
...81. Tak Terduga (3)...
“Ma-Maas ....”
“Mala, kamu kenapa di sini? Kamu sama siapa?” Tanya orang tersebut mengedarkan pandangan ke segala arah.
Gemala bangkit dan berdiri tak jauh dari Danang—sepupunya—yang tanpa diduga menjadi penolongnya.
“A-aku ... aku lagi ada kerjaan di sini,” sahutnya masih terbata. Kejadian baru saja masih menyisakan ketegangan. Meski ia aman sekarang.
“Mas Danang, kok di sini? Bukannya di Semarang?” ia balik bertanya.
Danang terkekeh ringan.
“Pak, izin membawa korban.” Salah satu anak buah Danang melapor.
Danang mengangkat tangannya, “Biar dia sama saya. Kebetulan kami kenal.”
“Siap Komandan! Kami duluan ke markas. Barang bukti beserta tersangka kami amankan.”
Danang mengangguk. Membalas salam hormat anggotanya.
“Aku baru tahu Mas Danang sudah pindah tugas di sini.”
“Baru 2 minggu yang lalu,” jawab Danang. “Eh, kamu kok ada di sini? Bagaimana ceritanya. Seingat aku kamu pernah telepon waktu itu sama Rei. Apa ini kelanjutan waktu itu?”
Ia menggeleng. Sudut bibirnya melengkung ke atas. “Itu waktu mau penelitian. Sudah lama. Sekarang aku kerja,” tukasnya.
Danang manggut-manggut.
“Mas, sorry ... waktu syukuran baby G aku tidak datang.”
“It’s fine,” Danang mengibaskan tangannya. “Kamu lebih banyak menghabiskan hidupmu di luar. Makanya aku kaget bisa ketemu kamu di sini. Rei, juga pasti gak nyangka,” sepupunya itu mengajaknya jalan menuju parkiran. “Kita ke kantor dulu. Urus barang-barang kamu, gimana?”
Ia mengangguk setuju.
“Habis dari kantor, baru ke rumah.” Sambung Danang.
“Ibu Mala,” teriak seseorang yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. “Maaf saya telat datang. Ibu, tidak apa-apa?” tanya pria tersebut yang tak lain dan tak bukan sang sopir yang mengantarkannya tadi.
Ia mengulas senyum. “Alhamdulillah, Pak. Saya tidak apa-apa. Berkat pak polisi di sebelah saya,” Mala mengerling ke arah Danang yang mengenakan pakaian preman—pakaian non kedinasan. Sepupunya itu tergelak ringan.
Sang sopir menunduk—memberikan hormat. “Terima kasih, Pak Komandan. Padahal saya yang harusnya menjaga Ibu Mala ini. Saya sudah diamanahkan oleh suaminya,” terangnya.
Danang mengerutkan alis.
Ia menyergah, “Iya, Pak. Tidak apa-apa. Ini saudara saya. Kebetulan kami ketemu di sini.”
“Saya harus ke kantor polisi dulu. Mengambil barang-barang saya. Dan mungkin saya tidak langsung ke hotel. Nanti saya hubungi Bapak lagi,” imbuhnya.
Sopir yang telah disewanya itu mengangguk, “Baik kalau begitu, Bu.”
Danang menepuk-nepuk pundak sang sopir, “Terima kasih, Pak.” Masuk ke dalam mobil. Diikuti dirinya duduk di sebelah Danang yang mengemudi.
“Sudah berapa hari di sini?” Tanya Danang. Membelokkan setir bulat ke kanan. Bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.
“4 days,”
“Wow ... sudah 4 hari. Tapi baru ketemu hari ini. Aku pikir kamu masih di Melbourne. Ambil S2 di sana.”
“Sudah selesai. Malah sempat ketemu sama Om Bagas di Jene chocolate,” tukasnya.
Danang menatapnya sekilas, “O, ya?!” lalu beralih kembali ke depan.
Ia mengangguk. Artinya Om Bagas tidak menceritakan pertemuannya dengan Danang. Pun, bisa jadi pernikahannya juga ikut di keep oleh omnya tersebut.
“Bagaimana kabar anak-anak, Mas. Pasti lucu-lucu, ya? Aku pernah lihat di handphone-nya, Tante Anita.”
Seutas senyum merekah di bibir sepupunya itu. Aura kebahagiaan tergambar di sana. Sangat jelas.
“Ya ... very happy now. Dengan segala kerempongan mereka. Anaknya aktif ... banget malah. Kakek-neneknya dibuat kerepotan. Baru 2 minggu pindahan, tapi papa sama mama selalu bilang kangen. Padahal tiap hari video call.”
