
...80. Tak Terduga (2)...
Gemala
Tek ... tek ... tek ... tek ... tek ....
Suara mesin kapal getek mengusik berisik memenuhi gendang telinga. Menyibak air sungai berwarna cokelat pekat.
Beberapa kapal tongkang mengangkut batu bara berlalu lalang. Melintasi sungai yang terkenal dengan panjangnya sejauh 750 kilometer dari Bukit Barisan bermuara ke Selat Bangka.
Matahari kian merangkak tepat di atas kepala. Membuat air yang beriak-riak tersibak oleh badan kapal menyilau mengkilap. Memaksanya untuk berulang kali mengerjap. Sepersekian detik menyipit lalu membenarkan letak topi yang melindungi kepalanya.
“Masih lama, Pak?” tanyanya pada pemilik kapal getek sekaligus pemandu yang akan menemaninya seharian di sini. Bumi Sriwijaya.
“Sebentar lagi, Bu.” Jawab pria tersebut. Dengan raut wajah yang sepertinya menandakan lebih tua dari usianya. Mereka tadi sempat berkenalan sebelum kapal berangkat. Namanya Riyadi, umur 35 tahun. Bisa jadi tempaan hidup menjadikan Riyadi lebih matang dari usianya dan karena dituntut berpikir mencari nafkah saat usianya masih remaja. Itu terbukti bahwa pria tersebut mulai membawa penumpang saat usianya 12 tahun. Dan terpaksa harus putus sekolah.
Menyusuri Sungai Musi bagi Riyadi adalah detak nadinya. Sebab itulah satu-satunya mata pencahariaannya selama ini. Selain mencari ikan tentunya.
Beda dulu dengan sekarang. Jika dulu, pemilik kapal tidak sebanyak sekarang. Sehingga persaingan tidak begitu mencolok. Lain hal saat ini Riyadi harus pintar mencari penumpang. Begitu juga habitat ikan yang mendiami Sungai Musi lambat laun berkurang secara alami bermigrasi oleh kondisi air sungai yang mulai terkontaminasi. Apa boleh buat, semua dilakoni Riyadi demi sesuap nasi.
Setelah 2 hari lalu ia mengambil data responden di daerah bagian timur ibukota provinsi. Sekarang ia menuju sebuah pemukiman tepi Sungai Musi. Sekitar 35 menit menyusuri sungai dengan kapal getek dari jembatan Musi 3. Barulah ia sampai di sana.
“Jam segini, orang-orang sedang bekerja, Bu. Biasanya sore mereka baru kembali,” Riyadi menambatkan geteknya di kayu pancang.
Jauh hari ia sudah berkoordinasi dengan pihak dinas kependudukan kota. Menyebarkan kuesioner. Hari ini dan besok ia harus memastikan semua responden telah menjawab kuesioner yang diajukan.
Sebenarnya jika mengikuti perkembangan teknologi, ia tak perlu repot-repot mendatangi satu persatu responden. Hanya saja, kabar buruk di jaman yang katanya serba canggih ini ada sebagian masyarakat yang belum bisa mengakses dan memilikinya.
Amat disayangkan.
Namun itu kenyataan yang tak terelakkan.
Menyusuri jembatan kayu yang hanya selebar 1 meter. Indra penciumannya langsung disergap bau tak sedap. Yang mungkin dari aroma sungai. Atau bisa jadi pabrik karet yang katanya tidak jauh keberadaannya.
Tibalah di sebuah perkampungan yang hampir keseluruhan berumah panggung. Rumah yang menjadi ciri khas sebagian masyarakat Indonesia terutama yang berada di kawasan rawa atau tepi sungai.
“Kita langsung saja ke rumah Pak RW, Bu.” Riyadi mengusulkan.
Ia mengangguk. Setelah kurang lebih berjalan kaki 5 menit. Ia dan Riyadi tiba di kediaman Pak RW (Rukun Warga).
