menjadi seorang dokter. Dengan capaian yang luar biasa. Bertepatan kami memutuskan untuk menikah.
Menikah?
Setelah beberapa bulan dekat. Menjajaki hubungan layaknya laki-laki dan perempuan seperti pasangan lain. Kami merasa cocok. Merasa bahwa kami membutuhkan satu dengan lain. Dan yang paling mendasar kami saling mencintai. Aku meminta Rahayu menjadi istriku. Keputusan ini sudah aku pikirkan baik-baik.
Dengan tekad kuat dan mantap. Aku menghadap Romo Rahayu. Mengutarakan niat untuk meminang putri satu-satunya. Meski aku tahu, jawabannya akan seperti apa. Tapi paling tidak aku mencoba. Dan aku punya niat tulus, baik. Karena kami saling mencintai.
Tentu aku datang tidak sendiri. Ada di sebelahku Pras yang selalu mendukung kami.
“Edan kamu, Rid! Kamu yakin mau menikahi Ayu? Wes tak kirain kamu guyon. Lhadalah ... terus gimana dengan keluargamu? Istrimu dan anak-anakmu? Apa mereka tidak tahu?!” kalimat Pras saat aku ingin mengajaknya melamar Rahayu tampak tidak percaya.
Sudah beberapa bulan ini Pras bekerja denganku. Menjadi asisten pribadiku. Bahkan ia sempat tak percaya juga kalau aku sudah menikah dan punya anak. Setelah aku menceritakan semua masa laluku, akhirnya Pras mengerti.
“Siap-siap kita ditendang.” Tukas Pras ketika kami menunggu di pendopo kediaman Romo Rahayu.
“Bukan ditendang lagi tapi kamu harus menjauhi dan meninggalkan Ayu habis ini.” Pras masih berbisik. Padahal ada abdi dalem yang memperhatikan kami sedari tadi.
Cukup lama kami menunggu.
Hingga pada akhirnya. Seorang lelaki yang sudah berumur perkiraan 60-an keluar dan menemui kami.
Irama degup jantungku benar-benar seperti mau meloncat. Keringat dingin. Ditambah gemetar yang tiba-tiba menghinggap. Untuk pertama kalinya aku akan meminang seorang gadis. Untuk diriku sendiri.
Kami berdiri dan menunduk sejenak saat Romo datang. Lalu kami dipersilakan duduk.
Aku basa basi. Memperkenalkan diri. Dan mengungkapkan maksud kedatangan kami.
Wajah Romo Rahayu biasa saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal, aku akan meminang putrinya. Justru membuatku semakin tak tenang. Dan penasaran.
Tapi setelah aku menceritakan status kehidupanku. Barulah Romo Rahayu bersikap beda. Air mukanya menjelaskan bahwa beliau tidak suka.
“Kamu tahu,” romo menjeda. “Banyak yang melamar Rahayu dari bermacam kalangan. Mereka membawa keluarganya, kerabatnya untuk meminta baik-baik,”
“Tapi kamu dengan keberanian tinggi, datang hanya berdua. Kamu memang pemberani. Tapi sayangnya, aku tidak akan pernah merelakan putriku dipinang pria yang sudah beristri. Meski hanya di atas kertas. Bagi kami Rahayu adalah intan permata tidak bisa diduakan hanya karena cinta. Omong kosong! Pulanglah.”
Pertemuan yang bisa ditebak sebelumnya. Mengecewakan? Pasti. Tapi aku tidak boleh patah semangat. Aku akan memperjuangkan cinta kami.
Menurut Rahayu, setelah kami pulang dari kediamannya. Ternyata dia juga dipanggil oleh romo, ibu dan saudara-saudaranya.
Rahayu disidang. Romo sangat berang. Begitu pula dengan kakak-kakaknya. Tidak setuju dengan keputusan Rahayu yang tetap memilih untuk menikah denganku.
Hingga satu bulan lamanya kami tidak bertemu. Rahayu juga dipingit oleh romonya tidak boleh keluar.
Tapi suatu hari Rahayu menemuiku.
“Kita bisa menikah,” katanya dengan wajah semringah.
Aku mengerutkan dahi—tidak percaya. Hanya berselang 1 bulan keputusan romo berubah.
Rahayu tersenyum, “Apa kamu akan mengurungkan niat untuk menikahiku?”
Aku menggeleng. Bagaimana mungkin keluarga Rahayu mengizinkannya untuk menikah denganku? Atau jangan-jangan?
Jawaban itu aku peroleh tepat beberapa jam sebelum kami menikah. Bahwa Rahayu harus meninggalkan kediamannya tanpa embel-embel keturunan KPH Noto Prawirohadikusumo. Dan Rahayu dikeluarkan dari daftar waris.