Ia menghela napas. Menyandarkan kepala ke belakang kursi. Pikirannya justru menerawang. Kalau seandainya berbagai kejadian dan peristiwa ini tidak terjadi. Mungkin hubungan mereka ... bisa jadi tidak seperti ini. Bisa jadi papa dan Om Bagas masih dekat layaknya adik-kakak seperti biasa.
Kenapa rasanya begitu pelik hubungan ini?
Danang memarkirkan mobilnya di parkiran. Mematikan mesin kendaraan. Melepas sabuk pengaman dan membuka pintu. Diikuti dirinya melakukan hal yang sama.
“Ke ruanganku saja,”
Ia mengikuti Danang di belakangnya.
“Siang, Komandan.”
“Siang, Pak.”
Sapa beberapa anggota polisi yang berpapasan dengan mereka.
“Baru juga dua minggu. Tapi tiap hari harus nangkepin preman,” tangkas Danang. “Kawasan tadi itu salah satu yang kerap dijadikan sasaran para preman, juru parkir liar dan gangguan kamtibmas lainnya. Memanfaatkan pengunjung yang lengah. Kami baru 1 minggu operasi sidak di BKB (Benteng Koto Besak), pasar ilir 16, monpera (monumen perjuangan rakyat) dan kawasan Jaka Baring. Sudah puluhan terjaring. Dan 2 orang yang malak kamu itu salah satunya residivis,” ujar Danang. Membuka pintu ruangannya. “Duduklah, aku panggil dulu anggota yang nangani kasus kamu.”
Ia mengangguk. Duduk di salah satu kursi dalam ruangan Danang. Sementara sepupunya itu keluar pergi entah ke mana.
Lima menit Danang kembali bersama salah satu anggotanya. “Ini Pak Kasat Reskrim,” tunjuk Danang memperkenalkan pria yang berdiri di sebelahnya.
Ia berdiri dan bersalaman.
“Oke. Fix seperti itu laporannya. Semua bukti sudah dicatat dan didokumentasikan,” tangkas Danang.
Kasat Reskrim mengangguk, “Siap, Pak.” Menyimpan tas punggung, ponsel yang disimpan dalam plastik serta jam tangan dalam plastik klip di atas meja.
“Silakan diperiksa, Mbak. Apa ada yang kurang?”
Ia membungkuk, memeriksa satu persatu barangnya. Lalu menggeleng.
“Good, Pak. Terima kasih. Ini sepupu saya,” Danang menambahkan.
“O, ya?! Untung kita sigap ya, Komandan. Kalau tidak ... kami seminggu ini sudah menembak 2 orang dan salah satunya langsung mati di tempat. Karena mereka melawan. Bahkan melukai korban tanpa perasaan,” terang Kasat Reskrim. “Mbak Mala beruntung. Preman wong kito galo ini tega nian sama para korban,” imbuhnya sambil geleng-geleng kepala.
“Essst, jangan kamu takuti dia. Bisa-bisa nanti gak berani ke Palembang lagi atau ke daerah lainnya.” Danang menukas.
Ia tersenyum getir.
“Aman, Mbak. Yang penting selalu waspada di mana pun berada. Dan jangan lupa kalau mengalami tindak kejahatan. Hubungi kami segera.”
Ia mengangguk, “Terima kasih banyak, Pak.”
Setelah melakukan pelaporan dan memberikan keterangan. Ia diajak Danang untuk mampir ke rumah dinasnya.
Matahari sudah landai di kaki barat. Mobil yang membawanya melewati jembatan Ampera (Amanat perjuangan rakyat) yang mulai terlihat ramai.
“Kalau malam ramai banget di sini,” ucap Danang. “Apalagi ini malam minggu.”
Percis yang dibilang sopirnya tadi.
“Kamu sampai kapan di sini, Mal?” imbuh sepupunya itu.
“Besok. Rencana besok mau lanjut ke Jambi.”
“Sampai kapan rencana di Sumatera?” mobil melewati bundaran air mancur. Ia melihat pemandangan di sebelah kiri. Masjid Sultan Mahmud Badaruddin. Sangat megah. Desain bangunan tampak bergaya Eropa, Cina serta ada sentuhan nusantara.
Ia menghela, beralih pandangan ke kaca depan. “Belum tahu sih, tergantung selesainya kapan. Kalau bisa secepatnya.”
“Apa kabar Gayatri? Kemarin sempat ketemu di Surabaya. Katanya tidak jadi sama siapa tunangannya waktu itu?”
Ia menyergah, “Richard.”
Danang manggut-manggut, “Ya, Richard.” Jeda sesaat. “Jadi ... apa aku tadi tidak salah dengar?” Danang menoleh padanya sekilas.
Ia tersenyum tipis. Lalu mengangguk.