Pak RW beserta istrinya menyambutnya ramah. Bahkan telah menyiapkan makan siang untuknya. Sebagai tamu ia tidak boleh menolak. Justru merasa dihormati dan dihargai. Menu sederhana, akan tetapi menjadi luar biasa berkat sajian pindang ikan baung dan sambal mangga.
Sekitar 1 jam berada di rumah Pak RW ia dan Riyadi pamit undur diri dengan membawa hasil kuesioner. Kemudian mendatangi beberapa responden secara acak.
Berdasarkan data kementerian agama pernikahan dini terjadi di Sumatera Selatan melebihi angka statistik pusat yang berkisar 12 % selama rentang 2 tahun terakhir. Yaitu 13,55 %. Menjadi provinsi yang mengalami pernikahan dini cukup tinggi.
Definisi pernikahan dini sendiri yaitu pernikahan yang dilakukan oleh pasangan atau salah satu pasangan masih dikategorikan remaja atau anak-anak yang berusia di bawah 19 tahun.
Kampanye pelarangan pernikahan dini sendiri terus digaungkan. Berbagai akibat dampak buruk bahayanya tidak saja dari aspek medis maupun sisi psikologis. Risiko terburuk lainnya yang mengancam adalah perceraian. Dan itu terbukti banyak di lapangan.
Di kawasan yang sedang didatanginya ini, contohnya. Angka perceraian tinggi. Dengan alasan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Bahkan banyak yang pernikahannya baru seumur jagung.
Ia mengelap peluh yang meluruh dari pelipisnya. Mengipaskan berkas di tangan kanan ke depan wajahnya. Guna mengurai hawa panas. Duduk di undakan tangga rumah panggung. Meski semilir angin sesekali menerpa, akan tetapi terasa menyengat di kulitnya.
Nia salah satu responden yang menceritakan mengapa ia menikah di usia 15 tahun. Dan bercerai di usia 20 tahun. Alasan utama karena ekonomi. Pernikahan dini lebih banyak terjadi di daerah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah.
Tapi bukan berarti tidak terjadi pada daerah perkotaan. Dan pada kalangan menengah ke atas. Sebab kemarin ada beberapa responden yang tinggal di perkotaan dengan kondisi ekonomi cukup. Namun melakukan pernikahan di usia belia, bahkan sebelum lulus dari Sekolah Menengah Atas. Alasan dibaliknya karena pergaulan bebas dan terjadi kehamilan di luar pernikahan.
Ia menghela napas.
Nia bukan satu-satunya korban perceraian karena KDRT dan menikah di usia dini. Berbagai latar belakang menjadi dalih. Bahkan malah ada yang sengaja memalsukan identitas, agar usianya dibilang cukup.
Dering suara ponselnya meraung-raung. Nama Dila berpendar di layar.
Ia pamit berdiri dan sedikit menjauh.
“Ya ... wa’alaikumsalam, Dil. Ada apa?”
“Kamu di mana?”
Dahinya mengerut, “Lagi di tempat responden. Kenapa?” aneh rasanya, Dila menanyakan keberadaannya. Jelas, sahabatnya itu tahu ia sedang berada di daerah. Bahkan terakhir kontak sehari lalu. Ia mengirimkan data pada Dila.
“Nothing. Mungkin ada orang yang tidak sengaja lihat kamu di resto beberapa hari lalu. Lalu melaporkan sama Benita. Dan baru saja Benita crosscheck padaku.”
Helaan napasnya panjang.
“Mala, nevermind ... I believe you.”
Sambungan telepon itu terputus. Bisa jadi memang pada saat ia merayakan makan malam ulang tahunnya, Benita memergokinya. Atau ... pegawai lain dan melaporkan pada Benita. Entahlah ....
Ia melanjutkan mewawancarai beberapa responden hingga matahari melandai di kaki barat. Kembali ke hotel kala senja sudah melukis cakrawala.