Aku terkejut.
Begitu besar pengorbanan Rahayu untuk menikah denganku. Sementara aku belum bisa bebas dari tekanan mama untuk melegalkan perceraian secara hukum negara.
“Terima kasih, Ay. Terima kasih telah menerimaku. Sementara kamu telah berkorban banyak untuk menikah denganku. Tapi aku—”
Rahayu menggeleng, “Bukankah, cinta perlu pengorbanan. Perlu perjuangan. Untuk bisa bersama. Meraih kebahagiaan.”
“Tapi pengorbanan kamu terlalu besar Ay, aku malu. Aku bahkan,”
Rahayu membingkai wajahku, “Cinta ini yang membuat kita bersama, Ko. Aku memilih kamu karena aku yakin, kamulah kebahagiaanku.”
Malam itu menjadi malam pertama kami menjadi suami istri. Setelah romo menikahkan kami di sudut ruangan khusus rumah sakit.
Rumah sakit tempat Rahayu mengabdi hingga sekarang. Tempat penuh kenangan dan angan-angan.
Pengorbanan Rahayu yang begitu besar harus aku tebus sama besarnya. Bahkan kalau bisa lebih besar. Meski tidak akan pernah sebanding. Atau justru malah menyakitkan.
Hari-hari menjadi pasangan baru dalam menapak kehidupan terasa mengharu biru. Kami sangat bahagia. Aku memberikan kebebasan Rahayu untuk terus menapaki karier. Membantunya untuk menggapai asanya.
Yaitu menjadi dokter spesialis.
Dan Rahayu mengambil spesialis penyakit dalam. Aku juga membuatkan klinik tempatnya berpraktik. Tatkala usai dari dinas di rumah sakit, dia bisa memberikan pelayanan di klinik. Yang aku sengaja pilih tepat di samping rumah kami. Tujuannya jika kelak Rahayu hamil dan punya anak. Kami tidak akan berjauhan. Bisa memantau pertumbuhan dan perkembangannya.
Tunggu.
Ya ... tiga bulan setelah kami menikah Rahayu dinyatakan hamil. Kebahagiaanku semakin bertambah. Bahkan melebihi apa pun.
“Ay, jangan terlalu diforsir. Kasihan anak kita di dalam sini,” aku mengusap perut yang mulai membuncit itu.
Rahayu hanya tersenyum, menyugar rambutku yang berada di atas pangkuannya. Malam itu aku menemaninya dinas di rumah sakit.
“Bagaimana kalau kamu cuti dulu kuliahnya?” aku mengusulkan karena terlalu khawatir terjadi sesuatu. Pagi hingga sore harus bekerja di rumah sakit. Setelah itu kuliah hingga malam. Benar-benar menyita waktunya.
“Aku masih bisa, Ko. Masih kuat. Kamu jangan khawatir. Aku juga seorang dokter. Aku tahu kemampuanku sampai mana,” tukas Rahayu. Tapi masih menyisakan kecemasan buatku. Tidak bisa dipungkiri seorang dokter juga manusia. Apalagi dengan segudang aktivitasnya.
Aku menghela napas. Lalu tersenyum mengingat awal-awal pernikahan kami. Kenapa semua seperti mimpi berlalu cepat. Meninggalkan jejak begitu terkesan dan tersimpan dalam.
...***...
Garuda
“Dan aku juga dicekoki lagu-lagu itu!” tangkasnya.
Papi hanya mengulas senyum.
“Apa mami tidak tahu pernikahan Papi dengannya?” sambungnya.
Papi menggeleng. “Kehidupan Papi sudah cukup mereka atur. Mereka kendalikan. Papi tidak akan melibatkan mereka.” Papi membuka tas jinjing itu dan mengambil sesuatu dari sana.
“Ini album foto pernikahan Papi dan ibumu,” Papi menyerahkan sebuah album foto jaman dulu. Dengan pembatas plastik berisi 2 lembar foto bolak balik. Album foto yang masih sama. Tidak ada perubahan sama sekali. Hanya terlihat usang dengan kualitas gambar foto yang mulai menguning.
“Kalau Papi membingkainya menjadi lebih bagus, akan hilang esensi kenangannya. Di setiap lembar itu tertinggal sentuhan dan kisah. Ibumu yang mengurutkan foto itu lalu berpesan untuk menjaga dan menyimpannya. Kelak akan ditunjukkan kepadamu.”
Seorang wanita dengan kebaya sederhana berwarna putih dan rambut hanya disanggul biasa lalu mengenakan selendang panjang di kepalanya. Tapi, terlihat ayu dan ... manis.
