If Only You

If Only You
97. Berbagi Hati



...97. Berbagi Hati...


“Bi, yang punya Ru tidak pakai garam dan gula,” peringatnya pada Yati yang membantunya membuat makan siang. Mulai pulang dari rumah sakit ia melakukan pola makanan khusus buat Garuda. Semua sesuai rekomendasi gizi dari rumah sakit. Yang menyaratkan untuk tidak mengonsumsi makanan berlemak, mengandung gula dan garam, makanan instan, daging merah serta minuman beralkohol. Berbagai menu diet ia pilih sesuai jadwal makan. Yang sudah lulus uji oleh tim dokter. Ia tulis rapi dan ditempel di permukaan lemari pendingin.


“Saya ingat Mbak,” sahut Yati. Di hadapannya 2 fry pan berisi masing-masing 2 slice ikan salmon sedang dipanggang. 2 fry pan untuk menumis sayuran.


Ia membuat banana guava smoothies. “Percaya. Bi Yati memang juara!” Ia mengacungkan jempol sambil mengukir senyum.


“Semenjak Pak Torrid sakit, beliau juga melakukan diet khusus. Percis dengan Pak Ru sekarang lakukan,” ujar Yati. “Namun pola makannya mulai berantakan ketika masuk,” Yati tidak melanjutkan kalimatnya.


Ya, sakitnya papi juga berawal dari sirosis hepatis akibat virus hepatitis. Yang terlambat penanganannya dan berakibat menjadi kanker hati.


“Mbak, makanan sudah siap.” Ucapan Yati menyadarkan pikirannya yang mengembara sesaat.


“Biar aku yang bawa ke atas. Bi Yati lanjutkan yang lain. Jangan lupa Bibi juga makan,” pesannya sambil berlalu membawa nampan.


Sudah 5 hari Ru pulang dari rumah sakit.  Melakukan pekerjaan dari rumah. Setiap hari juga Toni melaporkan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa. Laki-laki itu tidak pernah mengeluh. Pun, ia tidak pernah melihat Garuda kesakitan dengan penyakitnya.


Walaupun pernah suatu malam tanpa sengaja ia mencurigai Garuda muntah di kamar mandi. Kendati yang terdengar dari sana hanya gemercik air dan suara flush toilet.


Pernah juga laki-laki itu menggigil demam. Manakala ia kebingungan apa yang harus dilakukan untuk menolongnya, Ru hanya berucap, “Aku ingin memelukmu.”


Ia menyelimuti Garuda. Mendekapnya erat. Begitu juga laki-laki itu memeluknya ketat dengan mata terpejam rapat. Sebulir cairan kristal melintasi pipinya. Ru tak pernah mengeluh. Tak pernah berbagi kesakitannya. Bahkan laki-laki itu selalu menyikapi dengan senyum. Senyuman tulus yang diberikan jikalau ia menanyakan kondisinya setiap hari.


Justru ialah yang tampak rapuh. Mencoba menahan perih yang dirasakan. Berusaha melawan getir takdir yang memutarkan kebahagiaannya. Alih-alih bisa tegar, seperti Ru, ia malah menumpahkan nestapa tanpa sepengetahuan laki-laki itu.


Ia menyusut sudut matanya. Menarik napas panjang. Lalu membuka pintu kamar. Bertepatan Garuda mengalihkan pandangan.


“Thanks, Max. Nanti kita obrolin lagi.” Ru mematikan sambungan telepon. Menyimpan ponsel di atas meja.


“Kita makan dulu,” ia meletakkan nampan di atas meja dan duduk di sebelah laki-laki itu.


“Kenapa bukan Bibi yang bawa ke atas?” protes Ru. “Kamu bukan pelayan. Aku takut kamu kelelahan.”


“Ck, kalau cuma bawa gak bakalan capek. Lagian aku memang pelayan. Pelayan spesial,” kekehnya ringan. Ia mengisi piring yang telah berisi nasi merah dengan menambahkan salmon panggang dan tumisan pokcoy. “Aku suapin, ya?” pintanya.