Tiga hari berkutat di lapangan sedikit banyak menyita tenaganya. Jarak antar kota yang jauh meski masih dalam 1 provinsi. Bahkan terkadang akses jalan yang sulit menjadi penghambat.
Sampai-sampai Garuda bersikeras mengantarkannya ke daerah tujuan pertama kali. Meski akhirnya laki-laki itu harus kembali ke Jakarta dengan berat hati.
“Kapten Donny nanti aku suruh ke sini lagi,” tangkas Ru kala mengantarkannya hingga menaiki mobil sewaan yang akan menemaninya selama penelitian.
Ia langsung menyanggah, “Gak usah.” Menggeleng kemudian. “Ini berlebihan, Mas.”
Ru mengusap kepalanya, “Tidak ada yang berlebihan, Mal. Semua sudah sesuai porsi.”
Sedikit berdebat. Akhirnya keputusan terakhir disepakati bahwa setelah dari tempat penelitian pertama hingga ke daerah tujuan terakhir menggunakan heli. Namun, selama masih dalam 1 kawasan ibukota ia tetap menggunakan kendaraan beserta sopir yang juga telah disiapkan laki-laki itu.
Berlebihan sih menurutnya. Tetapi ini jalan yang disepakati berdua. Jika tidak, Ru tidak akan membiarkannya sendirian. Laki-laki itu memilih menemaninya selama penelitian.
...***...
Ganjar
Ini kunjungan pertamanya bersama Gayatri di proyek residential daerah Sentul, Bogor. Proyek yang berkonsep hunian mewah lengkap dengan furnitur di dalamnya.
Memiliki konsep terintegrasi dengan alam, juga akses dan fasilitas-fasilitas premium untuk memenuhi gaya hidup modern.
“Huh!” Gayatri mendesakkan napas. Jalan yang menanjak membuat napas mereka terengah-engah. Berhenti sejenak di salah satu gazebo taman.
Meski tengah hari, tapi suasana tidak begitu menyengat. Tidak heran sebab konsep eco city juga diterapkan pada residential ini. Tetap mempertahankan sebagian keanekaragaman hayati. Terutama pohon-pohon yang tumbuh alami. Dan pohon yang sengaja ditanam.
“Kamu lapar?” tanyanya seraya mengatur napasnya yang mulai kembali normal.
“Belum,” sahut Gayatri.
“Aku tidak tahu, kalau ... kalian bersaudara.”
Kening Gayatri melipat, “Maksud kalian ... itu siapa?”
“Kamu dan ... polisi itu,”
Gayatri tergelak, “Danang maksud kamu, suaminya Kirei.” Lalu berdecak, “mereka juga punya cerita pernikahan yang aneh. Dan entah mengapa sepertinya keluarga kami dilingkupi kisah yang berawal dari sebuah peristiwa. Tentu saja peristiwa yang tidak mengenakan.”
“Aku turut prihatin. Aku jarang bahkan bisa dibilang tidak mengikuti berita di tanah air.”
“Hem, ya ... kita terlalu disibukkan oleh pekerjaan dan urusan. So, berita-berita tersebut tak terlalu menyita perhatian kita.”
“Aku hanya tak menyangka, jika ternyata aku ikut dalam lingkaran peristiwa tersebut. Meski ...,” ia mengangkat bahunya.
“I know ... pemilik takdir membuat skenario seperti itu. Dan kita sebagai pemain tidak bisa mengelaknya. Hanya bisa menjalaninya.”
Ia menatap sekilas Gayatri, mengulas senyum meski tipis. “Bagaimana hubunganmu dengan Jebe?”
...***...
Gemala
Malam harinya ia benar-benar lelah. Tertidur setelah makan malam hingga tak menghiraukan panggilan dan pesan dari Garu.