“Ibumu tidak mau dirias seperti pengantin pada lazimnya. Dan menginginkan pernikahan yang sederhana. Padahal Papi sudah memilihkan yang terbaik. Tapi Ibumu menolaknya,” terang papi.
Foto papi menjabat tangan seorang lelaki berumur, “Itu Papi sedang mengucap ijab kabul, menjabat tangan eyangmu. Almarhum Eyang Noto.”
Banyak foto-foto yang diabadikan pada saat pernikahan papi dengan .... “Yang mengambil foto kami, Om Pras. Ayahnya Tyo.”
Lalu ia menyibak satu persatu lembaran demi lembaran hingga ia menemukan foto, “Kalau sekarang bilangnya maternity shoot. Papi ingin mengabadikan kehamilan ibumu. Awalnya ibumu menolak. Tapi akhirnya dengan rayuan Papi, mau juga. Kami melakukan foto itu di sebuah studio.” Urai papi menjelaskan.
“Usia kehamilan saat itu masih 7 bulan. Tapi Papi begitu antusias menyambut kedatanganmu, dan kamulah yang pada akhirnya menjadi perekat kembalinya ibumu kepada keluarganya. Setelah kamu lahir, Eyang Noto, Eyang Putri, beserta pakdemu datang ke rumah sakit ikut menyambut kehadiranmu.”
Ia menatap foto bayi merah yang dibungkus selimut biru digendong oleh seorang wanita, “Itu almarhum Eyang Putri,” kata papi.
Ya, terlalu singkat. Ia bahkan lupa-lupa ingat. Tapi wajah-wajah mereka tidak asing. Impresif.
Lalu papi mengeluarkan surat yang dilaminating. Surat keterangan lahirnya disertai cap tapak kaki. Di sana tertulis semua informasi kelahirannya. Lengkap.
Sudut bibirnya tertarik ke atas. Menatap dan mengusap cap kaki mungil tersebut.
“Kelahiran kamu benar-benar menjadi perekat hubungan ayah dan anak kembali menyatu. Darah memang lebih kental dari air. Ikatan darah tidak akan dapat dipisahkan dengan apa pun. Sebab sejatinya ada ikatan emosional kuat di antara mereka. Apalagi sebelumnya hubungan itu begitu dekat.” Pungkas papi. Kemudian meninggalkan dirinya.
Satu hal, ia memahami kini. Bahwa dirinya lahir begitu dinantikan. Sangat ditunggu. Bahkan menjadi pemersatu hubungan ibunya dengan keluarganya.
Ia menghela napas panjang.
Layar ponselnya berpendar. Nama ‘Gemalanya Ru’ muncul di sana. Seketika bibirnya terkembang.
“Ya,” sahutnya.
“Kamu masih di rumah papi?”
“Hem, bentar lagi ke kantor. Kenapa? Ada yang kangen baru berapa jam,” sindirnya terkekeh.
“Ish ... aku hanya menanyakan keberadaanmu. Barangkali lupa ingatan. Karena yang diingat hanya ... yang di Melbourne,” Mala ikut terkekeh.
Ia mengulum senyum, “Pasti. Tapi aku bisa mengatur waktu,”
Mala menyahut, “Time is money.”
Ia tergelak, “Sudah berani protes dan menyela sekarang.”
“Bukan protes hanya mengingatkan,”
“Beda tipis,”
“Kamu curang. Sejak kapan kontak kamu diubah? Itu sudah melanggar privasi.”
Lagi, lagi ia tergelak. “Lagian namaku gak keren banget. Sekarang gimana? Bagus, kan?”
Mala di ujung sana berdecak, “Lebay Tuan. Kita bukan lagi anak SMA yang sedang jatuh cinta.” Cibirnya.
“Orang yang sedang jatuh cinta tak memandang itu lebay atau tidak. Bahkan terkadang gak masuk akal juga,”
“Jadi Anda sedang jatuh cinta, Pak Ru?”
Ia berdecak, “Sayangnya ... aku jatuh cinta dengan gadis polos. Kalau tidur susah bangun dan ....”
Keheningan menjeda, “Good ... rrrr,” Wu yang menjawab.
Mala terdengar tertawa. Ia memberikan tatapan tajam pada burung tersebut.
“Oke. Jawaban burung itu kedengarannya lebih bagus. Bye, Ru.”
“Mal—” sambungan telepon itu telah terhenti. Ia menyugar rambutnya. “Jawaban kamu salah.” Serangnya pada Wu.
"Harusnya selain polos, susah bangun tidur dan ... cantik. Bukan itu saja, dia juga menggemaskan, lucu, beda. Dan satu lagi yang penting, dia perempuan yang membuat aku jatuh cinta.”
“Rrrr ... xièxie.”
“Bukan untuk kamu!”
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