“What!” Danang menggelengkan kepala—tak percaya. “Hot news ... kalau kata Kirei. Di group keluarga juga tidak ada berita ini. Apa ....”
Ia mengangguk. “Kami menikah biasa saja. Hanya keluarga dekat. Tanpa mengundang banyak orang.”
“Ck ... kalau kayak begini, rasanya kita seperti bukan keluarga!” sanggah Danang memprotes.
“Maaf, Mas. Bukan itu maksudnya.”
“Lalu? Atau jangan-jangan ... ah, pernikahan aku sama Kirei jangan sampai terulang menimpa kamu. Cukup kami saja.”
Mobil memasuki rumah bercat putih. Seorang penjaga berpakaian seragam cokelat membukakan pagar. Danang memberikan klakson sekali dan membuka kaca mobil.
“Sore, Komandan!” sapa penjaga tersebut sembari memberi hormat.
Mesin mobil telah dimatikan, “Yuk, masuk. Kirei pasti terkejut lihat kamu.”
Ia mengekori Danang di belakangnya.
“Assalamu’alaikum ...,” Danang menyapa saat membuka pintu. Belum terdengar sahutan dari dalam. Menuju dapur dan mencuci tangan di sana.
Terdengar celotehan anak-anak di ruang tengah.
“Nda, Yah ... Yah.”
“Halo anak Ayah.” Danang menghampiri 2 batita lucu menggemaskan yang menyambut mereka dengan langkah sempoyongan. Yang satunya bahkan berlari menghambur ke arah Danang.
Sepupunya itu sigap menangkap batita perempuan. Batita laki-laki bergelayut manja di kaki ayahnya.
“Bunda mana?”
“Nda ... kamal,” jawab batita perempuan sambil menunjuk arah.
“Kenalan dulu. Ini Tante Mala. Siapa namanya?” tukas Danang mengecup kepala batita yang digendongnya.
“Gi,”
“Halo Gry,” ia mentowel pipi gembul Gry. Kemudian berjongkok, “yang ini siapa namanya?”
“Tala,” sambil malu-malu menyembunyikan wajah di sela-sela kaki ayahnya.
“Hai ... ganteng. Sama Tante yuk?” ia menawarkan kedua tangannya untuk menggendong Tala.
Namun Tala menggeleng.
Ia berdiri, “Ini aja yuk, Gry sama Tante.” Lagi-lagi Gry menggeleng.
“Mereka kalau sama orang baru masih malu-malu. Tapi kalau sudah kenal langsung ngikut aja,” tangkas Danang. “Kamu duduk dulu. Aku panggilkan Kirei. Lagi repot dia, belum dapat yang bantu-bantu. Katanya minggu depan baru datang.”
Ia mengulas senyum, mengangguk.
Tak lama muncul dari balik partisi seorang wanita yang masih cantik seperti pertama ia berkenalan dan bertemu di rumahnya—saat pertunangan Gayatri dan Richard. Ia berdiri dan tersenyum.
“Mala!” seru Kirei terkesiap—tak percaya.
Ia mengangguk. Keduanya saling mendekap.
“Gimana kabarmu?” tanya Kirei, “lama ya ... kita kayaknya gak ketemu.” Keduanya saling mengurai pelukan. Dan duduk di sofa.
“Alhamdulillah aku sehat. Iya ... lama sekali. Pertama dan terakhir waktu acara di rumah,” urainya. “Beberapa kali Mbak Rei sama Mas Danang buat acara aku tidak bisa datang. Pas kebetulan selalu posisi di Melbourne.”
“Ah, iya.”
“Nda ... Nda,” Gry datang menginterupsi.
“Apa Gry?” Kirei meraih Gry lalu memangkunya. “Sudah kenalan belum sama tante cantik?”
“Dah,”
Danang datang dengan pakaian santai menggandeng Tala dan ikut duduk di sofa seberang. Mendudukkan Tala di sebelahnya dengan mainan di tangan.
“Besok dia mau ke Jambi.” Danang menukas, “Gry, come here.” Merentangkan kedua tangan menyambut Gry untuk datang.
“O, ya? Hati-hati Gry,” tandas Kirei ketika langkah Gry tersandung karpet. Beruntung tidak jatuh.
“Besok rencananya. Di sini lagi ada kerjaan, Mbak. Lagian, aku udah 4 hari di Palembang.”
“Yaah, gak bisa nambah sehari gitu? Baru juga ketemu masa mau pergi lagi.” Kirei tampak kecewa. “Ini bukan penelitian yang waktu itu kamu telepon, ‘kan?”
Ia menggeleng. “Aku sudah kerja, Mbak. Di Jakarta.”
Ibu muda 2 anak itu menyahut, “Wow. Surprise ... kamu yang dari kecil sampai besar hidup di Melbourne. Pada akhirnya memilih Jakarta untuk bekerja,” ia menggeleng tak percaya.