Keesokan paginya ia begitu terkesiap saat mendapati panggilan di call log nama Garudanya Mala menempati peringat teratas dengan 8 panggilan tak terjawab. Disusul Gayatri 4 panggilan. Dila 3 panggilan dan terakhir Davin 2 panggilan.
“Hallo, Mas ... maaf tadi malam aku begitu lelah. Sampai gak ingat lagi harus ngabarin kamu ... maaf,” ucapnya ketika sambungan telepon itu diangkat oleh Garuda.
Hening sejenak. Ia menunggu laki-laki itu bersuara. Namun hanya terdengar helaan napas dari seberang.
“Aku pikir terjadi hal-hal yang buruk sama kamu. Tapi posisi ponsel kamu di kamar hotel. Dan aku sudah konfirmasi pihak hotel. Tadi malam kamu pesan makan di resto. Setelah itu tidak ada lagi aktivitas.”
Ia tidak lagi terkejut dengan perlakuan laki-laki itu. Yang posesif, protektif dan juga responsif terhadap dirinya. Meski terkadang membuatnya kesal.
“Pagi ini aku ingin mengambil data di seputaran sini,”
“Belum selesai?”
“Mungkin hari ini. Hanya wawancara singkat terkait beberapa kebijakan pemerintah,” pastinya menyangkut hak-hak perempuan terutama dalam kasus pernikahan dini. “Sekalian bertemu LSM yang concern di bidang ini,” terangnya.
“Oke. Take care. Kamu sendirian di sana ... kalau ada apa-apa langsung kasih kabar. Miss you,”
“Bye, see you soon.”
Begitu sambungan terputus ia segera membersihkan diri. Membawa perlengkapan wawancara dan data seperlunya. Menyambar tas punggung lalu menuju lantai 1 tempat sarapan.
“Kita ke mana dulu, Bu?” tanya sopir yang telah disewanya selama berada di sini.
“Ke kawasan Beteng Kuto Besak, Pak.” Sahutnya yang duduk di bangku belakang. Mobil melaju perlahan meninggalkan area hotel.
“Biasanya kalau pagi begini banyak orang di sana, kan, Pak?” tanyanya. Ini akhir pekan. Berharap di tempat yang menjadi salah satu ikon kota ini banyak yang datang.
“Sebenarnya kalau mau ramai, lebih pas nanti malam, Bu. Pasti lebih ramai apalagi malam minggu,” tukas sang sopir.
Iya juga pikirnya. Tapi tak salah apabila dicobanya pagi ini. Menunggu malam rasanya lebih lama. Apalagi besok ia harus berangkat ke Jambi.
Pun, sekalian ia punya janji temu dengan 2 LSM yang telah dihubunginya. Mereka sepakat bertemu di salah satu rumah makan apung yang tidak jauh dari kawasan Benteng Kuto Besak.
“Jam 8,” gumamnya. Masih ada waktu 2 jam sebelum ia beranjak menuju tempat pertemuan dengan LSM tersebut. Jadi, masih ada rentang waktu dirinya mencari beberapa orang untuk diwawancarai.
Mobil yang membawanya telah terparkir sempurna. Ia meminta sang sopir untuk menunggunya sebentar. Lima atau tujuh target mungkin. Toh, hanya meminta pendapat mereka sebagai masyarakat biasa.
Kawasan tepian sungai Musi ternyata ramai. Kendati tidak seramai seperti yang dibayangkan. Target 3 orang telah didapat. Ia berjalan lebih jauh. Melewati para pedagang mi tek-tek serta penjual minuman dan berbagai wahana permainan anak-anak.
Tiba di patung ikan belida ia mendapat target lagi. Menuntaskan targetnya tepat waktu. Hingga ia memutuskan untuk pergi dan menuju tempat selanjutnya.
River side restaurant.
Tepat jam 10 pagi ia memutuskan pergi ke tempat tersebut. Tidak jauh. Masih berada dalam kawasan Benteng Kuto Besak. Dua ketua LSM dari woman crisis center serta perlindungan dan pemberdayaan hak-hak perempuan telah datang terlebih dahulu.