Dengan cepat Ru menggeleng. “Kamu juga harus makan. Kalau pelayan spesial sakit, aku pasti kehilangan dan bersedih.” Ru condong ke depan, “punyamu yang mana, Hon.” Laki-laki itu mengambilkan untuknya.


“Biar aku saja,” selanya. Ia mengangsurkan piring Ru yang telah berisi lengkap. Lalu mengisi piringnya sendiri. “Gimana, enak?”


“Kalau aku jawab enak. Itu artinya aku bohong.”


Ia mengerutkan kening.


“Tapi kalau aku jawab tidak enak, itu artinya juga bohong. Karena ini rasanya enak sekali. Pelayan spesialku memang tiada duanya,” gelak Ru hingga ia tersedak.


Ia mengangsurkan gelas berisi air putih. “Sepertinya itu juga jawaban bohong,” cebiknya.


“Kalau ini benar, Hon. Suer!” Garuda mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. Beberapa saat keduanya dalam keterdiaman. Menikmati makan siang mereka. Atau bisa jadi, menikmati kebersamaan mereka. Yang entah ... bisa terulang untuk berapa kali lagi.


Sesekali diselingi tawa mengingat perjalanan kisah mereka. Sebuah kisah yang mungkin layak menjadi roman. Mungkin.


“Roman picisan,” tukas Garu.


“Bisa jadi, seorang CEO terjebak cinta di tanah rimba.” Ia memberikan usul judul.


“Ck ... sudah banyak.”


“First love at first sight.”


“Siapa?”


“Kamu,” tandasnya.


“Jujur lihat pertama kali kamu di bandara malam itu, aku belum jatuh cinta. Yang ada malah kesal. Kamu nabrak aku. Ngata-ngatain aku lagi, salah waktu pakai kaca mata hitam segala. Siapa yang gak kesal!”


“Em, jadi siapa di antara kita yang jatuh cinta duluan?”


Keduanya terdiam. Kemudian, “Kamu,” ucap mereka bersamaan. Sepersekian detik terkekeh tak saling mengakui. Sebab jika ditelisik cinta datang perlahan tanpa mereka sadari. Sejak saat itu ... ya, saat keduanya mulai berjumpa setelah pertemuan pertama. Lalu disusul perjumpaan-perjumpaan berikutnya.


Cinta tumbuh kian lama kian besar. Terpupuk dengan sendirinya. Dengan perlakuan, perhatian dan pengorbanan. Semakin kuat tatkala ujian berat menghadang. Harus dihadapkan oleh restu keluarga. Tali persaudaraan dipertaruhkan.


Dan cinta mereka membuktikan bisa melewatinya.


Mereka lulus.


Kini. Garuda menatapnya. Mengusap lembut pipinya. “Kita lewati lagi ujian ini.”


Ia mengangguk. Desiran asing menyelinap di relung hatinya. Wajahnya memanas. Akhir-akhir ini ia sangat emosional dan sensitif.


Laki-laki itu mencium kening, pipi dan bibirnya. “I love you ....” Ia tak mampu menjawab, hanya bisa mengangguk. Dengan lelehan air mata. Meski dengan sekuat tenaga menahan agar tak tumpah, entah mengapa air matanya tak mau diajak kompromi sekarang ini.


“Maaf ... buat kamu sedih dengan kondisiku.” Ru merengkuhnya.


...***...


“Mala ... Mal,” Garuda mencari keberadaannya.


Ia yang tengah menelepon menyahut, “Di balkon.” Lalu mengatakan, “terima kasih, Dok.” Menoleh ke arah Garuda yang menghampirinya. “Kenapa, Mas?” melihat laki-laki itu dengan wajah berseri dan langsung merengkuhnya. Menciumi kepalanya tanpa jeda.


“Thank you ...,” ucap Ru.


Ia mengernyit, heran dengan perlakuan Garuda yang terlihat bahagia. Tidak seperti biasanya.


Laki-laki itu menatapnya sejenak, “Hon, kata Max ...,” mulutnya menganga tanpa suara. “A-ada donor yang cocok buatku. Baru saja Max memberitahukan bahwa ada donor yang cocok buatku. Ini semua berkat dirimu ... doamu. Doa ibu ... thank you, Honey,” ucapnya terbata dan sempat speechless sejenak. “Aku ... ternyata aku bisa lebih lama menemanimu. I’m so happy.” Ru menangis memeluknya.