“Sayang, itu namanya jodoh. Dan jodoh dia orang Jakarta. Betul, kan, Mal?” sambar Danang.
Ia hanya mengulas senyum.
Sore itu mereka menghabiskan waktu bercerita hingga jelang malam. Lalu memutuskan untuk makan malam di salah satu resto yang terkenal dengan masakan khas Palembang.
“Sorry, Mbak aku terlambat, ya?” ujarnya tak enak tiba di resto tempat makan malam ia terlambat. “Lho, Gry sama Tala di mana?” ia tidak melihat 2 batita lucu dan menggemaskan itu.
“Kalau malam minggu jalanan padat. Semua orang pada keluar. Wajar kota ini sekarang mulai macet di titik-titik tertentu,” sahut Danang.
“Gak, kok. Baru 10 menit kami duduk. Tala sama Gry kami titip sebentar sama asistennya Mas Danang. Karena udah kenal dan tiap hari ketemu jadi udah akrab mereka,” Kirei menambahi.
“Duh, jadi gak enak. Padahal tadi diajak aja, Mbak. Kasihan, kalau rewel bagaimana?”
“No worries. Justru kalau dibawa nanti malah ngrecokin. Anaknya aktif soalnya. Untung ada ayah yang teladan, jadi terbantu banget.” Kirei melirik Danang.
Danang menyergah, “Suami teladan juga,” tak terima.
“Massss,” cicit Kirei.
Danang tergelak.
Ia ikut tersenyum melihat interaksi di antara mereka. Dapat menularkan kebahagiaan dan tentunya mengingatkannya akan seseorang yang nun jauh di sana. Di pulau seberang. Ya ... ia merindukannya.
Makan malam itu diselingi dengan cerita mereka. Tentang perkembangan Tala dan Gry. Danang yang lebih antusias menceritakan semuanya.
“Eh, cerita donk tentang suami kamu. Kata Mas Danang kalian sudah menikah. Aku juga surprise, dengar kamu menikah.”
Hening sejenak.
Ia mengelap mulutnya. “Maaf mungkin setelah dengar kabar ini Mbak Kirei dan Mas Danang akan berubah pikiran. Bisa juga akan membenci aku.”
Danang dan Kirei sama-sama mengerutkan kening.
“Sebenarnya suamiku. Maksud aku, aku menikah dengan anak,” ia menatap Kirei dan Danang bergantian. “Dia anak salah satu terpidana kasus ayah Mbak Kirei.”
Keheningan kembali menjeda. Sungguh sebenarnya ia tidak ingin mengatakan ini. Tapi, ia tidak bisa terus menutupi kenyataan. Ia tahu, ibarat 2 sisi pilihan. Harus memilih 1 di antaranya. Dan konsekuensi suatu pilihan pasti ada akibat. Tidak mungkin pilihan keduanya sama, bukan?
“Maksud kamu?” tanya Danang.
“Aku ... menikah dengan Garuda. Dia anak Torrid.”
“Maaf ... kalau keputusan aku ini membuat hubungan keluarga kita terpecah belah. Menganggap tidak menghargai jerih payah keluarga Mas Danang maupun Mbak Rei. Bahkan, mungkin ...,” ia menggeleng. Menghela napas. Dadanya berdenyut. Terasa sebah dan ia harus menyiapkan diri setelah ini. Apa pun keputusan Danang dan Kirei, ia harus siap. Apa pun ... termasuk dibenci dan dimaki mereka, “... aku dianggap egois. Maaf ....”
Kirei beranjak dan menggeser kursinya. Lalu menggeser kursi di sebelahnya dan duduk di sana. “Jadi benar gosip yang menyatakan kamu dekat sama salah satu dari mereka?”
Ia mengangguk. Matanya memanas dan berkaca-kaca.
Kirei menatapnya. “Kamu benar mencintainya?”
Ia mengangguk kembali dengan buliran kristal cair yang luruh dari pelupuk mata.
Tanpa dinyana, Kirei merengkuhnya. Mengusap punggungnya. “Aku tidak pernah dendam. Itu sudah berlalu. Semua sudah mendapat proses peradilan,”
“Dendam tanpa kesudahan hanya membuat kita sakit. Aku sudah ikhlas, Mal.”
Mereka mengurai pelukan. Kirei tersenyum padanya.
“Selamat ... selamat atas pernikahan kamu sama,”
“Garuda.” Ia menukas sambil menyeka pipinya.
“Ya ... Garuda,”
“Yang dulu sering kirim hampers ke kamu, Sayang,” Danang menimpali.
“Hah!” ia menoleh pada Danang.
-
-
Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan memberikan dukungan ... 🙏