Ketiganya berkenalan, berbasa-basi sejenak. Lalu bercakap-cakap mengkonfirmasi data terbaru. Data versi mereka yang nyatanya tidak beda jauh dengan data milik pemerintah. Bertukar pikiran. Tukar informasi. Serta sama-sama memahami realitas yang tengah dihadapi. Khususnya berkaitan dengan perlindungan perempuan. Diskusi tersebut berlangsung menarik dan menambah wawasannya. Hingga tak terasa 2 jam terlewat begitu saja. Tentu bukan tanpa makna. Malah sebaliknya.
Pertemuan itu ditutup dengan makan siang bersama. Saling berjabat tangan, sebagai salam perpisahan.
“Saatnya pulang ke hotel, besok pagi menuju lokasi selanjutnya,” ia berucap lirih.
Tadi saat memutuskan bertemu di river side restaurant sopir sewaannya memilih pulang. Daripada makan siang bersamanya.
“Terima kasih, Bu. Rumah saya dekat, tinggal menyeberang,” tunjuk sang sopir. “Dekat pasar 16,” imbuhnya menolak sopan.
Ia tidak bisa memaksa. Membiarkan pria tersebut untuk pulang dan mereka akan bertemu kembali setelah makan siang usai.
Setelah mengirimkan pesan pada sang sopir, ia memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Sembari menunggu dia datang. Kembali menyusuri kawasan Benteng Kuto Besak. Melihat anak-anak bermain. Tertawa lepas.
Dua orang lelaki menghampirinya. Ia yang pernah mengalami penjambretan sontak merasa punya firasat buruk. Tentu saja berkaca dari pengalaman yang pernah menimpanya.
Satu orang tersebut meminta tas punggungnya. Sementara satunya mengancam dengan pisau lipat.
Dugaannya benar. Ia berusaha tenang namun gagal. Jantungnya mendadak berdetak kencang. Lidahnya kelu. Justru ucapan Garuda yang terngiang.
“Kamu pikir ini di Melbourne?”
“Mau jaraknya dekat, jauh, atau hanya 10 meter. Tetap saja harus waspada. Apalagi kamu sendirian. Wanita. Pasti jadi incaran para penjahat.”
“Serahkan tasnya!” pria berkaus hitam melekatkan pisau di pinggangnya.
Dengan mata berkaca dan menahannya agar tidak tumpah, ia terpaksa melepas tas punggungnya.
“Handphone,” ucap pria satunya yang berkemeja kotak-kotak.
“Jam jugo,” sambar pria berkaus hitam menimpali.
Semua sudah ia serahkan. Kedua pria itu berlangsung pergi begitu saja setelah mendapat semua barang-barangnya. Air matanya bercucuran. Antara bingung dan ... ternganga atas peristiwa kejahatan yang kembali dialami.
Tak lama terdengar suara letusan.
Ia refleks duduk berjongkok. Menunduk, menutup telinganya dengan kedua tangan rapat-rapat. Bukan sekali saja. Melainkan disusul suara letusan dua kali. Dan teriakan-teriakan:
“Tiarap!!”
“Angkat tangan!”
“Anjing. Angkat tangan!”
“Kamu gak pa-pa?!” tanya seseorang padanya.
Ia menggeleng sambil terus menenggelamkan kepala di antara kaki dan menutup telinganya.
“Aman. Kamu sudah aman. Berdirilah.”
Ia masih menggeleng.
Bahunya terasa ditepuk, “Berdirilah. Kamu sudah aman. Kami akan melindungi kamu.”
Hening sejenak. Ia menyeka air matanya. Perlahan mendongakkan kepala.
“Ma-Maas ....”
-
-
Maaf kemarin tidak up naskah. Lagi dalam perjalanan.
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