Ia ikut terharu bahagia. Genangan cairan di pelupuk matanya meluruh melihat laki-laki yang dicintainya kembali menemukan semangat hidup. “I’m happy for you.”


Pagi itu menjadi pagi yang lebih indah dari sebelumnya. Menjadi hari yang spesial sebab ada harapan dan asa yang terbentang di depan mata.


“Max, bolehkah aku bertemu dengan pendonor yang akan memberikan hatinya untukku,” pinta Ru. “Aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku ingin memberikan sesuatu padanya. Aku ingin mengabulkan apa pun permintaannya,” imbuhnya. Mereka telah tiba di rumah sakit Singapura.


“Sorry, Bro. Sesuai perjanjian dan prosedur. Identitas pendonor dirahasiakan. Bahkan pendonor pun tidak mengetahui untuk siapa organnya didonorkan,” balas Max.


Ru berdecak, tampak kecewa. Ia mengusap paha laki-laki itu.


“Sedikit saja, beritahu aku informasi tentangnya,” desak Ru.


“Yang jelas ini donor living.”


“O, God. Artinya ia begitu rela memberikan 60% hatinya untukku?!” ia menatap tak percaya Max kemudian beralih kepadanya.


Max mengangguk. “Kita akan menyelesaikan beberapa persyaratan administratif sebelum besok pagi operasi dilakukan,” ujar Max. Seluruh prosedur telah dilakukan di rumah sakit Indonesia. Hanya tinggal melengkapi beberapa syarat administrasi yang belum lengkap. Max mengerahkan timnya untuk bergerak cepat.


“Aku berhutang budi dan nyawa dengannya,” tukas Ru.


“Lebih baik kamu tidur, Mas. Istirahat untuk besok pagi menjalani operasi besar,” ia mengatur ranjang lebih landai. “Istirahatlah, aku tunggu di situ.” Ia menunjuk sofa yang hanya terhalang partisi.


Ru mengusap lengannya, “Kamu juga. Tapi nanti malam bolehkan aku meminta sesuatu.”


Ia menatap Garuda, kemudian mengangguk. “Nanti malam tidurlah bersamaku. Karena setelah operasi aku pasti akan sulit memelukmu.”


“Mas, ini di rumah sakit bukan di hotel.” Ia keberatan namun sambil mengulum bibir sebab permintaan laki-laki itu terdengar lucu baginya.


“Pleaseeee ...,” wajah Ru mengiba. “Hon,”


Ia terkekeh pelan, lalu mengangguk. “Oke.”


Setelah Ru memejamkan mata ia bergabung dengan ibu, Max, Tan, dan Ganjar. Membicarakan persiapan esok pagi.


“Istirahatlah, Mala. Jangan banyak pikiran.” Rahayu mengusap lengannya. Ia mengembuskan napas, “semoga besok operasinya berjalan lancar. Aku berharap besok menjadi kado terindah buat Ru di ulang tahunnya.”


Rahayu merengkuhnya, mengusap-usap punggungnya. “Makasih, Mala.”


Malam harinya ia benar-benar menempati janjinya. Menemani Garuda tidur di atas ranjang rumah sakit. Setelah makan malam, Ru diharuskan menjalani puasa sampai esok pagi.


Laki-laki itu memeluknya erat seolah tak mau lepas. Bahkan ia sampai protes, sebab merasa terhimpit dengan tubuh Ru yang jelas lebih besar darinya.


“Apa aku menyakitimu, Hon?” Ru sedikit mengurai pelukannya.


“Bukan menyakiti tapi ... menyiksa,” tangkasnya.


Ru tergelak, “Aku hanya merasa ... bahwa butuh waktu lama untuk memelukmu seperti ini. Jadi rasanya aku tidak mau melewatkan sedikit pun, melepas walau sebentar.”


“Aku masih di sini. Gak akan ke mana-mana. Jadi jangan cari-cari alibi.”


Laki-laki tersebut kembali tergelak. “Besok, setelah aku selesai operasi. Orang pertama yang ingin aku lihat adalah kamu. Orang pertama yang ingin aku sapa adalah kamu. Jadi jangan jauh-jauh dari aku.”


“Lebay,” selanya.


Ru tak menggubris, meraih tangannya lalu menautkan jemari di sela-sela jemarinya. “Setelah ini aku ingin membawamu ke tempat-tempat terindah, kamu ingin ke mana, Hon?”


“Em, New Zealand. Dari kecil aku ingin ke sana. Tapi sampai sekarang belum kesampaian.”


“Menurut aku, pemandangan alam negara itu amaze banget. Bersahabat, aman dan masih original.  Aku ingin melihat aurora di Danau Tekapo dengan pemandangan aliran Sungai Tekapo yang berwarna turquoise. Ke Matamata tempat Hobbiton. Kaikoura, Milford Sound ... kayaknya mimpi kalau ke sana,” tuturnya sambil membayangkan tempat-tempat yang ingin disinggahinya.


“Aku janji akan membawamu ke sana. Kita akan menjelajahi tempat-tempat itu.”


“Benarkah?”


Ru mengangguk. Lalu mengecup keningnya. Malam itu keduanya tidur berpelukan. Berharap mimpi indah dan terbangun dengan harapan yang berwarna.


Hingga waktu operasi telah tiba. Ia selalu mendampingi Garuda di sisinya. Sampai laki-laki itu di dorong ke ruang operasi. Pukul 08.00 waktu Singapura. Pintu ruang operasi tertutup.


Semua keluarga menunggu dengan harap-harap cemas. Rahayu yang mendadak berkeringat dingin. Ganjar yang terus berusaha menenangkan ibunya. Max yang tampak kacau. Dan sosok Jebe yang tergopoh-gopoh bersamaan dengan Gayatri yang baru datang.


“Gila! Kalian gak ngasih tahu gue, Ru menjalani operasi sebesar ini. Kalian ...Ck,” Jebe berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala. “Damn you!”


“Bro, sabar,” Ganjar menenangkan Jebe yang berkacak pinggang masih bergumam mengumpat.


“Lo, juga Max. Lo, anggap gue apa sih?! Kenapa hal besar seperti ini gue gak dikasih tahu!” hardik Jebe pada Max. Akan tetapi Max bergeming.


Sementara Gayatri dan Rahayu saling berpelukan. Saling menguatkan.


“Lebih baik kita tunggu di ruang perawatan. Operasi ini akan lama. Seperti tim dokter bilang bisa memakan waktu sekitar 10-12 jam. Kita bergantian menunggu di sini. Tapi untuk yang lainnya lebih baik menunggu di kamar perawatan,” tukas Ganjar. Ia menyapu wajahnya. Menyandarkan tubuhnya ke dinding. Setelah mengantarkan ibu dan Gayatri menunggu di kamar perawatan. Jujur, ia pun dilanda kecemasan. Waktu rasanya berjalan lambat. 2 jam pertama rasanya seperti 1 tahun. 2 jam kedua seolah 2 tahun dan 2 jam ketiga perasaannya semakin tak menentu. Kacau.


Tiba hari telah berganti gelap. Matahari telah kembali ke peraduan. Pintu operasi itu belum terbuka. Semua telah berkumpul di sana. Papa Imam dan Larasati yang baru datang. Juga, Maleo dan Sandra.


Ekspresi semua wajah-wajah tak bisa ditebak. Yang jelas semua menunggu kabar. Mengharap kabar membahagiakan. Meski tak dapat dienyahkan, peluang terburuk mengintai setiap saat. Tapi bukan itu yang diharapkan.


Hingga tiba pintu terbuka, semua mata beralih ke sana. Menyerbu dua sosok yang terbaring didorong bersamaan oleh tim dokter dan perawat. Rahayu rapuh hingga limbung, dengan sigap Ganjar merengkuhnya. Larasati yang terisak di dada suaminya. Gayatri yang terduduk terbengong. Dan semua mata berkaca-kaca.


Dokter memerintahkan keduanya untuk dimasukkan ke dalam ruangan ICU yang berbeda hingga beberapa jam. Menunggu sadar dan kondisinya stabil.


Tiga jam telah berlalu. Perlahan jemari Garuda bergerak. Rahayu yang duduk menungguinya tampak menghela napas lega. Menyeka bulir air mata dengan cepat. “Alhamdulillah,” gumamnya. “Ru,” panggilnya.


Bola mata Garuda bergerak. Perlahan-lahan kelopak mata itu membuka. Mengerjap dan menutup kembali.


“Ru, ini Ibu.”


Garuda kembali membuka matanya. Rahayu memanggil tim dokter. Dengan cekatan tim dokter memeriksa kondisi Ru. Memastikan semuanya stabil dan tidak ada gangguan.


Butuh beberapa waktu lagi hingga Garuda dinyatakan stabil. Operasi berhasil. Hingga keesokan harinya laki-laki itu sudah bisa dikunjungi keluarganya meski tetap dibatasi.


Rahayu menyapa Garuda pertama kali di pagi itu. Mengulas senyum dan berujar, “Selamat pagi, Ru.”


Anak sulungnya itu tampak menarik sudut bibirnya, “Terima kasih, Bu,” balasnya lirih. “Berkat doa Ibu.”


“Doa kita semua. Dan semangat kamu untuk sembuh.” Rahayu melihat netra Garu yang menelisik sekitar. “Kamu ingin apa?” tanyanya.


“Aku ingin ketemu Mala, Bu. Aku kangen sama dia. Bisakah ... Ibu panggilkan Mala,” pinta Garuda.


Rahayu bangkit, “Mala ... sebentar. Maksud Ibu dia sedang keluar sebentar. Ke apartemen Sandra. Apa kamu ingin ketemu yang lain? Di luar ada adik kamu, sahabat kamu Jebe dan Max, Papa Imam dan Mama Laras serta Gayatri.”


Garuda menggeleng. “Aku akan menunggu Mala. Aku akan menunggunya.”


“Baiklah, Ibu akan keluar. Kamu masih harus banyak istirahat. Ibu ... Ibu keluar dulu.”


Nyatanya saat Garuda terbangun, lagi-lagi bukan sosok yang diinginkannya. Justru, Max duduk di sebelahnya. Memasang senyum yang terlihat tak ikhlas.


“Cih,” cibir Ru.


“Kalau kondisimu stabil terus seperti ini  besok sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan,” tandas Max.


“Yang aku butuhkan cuma 1. Tolong panggilkan Gemala istriku, Max. Please,” mohonnya. Entah sudah berapa kali ia meminta Mala untuk menemuinya namun wanita itu tak kunjung datang. Ia rindu. Ia ingin melihat wajah yang teramat dirindukannya.


“Come on, Man. Lo, harus istirahat. Mala juga butuh istirahat. Ada saatnya pasti Mala akan menemuimu ke sini. Aku pastikan.”


Garuda terdiam.


“Mala butuh beristirahat?” tanya Ru. Ia memejamkan mata. “Please, maksud lo apa?”


“Mak-maksud aku, eh gue maksudnya—”


“Max!” Ru menatap tajam sahabatnya. Max terlihat gugup tak tenang. “Ada yang lo sembunyikan dari gue?”


Max menggeleng.


“Max!!” geramnya sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Berbagai macam selang menancap di tubuhnya.


“Aku panggilkan dokter,” Max bangkit.


“Kenapa lo gak jujur sama gue!” Garuda membasahi bibir lalu menggigitnya kasar. “Katakan ... apakah ... dia?” ucapnya penuh penekanan kata per kata. “Max!”


Jeda sejenak. Max masih bergeming.


“Sialan lo! Gue pecat lo jadi sahabat gue. Persahabatan kita putus. Jangan panggil gue lagi. Gue gak sudi punya teman kayak lo.”


Max panik.


“Katakan! Jadi ... benar dia?”


Max terdiam. Kemudian mengangguk perlahan.


“OH SHIIIIIIITTTTT!” umpatnya sambil memejamkan mata.


-


-


Terima kasih yang sudah mampir, membaca, dan memberikan dukungan ...